“Pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, melainkan melihat kelebihan dan kekurangan pasangan. Dan jalannya pun tidak selalu lurus serta datar, tetapi pastinya berbelok dan juga berlubang.”
*****
Hari H pun tiba.
Traakkk treenggg criinnggg.
Suara-suara dari benturan pelan gelas dan piring.
Gedung besar itu telah selesai dihias sedemikian rupa. Meja untuk hidangan sudah dilapisi kain berwarna putih bermotip bunga tulip. Banyak pula stand lilin di setiap meja dan bunga tulip asli pun menghiasi setiap vas bunga di sana.
Kursi-kursi memakai rangkap kain putih berhiasan pita besar berwarna warni. Altar berbentuk parit besar dan berbeda dari yang lain tengah dirancang sedemikian rupa, parit itu tepat di tengah-tengah gedung, dari ujung pintu utama sampai ke atas panggung. Di kedua sisi altar terdapat tanaman bunga tulip seperti sebuah taman bunga sepanjang altar dan juga lilin-lilin kecil ditaruh di pinggirannya.
Pinggiran tembok gedung berhiasan bunga rambat seperti sebuah hutan asri yang indah. Setiap pilar sudut gedung pun berbelitkan lampu-lampu berbentuk tanaman anggur dan anggurnya terbuat dari lampu-lampu kecil sebagai hiasan. Dan di antara dua sisi ambang pintu utama, bunga bugenvile dibentuk menjadi gapura yang indah.
Semua orang tampak sibuk ke sana kemari mengurus semuanya. Para pelayan sudah siap melakukan pekerjaannya.
Keluarga pengantin pria sudah sampai duluan di sana.
Zicko melihat Zand sedang bersama seorang pegawai yang tengah memasang lampu menjuntai di langit-langit gedung, ia menepuk pundak Zand yang masih memakai pakaian casualnya. “Tak disangka ternyata ini pesta pernikahan impianmu?”
Zand mengangguk. “Tadinya aku hanya ingin pesta sederhana. Tetapi, kau lihat sendiri kala tunangan waktu itu. Pesta sederhana bagi keluarga Navindra, terlihat mewah bagi kita.”
“Kau benar. Lagipula, kakek sangat senang bernuansa hutan atau pesta perkebunan. Seandainya kita ada di kota kakek dan nenek. Sudah pasti pesta pernikahan akan diadakan sangat meriah di kebun.”
“Kau benar. Di sana pemandangannya sangat indah mengalahkan gedung-gedung mewah sekalipun.” Zand tersenyum serta sedikit membayangkan jika menikah di sebuah perkebunan yang asri, bahkan sekitarannya perkebunan bunga yang warna warni pastinya.
Seorang pelayan mendekati keduanya. “Tuan Zand. Keluarga mempelai wanita sudah datang dan kini ada di ruangan mereka,” ujarnya memberitahu.
“Baiklah kalau begitu,” Zand menatap kakaknya dan pegawai tadi pun sudah selesai semua, “sebaiknya kita bersiap-siap juga.”
Zicko mengangguk lalu keduanya pergi ke pintu bagian Utara. Sementara keluarga Nazarel di ruangan Timur.
Di ruangan satu. Nazarel sedang didandani ala pengantin sunda. Memakai kebaya brukat putih dan bawahan batik modern. Rangkaian bunga melati memenuhi sanggul dan juga kepalanya. Belum rangkaian bunga melati menjuntai dari belakang telinga sampai bawah bahunya. Hiasan bunga-bunga emas goyang menghiasi kepalanya juga. Riasan wajah bak barbie membuat Nazarel sungguh sangat cantik.
Linna sudah selesai berdandan. Lorra sedang di toilet ruangan itu sementara Asmi sedang berada di ruangan suaminya karena Zain menanyakan terus jasnya.
“Akhh, ternyata ponakan Tante berubah menjadi bidadari,” puji Linna terharu melihat Nazarel menjadi pengantin.
Nazarel malah memberenggut kesal. “Tante, kenapa harus didandani kayak nyi blorong begini sih?”
“Haha!” Alter yang datang dari luar tiba-tiba terbahak. “Bukan nyi blorong, tetapi nyi belerang gunung berapi.”
“Tanteeee!” rengek Nazarel sebal.
“Alter, jangan gitu iiisssh,” Linna memarahi anaknya, “apa Papamu sudah siap?” tanyanya melihat Alter sudah rapi. Memakai setelan biru muda, membuatnya semakin terlihat tampan.
“Ya, mereka sudah siap.” Alter merapikan kemeja tanpa dasi dan yang dibuka dua kancing atasnya.
Asmi datang ke sana. “Alter ngapain di sini? Papamu mencarimu dari tadi.”
“Ngapain Papa nyariin aku, Tan?” tanya Alter aneh.
“Katanya aksesoris kancing kemejanya hilang satu,” ujar Asmi menjelaskan aksesoris pengganti kancing lengan kemejanya hilang satu.
Alter malah nyengir. “Punyaku yang hilang satu …,”
“Punyamu?” Linna, Asmi dan Nazarel tidak mengerti.
“Lalu aku pake aja yang punya Papa,” lanjut Alter masih nyengir kuda.
“YA ALLAH! ALTER!” Linna sampai geleng-geleng kepala dengan kelakuan anaknya itu.
“Ada apa?” tanya Lorra keluar dari toilet, kaget mendengar teriakan mereka.
“Aku kabur dulu deh.” Alter hendak kabur dari sana. Tetapi Asmi keburu menghentikannya dengan menarik belakang kerah kemejanya.
“Aduhh Tan-Tante. Kecekik nih,” candanya seraya meringis supaya dikasihani.
“Tunggu dulu sebentar,” Asmi melepaskan jas Alter lalu mendekati tasnya yang ada di atas sofa. Mengeluarkan aksesoris kancing stanless lalu diberikan pada Alter, “untungnya Tante bawa lebih buat cadangan Om-mu. Jadi biar bang Danang yang memakainya.”
“Beneran Tante?” Alter merasa disambung nyawa. Secara aksesoris pengganti kancing milik ayahnya pasti ketahuan juga dipakainya.
Asmi mengangguk.
Alter menerimanya dengan girang lalu melangkah pergi dari sana.
Semuanya geleng-geleng kepala.
“Masya Allah, cantik sekali ponakan Tante.” Kini Asmi yang memuji Nazarel.
“Beneran cantik?” Nazarel bertanya serius karena dia merasa make-upnya ketebalan.
“Beneran lah sayang. Masa boong,” jawab Asmi mencandai Nazarel supaya jangan manyun terus.
Lorra juga berkaca-kaca melihat putri semata wayangnya hari ini menjadi pengantin yang sangat cantik.
“Mbak, jangan nangis dulu. Make-upnya susah ditambal kalau nangis sekarang,” canda Asmi memeluk Lorra dari samping.
“Hehe,” Lorra terkekeh sembari mendongak ke atas supaya air matanya tak jatuh, “aku hanya tak menyangka hari ini tiba secepat ini. Padahal aku masih melihat kalau putriku ini masih saja berusia lima tahun.”
“Kau benar mbak. Anak-anak kita terasa masih berumur lima tahun, tak terasa sudah besar-besar.” Asmi juga merasa kalau Nico dan Zain sudah dewasa.
Knockk knockk!
“Masuk,” jawab Lorra segera menghapus air matanya yang sudah tergenang.
“Boleh kami mengobrol sebentar dengan pengantin wanitanya, Tante?” tanya seorang gadis yang tak lain adalah Alitha, sahabat terbaik Nazarel. Dia datang bersama Vita serta Leni ke sana.
“Kalian datang juga?” Nazarel terlihat senang atas kedatangan ketiga sahabatnya.
Vita nyengir, dia merasa bersalah atas kejadian kemarin. Tapi bahagia di waktu yang sama karena Nazarel ternyata yang menikah duluan.
“Baiklah, temani Nazarel sampai acara dimulai.” Lorra mengajak Linna dan Asmi untuk keluar melihat suasana di aula utama.
Alitha memeluk Nazarel. “Kamu tega banget sih, pas tunangan kami nggak tau, giliran nikah juga baru tau semalam,” rengeknya tak terima.
Vita mengangguk mengiyakan protesan Alitha. “Aku juga baru tau pas di club, dia udah tunangan.”
Leni menatap ketiga sabahatnya yang haru-haruan. “Kalian kenapa malah protes sih dan juga sedih-sedihan. Hari ini hari bahagia, harusnya banyakin senyum dan juga selfie,” ujarnya sembari mengeluarkan ponsel di dalam tasnya.
“Pa'an sih iihhh? Harus terharu dong, Nazarel nikah duluan.” Vita melemparkan kotak tissu kecil ke arah Leni yang terkekeh.
Alitha melihat bagaimana cantiknya Nazarel. “Lo cantik banget, mirip barbie. Oh ya, katanya lo bakalan nikah sama polisi ya? Gimana sih tampangnya?” Ia penasaran seperti apa pria yang akan menikahi sahabatnya itu, apalagi seorang polisi berpangkat. Secara dia tidak pernah membaca koran.
“Gue tau kok,” kata Vita seraya mengeluarkan ponselnya. Dia akan mencari berita yang tersebar di koran dan sosmed kemarin. Tetapi ternyata berita itu sudah tidak ada.
Tidak ada yang tahu jika semalam Zand mendatangi wartawan yang menyebarkan berita buruk tentangnya dan Nazarel dengan ancaman penjara dan denda ratusan juta rupiah jika tidak dihapus. Maka sebentar lagi berita pernikahannya lah yang akan memenuhi koran dan sosmed kota itu dan membenarkan berita buruk kemarin.
“Kok nggak ada?” Vita bertanya-tanya heran.
“Udah dihapus kali,” kata Leni sok tahu.
Nazarel merasa lega. Setidaknya berita buruk tentangnya dan Zand sudah lenyap di sosmed. Hanya tinggal meluruskan berita yang ada di koran.
Alitha menatap Nazarel penasaran. “Lo juga nggak pernah mampang foto tunangan lo. Heran gue.”
Nazarel nyengir kuda. Dia tidak pernah memampang foto Zand di semua sosmednya. Jadi sudah pasti semua sahabatnya penasaran. Vita dan Leni juga tak melihat dengan jelas wajah Zand di koran kemarin.
“Nanti juga kalian akan tahu.” Nazarel hanya bisa menjawab sebatas itu.
Masuk Alter kesana tanpa mengetuk pintu. Dikira kalau Nazarel hanya sendirian. “Nyi belerang, sudah saatnya …?” Ia terkejut melihat ada ketiga sahabat Nazarel di sana. Salah satunya adalah pujaan hatinya, Alitha.
Anjiirrr mampus gue. Ada neng Alitha malah ngomong ke mana aja gue. Batin Alter malu sendiri. “Ehh, ada Vita sama Leni. Ada neng Alitha juga,” cengirnya pura-pura malu-malu.
“Huhhh,” Nazarel melemparkan sepatu miliknya ke arah Alter yang dapat dihindari oleh Alter, “manggil gue nyi belerang, pake malu-malu kucing lagi. Malu-maluin tau,” kesalnya seraya menyilangkan kedua tangannya di d**a.
Masuk Lorra ke sana. “Bisa ngobrolnya disambung lagi nanti? Soalnya acaranya akan segera dimulai.”
“Padahal masih kangen, tapi nggak apa. Nanti kami bisa ngobrol lagi, kan.” Alitha tersenyum melihat Nazarel berdiri dengan anggun memakai pakaian pengantin ala sundanya itu.
“Sama aku nggak kangen neng?” Alter menggoda Alitha seperti biasa.
“Huhh, apaan sih,” dengkus Alitha kesal.
“Hehe,” kekeh Alter.
Nazarel berkali-kali mengembuskan napasnya panjang. Hanya sebentar, ya sebentar lagi dia akan menyandang gelar Nyonya Zand Navindra.
Nazarel berjalan keluar dari ruangan itu, menelusuri lorong menuju aula utama di mana di sana sudah banyak yang datang.
Zand juga sudah memakai setelan jas pengantin putih untuk ijab kabul dan juga peci berwarna putih pula. Dia kini duduk di atas bantalan di panggung pelaminan. Sudah ada Tuan Rama dan juga semua saksi serta wali. Pak penghulu juga tampaknya sudah siap di depan Zand.
Ketika Nazarel muncul dari pintu samping. Semuanya terpaku melihat bagaimana cantiknya mempelai wanita itu. Sungguh elok dan terlihat sempurna ciptaan Tuhan.
Zand juga sudah pasti terpaku melihat bagaimana cantiknya wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Zicko tersenyum melihat betapa cantiknya Nazarel. Mungkin jika dia belum menikah, sudah pasti dia yang akan dijodohkan dengan gadis itu. Tetapi, tetap saja sebagaimana cantiknya wanita lain. Tetap satu-satunya wanita yang dicintainya adalah Qeira sang istrinya.
Nazarel kini duduk di samping Zand. Kepalanya menunduk dan apakah dia akan menyesal karena menyetujui perjodohan itu? Dan meminta dijodohkan, ternyata jodohnya bukanlah pria tipe pujaannya. Malah bertolak belakang dengan keinginannya.
Lorra mulai mengerudungi kepala Nazarel, bersamaan dengan Zand di dalam satu naungan kerudung putih, simbol dan tanda kesucian janji-janji yang akan diucapkan Zand sebentar lagi.
“Ehemm, nak Zand. Apa sudah siap?” tanya Pak penghulu melihat Zand malah diam menatap dalam Nazarel. “Tenang saja. Dia tidak akan kabur nak Zand. Pastinya akan segera menjadi istrimu. Di sahkan dulu ya,” godanya membuat Nazarel tersipu malu. Begitu juga Zand yang tersentak kaget lalu tersenyum.
Semuanya terkekeh.
Di kala itu banyak pula tamu yang mulai berdatangan, terutama teman-teman kepolisian Zand, termasuk Faizal yang terlihat kecewa sebab dialah pria pertama yang bertemu dengan Nazarel. Kini ternyata bersanding dengan sahabatnya itu.
Para atasan Zand juga datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Semuanya ingin menyaksikan acara ijab kabul Zand Navindra. Menikahi putri semata wayang Tuan Rama Adhitama ternyata mengundang banyak orang penasaran. Begitu cocok terlihat Zand dan Nazarel kala bersandingan. Padahal usia mereka tertaut perbedaan yang jauh.
Pak penghulu mulai membacakan doa-doa pembuka kala Zand mengangguk siap dan tangannya mulai berjabatan dengan Rama.
“Saya nikahkan dan kawinkan, putri semata wayang saya Nazarel Meilla Adhitama dengan mas kawin seperangkat perhiasan, seperangkat alat sholat dan uang dibayar, tunai.” Rama dengan lantang menggoyangkan tangan Zand.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Nazarel Meilla binti Rama Adhitama dengan mas kawin tersebut, tuuunnnaiii,” ucap lantang tanpa gemetar Zand mengucapkan janji sucinya pada ayah Nazarel.
“Bagaimana saksi?” tanya Pak penghulu.
“Sah!”
“Saahhh!” jawab semuanya serentak.
Terdengar riuh tepuk tangan meriah dan tangis haru dari Lorra, Linna dan Asmi.
Begitu juga teman-teman Nazarel, Alter serta semuanya bertepuk tangan.
“Alhamdulillahirobbilallamin ….” Pak penghulu melanjutkan doa-doa untuk kedua mempelai. Dibarengi doa-doa yang lain masing-masing.
Setelah itu. “Selamat untuk kalian berdua,” kata Pak penghulu kala Zand dan Nazarel memasangkan cincin nikah dan juga tanda tangan peresmian buku nikah.
“Zand, lantang sekali kau mengucap ijab kabul seperti acara upacara bendera saja!” goda Barro, teman satu kantor dengannya.
Zand hanya tersenyum.
Lorra membantu Nazarel berdiri dari duduknya. “Mama pinjam dulu ya sebentar untuk berganti pakaian,” candanya pada Zand yang kaget melihat Nazarel hendak pergi.
“Tak apa Ma. Saya juga harus berganti pakaian.” Zand juga ikut bangkit dari duduknya.
Mama? Nazarel memejamkan erat kedua matanya. Pria itu sudah memanggil Ibunya dengan sebutan Mama juga. Dia pasti harus memanggil Ibu mertuanya dengan Bunda, sama seperti Zand.
Semuanya mulai merongrong pada Zand untuk mengucapkan selamat. Tapi, Zand dengan terpaksa harus meninggalkan mereka sebentar untuk berganti pakaian sebab acara berikutnya akan dilanjutkan.
Atasan Zand pastinya berbincang dengan Tuan Herdy, Tuan Rama, Tuan Ikhsan dan yang lainnya. Sebab kakek Zand tak bisa datang karena kesehatan neneknya Zand menurun. Padahal sangat disayangkan jika mereka tak bisa datang karena mereka telah memimpikan hari ini dari muda dan kini mereka hanya bisa melihat live di video callnya dengan Zicko.
Zand ke ruangannya, begitu juga Nazarel.
Kali ini Nico dan Zain datang ke ruangan Nazarel.
“Nyonya Navindra, boleh kami masuk?” tanya Nico seperti biasa menyembul di ambang pintu.
“Masuklah bang,” jawab Nazarel lemas mendengar Nico memanggilnya dengan Nyonya Navindra. Ya, dia kini sudah sah menjadi Nazarel Zand Navindra.
Baru saja Nico melangkah. Zain sudah menyeruduk duluan.
“Ahh kenyang banget,” kata Zain duduk di sofa dengan perutnya yang semakin buncit.
“Astagfirulloh. Zain, tuh perut kapan kempesnya?” canda Nazarel menggelengkan kepalanya.
Nico terkekeh. “Mungkin nanti setelah jatuh Cinta. Bakalan malu dengan perut seperti itu.”
“Gue nggak bakalan jatuh Cinta. Jadi, nggak bakalan perut ini kempes.” Zain dengan bangga menepuk-nepuk perutnya.
Nazarel memutar matanya jengah. Benarkah kalau manusia tidak akan pernah merasakan jatuh Cinta? Entahlah, selama ini dia juga belum pernah merasakan yang namanya jatuh Cinta.
Nico menatap wajah Nazarel yang tak terlihat bahagia sedikitpun. Dia tahu jika semua itu hanya perjodohan. Tapi, apakah Nazarel akan bertahan berumah tangga dengan pria yang belum dicintainya itu? Apakah rumah tangga keduanya akan langgeng dan menemukan kebahagiaan?
“Kenapa bang?” tanya Nazarel aneh.
Nico menggelengkan kepalanya. “Entahlah, abang merasa kamu nggak bahagia hari ini?”
Nazarel tiba-tiba memeluk Nico. “Aku memang nggak bahagia. Dan masih nggak percaya kalau hari ini aku menikah. Tapi, melihat senyum dan juga kebahagiaan Papa dan Opa. Itu sudah cukup bagiku.”
Nico mengusap punggung Nazarel. “Jangan pernah memaksakan jika kau nggak bahagia. Setiap pernikahan pasti ada perceraian. Jangan pernah membuat batin dan juga dirimu tersiksa. Sebab dengan mewujudkan impian Opa saja sudah cukup. Setelah ini, nggak boleh ada orang lain yang mencampuri kehidupanmu--maksudku, kehidupan rumah tangga kalian.”
Nazarel malah terkekeh. “Mendengarnya sudah seperti abng banyak pengalaman aja dalam berumah tangga.”
Nico juga jadi terkekeh.
Masuk Lorra dan Asmi serta wanita perias make-up ke sana.
“Loh, belum ganti baju, Zarel?” Lorra melihat Nazarel masih memakai pakaian tadi.
“Bantuin dong Ma. Mana tau aku lepasinnya,” rengek Nazarel seakan-akan anak kecil yang tak bisa melepaskan bajunya sendiri.
Nico kembali tertawa kecil melihat kelakuan Nazarel. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti di rumah suaminya? Apakah masih manja atau akan berubah sedikit dewasa?
“Kalau gitu, kami keluar dulu,” pamit Nico menarik baju Zain supaya pergi dari sana.
Lorra dan Asmi mulai mendandani lagi Nazarel. Mengganti pakaian pengantinnya dan juga riasan make-up serta gaya rambutnya.
Sementara Zand sudah berganti pakaian, memakai setelan texudo hitam serta dasi kupu-kupu. Rambutnya disisir rapi dan berbeda dari biasanya. Dia kembali ke aula utama di mana di sana teman-temannya sudah hadir serta pula para atasannya yang lain.
“Zand, jadi dia calon istrimu--maksudku, istrimu sekarang?” tanya Barro mengenali Nazarel dan sudah pasti Alter yang pernah ditangkap mereka.
“Ya, dia kini sudah resmi menjadi istriku,” jawab Zand dengan senyuman lebarnya. Mengerti arti tatapan aneh dan raut wajah terkejut dari teman-temannya.
Faiz berulang kali menghela napasnya. Bagaimana tidak, satu tahun dia merasa penasaran dengan gadis hujannya. Kenyataan pahit tiba-tiba menghantamnya, yaitu gadis hujannya telah menjadi istri sahabat baiknya itu.
Dan diantara semua teman di luar kepolisian. Hanya Lucky yang bisa hadir sebab Rodrik sedang sangat sibuk, Miko juga dan sudah pasti Anjas mengurusi istri dan anak-anaknya.
“Zand. Maaf semuanya nggak bisa datang ke sini,” Lucky menyalami Zand, “selamat atas pernikahan lo.”
“Terima kasih Luck, lo sudah menyempatkan datang ke sini,” jawab Zand menghargai kehadiran sahabatnya itu. Sebagaimanapun juga, pernikahan itu terbilang dadakan. Sudah pasti yang datang tidak bisa semuanya karena kesibukan masing-masing.
“Tentu saja nggak akan melewatkannya, saat satu per satu sahabat gue melepas label lajangnya. Sementara gue belum niat, haha.” Lucky malah tergelak geli kala mengatakan kalau dirinya belum niat. Padahal selama ini dia lah yang paling banyak mantan pacarnya.
Zand juga terkekeh geli.
Faiz menghampiri keduanya. “Selamat Zand. Semoga langgeng dan samawa.”
“Makasih Faiz,” ucap Zand, “apa kau sudah melakukan pemeriksaan tentang-”
“Hey, kenapa kau membicarakan pekerjaan di hari pernikahanmu?” tanya Pak Andra. Atasan keduanya atau lebih tepatnya Komandan Tertinggi di kantor polisinya.
“Lapor Pak!” canda Faiz sembari hormat membuat pria tua itu tertawa, begitu juga Zand dan Lucky.
“Acara selanjutnya akan segera dimulai. Harap semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing,” kata sang MC di panggung pelaminan.
Semuanya pun kembali ke tempat duduk masing-masing, kecuali Zand yang berdiri di panggung pelaminan bersama dengan Nico, Zain, Alter, Faiz, sang pendamping pria.
Ada Vita, Alitha, Leni dan juga satu teman wanita Nazarel yang menjadi pendamping wanita.
Traakkkkk.
Semua lampu utama tiba-tiba mati. Lampu hiasan mulai dinyalakan, lilin-lilin kecil berbentuk bunga di sepanjang pinggiran altar berbentuk parit itu mulai dinyalakan juga. Pilar-pilar tinggi dan besar yang berhiasan dengan tanaman anggur hiasan pun mulai menyala, lampu berbentuk anggur itu menambah ruangan seperti berada di kebun anggur di malam hari.
Bahkan langit-langit ruangan berhiasan lampu-lampu yang menjuntai seakan bintang yang bertebaran dan menggantung. Beberapa layar di pinggiran tembok menampakkan pemandangan sebuah danau di tengah hutan yang terdapat banyak kunang-kunang yang terbang bertebaran.
Di belakang kursi pelaminan ada sebuah layar pula yang menampakkan bulan purnama yang terang, besar dan indah seakan Zand kini berdiri di bawahnya. Siap menyambut kedatangan bidadarinya.
Suasana menjadi hening, terdengar desiran angin menjadikan di sana benar-benar seperti di tengah hutan di pinggiran danau.
Altar berbentuk parit pun perlahan mengalir air, naik hampir memenuhi altar itu dan air berhenti mengalir sampai seatas mata kaki.
Terdengar suara langkah dari ambang pintu utama di depan sana. Suara langkah sepatu hak tinggi Nazarel.
Zand kini semakin terpaku melihat Nazarel muncul dengan gaun pengantin ala barat. Gaun pengantin putih sebatas lutut, dan pula gaun hanya sebatas dadanya tetapi tampak pas membentuk tubuh mungil gadis itu.
Di belakangnya ekor gaun yang panjang seperti sirip ekor ikan duyung dan pula di kepalanya, kerudung pengantin berhiasan mahkota serta hiasan permata berbentuk daun besar di pinggirannya, tepat di atas telinga Nazarel.
Di tangan Nazarel sebuket bunga tulip palsu sebab bunga itu adalah lampu hiasan yang menyala menerangi wajahnya. Kala berjalan, bukan hanya Zand. Tapi semua yang ada di sana semakin terpesona oleh kecantikannya.
Di dekat altar. Nazarel melepas sepatunya kemudian masuk ke dalam parit.
(Ide ini muncul dari film Crazy Rich Asia ya, hanya terinspirasi sedikit saja, bukan sepenuhnya duplikat).
Nazarel berjalan di air dengan perlahan. Sampai ekor gaunnya yang panjang masuk juga ke sana, mengambang seperti ekor duyung di atas air, bergelombang-gelombang indah seiring dengan langkah kakinya menelusuri parit altar menuju ke arah Zand.
Semuanya terpesona dengan pernikahan mewah itu, pesta yang tak pernah ada atau pertama kalinya dilakukan oleh keluarga milioner Navindra dan Adhitama. Pesta pernikahan yang pastinya akan menjadi bahan topik utama yang takkan pernah terlupakan oleh semua yang hadir di sana.
Nazarel akhirnya sampai tepat di depan Zand. Beberapa orang wanita membantu Nazarel melepaskan ekor gaunnya yang basah, menyisakan gaun pengantin pendek yang indah dan mewah.
Zand mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya keluar dari altar parit itu. Nazarel menerima uluran tangan Zand dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri masih memegang buket bunga. Ia melangkahkan kakinya keluar dari parit dipegang erat oleh Zand sebab takut terjatuh.
Benar saja. Sebelah kakinya terpeleset dan hampir saja terjatuh.
Untungnya kedua tangan Zand segera menahannya dan kini keduanya dalam posisi berpelukan dengan sangat mesra. Kedua tangan Zand tepat memeluk pinggang Nazarel dan tubuh mereka merapat tanpa celah.
Kedua mata Zand dan Nazarel saling bertatapan sangat dalam. Seakan keduanya mencari setitik Cinta di sana.
Terdengar tepuk tangan yang riuh menghentakkan lamunan keduanya.
“Wuwuuuhh!”
“Selamat ya!”
“Kalian sangat cocok!”
Zand segera melepaskan pinggang Nazarel. “Hati-hati,” ucapnya melihat Nazarel menjadi salah tingkah. Tentu saja dianya pun sama, “sayang,” lanjutnya membuat Nazarel semakin merona.
Kaki Nazarel dikeringkan oleh handuk kecil. Kemudian memakai sepatunya yang tadi. Setelah ekor gaunnya dilepaskan menampilkan gaun pengantin pendek yang mewah sekaligus imut dipakainya.
Acara pun dilanjutkan ke sesi pemotretan dan juga salaman dengan tamu yang mengucapkan selamat. Menyantap hidangan serta berdansa.
Nazarel sangat kaku berdansa dengan Zand. Senyuman pria itu kenapa terlihat menyebalkan di matanya dan ingin sekali dia mencongkel kedua mata pria itu kala tak sengaja melirik belahan dadanya yang terlihat.
Mesum lo. Aku colok deh matanya. Batin Nazarel, dan dia hanya bisa menggerutu dalam hati. Sebab mustahil dia memaki pria itu di sana.
Sekilas Nazarel melirik kakak iparnya yang sedang berdansa dengan istrinya tepat di sampingnya. Entah kenapa dia heran kala memergoki kalau wanita bernama Qeira itu selalu menatap sedih pada Zand.
Apa dia benci padanya? Atau sedih karena adik iparnya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak cocok dengan Zand itu? Entahlah, Nazarel selalu merasa keluarga Zand itu aneh semua.
Hari itu. Hari yang sangat meriah dan bahagia bagi kedua keluarga. Hari di mana Nazarel sudah sah menyandang gelar istri Ajun Komisaris Polisi, Zand Navindra.
Mungkin pula dari pernikahan itu, ada beberapa hati yang terluka yang sangat parah yang tidak diketahui mereka.
★BERSAMBUNG★