“Sesuatu yang terpaksa, tidak akan menemukan kebahagiaan. Tetapi jika tidak dipaksa, maka kau takkan bisa tahu arti sebuah Cinta. Karena di dalam sebuah Cinta, tidak ada paksaan apalagi perjanjian.”
*****
“Nazarel bangun!” kata Lorra jengah melihat anaknya malah masih tidur siang dengan gaya tengkurap sambil memeluk bantal gulingnya.
“Lima menit lagi Ma,” jawab Nazarel malas bangun.
“Haduhh, kamu lupa kalau sore ini akan dilamar dan pasti keluarga nak Zand akan datang ke sini,” kata Lorra memukul-mukul pelan p****t Nazarel.
“Aakhh aku berharap semua hanya mimpi,” rengek Nazarel seraya menutupi seluruh kepalanya dengan bantal.
“Ingat Nazarel. Mama hari ini nggak bisa mengurusmu terus sebab masih banyak yang harus dikerjakan. Jadi, bangun sendiri dan pergi mandi. Nanti kita akan kedatangan mbak salon ke sini,” ujar Lorra mengingatkan Nazarel.
“Manggil salon juga?” malas Nazarel semakin tak mau bangun.
“Tentu saja, kita tak punya waktu untuk ke salon,” jawab Lorra sedikit kesal melihat anaknya yang malas-malasan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tahu jika Nazarel akan bertunangan dengan pria asing, bukan karena cinta.
“Y-ya. Aku tau Ma. Biarkan aku tidur lima menit lagi.” Nazarel benar-benar masih mengantuk dan malas untuk bangun.
“Baiklah, Mama kasih bonus sepuluh menit. Kalau nggak bangun juga, Mama guyur sekalian dengan air dingin.” Lorra kalau sudah mengancam membuat Nazarel menelan salivanya. Meski kedua matanya tertutup tetapi pendengarannya sudah jelas mendengar ucapan Ibunya dan juga pintu terbuka dan tertutup lagi.
Harusnya dia bersyukur dan berterima kasih kepada Zand. Sebab karena dia, dirinya tak jadi terbang untuk kuliah di Luar Negeri. Akh, tapi berharap juga masuknya ke kantor polisi itu tidak pernah terjadi.
Entahlah. Posisi Nazarel saat ini sedang sulit. Maju kena mundur juga kena. Diibaratkan dia sedang berdiri di atas batu yang mengambang di atas jurang. Melangkah jatuh, diam pun tetap jatuh. Itulah Nazarel, selalu terjatuh karena ulahnya sendiri.
Hari itu semua orang sibuk membereskan rumah dan sedikit menghiasnya untuk lamaran pertama cucu Tuan Herdy. Sudah pasti takkan sesimple mungkin. Meski dibilang sederhana bagi keluarga Adhitama, tetapi tetap ada kesan mewah terlihat bagi orang biasa.
Sepuluh menit berlalu.
“NAZAREL!” panggil Lorra di ambang pintu dan berhasil menghentak Nazarel yang langsung terbangun.
“YA, AKU SUDAH BANGUN MA!” jawab Nazarel tak kalah berteriak. Dengan kedua mata tertutup. Ia turun dari ranjang lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Seusai mandi.
Kini Nazarel duduk di kursi dengan dua orang wanita salon yang sibuk mendandaninya. Tetapi gadis itu malah terlihat santai saja. Bahkan malah asyik bermain game di ponselnya tanpa memperhatikan apa yang dilakukan kedua wanita itu kepadanya.
Baginya. Hari itu bukan hari istimewa sebab dia sudah merancang berbagai cara untuk membuat pernikahannya berantakan dan akan berujung perceraian. Mustahil seumur hidupnya dia harus hidup dengan pria yang tak mencintainya atau sebaliknya, tentu saja dia juga tak mencintai pria itu.
Ingatlah. Bagi Nazarel, sesuatu yang tak mungkin pasti terjadi. Apa pun yang dia rencanakan harus berhasil. Namun, dia terlalu lupa jika pria yang akan dihadapinya bukan pria biasa dan tidak akan mudah untuk dibodohi. Sungguh Nazarel belum menyadari. Ke jurang seperti apa sebenarnya dia sudah terjatuh.
Sore menjelang malam.
Rumah Adhitama sudah selesai dihias. Kue-kue dan minuman mewah pun sudah terhidang di atas meja. Pesta pertunangan dadakan itu membuat semua orang hampir kewalahan.
Bahkan yang hadir hanya dari tetangga dan kerabat dekat saja. Karena itu bukan acara pertunangan besar-besaran dan mewah bagi keluarga Adhitama.
Jika sederhana saja sudah semewah itu. Jadi, bagaimana nantinya kala pernikahan atau acara pesta mereka yang besar dan mewah? Crazy rich memang golongan keluarga Adhitama meski mereka sebenarnya tak pernah suka pamer kepada yang lainnya apalagi menyombongkan diri. Bukanlah keluarga Adhitama yang mempunyai sikap angkuh seperti itu.
Akhirnya yang dinantikan tiba.
Zand turun dari mobil dibarengi oleh ayah dan ibunya. Di belakangnya ada mobil Zicko dan istrinya. Kakek nenek Zand pastinya tak bisa datang. Tetapi mereka berjanji akan datang kala pernikahan Zand.
Zand memakai jas putih dengan celana warna hitam. Memakai dasi hitam serta sepatu kulitnya. Terlihat semakin gagah dan tampan tanpa topi polisi atau rambutnya yang acak-acakan karena memakai topi terus. Kini rambutnya disisir rapi dan mengkilap. Dia terpaku melihat rumah besar itu semakin mewah terlihat karena hiasannya. Belum lagi makanan dan minuman yang terhidang di taman yang diatapi backround warna pink muda.
Bunga-bunga asli di setiap vas kaca kristal besar dan kecil menghiasi setiap meja di taman, antara ambang pintu dan juga sekitarnya dengan lampu-lampu hiasan juga.
Karpet biru muda berbulu tergelar dari jalan depan sampai ke dalam. Keluarga Navindra disambut layaknya keluarga selebritis berjalan di red carpet.
Sungguh pemandangan di sana memanjakan mata. Warna-warna yang tak terlalu mencolok membuat yang datang langsung merasa betah berlama-lama.
Dhalia juga tampaknya sedikit kagum melihat rumah mewah itu. Mereka memang golongan orang kaya, tetapi keluarga Adhitama tampaknya lebih kaya dari keluarganya.
Rama langsung menyambut kedatangan mereka. “Loh, Pak Ikhsan. Jadi nak Zand anaknya Bapak?” sungguh terkejut sekaligus senang melihat kedatangan partner kerjanya. Meski kontrak kerja sama baru saja berjalan beberapa hari. Tetapi tampaknya mereka akan semakin dekat bukan sebagai partner saja melainkan sebagai besan juga.
“Ya Pak Rama. Tak menyangka ternyata ayah kita sabahat sejak lama. Dan keduanya menyetujui perjodohan ini,” jawab Ikhsan tersenyum senang juga seraya melirik Zand yang berdiri di dekatnya.
“Oh ya, kenalkan ini istri saya Dhalia, ini menantu pertama saya Qeira, dan kalau pemuda ini pasti sudah tahu, kan,” lanjut Ikhsan menepuk punggung Zicko yang menghampiri Rama.
Zicko menyalami Rama sembari tersenyum juga. “Selamat sore Pak. Tak menyangka ya adik saya menyukai anak Bapak yang-”
“Teledor,” potong Rama lalu tertawa. Teringat kala di proyek pembangunan di mana dia sedang bersama Zicko tengah mengontrol bangunan-bangunan, anak gadisnya itu datang meminta uang layaknya anak TK karena kartu ATM-nya ada masalah. Dan kala itu karena di sana banyak bekas kerikil, potongan kayu dan batu. Nazarel terjatuh tetapi malah tertawa dan hal itu membuat pegawai yang melihatnya malah ikut tertawa.
Semuanya jadi tertawa. Hanya Zand saja yang tersenyum seraya mengedarkan pandangannya.
Qeira merasa kalau ucapan suaminya semalam benar jika keluarga konglomerat itu tidak sombong, benar-benar ramah.
Datang Lorra menghampiri juga.
“Ma, ini keluarga nak Zand. Ternyata nak Zand anak partner baru Papa yang kemarin diceritakan itu,” ujar Rama memperkenalkan keluarga Ikhsan.
Karena serikat itu hanya baru beberapa hari. Jadi belum ada pesta peresmian antar perusahaan. Sehingga belum banyak yang tahu jika perusahaan Adhitama bergabung dengan perusahaan Navindra.
Lorra bersalaman dengan Dhalia. Usia keduanya sangat jauh tetapi masih sama-sama anggun dan cantik terawat. Bagi Lorra dia memang masih muda, tetapi usia Dhalia sudah hampir berkepala enam sebab usia Zicko saja sudah 36 tahun sementara Zand 33 tahun.
Namun, tetap saja Lorra menghormati yang lebih tua darinya. “Nyonya Dhalia? Senang bisa bertemu langsung dengan Anda. Suami saya sering membicarakan kalian tentang pekerjaan dan juga tak menyangka jika kita sekarang menjadi besan.”
Dhalia mengangguk sembari tersenyum. “Ya. Saya juga tak menyangka jika Zand akan menyukai anak partner kerja Ayahnya.”
Kedua keluarga itu masih terlihat canggung sebab masih belum saling mengenal dekat.
“Ma, gimana sih. Ngobrolnya di dalam saja, tak enak masa ngobrol di luar. Ayo semuanya masuk dan jangan sungkan.” Rama mengajak semuanya masuk ke dalam.
Zand tetap saja tampak mencari-cari seseorang.
Zicko tersenyum melihat bagaimana sikap Zand. “Mungkin calon istrimu masih di dandani. Sabar, sebentar lagi kalian akan bertunangan,” godanya seraya terkekeh.
Zand hanya tersenyum miring. Apa dia terlihat jelas kalau sedang mencari Nazarel.
Semuanya masuk ke dalam.
Nazarel sudah selesai di dandani. Dari tadi sore sampai mau malam dia baru selesai. Semua itu karena dia tak diam, sering ke sana kemari. Keluar masuk kamar mandi. Minta istirahat sebentar untuk sekadar menelepon. Jadi tentu saja waktunya terbuang.
Kedua wanita salon yang mendadaninya juga hampir kewalahan dan geleng-geleng kepala. Dan pada akhirnya keduanya merasa lega karena hasilnya tak sia-sia. Nazarel kini di sulap bagaikan cinderella. Setelah itu keduanya bergegas pergi dari kamar Nazarel karena dipinta untuk menikmati hidangan di rumah itu terdahulu.
Nazarel cemberut sambil duduk di atas ranjangnya.
Knock knock.
“Masuk,” jawab Nazarel ketus.
Muncul Nico dan Zain di balik pintu.
“Boleh abang masuk?” tanya Nico takut mengganggu.
Nazarel mengangguk seraya tersenyum. “Masuklah bang. Aku mulai bosan,” ujarnya mengerucutkan bibir.
Zain langsung nyelonong saja masuk dengan satu bungkus potato chip di tangannya. Ia melepaskan sepatunya lalu naik ke atas ranjang--duduk di belakang Nazarel.
“Ehh Tung-tung, main nyelonong aja,” kata Alter ikut juga masuk ke sana.
Zain nyengir. “Biasanya di kamarmu suka ada cokelat, Naz.”
“Ya Allah, itu aja di tangan belum abis,” kata Nazarel menggelengkan kepalanya lalu melirik Nico yang kini duduk di sebelahnya di atas ranjang.
“Sebenarnya kamu beneran menerima perjodohan ini?” tanya Nico kasihan jika Nazarel terpaksa menerima perjodohan itu.
Nazarel nyengir. “Kan aku yang minta dijodohkan duluan, bang.”
Alter yang tahu kenapa Nazarel minta segera dijodohkan. Padahal hatinya sedang patah dan remuk karena Fino.
Nazarel mengembuskan napasnya dalam-dalam. Apa dia harus jujur pada ketiga saudaranya itu tentang keadaan kakeknya? Apa dia juga harus mengatakan setelah pernikahan itu, kakeknya akan berangkat ke Luar Negeri untuk berobat?
Zain bertanya, “apa benar lo suka sama pria yang usianya aja lebih tua dari lo itu?”
“Aku suka kok sama polisi itu. Apa kalian nggak setuju kalau aku bertunangan dengannya? Dia kan tampan, mapan dan juga seorang polisi yang pastinya bertanggung jawab dan Papa juga menyetujuinya.”
Alter malah mengusap-usap punggung Nazarel.
Nico tentu saja ikut memeluk dari samping. “Nggak apa, kalau gitu. Abang hanya bisa mendoakan kebahagiaan kalian.”
Zain menyantap potato chip sambil memperhatikan Nazarel yang cantik dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. “Kalau udah nikah. Cepetan bikin bayi ya biar bisa gendong ponakan dari lo.”
“EHH TUNG-TUNG! OMONGANNYA NGGAK DIJAGA!” pekik Nazarel kaget mendengar ucapan asal Turzain sambil memukulkan bantal kecil berbentuk kartoon pooh yang mengenai pinggir lengan Zain.
Punya anak? Nazarel saja tidak yakin dia akan disentuh oleh Zand atau lebih tepatnya mustahil dia mau disentuh oleh pria itu jika belum siap. Mana mungkin melakukan hal itu tanpa rasa Cinta dan dia merasa Zand juga tidak akan menyentuhnya tanpa rasa di hatinya.
Zain terkekeh dengan mulut penuh potato. “Pasti ganteng dan cantik, kan.”
Alter jadi ikut-ikutan memukulkan bantal tidur ke belakang kepala Zain. “Heh, otak lu udah kotor ternyata, sapu buruan sapu. Noh ada sapu listrik, sedot sekalian, sama matanya gue colok deh.” Ia juga jadi ikutan gereget.
Nazarel jadi tertawa, begitu juga Nico geleng-geleng kepalanya. Zain
tentu saja tergakgak sendiri.
Pintu kamar Nazarel terbuka dari luar. Masuk Lorra ke sana. “Loh, kalian ternyata di sini. Semua tamu sudah datang dan keluarga nak Zand juga sudah hadir. Sekarang kalian turun, ngobrolnya nanti sambung lagi.” Ia tersenyum melihat betapa anggun dan cantiknya Nazarel.
Nazarel menggigit bibir bawahnya. Kenapa dia menjadi gugup sekali? Padahal itu bukan pertama kalinya bertemu dengan pria itu.
“Naza sini sebentar,” panggil Lorra mengerti kegelisahan di wajah putrinya.
Nazarel langsung bangkit dari duduknya lalu menghampiri Lorra di ambang pintu. Bertanya dengan gerakan dagunya.
Lorra membisikkan sesuatu ke telinga Nazarel. “Nanti jangan panggil Zand dengan sebutan nama atau Pak polisi. Panggil Mas Zand saja.”
Nazarel memajukan bibirnya lucu.
“Lorra!” panggil Asmi dari bawah tangga.
“Ya mbak, sebentar,” jawab Lorra. “Kalian cepat turun.” Setelah itu dia pergi meninggalkan keempatnya.
“Huhhh.” Nazarel mengembuskan napasnya berat.
“Jangan gugup, kami di sini.” Nico mendekati lalu mencolek ujung hidung Nazarel seraya tersenyum.
Nazarel mengangguk.
“Buruan, laper nih, dari tadi belum makan,” kata Zain turun dari atas ranjang, memakai sepatunya lalu bergegas berjalan ke arah Nazarel dan Nico.
“Astagfirulloh, dari tadi udah abis beberapa bungkus potato. Belum lagi kue-kue. Dan sekarang bilang belum makan?” Alter menggelengkan kepalanya dibalas cengiran oleh Zain.
Nico juga ikutan tersenyum. “Karena bagi dia, makan itu makan nasi dua piring. Kalau yang lain cuma buat ganjel perut doang.”
“Kapan dietnya?” Nazarel juga ikut mengejek sambil menepuk-nepuk perut buncitnya Zain.
Mereka pun terkekeh geli melihat Zain jadi cemberut.
Keempatnya pun keluar dari kamar Nazarel lalu menuruni tangga.
Ruang tengah yang luas itu kini menjadi tempat untuk pertunangan Nazarel dan Zand.
Zand berdiri dengan kakaknya, di tangannya segelas jus apel.
Zicko menyenggol lengan Zand supaya melihat ke arah tangga.
Zand menoleh ke arah tangga di mana Nazarel turun bersama dengan Nico. Di belakang keduanya Alter dan Zain.
Semua melihat ke arahnya juga. Nazarel sudah seperti seorang Putri didampingi tiga pangeran tampan. Meski Zain gemuk, tapi dia juga tampan seperti Alter dan Nico.
Kini Zand terpaku melihat kecantikan Nazarel. Sungguh dia baru menyadari jika gadis urakan, penampilannya selalu berantakan dan juga tak pernah dandan itu kini menjadi gadis anggun. Dengan balutan gaun berwarna mocca serta high heels berwarna senada menambah kecantikannya. Rambut panjangnya diikat dan dikeriting setengah di atas serta bagian bawah dikeriting gantung.
Wajahnya yang tirus terlihat imut dengan dandanan minimalis serta bibirnya yang sedikit tebal bawahnya dipoles lip gloss warna peach muda menambah kecantikannya.
Zand masih menatap kedatangan Nazarel sampai mendekat pada kedua orang tuanya. Kedua matanya seolah tak mau berkedip sedikitpun. Sementara ketiga sepupunya mendekati Zand dan Zicko.
Zicko menjentikan jarinya ke depan wajah Zand sehingga menyentak lamunannya sambil berbisik. “Ternyata calonmu memang sangat cantik. Tak kusangka ternyata tipemu tinggi juga, meski umurnya masih terlalu muda untukmu,” candaanya membuat Zand tersenyum tipis. Zicko juga tak menyangka gadis yang waktu itu teledor kini diubah menjadi seorang Putri yang sangat cantik.
“Hay calon kakak ipar,” sapa Zain melambai pada Zand.
Zand hanya membalas lambaian tangan Zain padanya dibarengi senyuman juga.
Nico dan Alter mendekati Zand dan Zicko.
Nico tersenyum ramah. Sementara Alter menatap penasaran, sebenarnya apa yang terjadi antara pria itu dan Nazarel dan apakah ada perjanjian di antara keduanya di pesta semalam? Atau mungkin saja Nazarel diancam akan dilaporkan pada kakek dan ayahnya kalau dia telah masuk penjara?
Nico mengulurkan tangannya pada Zand dan kakaknya. “Saya Nicolas, adik sepupu Nazarel, senang berkenalan dengan kalian,” ujarnya menyalami Zand lalu Zicko.
“Saya Zand, dan ini adalah kakak saya, Zicko,” sebut Zand sambil menoleh pada Zicko.
“Saya Turzain, panggil saja Zain. Nama kita sama, kan,” kata Zain mengulurkan tangannya yang ada bekas bumbu keju potato chip. Yang dimaksud sama adalah panggilan namanya berawalan huruf Z.
Alter menoyor belakang kepala Zain. “Heh, cuci tangan dulu sana. Jorok.”
Zain nyengir lalu menarik tangannya kembali. Kemudian berlari ke arah kamar mandi tamu.
Nazarel berdiri dengan kepala menunduk di hadapan kedua orang tua Zand.
Ikhsan tersenyum menatap Nazarel dari atas sampai bawah kakinya. Gadis itu memang masih terlalu muda untuk anaknya, tetapi memang cantik dan lebih manis dari Qeira istri Zicko. “Kenapa malu-malu begitu? Kenapa diam?” tanyanya mengira jika Nazarel pemalu. Dia sungguh tak tahu apa yang sedang berputar di dalam otak gadis itu.
Nazarel baru mengangkat wajahnya menatap ayah Zand lalu tersenyum. “Akh, maaf Om, melamun sedikit. Tak menyangka kalau Pak Zand--maksud saya, Mas Zand akan melamar secepat ini.”
“Kau tahu Naza, Zand langsung menyukaimu kala melihat fotomu untuk pertama kalinya,” canda Ikhsan terlihat senang.
Nazarel tampak berpikir. Pantas saja semalam Zand berkata kalau dia datang ke pesta itu karena tahu gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah dia. Sementara dia tidak tahu siapa yang akan datang ke pesta itu. Jadi sebelumnya Zand sudah melihat fotonya duluan, maka dari itu dia datang.
“Ya. Biar hubungan pekerjaan kita akan menjadi besan dan semakin erat,” sambung Rama senang juga.
Nazarel hanya tersenyum terpaksa dan hal itu terlihat oleh Qeira yang tersenyum kecut padanya dan Nazarel belum menyadari arti tatapan sinis wanita itu padanya.
Zand dan Zicko menghampiri mereka.
Tuan Herdy dan Nyonya Neina datang lalu memperkenalkan diri juga. Tuan Herdy langsung saja mengumumkan acara pertunangan Zand dan Nazarel.
Bagi Nazarel, sudah tak bisa mundur apalagi kabur. Kini dia sudah terperangkap ke dalam pertunangan itu, jatuh ke dalam ikatan pemuda bernama Zand Navindra.
Tanpa membuang waktu. Acara pun langsung dimulai.
Zand dan Nazarel berdiri saling berhadapan.
Darah Nazarel berdesir tak menentu. Terasa panas lalu dingin melihat tatapan Zand padanya. Tatapan itu perlahan berubah hangat kala Zand tersenyum kepadanya.
Lorra berdiri di samping Nazarel. “Ayo sayang, pasangkan dulu cincinnya pada nak Zand.”
Nazarel menuruti apa kata ibunya. Ia memasangkan cincin pertunangan itu pada Zand. Lalu giliran Zand memasangkan cincin pada Nazarel. Tak lama suara tepuk tangan mulai riuh diiringi ucapan selamat dari semuanya.
Tuan Herdy pun mempersilakan semuanya menyantap hidangan dan mereka berbincang untuk mengikis kecanggungan.
Rama semakin senang kala mendengar kalau calon menantunya adalah Ajun Komisaris Polisi. Semuda itu Zand sudah berpangkat membuat Rama semakin tertarik sekaligus setuju perjodohan itu.
Tak terasa hari sudah gelap.
Zicko menepuk pundak Zand sekilas. “Kamu nggak mengundang teman-temanmu? Dari mana mereka tahu hari ini kau bertunangan?”
“Siapa? Rodrik, Lucky, Miko?” jawab Zand menyebut nama-nama teman-temannya seangkatannya yang di luar kepolisian. “Atau Faiz dan yang lainnya (dari kepolisian)?”
“Tadi Anjas menelepon mendengar kau bertunangan dan sambungan putus sebelum aku bertanya dari mana dia tahu?” Zicko melihat tatapan Zand masih pada gadis tunangan barunya itu.
“Oh, mungkin dari Rodrik. Sebab tadi sore aku mampir ke tokonya memesan cincin untuk tunangan,” ujar Zand tersenyum tipis. “Mungkin mereka akan datang kalau pernikahanku.”
“Oh ya, kapan kalian akan menikah?” Zicko malah jadi menggoda adiknya itu.
“Entahlah, menunggu keputusan kakek dan mereka saja (para orang tua), mungkin bulan-bulan ini atau mungkin bulan depan.” Zand terdengar ragu menjawabnya. Sebab belum ada kabar keputusan dari kakek Herdy dan kakeknya. Hal itu masih di tangan keduanya.
Qeira yang dari tadi tak banyak bicara, menghampiri keduanya. “Mas, jika acaranya sudah selesai, kita pulang saja. Aku sedikit lelah.”
Zicko mengangguk. Sepertinya kedua orang tuanya juga sedang berpamitan kepada semuanya. “Apa kau akan ikut pulang atau masih ingin di sini?”
“Aku juga akan pulang,” jawab Zand lalu menghampiri Nazarel yang dari tadi asyik bercanda dengan ketiga sepupunya seolah dirinya bukan tunangannya.
Alter melihat duluan kedatangan Zand. Dia memberi isyarat pada Nazarel dengan delikan matanya membuat Nazarel menelan salivanya berat.
“Nazarel, saya akan pulang dulu,” kata Zand berdiri di samping Nazarel.
“Oh iya, silakan,” jawab Nazarel kaku sembari menoleh sekilas dengan senyuman yang dipaksakan.
Nico tersenyum melihat Nazarel yang malu-malu.
“Kenapa masih canggung begitu bang Zand? Kenapa masih memakai saya?” tanya Nico penasaran.
“Tentu saja, dia kan seorang Polisi dan sudah pasti bicaranya akan teratur dan sopan seperti rambu-rambu lalu lintas,” jawab Zain asal.
“Huuhh, tak sobek-sobek juga tuh perut,” canda Alter kesal.
Zand terkekeh kecil dan tanpa sadar lagi-lagi Nazarel menatap kekehannya itu.
Nazarel merasa pria itu berbeda dari kemarin-kemarin. Jangan-jangan itu adalah kembarannya bukan Pak Polisi yang berada di Kantor Polisi waktu itu? Tatapannya kini ke arah bibir tipis Zand, yang jika tersenyum menampakkan sedikit barisan gigi putihnya.
“Naza? Kenapa melamun?” Lorra menggoyang tubuh Nazarel pelan sehingga menghentak lamunan putrinya itu.
“Akh, nggak pa-pa kok, Ma,” jawab Nazarel memalingkan wajahnya ke arah lain mencoba menyembunyikan kedua pipinya yang merona.
“Calon mertuamu mau pulang. Sana samperin,” suruh Lorra lembut.
Nazarel pergi meninggalkan Zand yang menatap punggungnya, berjalan ke arah Tuan Ikhsan dan Nyonya Dhalia.
“Calon mantu Ayah. Kami pamit dulu ya,” kata Ikhsan senang melihat kedatangan Nazarel. Sementara Dhalia tampak biasa saja, tersenyum biasa kepada Nazarel.
Ayah? Secepat ini? Batin Nazarel lesu. Tetapi masih menampakkan wajahnya yang ceria. “I-iya Ayah. Hati-hati di jalan dan juga terima kasih atas hadiah serta restunya.”
Ikhsan menepuk-nepuk pelan pipi Nazarel sambil tersenyum. Masih tak menyangka jika putri semata wayang Tuan Rama akan menjadi calon menantunya.
Nazarel mencoba seramah mungkin kepada mereka.
Semuanya pun pamitan pulang.
Zand mendekati Nazarel. “Aku pulang dulu.” Sekarang dia sudah tidak terlalu kaku berbicara dengan Nazarel.
Nazarel mengangguk pelan, masih dengan senyumannya yang dipaksakan sampai sudut bibirnya terasa kaku karena bukan senyum dari dalam hatinya.
Nazarel tampak lega melihat kepergian mereka. Secara dia merasa risi ditatap terus oleh Zand. Sebenarnya dia juga diam-diam sering curi-curi pandang pada pria itu, maka dari itu tahu kalau Zand sering kali menatapnya.
Mendadak Rama menepuk punggung Nazarel. “Sana anterin sampai depan.”
Nazarel tak banyak protes. Mengikuti Zand dari belakang sampai ke dekat mobilnya.
Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Zand ke arah belakang mobil di mana kedua orang tua Zand sudah ada di dalamnya.
Zicko tersenyum melihatnya, mobil dia dan Qeira menghadap ke arah Zand dan Nazarel. Jadi kala Zand menarik Nazarel pun mereka melihatnya, meski hari sudah malam. Penerangan di sana masih jelas terlihat.
“Kamu mau apa?” tanya Nazarel takut dan malu karena di sana masih banyak orang.
“Besok kita ketemuan,” jawab Zand.
“Ngajak ketemuan tapi udah kayak malak aja,” kata Nazarel memberanikan diri untuk mendorong pelan tubuh Zand supaya sedikit menjauh.
Zand terkekeh kecil. “Maaf,” ia pun mundur selangkah.
Nazarel menoleh ke arah belakang Zand.
“Ada apa?” tanya Zand menoleh ke arah lirikan Nazarel di mana sepertinya ada yang lebih menarik ketimbang menatap wajahnya. Dilihatnya Zicko mengacungkan kedua jarinya membentuk tanda V dengan cengiran tidak jelas.
Zand berdiri di depan Nazarel sampai gadis itu terhalangi dari pandangan Zicko dan Qeira dengan tubuh tinggi kekarnya itu seakan keduanya hendak berciuman.
Zicko sampai menggelengkan kepalanya. Adiknya yang seriusan dan juga kaku serta dingin itu bisa agresif juga.
Nazarel mengerjap seraya mendongak. “Ka-kau mau apa?” tanyanya ketakutan.
Zand mengembuskan napasnya panjang. “Kamu belum menjawab, besok mau ketemuan atau nggak?”
Nazarel terpaksa mengangguk. Sekarang pria itu kan tunangannya.
Zand tersenyum. “Besok aku kirimkan alamatnya. Tapi, mulai sekarang, jika ada kesalahan apa pun, kau harus segera menghubungiku atau jangan sampai kau masuk kembali ke penjara.”
“Kesalahan apa pun?” tanya Nazarel mengulangi.
“Ya, apa pun,” jawab Zand dengan seringaian yang terlihat mengerikan bagi Nazarel.
Nazarel menelan salivanya berat, merasa ucapan pria itu selalu mengandung sebuah ancaman.
Tiidddd!
Keduanya kaget kala mobil Zicko tiba-tiba mengklakson.
Zand menoleh ke belakang sambil tersenyum. Ia lalu menatap kembali Nazarel. “Besok temui aku di cafe dan tempatnya nanti akan aku kasih tau lagi, jangan pernah mematikan ponselmu karena jika sampai tidak aktif, maka aku akan langsung datang ke kamarmu tanpa ada yang tahu,” bisiknya membuat bulu kuduk Nazarel meremang.
“Tapi …,” kalimat Nazarel menggantung melihat tatapan Zand yang mengisyaratkan tak mau ada penolakan, “baiklah,” cicitnya seraya menunduk pasrah.
“Good girl,” kata Zand seraya menepuk pelan pipi kanan Nazarel.
Terasa ada gelenjar aneh yang dirasakan Nazarel kala pria itu menyentuhnya.
Zand pergi meninggalkan Nazarel yang masih diam mematung di tempatnya.
Tiidddd!
Nazarel tersentak kaget mendengar Zand mengklakson karena menghalangi mobilnya yang hendak keluar halaman.
Nazarel dengan kesal berjalan ke pinggiran.
Zand masih dengan senyuman melirik ke arahnya sampai mobil keluar halaman.
Kedua mobil pun pergi dari rumah Nazarel.
“Romantis sekali,” kata Alter yang seperti biasa tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
“Huuhh, ngangetin aja sih. Bisa-bisa aku mati berdiri kena serangan jantung.” Nazarel memukul pinggir lengan Alter dengan kesal.
“Mati berdiri? Nyusahin amat lo,” kata Alter nyengir tak jelas.
“Matinya nungging lebih nyusahin,” jawab Nazarel kesal, membuat Alter tergakgak.
Nazarel dan Alter masuk kembali ke dalam.
Sementara Zand, setelah mengantarkan kedua orang tuanya. Ia pun pulang ke apartementnya.
Zicko dan Qeira pun naik ke atas kamarnya.
Zicko bertanya, “kenapa kau membunyikan klakson tadi sampai mengganggu waktu romantis Zand dan tunangannya?”
Qeira tersenyum. “Karena aku hanya ingin pulang duluan, kepalaku sedikit pusing dan tadi sebenarnya aku bukan membunyikan klakson untuk mengagetkan Zand bersama tunangannya itu. Namun, aku hanya memberitahu satpam di sana supaya menyingkirkan pembatas yang menghalangi jalan mobil kita.”
Zicko jadi ikut tersenyum. “Aku kira ada apa. Kenapa nggak bicara dari tadi supaya aku yang bicara pada satpam dan kita pulang duluan. Apa sakit kepalanya parah? Apa perlu aku ambilkan obat?” tanyanya jadi cemas.
“Jika nggak keberatan, tolong ambilkan obat dan air minumnya, Mas,” kata Qeira seraya mengusap kedua pipi Zicko dengan lembut.
Zicko pun tak banyak tanya lagi, langsung saja pergi ke dapur untuk mengambil obat. Qeira pun masuk ke dalam kamar mereka.
Di apartement Zand.
Dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, melihat ponselnya ada nomor baru dan dia pun sudah menyimpan nomor itu dengan nama ‘gadis urakan’. Tetapi di edit lagi menjadi nama ‘gadis urakanku’ seraya tersenyum. Tampaknya gadis yang satu itu memang menarik dan berbeda dari pada yang lainnya. Meski terlihat keras kepala, susah diatur dan juga suka menjengkelkan. Namun, mempunyai hati yang baik. Ya, dia mulai tertarik pada gadis itu karena mempunyai hati yang baik.
★BERSAMBUNG★