“Cinta bagiku hanya kiasan dan khayalan belaka. Di mana setiap orang terkadang selalu menyalah artikan apa sebenarnya yang disebut Cinta.” Nazarel Meilla Adhitama.
*****
Knockk knockk.
Nico dan Zain pun datang ke kamar Nazarel.
“Kayaknya ada yang ngelangkahin abang ni,” goda Nico melihat Alter dan Nazarel duduk di atas karpet. Ia ikut duduk di sana.
Zain juga masuk lalu naik ke atas ranjang sambil memainkan game di ponselnya.
Nazarel malah nyengir. “Kalau gitu. Nikahnya barengan aja, bang.”
“Barengan juga ama gue, triple wedding,” kata Alter membayangkan akan duduk di pelaminan bersama dengan Alitha.
Nazarel malah menoyor belakang kepala Alter. “Huhh, situ kan belum tentu diterima sama Alitha.”
Alter mengerjap tak percaya mendengarnya. “Bukannya lo mau bantuin nyoblangin gue ama yayang Alitha? Kan udah dibantuin rusakin mobil--hmmmm?” mulutnya keburu dibekap Nazarel.
“Rusakin mobil?” Zain yang duduk di atas ranjang berhenti bermain game lalu menatap keduanya.
“Mobil siapa yang dirusakin?” Kini Nico yang bertanya.
“Ehh, mmmhh aahh itu mobil Papa, bang,” jawab Nazarel terpaksa berbohong.
“Iya, itu mobilnya Om Rama. Waktu itu kan Naza tuh kesal sama Om Rama. Udah gitu nyuruh gue kempesin ban mobilnya Om diam-diam, hehe.” Alter juga terpaksa berbohong.
Nico menggelengkan kepalanya. “Apa kau yakin akan menerima pria itu?”
Nazarel mengangguk. “Mumpung kalian di sini.”
Nico memeluk Nazarel dari samping, tetapi kedua mata Nazarel menatap tajam pada Alter dan berkata dengan isyarat matanya itu ‘Awas kalau bongkar rahasia kita’.
Alter hanya nyengir lalu mencubit sebelah pipi Nazarel.
*****
Sepagi itu. Zand datang ke rumah orang tuanya yang pasti jam segitu semuanya belum pergi bekerja. Ia mampir dulu ke sana dengan seragamnya sebab dari sana akan langsung ke kantor polisi.
Dua satpam menyambut kedatangan Zand dengan hormat seperti biasa.
Zand melepaskan topi serta sepatunya lalu masuk ke dalam.
“Loh, Zand. Pagi sekali kau datang?” sambut Zicko yang datang dari dapur membawa s**u hangat--tersenyum melihat Zand memakai seragam polisi.
Zand mengangguk lalu memeluk sekilas kakaknya. “Kak, hari ini kerja?” tanyanya seraya berjalan masuk ke ruang makan.
“Ya, baru mau sarapan dulu, nih.” Zicko mengacungkan gelas susunya.
“Loh Zand, ada apa pagi-pagi begini datang?” sambut Nyonya Dhalia senang melihat kedatangan putra bungsunya itu.
Zand mengecup sekilas puncak kepala ibunya lalu mengecup punggung tangan ayahnya yang sedang membaca koran pagi.
Tuan Ikhsan hanya tersenyum sebab tahu berita baik apa yang dibawa putra keduanya itu.
Zicko duduk di samping Qeira yang tersenyum melihat kedatangan Zand.
Zand duduk di sebelah ibunya seraya menghela napas panjang.
“Sudah sarapan? Mau Bunda bikinin telur dadar atau telur rebus?” tanya Dhalia menatap Zand.
“Tadi sudah sarapan Bun, jadi nggak usah,” jawab Zand terlihat ragu untuk membicarakan masalah pertunangannya itu.
Dhalia mengernyitkan keningnya heran. Jika melihat sikap Zand yang sedikit gelisah seperti itu. Pasti ada sesuatu yang hendak dibicarakannya dan pastinya masalah itu penting sekali baginya. “Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?” tanyanya jadi ikut cemas.
Zand menggelengkan kepalanya.
Zicko jadi ikut bertanya. “Apa kau mau over tugas ke Luar Kota?” terkanya. Biasanya Zand datang ke sana untuk pamit pergi beberapa hari over tugas ke Luar Kota atau bahkan beberapa bulan lamanya.
Tidak ada yang tahu masalah perjodohan Zand dan Nazarel selain Tuan Ikhsan.
Tuan Ikhsan masih tersenyum. “Bagaimana semalam? Apa kau sudah bertemu dengan calon istrimu?”
“Calon istri?” Zicko dan Dhalia terkejut mendengar kalau semalam Zand menemui calon istrinya.
Ikhsan pun menjelaskan sekilas tentang perjanjian perjodohan ayahnya dan teman masa kecilnya.
Raut wajah Qeira terlihat biasa saja dan menjadi pendengar setia. Wanita anggun itu hanya menatap kedua mertua dan juga adik iparnya sekilas-sekilas.
Zand menghela napasnya panjang. “Semalam aku sudah menemuinya. Dan nanti sore aku akan melamar gadis itu Bun, Yah, dan Kak,” ujarnya ragu melirik pada ayahnya, lalu kakaknya dan berakhir menatap ekspresi wajah ibunya.
“Hahaha,” tiba-tiba Nyonya Dhalia tertawa mendengar ucapan anaknya itu, “kamu bercanda pagi-pagi begini membuat Bunda tertawa saja. Masa baru bertemu sekali sudah mau melamar?”
Zand malah mengernyit serius.
Tuan Ikhsan melihat keseriusan di kedua mata Zand.
Qeira juga tak kalah heran. “Memangnya kamu mau melamar dia? Bukankah semalam kalian baru bertemu dan pastinya belum saling mengenal dekat?” tanyanya baru buka suara. Baru semalam bertemu, sudah akan melamar gadis itu.
“Iya, kenapa mendadak sekali? Atau jangan-jangan kau sudah mengenalnya dari lama, hah?” Zicko juga masih menganggap kalau ucapan adiknya itu hanya lelucon belaka.
“Aku serius Bun, Ayah. Nanti sore aku akan melamar dan kami akan bertunangan dulu,” jawab Zand semakin serius dan penuh keyakinan. Sebenarnya pagi tadi ketika bangun tidur. Tuan Herdy sudah meneleponnya dan mengatakan tentang keberangkatannya ke London dalam waktu dekat. Jadi, jika ingin menikah, harus segera mereka lakukan karena tidak tahu apakah Tuan Herdy akan bisa kembali ke tanah air dalam keadaan hidup atau sudah tiada.
Zand yang seorang polisi langsung menangkap ucapan Tuan Herdy. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan kakek dari bakal calon istrinya itu. Sesuatu yang besar sehingga menanyainya dengan serius, perihal diterimanya atau tidak perjodohan itu dan sanggupkah dia menikahi Nazarel selama mereka ada di kota itu. Sebelum berangkat ke London.
Nyonya Dhalia menatap wajah suaminya. “Ayah, Bunda nggak salah dengar, kan? Anak kita ini akan melamar seorang wanita?” ada nada kaget bercampur tak percaya mendengar ucapan Zand. Untuk pertama kalinya anaknya itu mengatakan akan melamar bukan memperkenalkan seorang wanita sebagai pacar. Meski perjodohan itu sudah direncanakan lama oleh ayah mertuanya. Tetapi dia tak mau Zand menerimanya karena terpaksa.
Melamar?
Selama ini Zand memang tak pernah dekat atau bahkan menggandeng seorang wanita yang diakui sebagai pacar. Jangankan membawa seorang wanita ke hadapan kedua orang tuanya itu. Memperkenalkan seorang wanita pada kakaknya saja tak pernah. Dan kali ini dia akan langsung melamar gadis itu.
Pantas mereka heran, sebab tahu jika selama ini Zand sibuk sekolah kepolisian serta setelah lulus langsung ditugaskan di tempat kerjanya saat ini. Jadi bagi mereka berpikir jika wanita adalah nomor sekian bagi Zand dan tugasnya pada negara lah yang utama.
Nyonya Dhalia masih saja menatap tak percaya pada Zand. “Kamu serius Zand? Melamar? Mendadak begini?”
Zand menjawab dengan anggukkan saja.
Zicko hanya melihat Zand yang menatap kosong ke arah meja di depannya. Tampaknya ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya itu. Dia tahu jika ada seorang wanita rahasia yang menjadi pujaan hati adiknya selama ini. Ataukah dia memang sudah mengenal gadis calon istrinya itu? “Jangan katakan kalau kau mengenalnya dan sudah menghamilinya?” celetuk Zicko menerka asal.
Raut wajah Qeira kali ini terkejut dan tak bisa disembunyikannya lagi. Adik iparnya itu menghamili?
Zand baru mengangkat wajahnya lalu menatap Zicko. “Aku tidak menghamilinya,” tukasnya, “bagaimana menghamili, baru semalam kami bertemu.” Ya. Zand terpaksa berbohong. Mustahil dia mengatakan kalau gadis itu sudah dua kali berbuat kerusuhan dan masuk ke kantor polisi.
Kali ini Ikhsan mulai serius bertanya. “Apa kau serius akan melamarnya? Apa kau langsung menyukai gadis itu?”
Zand kembali mengangguk. “Karena aku sangat menghormati keputusan kakek. Jika aku menolak, sama dengan menghancurkan wasiat kakek dan merusak pertemanan keduanya yang sudah terikat dari mereka kecil.”
Dhalia menatap sayu anaknya itu. “Ingat Zand. Jika hanya masalah itu, Bunda mohon kamu jangan memaksakan diri. Biar Ayahmu yang akan berbicara dengan kakekmu dan menjelaskan kalau kamu belum siap menikah-”
“Aku sudah siap Bun,” potong Zand bertambah serius, “lagipula kami tidak punya banyak waktu. Dia sebentar lagi harus mendaftar kuliah dan aku akan over tugas di akhir tahun. Jadi, jika kami tidak menikah sekarang-sekarang. Kakek gadis itu akan pergi ke London dan akan lama tinggal di sana. Itulah yang aku dengar dari kakek.” Ia menjelaskan tentang pembicaraannya dengan kakeknya tadi pagi tentang keputusannya menerima gadis itu.
Dhalia bertanya kembali. Tampaknya anaknya itu memang tidak main-main lagi. “Siapa namanya? Dari keluarga mana dan tinggal di mana?”
Zand pun mulai menjelaskan kalau gadis itu masih berusia 18 tahun. Dari keluarga terpandang di kota itu, bahkan kakeknya juga termasuk keluarga terhormat di kotanya. Tinggal di perkomplekan elit dan hanya putri semata wayang kedua orang tuanya. Hanya itu yang dia tahu selain dari yang dibacanya di dalam berkas kasus Nazarel, sebab dia tak tahu siapa saja keluarga besar gadis itu. Bagaimana bisa dia menjelaskan semuanya tanpa tahu semua seluk beluk keluarga Adhitama.
Mendengar nama keluarga Adhitama. Ikhsan pun mulai mengingat-ingat nama itu. “Jangan katakan kalau gadis yang ingin kau lamar dari keluarga Adhitama yang mempunyai beberapa cabang kantor PT. BIG LAND.GROUP.”
Zand termenung sedikit mengingat-ingat apa pekerjaan ayah Nazarel yang tercantum di berkas penangkapan gadis itu kemarin. Tak lama dia pun mengangguk.
Ikhsan segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja makan lalu tampak mencari-cari foto di galery HP-nya itu. “Apa pria ini yang kau maksud?” tanyanya seraya memperlihatkan sebuah foto seorang pria bersama seorang gadis.
Zand mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihatnya. “Ya, itu gadis yang aku temui semalam. Apa itu Tuan Rama Adhitama,” jawabnya kaget melihat ayahnya sedang bersalaman dengan seorang pria yang dipeluk dari samping oleh Nazarel di foto itu.
“Ya. Itu Nazarel Adhitama bersama ayahnya Rama Adhitama,” ujar Ikhsan tampak senang mendengar Zand ternyata akan melamar anak gadis rekan kerjanya. Dia hanya tahu kalau Zand dijodohkan dengan cucu Herdy Adhitama. Tak menyangka jika cucunya itu adalah putri dari partner barunya di proyek pembangunan.
“Jadi Ayah sama Tuan Rama …?” Zand tampak masih tak mengerti. Ada hubungan apa ayahnya dan pria bernama Rama itu? Kenapa di dalam foto mereka bersalaman?
Zicko kini tahu gadis mana yang disebutkan oleh adiknya. “Oho, karena kamu jarang pulang. Jadi nggak tahu perkembangan kantor kami ya. Ayah baru saja memenangkan lahan baru dan kini bergabung dengan PT. Big Land. Group untuk mengelolanya dan pemilik PT itu adalah Tuan Herdy yang saat ini dipegang cabangnya di sini oleh anaknya yang bernama Pak Rama itu,” ujarnya hampir lupa memberitahukan pada Zand tentang kontrak kerja bersama perusahaan pembina perumahan dan juga beberapa proyek bangunan-bangunan menjulang di beberapa kota.
Zand tampak termenung dan sedikit kaget mendengarnya. Jadi Nazarel adalah seorang putri pengelola hektaran lahan untuk perkomplekan dan juga memiliki cabang arsitektur di beberapa kota lainnya. Karena kesibukannya menangani kasus-kasus, jadi dia pula belum sempat melihat silsilah keluarga Adhitama.
Zand hanya tahu sebatas kalau ayah Nazarel memang seorang pengusaha saja. Tak tahu jika PT sebesar itu milik keluarga gadis itu. “Jadi Ayah mengenalnya juga?”
Ikhsan mengangguk. “Ya, kami sekarang partner kerja. Jadi beneran kau akan melamar anak gadis Pak Rama?”
“Ya,” jawab Zand singkat. Tampaknya dia tak perlu panjang lebar lagi menjelaskan kepada mereka siapa dan bagaimana keluarga itu sebab tampaknya ayahnya lebih mengenal Tuan Rama ketimbang dirinya.
Dhalia menatap Zand serius. “Zand, jadi kamu beneran mau melamarnya?”
Zand kembali mengangguk.
“Ayah setuju,” jawab Ikhsan cepat membuat Zicko dan juga Dhalia mengernyit heran. Secepat itu dia menyetujuinya.
“Baiklah aku juga,” sahut Zicko sembari terkekeh.
Sementara Qeira menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
“Memangnya kenapa?” tanya Zicko mengerti arti tatapan istrinya itu, “jika Zand dan anak Pak Rama sampai menikah. Maka partner antara dua PT akan menjadi dua besan dan juga menjadi kerabat, bukan? Lagipula itu adalah gadis pilihan kakek untuk Zand.”
Zand menghela napasnya. Dia tak menyangka jika akan terperangkap dalam sebuah pertunangan dengan gadis konglomerat yang pastinya akan manja. Terlihat dari sikap Nazarel. Selama ini tipenya bukan gadis seperti itu, tetapi kenyataannya kini dia yang terjerat gadis kaya serta manja dan urakan seperti Nazarel.
Apa hendak dikata? Permainan baru saja dimulai, jadi Zand sudah tak bisa mundur lagi. Karena jika dia mundur, maka akan banyak yang kecewa termasuk kedua orang tua Nazarel serta kakeknya.
“Baiklah, nanti sore sepulang kerja. Antar Bunda untuk berbelanja dulu membeli cincin pertunangan kalian,” kata Dhalia akhirnya setuju juga.
“Jadi Bunda juga setuju?” tanya Zicko heran. Tak biasanya ibunya yang selalu banyak larangan itu langsung setuju.
Dhalia menghela napasnya panjang. “Mau bagaimana lagi jika ini adalah pertama kalinya Zand mengutarakan keinginannya dan juga meminta persetujuan kita. Bunda juga pastinya takkan bisa menentang kehendak kakek kalian.”
Ikhsan terkekeh melihat istrinya tampak pasrah atau lebih tepatnya terpaksa. Jika seandainya istrinya itu tahu bagaimana calon istrinya Zand. Sudah pasti akan merasa heran, bagaimana bisa anaknya itu menyukai remaja anak Pak Rama. Hanya dia yang tahu karena beberapa kali pernah bertemu dengan Nazarel ketika berkunjung ke kantor ayahnya itu. Gadis itu bukan pula tipe menantu keinginan Dhalia.
Namun, di sisi lain Ikhsan menyukai gadis periang seperti Nazarel. Meski baru beberapa kali bertemu, dia kini tahu kenapa Zand sampai menerima gadis seperti itu.
Tetapi, semua kembali kepada Zand. Apa pun yang sudah dia putuskan, takkan bisa ditarik atau diubah kembali.
Zand bangkit berdiri dari duduknya. Tampaknya tugasnya sudah selesai, lalu pamit untuk pergi bekerja.
Zicko tersenyum pada Qeira. “Tak nyangka ya, akhirnya adikku itu akan menikah juga dengan seorang wanita.”
Dhalia menggelengkan kepalanya. “Kamu pikir adikmu selama ini gay, hah? Dia itu fokus dalam tugasnya bukan pada wanita, jadi Bunda malah bangga padanya.”
“Y-ya Nyonya Dhalia selalu benar,” jawab Zicko menggoda ibunya.
“Ckk.” Dhalia malah berdecak mendengar godaan anak pertamanya itu.
Zand pergi dari kediaman orang tuanya.
Sesampainya di kantor polisi. Zand berjalan ke ruangannya dengan sangat tenang seperti biasa, seakan hari itu dia takkan melamar seorang gadis. Wajahnya terlalu datar untuk orang yang akan segera menikah.
Langkah kakinya berhenti kala mengingat ucapan ibunya yang meminta dia untuk mengantar berbelanja.
Cincin?
Ya. Dia perlu tahu berapa nomor cincin Nazarel.
Zand untungnya menyimpan nomor Nyonya Lorra. Ia menghubungi ibu Nazarel untuk menanyakan berapa nomor cincin Nazarel.
“Hallo, dengan siapa ini?” sapa Lorra di seberang sana mungkin lupa untuk menyimpan nomor Zand.
“Ini saya Nyonya, Zand. Polisi yang jaket dan dompetnya-”
“Ya-ya, saya ingat. Benarkah kau juga calon suami putri saya?”
“Ya Nyonya. Kebetulan sekali itu saya.”
“Tak menyangka ya kalau dunia ini memang sempit dan jodoh memang sudah ada yang mengaturnya. Maaf jika pertemuan pertama kalian adalah anak saya masuk ke kantor polisi,” kata Lorra dengan nada setengah berbisik. Tampaknya tak mau ada orang yang mendengarnya.
“Anda benar Nyonya. Tidak menyangka jika putri Anda akan menjadi calon istri saya.”
“Jangan panggil Nyonya. Panggil saja Tante. Tapi, saya mohon kamu rahasiakan tentang Naza yang masuk ke kantor polisi dengan Alter. Sebab kakek dan ayahnya tidak tahu tentang hal itu.”
“Anda jangan khawatir Nyo-maksud saya Tante. Sebab tidak akan ada yang tahu, bahkan keluarga saya juga tidak tahu.”
“Baguslah. Oh ya, apa kau menelepon untuk menanyakan persiapan di sini atau hendak mengambil jaketmu yang tampaknya masih tertinggal di sini ya?”
Zand hampir saja melupakan jika jaketnya tertinggal di sana. Waktu itu hanya dompetnya saja yang sempat diambilnya. Sementara jaketnya belum. “Tidak Tante. Saya hanya ingin menanyakan tentang berapa nomor cincin Nazarel. Sebab nanti sepulang kerja saya dan ibu saya akan mampir membeli cincin tunangan.”
“Oh, cincin Nazarel nomor 7.5 atau 8 kecil.”
“Terima kasih,” jawab Zand mengingat nomor itu.
“Ada yang bisa Tante bantu lagi? Soalnya di sini lagi sibuk untuk mempersiapkan acara lamaran kalian sore ini.”
“Tidak ada Tante. Terima kasih,” jawab Zand sekali lagi berterima kasih.
“Kalau begitu, Tante tunggu kedatangan kalian.”
Keduanya pun mematikan sambungan masing-masing.
Zand menghela napasnya. Apa dia beneran bisa menerima gadis seperti Nazarel yang bukan tipe wanita idamannya atau pula termasuk dalam daftar calon istrinya.
Cinta memang menyatukan dua dunia. Terkadang pasangan kita bukankah pasangan impian kita, sebab setiap kekurangan seseorang akan dilengkapi oleh pasangannya.
Antara dua pasangan pasti akan ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kelebihan itulah yang akan melengkapi kekurangan pasangan kita. Namun, terkadang orang terlalu egois sehingga menganggap dia tidak punya kekurangan dan kelebihannya adalah nilai egonya yang tinggi, sebab itu terlalu banyak orang yang merendahkan pasangannya sendiri hanya kala ketika dia berdiri di tempat yang terlalu tinggi dan menganggap kalau dia tidak akan pernah terjatuh ke tempat yang lebih rendah dari pasangannya sendiri.
Hari itu. Zand bekerja seperti biasa, tetapi pulang lebih cepat dari biasanya.
*****
Hari menjelang sore. Zand sudah pergi bersama dengan ibunya berbelanja untuk keperluan lamaran. Pastinya membeli cincin tunangan juga. Dia sengaja pulang cepat untuk pertunangan itu.
Zand membukakan pintu kaca toko perhiasan terbesar di kota itu. Toko DAMAS Gold and Silver.
Ketika masuk. Keduanya disambut manager sekaligus sekretaris sang pemiliknya yaitu Aris.
“Selamat sore Pak Aris, bagaimana kabarmu?” sapa Zand pada Aris yang menyambutnya dengan senyuman dan keduanya terlihat akrab.
Zand adalah salah satu teman SMA Rodrik. Jika Rodrik melanjutkan ke fakultas lebih tinggi, beda lagi dengannya yang langsung masuk ke sekolah kepolisian.
“Selamat sore juga Sir Zand. Sir Rodrik sudah menunggu Anda di dalam,” kata Aris menunjukkan sebuah pintu bertuliskan ruangan CEO. Rodrik Argum.
Zand melirik ibunya yang tengah sibuk memilih-milih perhiasan di sana.
“Pergilah, Bunda mau memilih perhiasan untuk calon istrimu dan juga sekalian untuk Qeira,” jawab Dhalia tahu arti tatapan anaknya itu.
Zand mengangguk mengerti. Ia pun berjalan mendekati pintu ruangan Rodrik, sementara ibunya ditemani oleh Aris dalam memilih-milih perhiasan terbaik.
Tokkk tokk.
“Masuk.” Terdengar suara Rodrik dari dalam sana.
Zand tersenyum lalu membuka pintu. “Maaf boss muda. Sore begini sudah membuatmu menunggu, padahal ini sudah jam pulangmu, kan,” candanya hanya menyembulkan kepalanya saja di balik pintu.
“Oho, masuklah. Lama tak bertemu.” Rodrik yang sedang duduk langsung berdiri kala melihat sahabat lamanya itu.
Zand masuk kemudian menutup pintu lalu berpelukan sekilas dengan sahabatnya itu.
“Hormat Pak Ajun Komisaris,” canda Rodrik hormat tegap pada Zand sambil terkekeh.
“Hentikan, kau selalu saja membuatku malu,” kata Zand menurunkan tangan Rodrik di pinggir kepalanya sambil tertawa kecil.
Rodrik juga terkekeh. “Duduklah. Bagaimana kabarmu? Sudah lama tak ketemu.”
“Ya. Kau benar, sudah lama sekali.” Zand duduk di sofa dibarengi oleh Rodrik di sofa satunya lagi.
“Aku tak menyangka kau sudah menjadi Ajun di kepolisian. Maaf jika aku tak datang ke pelantikanmu waktu itu,” ucap Rodrik terlihat menyesal sebab waktu itu dia tengah pergi ke Francis.
“Tidak apa. Dan maaf juga waktu kau menikah, aku sedang ada pelatihan di Ambon,” ujar Zand juga sama-sama menyesal.
“Hey sudahlah. Kau datang ke sini mau curhat penyesalan atau mengambil pesananmu?” Rodrik tertawa melihat ekspresi wajah Zand yang selalu saja serius.
Zand merasa Rodrik memang sudah banyak berubah. “Aku dengar kau sudah punya anak, tak menyangka kau hebat juga.”
“Hehe, kau benar. Anakku baru saja berjalan tiga bulan,” jawab Rodrik membayangkan Derick yang tadi pagi pas berangkat masih tidur.
“Oh ya. Banyak yang aku dengar tentangmu dan juga istri kecilmu itu.” Zand jadi teringat kalau dia juga akan bertunangan dengan gadis berusia 18 tahun.
“Kau benar. Istriku masih sekolah SMA waktu kami menikah, dan tak menyangka jika kami akan segera dikaruniai seorang anak.” Syukur Rodrik masih teringat kala menikahi Navia yang masih sekolah.
Zand ikut bahagia mendengarnya. “Ya. Aku sudah dengar semuanya dari Lucky. Kau tahu, jika mulut Lucky mulut ember. Jadi aku tahu kau menikahi gadis yang masih sekolah.” Dia tahu semua kabar temannya tetapi sangat sibuk juga dengan tugasnya sehingga jarang bertemu dengan semua sahabatnya.
“Oh ya. Ini cincin yang kau pesan. Semua adalah collection, dan terbaru. Jadi kau orang pertama yang memilih serta memilikinya,” kata Rodrik mengeluarkan kotak besar berisi banyak cincin rancangan terbarunya dari bawah meja kaca untuk perhiasan.
Zand memperhatikan cincin-cincin mewah itu. “Apa ini sepasang?”
“Tentu saja, bukankah kau tadi pagi mengatakan akan melamar sekaligus bertunangan. Jadi sudah pasti sepasang,” jawab Rodrik mengangkat kotak cincin dalamnya yang ternyata di bawahnya cincin untuk pria pasangan cincin wanita itu.
Zand tersenyum lalu mulai memilih cincin mana yang cocok untuk Nazarel.
“Oh ya. Wanita mana yang tertimpa sial karena kau akan menyandingnya?” canda Rodrik mulai menggoda Zand.
“Sialan kau, apa aku seserius dan sebajingan itu?” Zand tertawa sambil seolah melayangkan tinju kosongnya pada Rodrik.
Rodrik kembali tertawa.
Zand pun mulai penasaran dengan rumah tangga Rodrik di mana istrinya lebih muda darinya. Dia pun bertanya lagi bagaimana rasanya menikah dengan gadis lebih muda belasan tahun darinya.
“Kenapa kau penasaran sekali?” tanya Rodrik malah jadi penasaran. Tak biasanya Zand kepo dengan rumah tangga seseorang.
“Karena gadis yang akan aku lamar hari ini masih berusia 18 tahun juga,” ujar Zand terlihat tersenyum seraya menghela napasnya panjang.
Rodrik malah terkekeh. “Kenapa kau ikut-ikutan juga menyukai gadis remaja? Hey, istriku sekarang sudah 19 tahun,” koreksinya.
“Apa kau tak mencintai istrimu yang masih kecil itu? Jadi tak usah bertanya kenapa aku menyukainya, yang pasti dia sama ceria seperti istrimu itu,” protes Zand pada pertanyaan Rodrik.
“Kau benar. Hidup kita yang terlalu serius menjadi berwarna dan banyak tawa mendapat gadis ceria seperti mereka,” jawab Rodrik, “tunggu dulu, kau sudah mengenal istriku dan bagaimana sifatnya. Tetapi aku belum tahu gadis mana yang akan kau sanding?” Ia jadi penasaran.
Zand tersenyum tipis. “Kau pasti tahu putri semata wayang Lorra Adhitama. Aku pernah bertemu dengannya dan dia selalu memakai perhiasan koleksi tokomu ini.” Jangan salah, dia adalah polisi. Jadi sekecil apa pun dia tahu dan teliti ketika Lorra datang ke kantor polisi dengan memakai satu set perhiasan dari toko Rodrik.
Rodrik menggelengkan kepalanya. Zand memang paling peka dan teliti dalam hal sekecil apa pun. Jadi pantas saja dia selalu pandai memecahkan kasus dengan cepat.
“Jangan katakan kau akan melamar putri Tuan Rama Adhitama?” Rodrik mengerjap tak percaya sebab dia tahu sifat dan tipe Zand. Gadis itu sedikitpun bukan tipenya. Tidak sepertinya yang tak pernah memandang fisik ataupun sifat. Zand selalu menginginkan wanita dewasa, anggun dan juga tak banyak bicara. Sementara setahunya, putri Lorra dan Rama Adhitama terlalu cerewet dan tak pernah memperhatikan bagaimana cara berpakaiannya.
Apa benar kalau cinta itu buta?
Salah!
Sebab cinta itu sebenarnya tak buta. Melainkan hati selalu menginginkan hal-hal kebalikan apa yang kita sukai. Sebab kata benci terlalu tipis untuk dibedakan dengan rasa Cinta. Dan Cinta itu sebuah tantangan. Semakin kita merasa tertantang, maka hati akan semakin berontak untuk merusak larangan.
“Sudahlah. Sulit untuk menjelaskannya dan aku pun belum tahu semua ceritamu bagaimana bisa kau nekat menikahi gadis yang bahkan masih sekolah,” Zand menggelengkan kepalanya tak habis pikir, “kau pun berutang cerita padaku.”
“Y-ya, kau benar. Lain kali ketika kita berkumpul bersama dan tak ada kesibukan masing-masing. Harus saling terbuka, hah.” Rodrik jadi menggaruk tengkuknya tak gatal seraya meringis. Ya, dia memang lebih nekat dari Zand. Setidaknya gadis yang akan dilamar Zand saat ini sudah lulus sekolah dan akan masuk kuliah. Tapi jika mengingat Navia yang yatim piatu. Tindakan menikahi Navia dengan cepat adalah tindakan yang benar yang takkan pernah disesali seumur hidupnya itu.
Zand mengacungkan jempolnya tanda setuju. Dia pun menanyakan tentang Anjas, Miko dan Lucky yang sudah lama juga tak bertemu dengan mereka karena tugas polisi tak seperti Rodrik yang bisa bekerja di rumahnya sendiri, sebab dialah boss-nya.
★BERSAMBUNG★