“Jika Tuhan sudah mempertemukan. Maka apakah kau masih bisa melompat ke jurang? Jodoh memang di tangan Tuhan, tetapi terkadang orang entah kenapa selalu menyia-nyiakan jika jodoh sudah di tangan mereka.”
*****
Beberapa jam sebelum Zand pergi ke pesta menemui Nazarel.
★Flashback★
Ikhsan Navindra sang ayah Zand memanggil Zand untuk datang ke rumahnya karena Zand selama ini tinggal di sebuah apartemen untuk para perwira kepolisian.
Sepulangnya dari kantor polisi. Zand pulang ke rumahnya.
“Zand, pulang ke sini?” tanya Qeira terlihat senang melihat kedatangan Zand di ambang pintu.
“Ya. Ayah memanggilku supaya datang ke sini dan mengatakan ada pembicaraan penting,” jawab Zand masuk setelah melepaskan sepatunya.
“Zand?” Zicko juga heran melihat kedatangan Zand. Sebab jarang sekali pemuda itu pulang ke rumahnya di jam segitu. Jika berkunjung kadang pagi atau sore hanya untuk melihat keadaan atau kabar kedua orang tua mereka.
Zand tersenyum pada Zicko. “Gimana kabar kalian, Kak?”
“Ya beginilah, seperti apa yang kau lihat,” jawab Zicko seraya memeluk pinggang istrinya.
“Mana Ayah?” Zand tidak melihat ayahnya di ruang TV.
“Zand, datang juga,” sambut ibunya yaitu Nyonya Dhalia.
“Iya Bun. Ayah menyuruhku datang ke sini.” Zand mengecup pipi kanan ibunya.
“Dia di ruang kantornya.” Dhalia menunjuk sebuah pintu yang terbuka sedikit.
Zand pun langsung pergi mendekati pintu kemudian mengetuknya. “Assalamuallaikum, Ayah.”
“Wa'allaikumsalam. Masuklah Zand.” Ikhsan menyuruh Zand masuk ke dalam.
Zand pun masuk ke dalam lalu duduk di kursi sofa di mana ayahnya duduk di kursi satunya.
Setelah Zand duduk.
“Kamu pasti lelah dan ingin istirahat. Ayah tidak akan lama, dan akan langsung saja ke intinya.” Ikhsan melihat raut wajah lelah anaknya lalu tersenyum seraya menyodorkan sebuah amplop cokelat besar di atas meja ke hadapan Zand.
“Apa ini?” Zand tidak langsung membukanya dan malah bertanya.
Sekali lagi Ikhsan tersenyum. “Itu dari kakekmu. Katanya sudah saatnya perjanjian lama harus ditepati.”
“Penjanjian lama?” Zand masih tidak mengerti.
“Bukalah,” perintah Ikhsan belum menjelaskan semuanya.
Zand mulai membuka amplop lalu mengeluarkan isinya. Beberapa surat yang isinya dari teman masa kecil kakeknya. Awalnya hanya menanyakan kabar tetapi berujung dengan pembahasan perjodohan.
Satu surat lagi kabar tentang lahiran anak laki-laki masing-masing dan menyayangkan jika mereka belum dikaruniai seorang anak perempuan atau cucu perempuan.
Dilihat dari tanggal pengiriman surat. Sudah sangat lama sekali surat itu dikirimkan dari sahabat kakeknya itu, sebelum ada telepon atau ponsel pastinya. Dan surat terakhir dari sahabat kakeknya adalah surat kabar gembira jika mereka akhirnya mempunyai cucu perempuan satu-satunya di keluarga tersebut. Jadi, setelah cucunya menginjak usia 19 tahun, pernikahan harus segera dilangsungkan. Dan kakeknya pun menyetujuinya.
Zand menelan salivanya lalu menatap ayahnya. “Ayah? Apa kalian tidak salah? Kenapa harus aku?” tanyanya masih merasa aneh. Dia belum tahu jika gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah Nazarel.
Ikhsan mengangkat sebelah bahunya tanda tidak tahu menahu tentang perjanjian lama itu. “Yang Ayah tahu jika kakekmu pernah menolong keluarga teman sedari kecilnya itu dengan menjual tanah warisan. Dan kini keluarga itu sudah menjadi keluarga kaya dan terpandang. Dan berkata sudah waktunya mengikat persahabatan menjadi besanan.”
Zand menaruh surat-surat itu ke atas meja dengan sedikit kesal. “Yah, aku memilih menjadi polisi karena aku ingin hidup bebas dan inilah cita-cita yang aku inginkan sedari dulu. Bukankah Ayah mau aku menjadi pengacara tapi aku menolaknya.”
Ikhsan menatap Zand heran. “Jadi, yang kau maksud adalah menolak perjodohan ini?”
“Tentu saja. Aku bukanlah syarat perjanjian kalian. Kenapa tidak dijodohkan saja dengan Donny, cucu laki-laki yang tinggal bersama mereka?”
Donny adalah cucu laki-laki dari adik ayahnya yang saat ini tinggal bersama kakek dan neneknya.
“Usia Donny masih 16 tahun. Sementara perempuan itu sudah 18 tahun dan yang cocok menikah sekarang dengannya adalah kau,” ucap Ikhsan tegas tetapi masih dengan nada yang biasa, “sebenarnya dulu yang seharusnya dijodohkan dengan gadis itu adalah Zicko, tetapi perbedaan usia dengan kakakmu sangatlah jauh dan kini kakakmu sudah menikah.”
“Tapi-”
“Lihatlah dulu fotonya. Jika kau tak menyukainya, kau boleh menolaknya di depan kakekmu nanti. Ayah akan membujuk kakekmu juga supaya tidak memaksamu menikahi wanita yang tidak kau cintai.” Ikhsan juga selama ini tidak pernah memaksakan kehendaknya pada kedua anaknya. Jika memang Zand tetap menolak perjodohan itu. Dia akan mencari cara untuk membujuk ayahnya.
Zand menghela napasnya panjang. Meraih amplop besar dan mengeluarkan foto berukuran sedang yang tertinggal di dalamnya. Ketika melihat wajah wanita itu, keningnya mengernyit heran. Apa dia salah melihat? Ia menatap kembali ayahnya. “Siapa nama marga keluarga itu?”
“Keluarga besar Adhitama,” jawab Ikhsan tersenyum, ada sesuatu yang disembunyikannya juga.
“Nama perempuan ini?” tanya Zand lagi seraya masih menatap foto.
“Nazarel?” jawab Ikhsan singkat.
Zand membalikkan foto dan di belakang foto tersebut ada nama lengkap Nazarel Meilla Adhitama. “Nazarel Meilla Adhitama?”
“Ya, Nazarel gadis yang manis dan periang,” kata Ikhsan melihat Zand menatap belakang foto.
Zand tampak memikirkan sesuatu lalu bangkit dari duduknya. “Baiklah kalau begitu. Dari pada Ayah dan kakek menjadi salah paham karenaku dan takut terjadi permusuhan antara kakek dan sahabat dari kecilnya itu. Maka, aku harus menerima perjanjian perjodohan ini.”
“Benarkah?” Ikhsan hampir melonjak mendengarnya. Untuk pertama kalinya anaknya itu menurut apa kata kakeknya.
Zand mengangguk. “Katakan saja kapan aku harus menemui gadis itu?”
“Sebentar.” Ikhsan bergegas mengambil telepon rumah yang ada di ruang kantornya itu lalu menghubungi ayahnya.
Kala panggilan tersambung.
“........”
“Assalamuallaikum yah, katanya Zand akan menerima perjodohan itu.”
“.......”
“Ya. Dia tidak akan pernah mempermalukan keluarga kita,” jawab Ikhsan seraya melirik ke arah Zand yang masih berdiri di tempatnya.
“Tentu saja dia tidak akan mengecewakanmu.”
“.......”
“Baiklah, aku akan menunangkan mereka terdahulu sampai ayah siap untuk datang ke sini. Masalah itu, aku akan merundingkannya lagi dengan Zand.”
“.......”
“Ya. Selamat malam, ayah. Sampaikan salamku buat ibu juga.”
Ikhsan menutup telepon lalu menatap kembali pada Zand. “Kakekmu berkata, pertemuan pertama kalian adalah nanti malam di sebuah gedung. Undangan akan diantarkan ke apartemenmu dan di sana kalian harus saling mengenal satu sama lainnya. Nanti apa pun keputusan kalian, kakekmu dan temannya tidak akan marah.”
“Baiklah, kabari lagi apa yang harus aku lakukan,” jawab Zand mengambil foto kemudian pamitan pada ayahnya. “Aku akan pulang dulu dan aku akan menyimpan foto ini supaya nanti tidak salah mengenali orang.”
“Ya bawalah. Itu juga foto calon istrimu,” kekeh Ikhsan, tadi dia melihat dan membaca juga surat dari ayahnya dan dia juga masih tak menyangka jika calon menantunya adalah putri dari partner kerjanya juga.
Zand tersenyum dan pura-pura tidak pernah melihat gadis itu. Padahal semenjak kejadian kemarin dan tadi. Kini pikirannya diliputi wajah gadis polos sekaligus menyebalkan bernama Nazarel.
★Flashback off★
Seusai sepakat menerima perjodohan itu. Keduanya menikmati pesta Valentine tersebut. Keduanya duduk di meja untuk dua orang.
Nazarel masih menatap tak percaya pada Zand. Calon suaminya adalah Zand Navindra, seorang perwira kepolisian. “Apa kau langsung menerima perjodohan ini?” tanyanya ragu para pria itu.
“Tidak …,” jawaban Zand membuat hati Nazarel merasa lega, “… tidak menolaknya,” lanjutnya dengan senyum yang tertahan melihat ekspresi terkejut gadis itu.
“Ke-kenapa kau langsung menerimanya?” protes Nazarel tak terima.
“Aku adalah seorang polisi. Bukankah seorang polisi selalu tertib dan patuh dalam menjalankan kewajiban serta tak pernah menyalahi aturan. Jadi, aku juga bukan tipe anak atau cucu pembangkang. Maka dari itu aku menerima perjodohan ini.”
Nazarel memejamkan kedua matanya erat sangat geregetan sama pria menyebalkan itu.
“Kamu juga harus menerima dengan ikhlas perjodohan ini,” kata Zand dengan nada datar.
“Jika aku nggak menerimanya?” nada bicara Nazarel selalu saja lantang.
Zand mengangkat kedua bahunya. “Jika kau nggak menerima perjodohan ini. Kenapa juga datang ke sini?”
Nazarel diam tak bisa menjawabnya.
Zand menoleh menatap Nazarel yang diam saja. “Kau baru saja lulus SMA. Kenapa terburu-buru minta dijodohkan?” Kedua matanya kini menatap perut Nazarel yang rata.
Nazarel segera menutupi perutnya seolah tak berpakaiaan. “Jangan pernah berpikiran terlalu jauh. Karena aku bukan cewek seperti itu.”
“Benarkah?” Zand seolah tidak mempercayainya.
Nazarel merasa pria itu sangat menyebalkan.
“Apa kau pernah pacaran?” Zand bertanya tanpa melihat ekspresi sebal Nazarel.
“Itu urusan pribadiku. Jadi kau nggak usah tau,” jawab Nazarel jutek.
“Aku harus tau. Jika suatu hari nanti bertemu dengan salah satu mantanmu. Kita akan canggung dan jika ditanya, aku mana bisa menjawab dan mana kutahu jika itu salah satu mantan pacarmu.” Zand berkata dengan santainya. Namun, hal itu semakin membuat Nazarel kesal.
“Aku belum pernah pacaran,” jawab Nazarel terpaksa mengatakannya. Sebenarnya dia akan berbohong dan mengatakan kalau mantan pacarnya banyak. Tetapi, di depannya adalah seorang perwira kepolisian. Pasti akan cepat tahu mana yang berkata jujur dan mana yang bohong.
Benar saja. Zand menoleh menatap wajah Nazarel yang menatapnya dengan tatapan kesal dan dia merasa menemukan kejujuran di sana. “Baguslah. Aku paling nggak suka jika ada cewek yang mempunyai banyak mantan.”
“Lalu kau?” tanya Nazarel penasaran juga.
Zand malah tersenyum tipis. Terdengar alunan musik dansa dan dia malah mengajak Nazarel untuk berdansa dengannya menikmati pesta malam itu.
Nazarel masih tak percaya. Pria yang baru saja dua kali bertemu dengannya di kantor polisi, bakal jadi calon suaminya.
*****
Setelah pertemuan di pesta valentine semalam. Di mana keduanya hanya makan, minum dan berdansa sebentar. Setelah itu pulang ke rumah masing-masing. Nazarel tetap diantarkan sopir.
Pagi-pagi Nazarel turun untuk sarapan. Di sana sudah berkumpul semuanya.
Kakek Herdy terlihat senang pagi ini.
“Selamat pagi semua,” sapa Nazarel seperti biasa.
“Pagi sayang,” jawab Neina tersenyum.
Nazarel mengecup pipi kakek, nenek dan ayahnya lalu duduk di sebelah Alter yang datang pagi-pagi bersama ayah dan ibunya seperti biasa jika ada kedua orang tuanya, pasti mereka akan datang pagi-pagi untuk sarapan bersama.
“Bagaimana semalam? Bagaimana tampang calon suamimu, Naza?” Alter yang bertanya duluan karena penasaran.
“Dia cukup tampan, tinggi dan juga lumayan,” jawab Nazarel memberi penilaian seadanya pada Zand. Jika dia mengatakan pada Alter tentang polisi bernama Zand, pasti mereka akan ketahuan pernah masuk kantor polisi dan penjara juga.
“Apa pekerjaannya?” tanya Nico tidak tahu selain perjodohan itu dan dengan siapa Nazarel akan dijodohkan.
“Polisi,” jawab Nazarel singkat.
“Polisi?” Semuanya kini menatap kakek Herdy.
Kakek Herdy mengangguk. “Aku sudah tahu kalau dia polisi dan tadi pagi temanku menghubungiku kalau cucunya juga menerima perjodohan ini.” Ia menoleh menatap Nazarel.
“Ya. Kami sudah sepakat menerima perjodohan ini.” Nazarel menjawab santai. Padahal hatinya meresa lesu sebab di balik semua itu. Dia akan menyandang istri seorang polisi keluarga Navindra dan meninggalkan rumah tercintanya itu.
Rama langsung gembira mendengarnya. Secara sejak kecil dia bercita-cita ingin menjadi tentara atau polisi. Namun gagal kala pelatihan pertama.
Berbeda dengan Lorra. Dia tahu jika putrinya itu pasti terpaksa menerima dan ada sesuatu yang dirahasiakan olehnya disebabkan tiba-tiba saja minta dijodohkan dan minta cepat dinikahkan, entah apa itu dia pasti akan mencaritahunya.
“Siapa namanya?” tanya Alter terus penasaran.
“Zand Navindra,” jawab Nazarel lagi seraya melirik Alter lalu ibunya. Apa keduanya mengingat nama itu?
Alter sih pastinya tidak ingat sebab dia tidak pernah membaca tag nama Zand kala di kantor polisi. Tetapi berbeda dengan Lorra yang mulai berubah pucat. Apa Zand Navindra yang telah mengurusi putrinya kala ditangkap ke kantor polisi? Ia ingin bertanya tapi mustahil jika bertanya di sana pada Nazarel. Secara semuanya tidak tahu jika Naza pernah masuk ke dalam kantor polisi sebanyak dua kali.
Mereka pun tanya jawab dengan Nazarel tentang bagaimana semalam di pesta valentine itu.
“Jadi, kapan mereka akan meresmikan lamaran ini?” tanya Rama semakin penasaran bagaimana bakal calon menantunya itu.
“Kau tenang saja. Nanti sore mereka akan datang ke rumah ini.” Herdy pun bangkit dari duduknya.
“Uhukk uhukk.” Nazarel sampai tersedak mendengar secepat itu mereka akan datang ke rumahnya.
“Minum sayang, minum.” Linna memberikan air putih pada Nazarel.
Nenek Neina sampai heran mendengar kenapa semuanya serba dadakan seperti itu? “Kenapa kau mempercepat semuanya? Kita perlu banyak persiapan dan waktu yang cukup sebab kita akan menikahkan cucu perempuan keluarga Adhitama satu-satunya. Kenapa seperti hendak menikahkan seorang gadis yang hamil duluan?”
“Uhukk uhukkk!” Nazarel kembali tersedak sampai hampir menyemburkan air putih yang diminumannya.
Bugghh bugghhkk. “Hati-hati kalau minum. Entar mati keselek,” canda Alter asal sambil menepuk-nepuk punggung Nazarel sedikit keras.
“Ehh, jangan sembarangan kalau ngomong,” tegur Danang pada putranya itu.
“Lo nepuk-nepuk apa mukulin?” Nico sampai terkekeh geli melihat ekspresi Nazarel.
“Jhehe.” Alter malah terkekeh juga.
Herdy berdiri menatap semuanya satu per satu secara bergantian. “Kita tidak punya banyak waktu lagi karena calon suami Nazarel akan dipindah tugaskan selama beberapa bulan di luar kota. Jadi, sebelum itu kita harus sudah menikahkan keduanya. Bukankah Nazarel juga nantinya akan sibuk mendaftar dan kuliah?”
Ucapan kakek Herdy mereka rasa ada benarnya.
Kini Nazarel yang bertanya. “Kenapa tidak sepulangnya dari tugasnya lalu kami menikah?” rasanya dia mundur kembali dan ragu jika harus cepat-cepat menikah.
“Sekarang atau nanti, sama saja kalian akan menikah. Jadi, mumpung Nico sedang libur kuliah. Mumpung Zain juga masih libur dari sekolah. Kenapa harus membuang-buang waktu lagi?” Kakek Herdy kini menjelaskan alasannya.
Dan sekali lagi beliau ada benarnya.
Setelah menjelaskan semuanya. Kakek Herdy pun pergi dari ruang makan menuju ke kamarnya, tak lama disusul oleh Neina sang istrinya.
Nazarel menghela napasnya panjang.
Dhanu melihat obat Tuan Herdy tertinggal di meja. “Loh, Ayah belum meminum obatnya sehabis sarapan? Zain, antarkan obat pada kakekmu.”
“Sebentar Ayah,” jawab Zain tanggung, baru saja melahap telur dadarnya.
“Aku saja,” kata Nazarel meraih botol obat kemudian pergi menuju ke kamar kakek neneknya yang ada di lantai satu dekat ruang TV.
Pintu kamar terbuka sedikit. Awalnya Nazarel akan mengetuk pintu. Tetapi tangannya terhenti di udara kala namanya dan nama Zand dibawa-bawa.
“Kita harus segera menikahkan Naza dan Zand,” kata kakek Herdy duduk di pinggir ranjang.
Neina memijat pundak suaminya. “Apa karena penyakitmu itu kau cepat-cepat menikahkan Nazarel?”
Deggg! Jantung Nazarel seakan berhenti berdetak mendengar jika kakeknya mengidap sebuah penyakit.
“Ya. Kita tidak punya waktu lagi. Kalau Nazarel tidak mau menikah, aku terpaksa membawanya ke London dan kuliah juga di sana sekaligus aku menjalani pengobatanku,” nada kakek Herdy tampak sedih.
Nazarel mulai mengerti kenapa kakeknya sering berkata jika tidak menurut dan segera kuliah, maka dia akan dibawa ke London dan tinggal di sana untuk kuliah. Ternyata bukan hanya itu, kakek dan neneknya pergi karena akan mengobati penyakit yang diderita kakek Herdy. Entah penyakit apa itu? Yang pasti Nazarel jadi sedih mendengarnya.
“Lalu, over tugas nak Zand kapan?” tanya Neina lagi.
“Sebenarnya dia akan dipindah ke luar kota akhir tahun ini. Tapi, aku takut jika kita tidak punya banyak waktu lagi. Selama ini impianku adalah melihat cucu perempuanku satu-satunya menikah. Dengan begitu, meski Tuhan keburu memanggilku, takkan mati penasaran-”
“Ssstthh, tidak usah membicarakan mati. Sebab semua itu di tangan Yang di-Atas. Bukankah kata dokter kalau kita berobat ke London. Kemungkinan kau akan sembuh 80%.” Neina duduk di samping suaminya lalu bersandar di bahunya.
Hal itu tak luput dari tatapan Nazarel di pintu yang terbuka sedikit. Hatinya terasa sakit mendengar jika kakeknya mengidap penyakit berbahaya dan bodohnya dia selalu saja membuat masalah dan berpikir negativ terhadap mereka.
Terdengar suara langkah mendekati Nazarel. Dia pun segera mengetuk pintu pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka dan masuk ke dalam.
“Uuppphh, aku nggak melihatnya Opa, Oma,” canda Nazarel menutup kedua matanya dengan telapak tangan kiri.
Nenek dan kakeknya malah tertawa geli.
“Ada apa Naza?” tanya Neina menjauhkan kepala dari bahu suaminya.
“Opa tadi sudah sarapan belum minum obatnya. Jadi Naza disuruh nganterin ini,” jawab Nazarel seraya menyodorkan obat kepada neneknya.
“Oh ya. Hampir lupa. Terima kasih sayang, sudah ngingetin Oma yang pelupa ini.” Neina menerima obat suaminya lalu memeluk Nazarel sayang.
“Hmm kalian bikin iri aja masih terlihat mesra,” canda Nazarel duduk menyelip di antara tengah-tengah kakek dan neneknya dengan manja.
Herdy mengusap punggung Nazarel sementara Neina memeluk cucu kesayangannya itu dari samping.
“Tubuh boleh tua, tapi jiwa harus teruslah muda. Hahaha,” gelak Herdy membuat Nazarel juga ikut tertawa. “Uhukk uhukk.” Karena tertawa membuat Herdy terbatuk-batuk.
Nazarel memeluk kakeknya. “Makanya kalau tertawa jangan terlalu keras. Batuk, kan.”
Herdy jadi terkekeh, memeluk Naza dengan sayang juga.
“Karena aku semakin iri melihat kemesraan kalian. Jadi, mulai sekarang aku akan menurut pada Opa dan Papa,” Nazarel segera melepas pelukannya lalu bangkit dari duduknya. Dengan tatapan penuh sayu pada keduanya
dia berujar, “tentukan saja kapan tanggal pernikahanku. Aku sudah siap, Opa.” Ia pun berlalu dari sana.
Herdy dan Neina merasa aneh melihat perubahan Nazarel. Apakah karena mendengar kalau Zand akan over tugas? Apakah cucunya itu mulai jatuh Cinta pada pemuda itu?
Sementara Nazarel berlari ke atas lalu masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya merosot di daun pintu, menangis tanpa suara. Apakah ini memang takdirnya? Apakah ini adalah impian terakhir kakeknya? Kakek yang tegas dan terlihat galak serta suka mengatur kehidupannya. Ternyata adalah kakek yang sangat menyayangi serta memikirkan masa depannya.
Knockk knockk.
Nazarel segera menghapus air matanya kemudian menjauh dari pintu dan kini duduk di atas karpet lalu berkata, “masuk.”
Muncul Alter dari ambang pintu. “Hay sis, kenapa kau murung sis?” tanyanya aneh melihat Nazarel di bawah.
“Nggak pa-pa. Cuma sedang nyari sesuatu di bawah ranjang,” jawab Nazarel memalingkan wajah mencoba menghapus sisa air matanya.
“Kau mewek sis?” Alter penasaran lalu berjongkok ingin melihat wajah sepupunya itu.
Nazarel menoleh dengan menekuk bibirnya ke bawah, kedua matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Alter, hikkkhh.”
“Yee kenapa kau mewek? Nggak mau nikah sama polisi itu?” terka Alter.
“Kau tau nggak kalau polisi itu adalah polisi yang menangani kita di kantor polisi kemarin,”
“Whaaaat? Oh my goooddd.” Ekspresi Alter sudah seperti burung badut di film animasi angry bird.
“Sialan lo. Mukanya nggak usah dibuat-buat gitu kali.” Nazarel bukan sedih malah ingin tertawa.
“Kaget tau gue teh. Huhhh.” Alter mendorong pelan kening Nazarel hingga tubuh Nazarel terdorong sedikit ke belakang.
Nazarel jadi terkekeh.
“Jangan bilang kalau polisi yang galak itu yah?” Alter membayangkan wajah Zand yang serius.
Nazarel mengangguk. “Iya dia.”
“Kenapa lo menerimanya? Apa dia mengancam, hah?” Alter jadi curiga. Semudah itu Nazarel menerima perjodohan tersebut. Meski dia tahu alasan utama Nazarel minta dijodohkan. Tetapi dia tidak tahu tentang perkataan dan doa Tamara untuknya.
“Demi Opa,” jawab Nazarel lesu.
“Sejak kapan lo menurut sama Opa? Atau lo ada rencana lain ya? Mau kabur ya?” cerocos Alter masih curiga.
“Yee nggak lah. Kalau kita cepet menikah. Opa akan berangkat ke London dan akan lama di sana. Jadi, sebelum kepergiannya, gue menurut aja.”
“Apa urusannya dengan kepergian Opa? Kalau Opa pergi, lo kan nggak akan menikah dengan polisi galak itu.” Alter tetap saja tidak mau kalau Nazarel menikah terpaksa.
Nazarel menghela napasnya panjang. Dia tidak bisa mengatakan tentang penyakit kakek mereka, jika kakek dan neneknya saja tidak memberitahukannya pada siapa pun juga. Termasuk pada ayahnya juga, atau kedua pamannya.
★BERSAMBUNG★