“Sekeras dan sekuat apa pun kita berusaha menyembunyikan rahasia. Cepat atau lambat, dia pasti akan menemukan jalannya untuk terungkap. Tanpa kita sadari dan tanpa kita inginkan.”
*****
Di acara pernikahan.
Semuanya mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Satu per satu tamu undangan pulang.
Faizal menyalami Zand. “Selamat Zand, semoga langgeng. Aku pulang dulu,” ucapnya seraya menatap sayu pada Nazarel, “Nyonya Navindra, kita ternyata bertemu lagi, selamat ya.”
“Te-terima kasih Kak Faiz,” jawab Nazarel gelagapan takut pria itu mengungkit tentang dirinya yang pernah masuk penjara. Sementara di sana masih ada Papa dan kakeknya.
Faiz tersenyum lalu menyalami Nazarel sekilas. Di hati pria itu merutuk menyesali kenapa tidak bergegas menemui dan menyatakan perasaannya waktu di kantor polisi itu dan mengatakan kalau selama setahun ini dia terus mencari keberadaannya. Tidak menyangka kalau gadis hujannya menjadi jodoh sahabat baik sekaligus atasannya itu.
Tuan Ikhsan dan Nyonya Dhalia menghampiri keduanya juga.
“Selamat ya sayang. Sudah menjadi menantu Bunda,” kata Dhalia tersenyum memeluk sekilas Nazarel.
“Terima kasih Bun. Atas doa restunya,” jawab Nazarel masih kaku dan canggung sebab dia belum mengenal dekat dengan wanita itu.
“Zand. Mau Ayah antar ke hotelnya?” tanya Ikhsan menatap bangga pada putra bungsunya itu.
Zand menggelengkan kepalanya. “Tidak usah Ayah. Keluarga Naza juga tidak semuanya ikut. Jadi, kalian pulang dan istirahatlah. Terima kasih atas semuanya hari ini.” Ia memeluk erat ayahnya yang dibalas oleh ayahnya itu.
“Kalau gitu, besok hati-hati ya. Pulang dari Bali, jangan lupa mampir ke rumah, hah. Jangan lupa rumah kedua orang tuamu,” canda Dhalia terkekeh.
Nazarel merasa wanita tua itu tidak sesombong dan sedingin kelihatannya. Ya, mudah-mudahan saja dia mempunyai mertua yang baik.
“Zand, gue pulang dulu.” Lucky juga pamitan dan mengucapkan selamat juga pada keduanya.
“Ya. Makasih bro,” jawab Zand singkat.
Seusai acara pernikahan.
Zand dan Nazarel langsung diantarkan ke hotel oleh orang tua Nazarel, Danang dan istrinya Linna serta, Alter, Zain dan Nico saja. Tetapi yang menginap hanya mereka berdua dengan tas koper masing-masing sebab keesokan paginya, keduanya akan langsung pergi berbulan madu ke Bali.
Kini Nazarel berdiri di ambang pintu dengan tangan yang tak mau melepaskankan ujung pakaian ibunya dan masih memakai pakaian pengantinnya.
“Ma, kenapa ditinggalin di sini sih?” rengek Nazarel tak terima jika harus ditinggalkan berdua dengan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
“Eehh, kalian berdua kan sudah resmi jadi suami istri. Mulai sekarang, kamu harus patuh padanya, hah. Mama lelah mau pulang dulu. Besok pagi sebelum kalian berangkat ke Bali. Mama akan datang ke sini sebentar.” Lorra sudah seperti ibu yang membuang anaknya. Mau bagaimana lagi, anaknya itu harus belajar dewasa.
“Nginap di sini aja,” rengek Nazarel, “Papa mana?”
“Masih di bawah sama keluarga mertuamu,” jawab Lorra berhasil melepaskan genggaman tangan Nazarel, hampir saja bajunya sobek.
“Honey,” datang Alter dengan gaya sok cool-nya membawa kado.
“Apaan?” jawab Nazarel jutek.
“Pengantin baru jangan sok jutek-jutekan. Nanti cahaya wajahnya ilang jadi buram alias gelap,” canda Alter, “liat nih muka gue yang selalu bercahaya karena selalu tersenyum.”
“Hmmm sok imut lo,” sembur Nazarel. Sudah kesal malah dibuat kesal lagi.
“Hehe,” Alter jadi terkekeh geli. “Nih, gue kasih lo hadiah, Naza. Ini muklis dari gue ya,” ujarnya dengan bangga.
Nazarel menerimanya. “Apaan sih ini?” ia menggoyangkan kado sedang itu yang dirasanya ringan.
“Eit, jangan dulu dibuka. Nanti kalau di Bali, baru lo buka.” Alter mencegahnya.
“Pengin di sini aja sih bukanya,” kata Nazarel heran. Kenapa harus di Bali nanti dibukanya.
“Gue bilang nanti di Bali bukanya,” keukeuh Alter menghentikan tangan Nazarel, “kalau lo buka di sini, entar lo kena kutukan.”
Lorra menepuk belakang punggung Alter. “Jangan godain dia terus,” ujarnya seraya mengusap pinggir lengan putrinya, “ya udah. Mama pulang dulu. Kalau ada barang yang ketinggalan, telepon Mama biar Mama bawa sekalian ke sini.”
“Tapi …,” ucapan Nazarel menggantung melihat kedatangan Zand.
“Selamat malam Tante, Alter,” sapanya pada Lorra dan Alter.
“Bukan Tante dong, Mama aja sekarang mah.” Lorra mengoreksi panggilan Zand yang masih kaku. Tadi sudah memanggil Mama. Tapi sekarang kaku dan canggung lagi.
“Iya, masa sama Mama mertua manggil Tante?” goda Alter seperti pada sahabatnya.
“Ehh sopan dikit. Dia sudah jadi Kakak iparmu,” kata Lorra menepuk pelan pinggir lengan Alter.
“Hehe, maaf Kakak ipar,” ucap Alter selalu nyengir. Dia mulai tertarik dengan otot kekar polisi itu. Apa dia juga harus mulai rajin ngegym? Secara para cewek suka dengan pria yang mempunyai perut roti sobek.
Nazarel masih menatap ibunya dengan tatapan tak terima ditinggalkan. “Ma. Nanti siapa yang bantuin Naza bukain rits gaun ini?” tanyanya polos.
“Nanti aku aja yang bantuin,” jawab Zand spontan. Entah sadar atau tidak, hal itu membuat Lorra tersenyum sendiri, Alter juga menahan tawanya. Sementara Nazarel sudah sangat merona dengan kedua pipi yang sudah memerah.
“Tuh, suamimu yang bantuin. Jadi, buruan masuk. Tas kopernya udah Mama taruh di dalam. Kasihan Nak Zand pasti lelah.” Lorra menyuruh Nazarel segera masuk kamar.
Alter dengan jailnya berkata, “boleh liat sebentar kamar pengantinnya kayak apa nggak?”
Lorra menarik kuping Alter. “Nggak boleh ehh. Pamali. Buruan pulang, Papa sama Mamamu udah nunggu di bawah. Kalau mau liat kamar pengantin, makanya nikah buruan,” gerutunya sambil terus menarik Alter ke arah lift.
“Adduhh Tante. Sakit Tan. Iya-iya, nanti Al nyusul deh. Tapi bilangin Mama sama Papa lamarin neng Alitha buat Al,” rintihan Alter masih terlihat oleh Zand yang tertawa kecil melihatnya.
Sementara Nazarel benar-benar ingin berlari menyusul ibunya yang mulai hilang di tikungan lorong hotel bersama Alter.
“Ayo masuk,” ajak Zand menarik tangan Nazarel.
Nazarel malah menatap tangannya itu. Apa pria itu aslinya kasar?
Zand melepaskan tangan Nazarel karena menutup pintu dan menguncinya.
Nazarel melihat ke arah ranjang hotel yang sudah dihampari kelopak bunga mawar merah layaknya di TV-TV. Belum lagi lilin-lilin hiasan dan juga alat uap aromatik yang menyengat sekaligus harum memenuhi ruangan itu. Ia seketika menelan salivanya berat. Apa mereka akan berbulan madu layaknya pengantin baru pada umumnya?
Zand melepaskan jas tuxedo, dasi kupu-kupunya dan juga beberapa kancing kemejanya. Bibirnya tersenyum tipis kala melihat sikap Nazarel yang menjadi salah tingkah dan berbalik membelakanginya. Perlahan dia mendekati Nazarel yang membalikkan tubuhnya karena malu.
Nazarel berdiri membelakangi Zand. “A-apa kita akan berbuat-”
“Tidak akan,” jawab Zand berbisik di dekat telinga Nazarel.
Bulu kuduk Nazarel meremang dan tidak tahu jika Zand sudah berdiri di belakangnya. d**a bidang itu kini bersentuhan dengan punggungnya, membuat Nazarel memejamkan matanya karena takut.
Ternyata Zand hanya membantu Nazarel menurunkan ritsleting gaun pengantinnya itu. “Bukannya tadi mau dibantu dibukakan? Jadi, nih udah aku bantuin.” Ia menurunkan ritsleting itu sampai ke pinggang dan dihentikan oleh tangan Nazarel.
“Udah makasih,” jawab Nazarel karena tahu jika ritsleting itu sampai bawah pinggangnya.
Zand menahan pinggir lengan Nazarel yang hendak pergi. “Jika kau belum siap. Aku nggak akan menyentuhmu dan nggak akan memaksamu. Karena aku tau jika kamu terpaksa menikah denganku karena penyakit kakekmu itu, kan.”
Nazarel mengangguk. “Dan kamu juga bukannya terpaksa menikah denganku?”
“Ya. Makanya kita harus bekerja sama untuk meyakinkan mereka kalau kita menikah nggak karena terpaksa. Apalagi kakekmu yang punya penyakit dan harus berobat itu ingin melihat kamu bahagia,” kata Zand mulai melepaskan pinggir lengan Nazarel.
Nazarel masih memegang belakang gaunnya lalu menoleh menatap Zand. “Apa suatu saat nanti kita akan bercerai?” tanyanya tiba-tiba.
“Kenapa kau berpikiran seperti itu,” tanya Zand aneh, “jangan takut, aku nggak akan menyentuhmu jika kamu belum siap, bukan berarti aku akan menceraikanmu-”
“Apa karena di hatimu masih ada kakak iparmu itu?” kata Nazarel tiba-tiba membuat tubuh Zand menegang.
“Ma-maksudmu?” Zand berubah pucat kala Nazarel mengatakan hal besar itu.
“Karena aku tau semuanya,” jawab Nazarel mengingat kejadian di ruangan Zand waktu di gedung pernikahannya.
★Flashback★
Seusai acara pernikahan. Kala Zand pergi ke ruangannya untuk mengambil semua barang miliknya seperti tas, dompet dan juga lainnya.
Nazarel disuruh menyusul ke sana karena mereka harus segera naik mobil menuju ke hotel. Dia juga ingin ke toilet dan niatnya akan ikut ke toilet ruangan Zand sebab di ruangannya. Masih ada Tante dan Omnya yang sengaja mengobrol bersama Tuan Herdy dan Neina.
Namun, tak sengaja dia melihat pemandangan yang tidak pernah dibayangkannya di ambang pintu yang terbuka sedikit itu. Yaitu, seorang wanita tengah memeluk punggung Zand dari belakang. Yang lebih mengejutkan adalah, wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Qeira, sang kakak ipar Zand sekaligus istri Zicko.
Awalnya Nazarel akan pergi dari sana setelah melihat hal itu. Tetapi, kala namanya disebut-sebut membuatnya berhenti untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
“Zand, kenapa kau melakukan hal itu padaku? Kenapa kau menikahi Nazarel, gadis yang jelas-jelas masih kecil itu?” tanya Qeira terdengar lirih.
“Melakukan apa? Sudah hakku untuk menikah dengan wanita lain. Kau juga sudah menjadi milik kakakku dan menjadi kakak iparku. Jadi, aku mohon kau lepaskan aku sebelum ada orang yang melihat kita,” jawab Zand mungkin mencoba untuk melepaskan kedua tangan Qeira yang melingkar erat di perutnya.
“Tapi, bukankah kau berjanji ketika di SMA untuk menunggu dan akan menikahiku? Aku selama ini selalu menunggu janji itu,” kata Qeira tak mau melepaskan pelukannya itu.
“Janji itu sudah lenyap dikala kau menikah dengan kakakku. Aku mohon jangan sakiti dia,” pinta Zand melepaskan tangan Qeira dengan paksa.
Qeira memang melepaskan pelukannya. Tetapi kali ini dia menggenggam tangan Zand. “Kenapa kau nggak bunuh aja aku. Karena Cintaku padamu masih sama seperti yang dulu dan nggak akan berubah sedikitpun padamu.”
“Tapi itu masa lalu. Aku dan kau sudah ada yang memiliki. Jadi, kumohon berbahagialah kau dengan Kak Zicko.” Zand masih saja memohon pada Qeira.
“Apa kini dihatimu benar-benar sudah ada bocah itu?” ucapan Qeira membuat kedua tangan Nazarel terkepal erat. Siapa yang disebutnya bocah? Beraninya dia menyebutnya bocah.
“Tidak ada dan aku tau nggak semudah itu aku melupakan dan menggantimu di dalam hatiku. Tapi, rasa sakit kala kau malah menikah dengan kakakku membuatku sadar jika kita memang nggak ditakdirkan bersama.”
Kalimat Zand juga membuat Nazarel sakit hati. Mereka memang sama-sama terpaksa, tetapi tak menyangka jika dia dan kakak iparnya pernah ada hubungan spesial di antara keduanya.
“Dulu kau berkata tidak akan menikah sebelum menjadi polisi tetap dan naik pangkat. Sebenarnya aku hanya ingin membuatmu cemburu dengan berpacaran sama kakakmu. Tak menyangka kecelakaan waktu mabuk di hotel itu terjadi dan aku mengira jika aku hamil anak kakakmu dan kami harus menikah. Tetapi ternyata aku tidak hamil dan menyesal karena sudah membuat kakakmu sebagai alat untuk membuatmu cemburu,” ujar Qeira masih terdengar lirih karena menangis.
Alat? Nazarel semakin geram mendengar kalau Zicko adalah alat. Lalu, Zand menganggapnya sebagai apa? Alat juga?
“Qeira, Cinta kita memang terbina semenjak SMA. Tetapi saat ini kau sudah mempunyai suami dan aku mempunyai istri. Meski saat ini aku nggak mencintai Nazarel. Tetapi aku yakin aku akan mencintai dan bahagia dengannya-”
“Mustahil! Kau nggak boleh mencintainya dan aku janji, aku akan cerai dengan Zicko dan kau juga harus cerai dengan Nazarel. Jangan pernah kau mencintai wanita lain selain aku dan jangan ganti namaku di hatimu.” Qeira masih saja memohon pada Zand.
“Qeira, pergilah. Jangan sampai ada yang tahu hubungan masa lalu kita,” kata Zand melepaskan pegangan tangan Qeira.
Mendadak Qeira menjinjitkan kakinya dan hendak mencium bibir Zand. Tetapi Zand berhasil menoleh dan kecupan Qeira tepat mengenai pipinya.
Hal itu terlihat jelas oleh Nazarel. Dia tak kuasa lagi melihatnya dan hendak pergi. Tetapi baru saja beberapa langkah, dia bertemu dengan Zicko di lorong tersebut.
“Loh, adik ipar. Mau ke mana?” goda Zicko keras sampai terdengar oleh Zand dan Qeira.
“Akhh, anu Kak- aku-aku mau ke toilet. Jadi balik lagi,” jawab Nazarel nyengir tak jelas.
“Di dalam juga ada toilet,” ajak Zicko tanpa rasa curiga melihat sikap aneh Nazarel yang gelagapan. Dia mengira jika Nazarel masih malu-malu bertemu adiknya yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Zand keluar dari ruangan. “Kak Zicko, Nazarel. Kalian ngapain di sana?” tanyanya pura-pura tak terjadi apa-apa. Dia menatap Nazarel yang tersenyum terpaksa kepadanya.
“Oh, aku hendak menyusul Qeira. Apa dia di dalam?” tanya Zicko melihat ke belakang Zand di mana Qeira muncul keluar juga.
Zand bergeser dari ambang pintu memberi jarak untuk Qeira keluar, seakan canggung untuk bersentuhan dengan kakak iparnya itu.
“Aku sudah menemukan dompetmu, Mas. Jadi, sebaiknya kita pulang. Pusing kepalaku kumat lagi,” jawab Qeira tersenyum pada Zicko dan Nazarel.
“Kamu nggak apa-apa kan, sayang? Kenapa matamu merah?” Zicko berburu ke arah Qeira lalu memeluk pinggangnya.
“Aku beneran pusing dan lelah. Untung Zand segera menyuruhku duduk sejenak di dalam dan ini dompetmu.” Qeira memberikan dompet Zicko lalu mengusap mata dan wajahnya seolah beneran sakit.
Tetapi di mata Nazarel. Wanita itu berhasil mengusap air matanya, dan kedua matanya merah sebab menangis barusan.
“Kalau gitu Zand. Kakak pulang duluan ya, maaf nggak bisa nganter kalian ke hotel.
“Nggak apa Kak. Kalian pulang dan hati-hatilah di jalan,” jawab Zand menepuk pundak Zicko sekilas.
“Adik ipar,” panggil Zicko pada Nazarel, “sekali lagi selamat atas pernikahan kalian dan selamat telah menjadi bagian dari keluarga kami.”
“Terima kasih Kak Zicko. Hati-hati di jalan,” jawab Nazarel seadanya.
Qeira berjalan beriringan dengan Zicko. Sekilas Nazarel bisa melihat tatapan penuh Cinta itu untuk Zand.
Nazarel yakin, rumah tangganya tidak akan seadem yang dibayangkan dan apakah bakalan langgeng? Sementara saingannya ternyata adalah kakak iparnya, mantan pacar suaminya yang pastinya masih mencintai atau mungkin masih saling mencintai.
“Kamu kenapa diam di situ?” tanya Zand mengagetkan Nazarel yang malah terpaku menatap punggung kakak dan kakak iparnya.
“Akh, aku hanya ingin ke toilet. Tapi dipikir lagi, di sana kan ruangan pria. Jadi pasti toiletnya untuk pria-”
“Tidak, toiletnya sama. Jadi masuklah, sebentar lagi kita harus pergi ke hotel.”
Nazarel pun menurut. Padahal dalam hatinya dia ingin sekali menanyakan tentang hal barusan. Namun, dia tidak mau mencampuri urusan pribadi pria itu dan bukankah pernikahan mereka adalah keterpaksaan saja. Jadi, dia berjanji akan membicarakan syarat masalah privasi masing-masing nanti.
★Flashback off★
Nazarel selesai menceritakan kejadian yang dilihatnya tadi dan Zand diam saja tanpa bisa menyangkalnya. Karena itu semua adalah kebenaran dan rahasia yang selama ini dia sembunyikan dari keluarganya.
Zand semakin menegang mendengar kalau istrinya tahu masa lalunya dengan Qeira. “Ya, kau benar. Tapi itu masa-masa SMA kami dan juga-”
“Hentikan!” seru Nazarel menutup kedua telinganya, “aku nggak mau dengar dan cukup aku tau aja jika kakak iparmu adalah mantan pacarmu dulu. Bukankah kita berjanji untuk tidak mencampuri urusan privasi masing-masing? Jadi, aku nggak peduli berapa banyak mantan pacarmu itu.”
“Ya. Sekali lagi kau benar, sebab kau bukan istri sungguhanku yang bisa mengatur hidupku,” jawaban Zand tampak dingin dan kesal.
Nazarel malas untuk berdebat. Pasangan mana yang di malam pertamanya malah bertengkar dan berselisih paham.
Selisih paham bagi Zand. Tetapi bagi Nazarel cukup tahu kebenaran itu sehingga dia tidak akan pernah menaruh harapan pada pria itu. Harapan membina rumah tangga pada umumnya. Harapan bisa mencintainya, dan harapan bisa menjadi suami istri yang saling mencintai, menghormati dan juga saling melengkapi.
Kenyataan pahit itu kenapa terungkap tepat di hari pernikahannya? Meski dia berkata tidak peduli, tetapi tetap saja akan meninggalkan kecanggungan baginya jika bertemu dengan Qeira.
Wanita itu pula telah mengecup pipi suaminya tepat di depan kedua matanya. Mungkin itu alasan Zand kenapa tidak tinggal bersama kedua orang tuanya dan juga kakak serta kakak iparnya di sana.
“Kenapa kau melamun? Apa kau mau kita menuliskan larangan yang nggak boleh dilanggar masing-masing?” tanya Zand ragu. Karena dia sama sekali tidak menganggap pernikahan itu adalah pernikahan kontrak.
“Tidak usah. Perlahan dan lambat laun juga, kita akan tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilanggar masing-masing. Tidak usah ditulis sebab banyak rahasia terbongkar karena sebuah kertas bodoh.” Nazarel berkata seperti itu dengan nada dingin. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Zand menghela napasnya panjang. Tetapi sepertinya dia tidak menyesal dan malah merasa lega, jika istrinya tahu tentang rahasianya dengan Qeira dan bukan tahu dari orang lain. Mungkin meski menyakitkan, lebih baik tahu sendiri dari pada dari orang lain yang pastinya akan dilebih-lebihkan.
Ketika Nazarel di kamar mandi.
Zand malah membawa sebotol minuman yang disiapkan hotel untuk mereka ke balkon. Di sana dia duduk sendiri sambil meminum minuman itu. Tatapannya ke arah kejauhan di mana di atas gedung-gedung menjulang itu ada hamparan bintang-bintang di langit. Serta lampu-lampu jalan dan kendaraan di bawah sana.
Nazarel merasa bersyukur karena dia membawa kaos favoritnya yaitu kaos kebesaran dan juga celana pendek untuk tidur. Serta beberapa piyama gambar simba kesukaannya.
Di dalam kopernya juga terdapat beberapa linggery sexi yang dimasukkan paksa oleh Asmi dan Linna. Serta pakaian tidur sexi lainnya dan beberapa gaun musim panas untuk ke pantai dan gaun untuk makan malam.
Pakaian-pakaian sexi itu mustahil dia pakai di depan Zand yang sudah jelas kalau mereka bukan suami istri sungguhan. Mereka hanya suami istri sah di mata hukum saja.
Zand masih duduk meminum minumannya yang hampir habis. Dirinya juga mulai setengah tak sadar.
Salah satu temannya menelepon dan dia segera mengangkatnya.
“Ya hallo?” sapa Zand mencoba bertahan dalam kesadarannya.
“.......”
“Aku nggak mabuk,” jawab Zand dengan nada pria yang sudah setengah mabuk.
Mabuk? Nazarel yang baru selesai mandi tak sengaja mendegar pembicaraan Zand di balkon yang pintu kacanya terbuka setengah.
“........”
“Di pesta? Ya, aku melihatnya. Hah, dia berpenampilan sexi mungkin hanya ingin memikatku saja. Buktinya dia terus dekat-dekat denganku dan berusaha terus mengajak bicara denganku.”
Nazarel duduk di pinggir ranjang dan mendengar jelas pembicaraan Zand yang setengah tak sadar itu. Dia tidak tahu sedang membicarakan siapa Zand dan yang meneleponnya itu. Sementara Qeira tadi malah jauh-jauh dengannya seakan dua orang asing yang tidak saling mengenal sampai membuatnya heran, sebelum dia tahu kebenaran tadi.
“Kau benar. Aku selama ini benci cewek sexi dan berpenampilan glamor seperti itu. Bagaimana bisa aku tertarik padanya, meliriknya saja aku sudah nggak sudi.”
Nazarel kaget mendengarnya. Namun di satu sisi dia senang, ternyata Zand tidak suka wanita yang sexi dan glamor. Jika dia ingin segera pisah dengan pria itu setelah kakeknya sembuh dari sakitnya. Maka dia akan cari gara-gara dengan membuat Zand membencinya.
Dengan begitu mereka akan cerai secara baik-baik. Nazarel berpikir jika rumah tangga mereka juga tidak akan langgeng. Tidak apalah, toh sudah mewujudkan impian kakek dan neneknya yang ingin melihatnya menikah.
Seadainya kakeknya tidak panjang umur pun. Tidak akan mati penasaran sudah melihat dirinya menikah. Jadi, jika perpisahan nanti adalah jalan terbaik. Maka, jalan satu-satunya adalah membuat Zand membencinya dan menceraikannya duluan.
Nazarel merasa mengantuk karena lelah. Dia sudah tidak peduli lagi apa yang diobrolkan Zand dengan seseorang di seberang sana. Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan menelusupkan kepalanya ke bawah bantal.
Malam ini dia terpaksa tidur di ranjang yang sama dengan Zand karena di sana tidak ada sofa dan jika tidur di lantai. Dia sungguh takut dengan cicak atau kecoa. Meski di dalam hatinya dia berdoa, semoga Zand memang takkan menyentuhnya.
Malam semakin larut. Udara semakin dingin, tetapi Zand masih bertahan duduk di balkon dengan minuman terakhirnya. Untuk pertama kalinya dia minum sebanyak itu. Entah apa yang berputar di otaknya kali ini. Dia sudah terlanjur berkata tidak akan mencampuri urusan Nazarel. Tetapi di sisi yang sama, gadis itu sudah resmi menjadi istrinya.
Mana mungkin dia tidak akan mencampuri urusan istrinya itu? Mana tanggung jawabnya sebagai suami? Apa dia memang bisa tak menghiraukan keberadaan Nazarel di hidupnya kini?
Entahlah. Malam ini dia menjadi dilema. Bagaimana kelak dia menjelaskan jika Qeira memang sudah tidak ada lagi di hatinya. Namun, dia juga ragu apakah Nazarel bisa menempati dan mengisi hatinya yang sudah kosong itu. Matanya semakin berat. Akhirnya Zand malah tertidur di kursi balkon.
★BERSAMBUNG★