“Siapa pun bisa merubah nasib, tapi tidak bisa merubah takdir, siapa pun bisa merencanakan untuk nasib tetapi tidak bisa menentang atau menentukan takdir.”
*****
Hacky tak membuang waktu. Dia pun menyuruh para bodyguard Davi untuk membawa anak bossnya bersama tunangannya itu pulang. Sementara teman yang lainnya juga diantarkan sopir masing-masing.
Awalnya para bodyguard akan menelepon keluarga Nazarel untuk menjemputnya dari sana. Namun, Hacky menunjukkan foto sewaktu SMA bersama dengan Nazarel atau lebih tepatnya dia memaksa berfoto dengan Nazarel kala itu dan juga foto bersama Davi dan Vita.
Jadi tak ada pilihan lagi, para bodyguard itu pun mempersilakan mereka pergi dari sana.
Hacky bahkan membawa Nazarel dan mobilnya ke arah hotel yang sudah dipesannya.
Nazarel tampak terlelap tak sadarkan diri di kursi depan. Hacky yakin malam ini dia pasti akan mendapatkan gadis itu dan akan meruntuhkan kesombongannya.
Tidak memakan waktu lama. Hacky sampai di gedung hotel Danington di mana di sana saudara perempuannya tengah menunggu untuk membantunya melancarkan aksinya itu.
Resepsionis hanya meminta ID Nazarel dan juga Hacky. Saudara Hacky mengeluarkan ID Nazarel dari dalam tas Nazarel, ia juga berkata jika keduanya memesan kamar yang berbeda jadi tidak usah khawatir sampai keluarga gadis itu akan menjemputnya sebentar lagi. Karena resepsionis itu sudah kenal saudara perempuan Hacky yang sudah lama bekerja di sana sebagai manajer. Akhirnya memberikan dua kunci kamar tanpa rasa curiga.
Hacky dan saudaranya itu pun memapah Nazarel menuju ke lift.
Sesekali Nazarel membuka kedua matanya dan berbicara ngelatur di bawah sadarnya. “Kau pria berengsek. Kenapa sampai nggak datang menemuiku? Memangnya kau pikir kau ini siapa hah!”
Hacky mengernyit heran. Namun, tampaknya dia tahu jika Nazarel mungkin sedang patah hati karena seorang pria atau masih sakit hati oleh Fino. “Apa kau sudah menelepon wartawan temanmu itu?”
“Sudah Kak. Kakak tenang saja, sebentar lagi mereka akan sampai di sini, jadi kita siapkan saja semuanya dan buat mereka percaya kalau kalian telah melakukan hal layaknya dua orang yang saling mencintai. Aku nggak sabar melihat berita besar kalian akan terpampang di koran dan majalah besok.”
Hacky menyeringai mengerikan. Beberapa menit lagi dia akan mendapatkan gadis impian serta meruntuhkan keangkuhannya itu.
Di lantai 43, akhirnya ketiganya keluar dari lift. Berjalan menuju ke kamar yang tercantum di kartu pass.
Saudara Hacky membukakan pintu lalu membantu membawa Nazarel masuk ke dalam.
“Ahhh, lelah sekali. Kenapa gadis ini berat sekali? Padahal tubuhnya sangat ramping,” kata Hacky memijit pundaknya kala sudah berhasil melemparkan pelan tubuh Nazarel ke atas tempat tidur.
“Hehe, itulah perempuan Kak. Jangan salah jika meski kami ramping, tapi berisi,” jawab saudari Hacky terkekeh.
“Kalau begitu, kau bantuin lepasin pakaiannya. Aku akan mencuci wajah dan cuci tangan dulu. Rasanya minuman itu nempel di tanganku dan aku juga akan bersiap-siap melakukan akting yang nggak akan Nazarel lupakan seumur hidupnya.” Hacky segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara saudara perempuannya itu perlahan melepaskan pakaian Nazarel menyisakan bra dan g-stringnya saja menampakkan tubuh Nazarel yang terexsposes begitu saja. Dia tak sengaja merobek kemeja Nazarel karena kala hendak melepaskan kemejanya itu, Nazarel banyak bergerak gusar sehingga merobeknya.
Namun, ternyata wanita itu juga menyimpan dendam pada Nazarel sehingga dengan sengaja merobek-robek kemeja dan bahkan dengan celananya. Dia bisa membayangkan Nazarel tidak akan bisa lari karena pakaiannya sudah tak berupa.
Hacky juga sudah membersihkan diri dan memakai bathrobe seolah baru saja melakukan hal itu dengan Nazarel. Ia pun keluar dari kamar mandi, melihat saudaranya berdiri di dekat pintu, menunggu temannya yang wartawan datang.
Hacky memang berniat menghancurkan harga diri dan mempermalukan Nazarel dengan membuatnya seperti w************n yang begitu gampang tidur dengan siapa saja. Tetapi melihat tubuh gemulai Nazarel, jangan salahkan dia jika sedikit mencicipinya saja sekalian. Karena dia juga pria normal dan sudah lama penasaran ingin tidur dengan Nazarel.
Kedua tangannya hendak menyentuh kedua gunung kembar yang masih terhalang bra dengan tatapan layaknya serigala yang siap menerkam mangsanya
Brraakkkk!!
Pintu tiba-tiba ada yang menendang sehingga saudara perempuan Hacky yang menunggu di depan pintu yang terbuka sedikit itu terjengkang ke atas karpet.
“Akhhh! SIAPA KAU?!” teriaknya seraya merintih.
Sudah pasti Hacky yang hendak menyentuh tubuh Nazarel tidak jadi karena terkejut dan menoleh ke belakang. Belum sempat dia melihat siapa yang datang. Sebuah pukulan melayang ke arah bibirnya sehingga membuatnya terjengkang ke arah lemari hotel.
Buuggkkkhhh!
“Berengsek, siapa kau?!” rintih Hacky karena belakang kepalanya terasa sakit terbentur lemari. Sudut bibirnya juga terluka dan mengeluarkan darah.
Ternyata yang datang adalah Zand. Tadi dia menghampiri resepsionis dan menunjukkan foto Nazarel berukuran kecil di dalam dompetnya. Dia mengatakan kalau dia adalah dari pihak keluarganya Nazarel. Sudah pasti resepsionis itu pun memberitahukan kamar Nazarel karena setahunya, saudara Hacky mengatakan kalau sebentar lagi keluarga gadis itu akan menjemputnya. Lagi pula, dia tidak mau menentang seorang polisi.
Dan untungnya Zand datang tepat waktu sebelum pria b******n itu melakukan hal yang tidak-tidak pada tunangannya itu atau berhasil menyentuhnya.
Hacky membulatkan kedua matanya melihat seorang polisi masuk ke sana. “Pa-Pak Polisi. Ke-kenapa Anda ke sini?” tanyanya gelagapan. Apa hari itu ada razia di hotel tersebut?
Kedua mata Zand seakan ada api yang menyala menatap bagaimana tubuh Nazarel nyaris telanjang. Dia pun hendak memukul lagi Hacky, tapi tubuh Nazarel bergulik dan hampir terjatuh ke atas lantai. Zand secepat kilat berlari lalu menahannya. Menarik selimut kemudian menutupi tubuh Nazarel.
Tak menyiakan waktu. Hacky beranjak dari lantai lalu berlari kabur tanpa sempat membawa pakaian dan semua barang miliknya di kamar mandi. Dia berlari bersama dengan saudara perempuannya itu. Toh semua barangnya di sana akan bisa diambil lagi oleh saudaranya nanti.
Zand sungguh tidak bisa mengejar mereka. Tetapi dia pasti takkan membiarkan masalah itu begitu saja, perhitungan dengan pemuda itu pasti akan segera tiba.
Zand melihat di atas lantai kemeja Nazarel. Dia pun mengambilnya dan terkejut kala melihat pakaian Nazarel sudah sobek-sobek. “Berengsek!” makinya geram.
Ia pun masuk ke dalam kamar mandi, mengambil bathrobe putih kemudian memakaikannya pada Nazarel. Kala tengah memakaikan mantel mandi itu pada Nazarel. Tanpa sadar Nazarel melingkarkan kedua tangannya ke belakang tengkuknya lalu mengecup bibirnya itu.
“Muaahhh, kucing yang manis,” gumam Nazarel sembari tersenyum dengan kedua mata tertutup.
“Ku-kucing?” Zand tentu saja terkejut karena serangan itu begitu tiba-tiba. Mengecup bibirnya itu di bawah sadarnya.
Zand pun menggendong Nazarel ala bridal style lalu membawanya keluar dari kamar itu dengan tas Nazarel juga. Sayang sekali wartawan sudah sampai di sana dan diam-diam memotret Zand yang membawa Nazarel keluar dari kamar, masuk ke dalam lift. Dan sudah pasti ada satu temannya suruhan Hacky menunggu di lobby dan memotret mereka diam-diam juga.
Semua orang di sana heboh dan berbisik-bisik melihat seorang polisi menggendong gadis yang setahu mereka tadi datang ke sana dalam keadaan mabuk dan kini gadis itu hanya memakai mantel mandi saja. Lalu, ke mana pakaian gadis itu?
Zand membaringkan Nazarel di kursi penumpang kemudian menelepon anak buahnya yang patroli di sana supaya membawakan mobil Nazarel sampai ke rumah gadis itu.
Entah bagaimana dia menjelaskan semuanya pada keluarga Adhitama. Yang pasti dia akan menceritakan semua dengan sejujur-jujurnya.
“Berikan aku minuman lagi. Aku haus.” Nazarel masih saja ngelantur membuat Zand semakin kesal.
Tapi mau bagaimana lagi, jika saja Zand tidak telat menemuinya, seandainya saja dia tidak mendengar kejadian sebenarnya dari teman-teman Hacky di cafe. Sudah pasti dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada tunangannya itu dan dia tidak bisa menyalahkan gadis itu sepenuhnya.
Setelah kedatangan anak buahnya yang berpatroli di sana untuk membawakan mobil Nazarel. Zand pun melajukan mobilnya menuju ke daerah tempat tinggal Adhitama.
Sesampainya di depan rumah keluarga Adhitama. Zand kembali menggendong Nazarel.
Kedua satpam yang bertugas terkejut melihat kedatangan nona mereka digendongan pria yang tak lain adalah tunangan anak majikannya itu.
“Loh den Zand. Kenapa dengan Non Nazarel?” tanya salah satu satpam panik.
“Tidak apa-apa,” jawab Zand singkat mencoba menenangkan keduanya.
Bukan hanya keduanya. Bi Ipih saja yang hendak membawakan kopi untuk kedua satpam sampai berteriak di depan teras.
“NYONYAA! NYAHH!” teriak bi Ipih mengira jika Nazarel pingsan dan kenapa-napa.
“Bi, tenang saja. Dia tidak kenapa-napa,” ujar Zand menenangkannya juga.
Lorra, Neina, Dhanu, Asmi dan dan juga Tuan Herdy sampai berlarian ke luar. Belum lagi Nico dan Zain yang sedang bermain PS, ikut terkejut lalu berhamburan ke luar juga. Kebetulan Tuan Rama belum pulang.
“Loh nak Zand. Kenapa dengan Naza?” tanya Lorra panik. Setahunya bukannya keduanya janjian di cafe. Kenapa Nazarel pulang dengan keadaan pingsan dan hanya memakai mantel mandi saja?
“Biarkan mereka masuk dulu,” kata Tuan Herdy menyuruh Zand membawa Nazarel masuk ke dalam.
Nazarel dibaringkan di atas kursi sofa panjang.
“Bi Ipih, ambilkan air hangat!” kata Lorra menyuruh Ipih membawakan minuman hangat karena mengira Nazarel benar-benar pingsan. Dia berjongkok lalu menepuk-nepuk pelan pipi Nazarel.
Zand bingung harus menjelaskannya bagaimana?
“Mama, hiikkk. Tambah lagi minuman enaknya,” gumam Nazarel seraya tersenyum lalu mencoba memeluk Lorra.
Lorra mendekatkan hidungnya ke mulut Nazarel lalu mencium baunya. “Alkohol? Di-dia? Jangan katakan kalau Nazarel mabuk?” ia tampak tak percaya mencium bau minuman di mulut Nazarel.
Zand pun akhirnya menjelaskan semuanya. Dia pula meminta maaf karena telat datang menemui Nazarel di cafe sehingga kejadiannya menjadi seperti ini.
“Bukan salah nak Zand,” kata Tuan Herdy kala sudah mendengar dan mencerna semua cerita Zand.
Tetap saja meski memaafkan Zand. Lorra masih tidak terima melihat Nazarel dijebak salah satu teman sekolahnya dulu karena kesalahan Zand juga dan seandainya Zand tidak datang tepat waktu. Entah bagaimana nasib anak gadisnya itu saat ini?
Zand menunduk merasa bersalah. Harusnya dia menelepon saja Nazarel jika akan telat dan seandainya dia membalas chatan gadis itu untuk memberitahukan kalau dia sibuk sebelum baterai ponselnya habis. Mungkin saja gadis itu tidak akan pergi ke mana saja tanpa sepengetahuannya.
“Nico, bawa Naza ke kamarnya,” perintah Tuan Herdy pada Nico yang diam saja mendengarkan di ruangan itu.
Nico mengangguk kemudian menggendong Nazarel naik ke kamarnya.
“Sekali lagi terima kasih nak Zand. Meski kau bersalah, tetap saja Nazarel yang sangat bersalah karena berani-beraninya dia datang ke club malam sendirian. Masih kecil sudah berani nongkrong di tempat seperti itu, kenapa tidak langsung pulang saja?” kata Tuan Herdy geleng-geleng kepalanya.
Tetap saja perempuan yang selalu salah meskipun mereka tidak sengaja atau tidak menginginkan hal seperti itu terjadi.
Zand sekali lagi meminta maaf dan berjanji kejadian seperti itu tidak akan terulang lagi. Dia lalu memberanikan diri menatap Tuan Herdy lalu berkata, “Kakek, bisa kita berbicara empat mata?”
Tuan Herdy mengernyit heran, tetapi tak lama bibirnya tersenyum. “Sebenarnya, aku juga ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu.”
Keduanya pun pergi ke ruang kantor Rama lalu menutup pintu.
Semuanya tampak tegang di sana. Setelah membaringkan Nazarel ke atas ranjangnya, Nico bergegas turun.
Tidak berapa lama, Rama pun pulang. Aneh melihat ketegangan di sana dan kenapa semuanya berkumpul di ruang tamu? “Ada apa ini? Kenapa kalian tampak tegang sekali?” tanyanya sembari tersenyum semakin aneh.
“Ada bang Zand, Om,” jawab Zain seraya melirik ke arah pintu ruangan kantor.
“Kenapa dia di sana?” tanya Rama semakin aneh.
“Lagi bicara sama Opa,” jawab Nico terlihat tidak tenang juga. Sebab memikirkan bagaimana reaksi Rama kala melihat keadaan Nazarel yang mabuk seperti itu.
Dhanu mengangguk mengiyakan. Dia juga memikirkan bagaimana jika kakaknya itu tahu kalau Nazarel minum-minuman keras. Tetapi mereka juga tahu cerita dari Zand kalau Nazarel dijebak seorang pemuda. Namun, tetap saja kembali ke point pertama jika gadis itu bersalah.
Pintu kantor terbuka sedikit dari dalam. “Rama, masuklah,” perintah Tuan Herdy tampak serius.
Lorra menelan salivanya berat. Dia pun pamitan pergi ke kamar Nazarel untuk memakaikan piyama karena anaknya itu masih memakai mantel mandi hotel.
Hampir satu jam, Tuan Herdy, Rama dan juga Zand berbicara di dalam ruang kantor. Tak berapa lama, ketiganya keluar dengan wajah yang lebih santai dan juga tidak terlalu tegang.
Dhanu melirik istrinya heran, Nico dan Zain juga saling lirik.
Ketiganya duduk di sofa kosong di ruangan tersebut.
“Lorra!!” panggil Rama karena tidak melihat istrinya ada di sana.
“Ya Mas!” jawab Lorra dari atas. Tak lama dia pun bergegas turun.
“Mas Rama sudah tahu kalau Naza …?” ucapan Dhanu menggantung melihat dulu reaksi wajah Rama.
Rama malah tersenyum. “Ya, aku sudah tahu kalau dia mabuk. Tetapi dia dijebak, bukan sengaja minum-minum.”
“Syukurlah,” kata Lorra di ambang pintu merasa lega. Setidaknya anak gadisnya itu tidak akan terkena hukuman oleh ayah atau kakeknya.
“Ehhmm,” Tuan Herdy berdeham dulu. “Besok lusa, Zand dan Nazarel akan menikah. Jadi, mulai besok. Kalian harus menyiapkan semua kebutuhan kalian untuk pernikahan mereka.”
“APAAAA?!”
Semuanya terkejut mendengar ucapan Tuan Herdy.
“Mas?” Lorra menatap Rama, meminta penjelasannya.
Rama menghela napasnya berat. Tampaknya dia juga berat jika Nazarel harus menikah di usia muda. Tetapi mau bagaimana lagi, dia juga tak bisa menentang keinginan ayahnya dan sebenarnya dia juga tahu tentang penyakit yang diderita ayahnya dari ibunya tadi pagi. Tetapi Tuan Herdy tak tahu hal itu. Dan alasan itu juga dia menyetujui pernikahan Nazarel dengan Zand.
Tuan Herdy pun yang menjelaskannya. “Karena setelah pernikahan Nazarel. Kami berdua akan terbang ke London dan tinggal di sana sementara waktu.”
Lorra masih menatap Rama meminta penjelasan apa dia juga setuju.
“Ya sayang, pernikahan ini akan segera dilangsungkan besok lusa sebelum Ayah dan Ibu berangkat ke London,” ujar Rama seraya menghela napasnya berat. Tidak bisa menjelaskan tentang penyakit ayahnya itu.
Zain menatap kakek dan neneknya. “Opa sama Oma mau ke London? Kenapa kami nggak dibawa?”
Neina tersenyum. “Kalian ingat tanah perkebunan yang sepupu kakekmu tawarkan?”
Dhanu dan Nico tahu cerita itu.
“Jika kakekmu mendapatkan tanah tersebut. Maka perusahaan kalian akan semakin luas sampai di London.” Neina menjelaskannya dengan senang.
Oh, semuanya tampak senang, mengira memang karena hal itu Herdy dan Neina berangkat ke London. Tidak curiga kalau sebenarnya mereka mau berobat.
Lorra kehabisan kata-kata, karena jika suami dan ayah mertuanya sudah menjatuhkan keputusan seperti itu, maka dia tidak bisa membantah atau protes kepada keduanya. Dia juga sebenarnya khawatir tentang sikap dan sifat Nazarel yang akhir-akhir ini menjadi aneh dan selalu terjatuh ke dalam masalah terus. Ia pun takut, Nazarel akan terjatuh ke sebuah masalah yang tidak akan ada penyelesaiannya.
Dhanu juga tampaknya mendukung hal itu. Jika mereka juga punya tanah di luar negeri, sudah pasti tugasnya lah yang mengurus di sana. “Baiklah, kalau begitu. Besok kita akan sibuk sekali pastinya.”
Zand tersenyum. “Masalah gedung pernikahan, saya akan mengaturnya besok sebab saudara saya punya gedung khusus untuk pernikahan.”
Tuan Herdy mengangguk. “Kalau begitu, kita juga harus menyiapkannya dari sekarang, sebab kita sudah tidak punya banyak waktu lagi.”
Meski terasa dadakan. Tetapi mereka harus menjadikan pernikahan itu berjalan lancar dan juga meriah.
Akhirnya ketegangan di sana mencair seketika dikala mereka sibuk membicarakan tentang pakaian, makanan dan juga menelepon pemilik butik langganan di kota itu dengan senangnya.
Zand pun pamit pulang untuk memberitahukan berita itu kepada kedua orang tuanya.
Dadakan.
Semua serba dadakan.
Zand tahu, meski Nazarel pastinya belum mencintainya. Dan dia juga belum yakin jika perasaannya itu adalah Cinta? Tetapi satu yang dia yakini, adalah menikahi Nazarel, tidak akan membuatnya menyesal.
Zand melajukan mobilnya ke arah perkomplekan rumah keluarganya. Tetapi, sesampainya di sana. Dia baru mendapat kabar kalau kedua orang tuanya pergi ke luar kota dan akan kembali besok pagi.
Hanya ada Zicko dan Qeira istrinya. Jadi, Zand mengurungkan niatnya untuk memberitahukan besok lusa dia akan menikah. Karena ingin memberitahukan kabar itu di saat semuanya berkumpul.
*****
Zand kembali ke apartemennya.
Besok lusa adalah pernikahannya. Kini dia duduk bersandar di kursi kantornya, lalu mendongak menatap langit-langit ruangan itu.
Hatinya masih diliputi rasa bersalah. Tak bisa membayangkan jika seandainya tadi dia telat datang ke hotel. Entah apa yang akan terjadi pada Nazarel.
Namun, di sisi lain ada satu ganjalan di hatinya. Satu rahasia besar yang selama ini disembunyikan dari keluarganya. Apa dia bisa semudah itu melenyapkan masa lalunya? Apa dengan kehadiran Nazarel akan mengobati luka lamanya itu?
Atau, pernikahannya itu akan menemukan titik jenuh di mana akan berakhir dengan perceraian?
Apakah dia harus jujur pada Nazarel? Ataukah rahasia itu sebaiknya disimpan serapat mungkin seperti yang selama ini dia lakukan.
Tidak selamanya kejujuran, akan mendapat kata maaf. Jika kebohongan tidak akan pernah terungkap, maka sudah seharusnya dikubur rapat-rapat.
Ya. Meski kebohongan waktunya selalu singkat. Tapi dia yakin masa lalunya tidak akan pernah terungkap, sebab dia dan masa lalunya itu kini sudah bagaikan langit dan bumi, di mana keduanya tidak akan pernah bersatu kembali.
Zand sudah memutuskan akan terus merahasiakannya dan berharap rahasia itu akan terus tertutup sampai akhir usianya.
Nazarel, dia akan berjanji selalu menjaga gadis itu. Dan tidak akan pernah melukainya.
Lembaran baru?
Ya. Sudah saatnya dia mulai membuka lembaran baru.
★BERSAMBUNG★