“Ke manapun dan di manapun kita berada. Masalah pasti selalu ada dan pasti tak bisa dihindari. Entah besar atau kecil, kita harus menghadapinya dan menyelesaikannya.”
*****
Keesokan harinya. Pagi menjelang siang.
Nazarel yang sedang tertidur lelap sudah dikejutkan dengan sebuah pesan dari nomor baru yaitu nomor Zand yang belum sempat diberi nama. Dia tidak berani mematikan ponselnya seperti apa yang selalu dia lakukan karena perintah Zand juga dan sebab takut jika ucapan pria itu terjadi.
Dengan kedua mata yang masih mengantuk, melihat pesan itu. Ada tempat cafe yang diberikan GPS'nya oleh Zand. Dan satu lagi pesan.
‘Silly girl, apa kau masih tiduran di atas kasur, hah?’
Nazarel sontak membuka kedua matanya lebar-lebar. Dari mana pria itu tahu jika dia masih tidur? Teringat lagi ucapan Zand kemarin sehingga Nazarel langsung saja turun dari atas ranjang kemudian mencari-cari sekitar kamar, lemari bahkan kamar mandi. Hatinya merasa lega karena pria itu tidak ada di kamarnya dan dia mengira jika Zand sudah masuk ke dalam kamarnya tanpa ada yang tahu.
Tiinggg.
Satu pesan lagi masuk.
‘Tidak usah mencariku, karena aku tidak ada di kamarmu’
Nazarel mengerjap tak percaya. Apa dia cenayang? Atau jangan-jangan sudah memasang camera di kamarku ini? Batinnya mengedarkan pandangannya ke sekitaran kamar. Lagi-lagi dia menyangkalnya sendiri, mana mungkin pria itu berani masuk ke sana dan sempat memasang cctv.
Pesan lain masuk lagi.
‘Nanti sore sekitar jam empat tunggu aku di cafe yang aku berikan alamatnya, jangan sampai nggak datang. Jika nggak datang, kau akan tahu sendiri akibatnya’
“Sialan memang pria itu. Sudah berani mengaturku, akan aku bongkar siapa dia sebenarnya-”
“Siapa yang mau dibongkar?” tanya Lorra sudah berdiri di belakangnya.
“Ya Tuhan Ma. Kenapa udah seperti hantu sih, ngagetin aja.” Nazarel benar-benar kaget.
“Dari tadi Mama ngetuk pintu nggak ada jawaban, jadi masuk aja dan melihat kamu malah bicara sendiri.” Lorra menggelengkan kepalanya.
Nazarel nyengir kuda. “Ma, nanti sore Pak polisi itu mengajak ketemuan di cafe.”
“Lalu?” Lorra tampak santai mendengarnya. Ia membereskan bekas-bekas plastik choco chip yang dimakan Nazarel semalam di bawah kolong meja belajarnya.
“Apa harus ngasih tau Papa?” tanya Nazarel meminta pendapat Ibunya.
“Nanti Mama yang ngasih tahu Papa-mu. Sekarang kamu sarapan dulu. Mama udah nyiapin omelet keju kesukaanmu. Dan kakekmu sudah menunggu di bawah.”
Nazarel memeluk sekilas Ibunya. “Mama emang yang terbaik.”
Nazarel sarapan bersama semuanya di bawah. Tak ada pembicaraan serius tentang pertunangan semalam. Hanya candaan seperti biasanya.
Hari baru menjelang siang. Rasanya ingin sekali dia jalan-jalan dulu menunggu waktu sore menemui Zand. Ketika di kamarnya.
Nazarel berpikir. Sebenarnya itu adalah pertama kalinya dia pergi kencan dengan makan siang bersama pria tampan dan gagah seperti Zand. Meskipun di pesta hanya disebut pertemuan dan kesepakatan saja.
Kencan?
“Iihhh,” ngeri Nazarel merinding kala memikirkan kalau ketemuan dengan Zand adalah sebuah kencan, menyingkirkan pikiran itu dari otaknya sambil geleng-geleng kepala.
“Kamu kenapa Naza?” heran Lorra kala melihat anak gadisnya itu malah berdiri di dekat ranjang seraya menggelengkan kepalanya.
Dan sekali lagi Nazarel malah nyengir tak jelas pada Ibunya. “Aku mau mandi dulu, udah gitu mau pergi ke toko buku. Ada sesuatu yang mau aku beli hari ini.”
“Ya sudah, jangan lama-lama. Nanti ketemuan sama nak Zand jadi telat,” kata Lorra entah kenapa Nazarel merasa Ibunya sudah berada di pihak polisi itu.
“Ihh Mama, kayaknya udah suka banget ya sama Pak polisi itu?” Nazarel tak habis pikir jika Ibunya ternyata akhirnya akan menyetujui hubungan itu.
“Mama suka lah, dia udah tampan, mapan dan juga seorang polisi?” jawab Lorra, “mau nyari yang gimana lagi coba? Kamu sendiri kan yang minta buru-buru dijodohkan.”
Nazarel menghela napasnya. Ya, dia memang tahu jika Zand adalah menantu idaman keluarganya.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 16.07 WIB. Setelah Nazarel jalan-jalan membeli buku, ia langsung saja pergi ke cafe. Dia memakai celana panjang hitam berbahan katun satin dan juga atasan kemeja biru yang dilipat lengannya sampai sikut. Aksesoris satu set berbentuk bintang-bintang menjadikannya semakin cantik meski wajahnya hanya dipoles make-up sekenanya dan rambut seperti biasa dikuncir kuda.
Pakaian itu sebenarnya pilihan Ibunya sebab Nazarel tadinya akan memakai celana jeans sobek-sobek dan juga jaket kulit berduri serta kaos hitam bergambar tengkorak di depannya.
Namun, untungnya Lorra yang mendadaninya sebab dia itu akan pergi kencan pertama dengan tunangannya. Bukan pergi untuk tawuran.
Nazarel memilih tempat duduk di dekat jendela kaca yang mengarah ke jalan sehingga jika Zand datang. Maka dia akan mengetahuinya.
Sesekali melirik jam tangannya dan merasa waktu berjalan lamban sekali. Baru saja sepuluh menit menunggu, dia sudah merasa bosan di sana. Padahal cafe itu cukup ramai, nuansanya sangat indah dan juga menyenangkan mata yang memandang sekitaran.
Entah kenapa Nazarel yang dulu sangat suka sekali menyendiri lama-lama di cafe. Kini merasakan bosan dan lama kala menunggu Zand. Apa dia tidak sepenuh hati menunggu pria itu? Atau takut akan banyak kejutan dari Zand dan mendapatkan ancaman lagi.
Karena tidak sabar. Nazarel mengirimkan pesan pada nomor yang saat ini diberi nama ‘Om Polisi Galak’. Dia sengaja memberi nama Om sebab merasa kalau pria itu memang pantas menjadi Om-nya ketimbang tunangannya.
Mengingatnya membuat Nazarel cengar-cengir sendiri. Padahal Zand baru saja berusia 33 tahun bukan 43 tahun. Jadi masih cocok bersanding dengannya.
‘Aku sudah di cafe. Berapa lama lagi aku harus menunggu di sini, Pak polisi yang terhormat?’
Pesan terkirim. Tetapi belum dibaca oleh Zand.
Nazarel mengembuskan napasnya panjang lalu memesan jus alpukat cokelat dan juga kue puding pisang.
Sesekali menatap ke luar jendela cafe yang hampir seluruhnya kaca. Melihat orang-orang yang lalu lalang dan juga kendaraan bermotor yang melewati jalanan itu.
Waktu terus berlalu. Sudah hampir satu jam Nazarel menunggu, sudah tiga gelas jus yang dipesannya dan juga dua porsi kue. Bahkan sudah bolak-balik ke toilet sebab meminum tiga gelas jus. Memang benar menunggu adalah pekerjaan yang sangat menyebalkan sehingga membuat Nazarel hampir saja pergi dari sana.
Sebelum itu dia mengirim lagi pesan pada Zand.
‘Pak polisi. Aku sudah menunggu satu jam lebih dan lihatlah, sekarang sudah jam lima sore, sebentar lagi gelap. Apa kau nggak akan datang?’
Pesan kembali terkirim, tetapi seperti tadi tak dibaca oleh Zand membuat Nazarel semakin kesal.
‘Balas nggak pake naik kura-kura, kalau nggak balas. Aku akan pergi dari cafe ini’
Baru saja pesan terakhir terkirim. Akhirnya dibalas juga oleh Zand.
‘Sorry Naza. Aku sedang ada di pengadilan, jadi akan sedikit telat datang. Sebentar lagi selesai dan aku akan langsung meluncur ke sana’
Sorry? Nazarel malah menjadi heran. Sejak kapan pria itu bisa mengucapkan kata maaf?
Nazarel pun kembali lemas dan merasa bosan, masih setia duduk menunggu di sana.
Ternyata Zand memang masih di pengadilan. Setengah jam lagi pengadilan itu akan tutup dan kasus terakhirnya sudah akan selesai.
Satu nara pidana yang difitnah membantai keluarga istrinya. Padahal ternyata kalau selingkuhan istrinya yang membantai keluarga istrinya itu dan yang menangani adalah pengacara handal, siapa lagi kalau bukan Qeira.
Zand salah satu polisi yang peduli. Selalu menawarkan pengacara handal bagi orang-orang tahanan yang dirasanya terzholimi dari bukti-bukti yang didapatkannya dan Qeira juga meraih banyak keuntungan dengan kepintaran dan juga cekatan dalam menangani semua kasusnya itu. Akhirnya dia dan Zand bekerja sama untuk menolong para tahanan yang tak bersalah supaya tidak masuk penjara dalam keadaan tidak berdosa.
Akhirnya pengadilan tutup dan kasus semua sudah selesai.
“Zand, akhirnya kita berhasil,” kata Qeira semringah. Seperti biasa dia berhasil menyelamatkan tahanan yang tak bersalah.
“Ya. Kau memang genius dan selamat atas semua kasus yang sudah kau pecahkan dan bagi orang-orang yang kau selamatkan juga,” ucap Zand seraya menyodorkan tangannya pada kakak iparnya itu.
Qeira tersenyum bangga pada diri sendiri. “Apa kau akan kembali ke kantor polisi-mu?” tanyanya ragu sambil menyalami Zand.
Zand melepaskan tangan Qeira lalu memakai topinya. “Tidak, aku akan pergi ke cafe-”
“Akkhh,” rintih Qeira tiba-tiba memegang kepalanya.
Zand langsung saja menahan tubuh Qeira supaya tak jatuh atau membentur dinding. “Kamu kenapa?”
“Kepalaku sedikit pusing. Mungkin semalaman nggak tidur sebab menyelesaikan berkas-berkas kasus hari ini,” jawab Qeira duduk di bangku tunggu di depan pintu pengadilan itu dibantu oleh Zand.
“Kalau begitu, aku akan mengambilkan kopi untukmu sehingga sedikit meringankan sakit kepalamu, atau aku akan membelikan obat sakit kepala?” Zand jadi khawatir melihat keadaan Qeira.
“Entah kenapa kemarin juga aku merasakan pusing dan hari ini malah semakin parah,” ujar Qeira memijit pelipisnya.
“Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit dan akan aku hubungi kak Zicko,” kata Zand langsung membantu Qeira bangkit dari bangku lalu membawanya menuju ke tempat parkir.
Mobil pun melaju menuju ke rumah sakit dengan kecepatan di atas sedang sebab Qeira tampaknya sangat kesakitan.
Di cafe.
Nazarel masih saja menunggu kedatangan Zand. Sesekali menggerutu sebal, kenapa Zand belum datang juga. Tadi berkata sebentar lagi akan datang dan lihatlah, hari malah sudah berubah gelap. Hampir dua jam dia menunggu di sana.
Nazarel hendak mengirimkan pesan untuk bertanya lagi. Tetapi seseorang meneleponnya.
“Ada apa Davi?” tanya Nazarel dengan nada sebal sebab sudah ditanam di sana selama dua jam lebih oleh polisi itu.
“Naz, bantuin gue, Vita nggak mau bicara sama gue. Cuma lo yang bisa bantuin, dia nuduh gue selingkuh dan gue udah jelasin kalau gue cuma mau bantuin lo waktu itu, tapi dia nggak percaya.”
Nazarel jadi bingung, apa dia harus menunggu Zand atau membantu para sahabatnya itu? Semua adalah kesalahannya, tak menyangka jika Davi akan bertengkar dengan Vita karena waktu valentine meminta tolong untuk pura-pura menjadi pacarnya. Meski tidak jadi, tapi hal itu menyebabkan keduanya bertengkar.
“Tunggu sebentar. Matiin dulu, gue akan menelepon Mama kalau akan pergi ke sana.”
“Buruan Naz, Vita semakin ngamuk.”
“Ok-ok.” Nazarel memutuskan panggilan dari Davi. Setelah berpikir sejenak. Akhirnya ia mencoba menelepon Zand. Namun, ponselnya malah diluar jangkauan.
Karena tak ada jawaban dari Zand. Akhirnya Nazarel nekat pergi dari sana, tetapi sebelum itu dia akan mengirimkan pesan pada Zand kalau dia sudah pergi dari cafe dan kalau mau menemuinya, temui di rumah saja.
Nazarel menelepon balik Davi.
“Memangnya kalian sekarang di mana?” tanyanya jadi cemas. Sahabatnya Vita selalu membantunya, jadi mustahil dia tidak membantu balik. Demi menebus kesalahannya juga.
“.........”
“Baiklah, gue akan segera ke sana.”
Nazarel yakin jika urusan dengan para sahabatnya akan sebentar dan dia akan keburu pulang sebelum Zand datang ke rumahnya. Ia pun mengetik pesan untuk Zand lalu membayar semua pesanannya tadi.
‘Aku pulang karena sudah dua jam lebih menunggu, kalau mau bertemu. Aku tunggu di rumah’
Pesan terkirim dan dia pun langsung meluncur menuju ke sebuah bar atau lebih tepatnya discotik milik ayah Davi.
Setelah kepergian Nazarel. Masuk sepasang kekasih ke sana mengenali Nazarel. Keduanya melihat ke arah Naza yang masuk ke dalam mobilnya.
“Aku paling benci padanya. Cewek kaya sombong sampai sekarang juga,” dengkus gadis itu.
“Ya, bahkan dia pernah menampar Hacky sebelum kelulusan SMA kemarin, Hacky sampai nggak bisa melupakan tamparan itu dan sampai sekarang geram sekali.” Tatapan pemuda itu begitu tajam pada mobil Nazarel yang mulai melaju.
“Tapi Tamara berhasil mempermalukannya,” jawab gadis itu puas dengan kejadian pesta kelulusan saat Nazarel memberikan surat untuk Fino.
Di rumah sakit.
“Bagaimana keadaannya, dok?” tanya Zand pada dokter yang baru saja keluar memeriksa Qeira.
“Apa Anda suaminya?” tanya dokter itu.
“Bukan, saya adik iparnya. Apa ada sesuatu yang serius yang menimpanya?” tanya Zand lagi semakin khawatir. Ia sudah menghubungi kakaknya yang akan segera tiba di sana.
“Anda tenang saja. Dia hanya mengalami anemia karena kurang tidur. Harus banyak istirahat dan banyak meminum jus serta makan sayuran,” ujar sang dokter membuat hati Zand tenang.
“Zand, bagaimana keadaan Qeira?” tanya Zicko tampak tergesa-gesa menghampirinya. “Dok bagaimana istri saya?” tanyanya pada dokter yang barusan menerangkan keadaan Qeira saat Zand memberi isyarat supaya bertanya langsung pada dokter.
Dokter pun menerangkan kembali keadaan Qeira pada Zicko.
Zand baru sadar kalau dia sudah sangat telat ketemuan dengan Nazarel. Melirik jam tangannya sudah setengah tujuh malam. “Kak, aku masih ada urusan. Jaga kakak ipar baik-baik.”
“Ya. Terima kasih Zand sudah mengantarkan istriku ke sini,” kata Zicko menepuk pundak Zand.
Zand hanya mengangguk pelan lalu bergegas pergi dari sana.
Kala melihat ponselnya. Sial kalau baterainya habis, dan dia tak tahu pesan apa saja yang dikirimkan Nazarel padanya selain balasan dia yang akan segera datang. Jadi ia pun langsung meluncur ke cafe.
Nazarel sampai di diskotik, dia bisa masuk karena Davi yang mengizinkan para bodyguardnya untuk membiarkan temannya itu masuk ke sana.
Hacky dan teman-temannya juga kebetulan ada di sana.
Pemuda yang selama ini menyukai Nazarel sekaligus menaruh dendam padanya, tampak senang melihat Nazarel semakin anggun dan juga cantik.
Davi melambaikan tangannya ke arah Nazarel. Dia saat ini sedang bersama dengan satu teman laki-lakinya dan juga Vita tunangannya serta satu teman wanita Vita. Mereka duduk di sofa panjang.
“Vita?” Nazarel tersenyum dan kasihan melihat Vita hampir mabuk.
Vita melihat kedatangan Nazarel. “Naza,” rengeknya seraya merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan Nazarel setengah sadar.
Nazarel langsung memeluk Vita yang sudah setengah mabuk itu.
“Naza, Davi selingkuh?” adu Vita pada sahabat baiknya itu.
“Naza, jelaskan gue nggak selingkuh,” pinta Davi yang tampaknya sudah lelah menjelaskan pada tunangannya itu.
Nazarel menggaruk tengkuknya tak gatal lalu memainkan jari-jari tangannya. “Dia nggak selingkuh Vit.”
“Dari mana lo tau?” tanya Vita tak percaya, “malam itu dia berkata akan pergi ke pesta Valentine menemui seorang cewek. Apa cewek itu lo?”
Nazarel nyengir. “Iya, cewek yang mau ditemui Davi, itu gue. Tapi-”
“Jadi kalian beneran selingkuh?” Vita terkejut mendengar pengakuan Nazarel.
“Bukan … bukan selingkuh--” jawab Nazarel setengah panik, “-- gue yang maksa dia supaya datang nolongin untuk datang ke pesta. Tapi setelah ketemu dengan pria yang mau dijodohkan dengan gue, akhirnya gue batalin dan baru tau jika waktu itu kalian ternyata bertengkar.” Ia masih menjelaskan dengan takut-takut.
“Bener Vit. Gue nggak jadi nolonginnya sebab Naza menerima pria itu dan mereka kini sudah bertunangan. Pria itu seorang polisi,” ujar Davi menjelaskan dengan takut-takut juga.
“Bertunangan?” Vita menoleh menghadap Nazarel seraya menatap menunggu jawabannya.
Nazarel mengangguk seraya memperlihatkan cincin tunangan di jari manisnya.
Vita jadi cemberut dan di waktu yang sama bisa tersenyum lagi. “Jadi kalian nggak selingkuh di belakang gue, kan?”
“Tentu saja nggak, mustahil bagi gue menusuk teman dari belakang. Jadi, lo jangan khawatir, sekali lagi maafin gue ya,” bujuk Nazarel menepuk-nepuk pipi Vita.
Vita pun mengangguk lalu memeluk Nazarel. Keduanya pun kembali berpelukan.
Ya. Sebenarnya Nazarel sudah berniat akan menggandeng Davi ke pesta valentine supaya pria yang sudah dijodohkan dengannya membatalkan perjodohan itu. Tetapi Davi tak datang sebab keburu ketahuan oleh Vita dan rencana itu berantakan. Namun, setelah melakukan kesepakatan dengan Zand. Nazarel bersyukur jika Davi tidak bisa datang.
“Naza, jika lo meminta bantuan pada kami, jelaskan aja. Jangan takut, kami pasti akan membantu lo. Seandainya lo menceritakan semuanya sebelum gue salah paham pada kalian, pasti gue akan mengizinkan Davi berpura-pura jadi pacar boongan lo.” Vita jadi merasa bersalah. Nazarel kini sudah bertunangan terpaksa karenanya. Mengingat kejadian pahit juga di pesta kelulusan beberapa hari yang lalu.
“Nggak apa kok Vit. Gue udah nerima pertunangan ini.” Nazarel pura-pura tersenyum bahagia.
“Jadi lo maafin gue kan, Vit?” tanya Davi masih ragu dan takut.
Vita mengangguk lalu Davi langsung saja beranjak dari duduknya dan langsung memeluknya.
Vita sedikit berontak di pelukan Davi karena Nazarel terlihat hendak pergi dari sana. “Naza, sebagai ucapan maaf dan juga selamat dari kami. Mau kan lo minum sebentar bersama kami?”
Karena Nazarel masih merasa bersalah sebab hampir saja menghancurkan hubungan orang. Dia yakin kalau Zand juga belum selesai pekerjaannya, buktinya belum membalas pesan darinya. Akhirnya dia pun duduk kembali dan akan minum sebentar bersama teman-temannya itu meski tidak suka jika harus bergabung dengan para pemuda di sana.
Mereka hanya memesan jus saja.
Di cafe.
Zand masuk ke dalam cafe dan mengira kalau Nazarel masih di sana. Ternyata gadis itu sudah tidak ada dan dia memang sudah sangat telat. Sudah hampir jam tujuh malam. Yakin jika Nazarel pasti sudah pulang ke rumahnya dan juga mengirim pesan padanya.
Zand merasa lapar dan dia memutuskan untuk makan saja dulu di sana. Sepulangnya dia akan mampir ke rumah Nazarel untuk meminta maaf.
Sepasang teman Hacky masih berbicara di sana, tepat di belakang Zand yang baru saja duduk hendak memesan makanan.
“Apa Nazarel bersama Hacky sekarang?” tanya wanitanya.
Zand mengernyit heran. Akh, mungkin Nazarel yang lain.
“Tidak bersamanya, tetapi sebentar lagi akan bersamanya,” jawab pemuda itu seraya menyeringai.
Zand masih diam berpura-pura tak mendengarkan keduanya.
“Jadi dari sini Nazarel langsung ke diskotik menyusul teman-temannya. Tetapi kenapa kau bilang Hacky akan bersama Nazarel? Bukankah gadis sombong itu membenci Hacky?” tanya gadis itu heran mendengar kalau Hacky akan bersama Nazarel.
“Barusan Hacky berbicara telah memasukkan sesuatu ke minuman Nazarel, dan setelah setengah nggak sadar, dia pasti akan membawanya ke hotel dan bummm! Besok berita mereka berdua akan memenuhi koran di pagi hari,” ujar pemuda itu tak menyadari jika pria berseragam polisi di belakangnya sedang menahan amarah dan hampir saja menyeretnya ke penjara.
Jika membicarakan Nazarel yang baru pergi dari cafe itu. Siapa lagi kalau bukan Naza sang tunangannya. Ternyata gadis itu tidak pulang ke rumah melainkan pergi ke diskotik menemui teman-temannya dan sebentar lagi akan berada dalam masalah.
Zand berniat akan menanyai paksa pemuda itu, akan dibawa ke hotel mana gadis bernama Nazarel. Tetapi baru saja dia hendak bangkit dari kursi.
Gadis itu bertanya lagi. “Memangnya mau dibawa ke hotel mana?”
“Hotel Danington, di sana ada saudara Hacky yang bekerja menjadi manajer. Pasti dia akan membantu Hacky melakukan balas dendamnya.”
Ucapan pemuda itu adalah jawaban bagi Zand.
“Mau pesan apa Tuan?” tanya waitress di sana menghampiri Zand yang diam saja dari tadi.
“Maaf, saya ada tugas dadakan. Tidak jadi memesan makanan.” Zand tak mau membuang waktu lagi. Jika terjadi apa-apa pada Nazarel, maka dia tidak akan memaafkan diri seumur hidupnya.
Sepasang teman Hacky masih beruntung sebab Zand tak menyeret keduanya untuk ditanyai. Karena merasa membuang waktu dan dia sudah tahu tujuannya akan ke mana. Masuk ke dalam mobil pribadinya lalu melaju dengan kecepatan rata-rata menuju ke hotel yang disebutkan tadi.
Benar saja jika di diskotik. Nazarel bersama teman-temannya sudah teler setengah tidak sadarkan diri karena kelicikan Hacky dibantu teman-temannya juga yang sangat pintar diam-diam memasukkan obat-obatan terlarang ke dalam semua gelas Nazarel beserta para sahabatnya juga sehingga setengah tak sadarkan diri dan orang-orang di sana mengira jika mereka sengaja mabuk seperti yang lainnya.
★BERSAMBUNG★