“Masa lalu bukan penghalang. Tetapi penghambat untuk masa depan.”
*****
Pagi-pagi.
Zand kebangun dan merasakan tengkuknya sakit sebab semalaman dia tertidur di kursi balkon. Mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengedarkan pandangannya, mencoba mengingat apa yang dia lakukan semalam.
Minuman?
Ya. Dia semalam minum sampai mabuk dan tertidur di sana. Gelas dan botol kosong mengingatkannya perihal semalam. Dilihatnya pintu kaca kamarnya pun terbuka dan dia bergegas masuk meski tubuhnya terasa remuk.
Kedua matanya mengerjap kala melihat Nazarel tertidur dengan gaya mengangkang dan kedua kaki melebar menampakkan celana pendek berwarna abu-abu. Bahkan kaos putih kebesarannya tersingkap ke atas menunjukkan sedikit bagian perutnya.
Apa gadis itu tidak merasakan dingin?
Zand menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Nazarel tidur. Selimut yang sudah berantakan di bawah, bantal pun tak satu pun yang selamat di atas ranjang. Sebenarnya, apa dia bermimpi latihan taekwondo semalam?
Zand melirik jam tangan yang belum sempat dilepasnya. Dua jam lagi penerbangan mereka ke Bali. Ia segera membangunkan Nazarel.
“Nazarel? Bangun,” kata Zand tanpa menyentuhnya.
Tetapi Nazarel malah membalikkan tubuhnya dan masih terlelap dalam tidurnya.
“Nazarel?” Kali ini Zand menggoyangkan tubuh Nazarel dengan pelan.
“Hmmm sepuluh menit lagi, Ma,” jawab Nazarel merasa berada di kamarnya sendiri.
“Nazarel, kita akan telat ke bandaranya!” Nada Zand sedikit keras sehingga membuat Nazarel langsung bangun dengan posisi duduk di atas ranjang.
Dengan kedua mata masih terpejam. Nazarel turun dari ranjang, berjalan ke arah kamar mandi sebagaimana ketika di kamarnya.
Tetapi itu bukan kamarnya dan dia berjalan ke arah tembok. Sampai Zand dengan secepat kilat menghalanginya karena takut terbentur dinding.
Buugghhhkk!
Tubuh Nazarel menubruk tubuh Zand sampai keningnya juga menabrak d**a kekar pria itu.
“Akhhh?” rintih Nazarel langsung membuka kedua matanya. Dilihatnya setengah d**a Zand yang semalam hanya dibuka beberapa kancing kemejanya sebelum mabuk. Untung saja tubuhnya itu sudah terlatih angin malam dan karena minuman membuat tubuhnya juga hangat.
Nazarel mendongak melihat tatapan tajam Zand padanya sembari mengusap keningnya yang sakit terbentur d**a keras suaminya itu.
“Apa kau masih bermimpi?” tanya Zand menatap aneh melihat Nazarel turun dan berjalan dengan mata tertutup.
Oh, Nazarel sungguh bodoh. Itu kan bukan kamarnya, melainkan kamar hotel dan letak kamar mandinya juga berbeda dengan letak kamar mandi di kamarnya. Hampir saja dia menubruk tembok.
“Maaf, kebiasaan,” ujar Nazarel meringis malu.
“Kebiasaan?” Zand malah menatap ke bawah melihat kedua paha mulus Nazarel yang terexpose jelas karena tak tertutupi kaos kebesarannya itu.
Awalnya Nazarel merasa malu. Tetapi teringat perkataan Zand yang benci cewek sexi. Jika hal itu termasuk sexi, maka kesempatan Nazarel untuk terlihat natural dan dikira itu juga kebiasaannya, ketimbang harus ketahuan sengaja melakukannya demi membuat Zand membencinya.
“Cepetan siap-siap. Kita udah terlambat,” kata Zand menghentak lamunan Nazarel.
Nazarel menghela napasnya lalu masuk ke dalam kamar mandi duluan. Bersiap-siap bagi Nazarel pastinya bisa berjam-jam. Tapi, karena berulang kali Zand mengetuk pintu dan menyuruhnya cepat-cepat. Akhirnya hanya setengah jam saja dia di kamar mandi. Bahkan masih memakai handuk yang terbelit dari d**a sampai pahanya dan juga handuk melingkar di atas kepalanya.
“Kenapa sih gedor-gedor terus?” protes Nazarel kesal.
“Kita udah telat Naza,” jawab Zand malah terpaku melihat Nazarel hanya memakai handuk saja. Zand bahkan baru menyadari jika dari pundak sampai paha atau mungkin saja seluruh tubuh Nazarel memang mulus.
Apa wanita kecil itu sengaja memancing libidonya? Atau itu salah satu kebiasaannya juga?
“Hellooowww, katanya udah telat? Kenapa malah berdiri di situ?” Nazarel menjentikkan jarinya membuyarkan lamunan Zand.
Zand sontak membuang pandangannya ke samping menyembunyikan kedua pipinya yang tiba-tiba saja memanas. Apa dia memang sudah tertarik dengan gadis kecil itu? Ia segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa melihat kembali ke arah Nazarel.
Sementara Nazarel malah tersenyum miring mengira jika Zand memang tak menyukai wanita sexi. Padahal semalam Zand membicarakan seorang wanita yang dari dulu mengejar-ngejarnya dan penampilannya itu sungguh sexi atau lebih tepatnya terlalu glamor sehingga mengarah pada kata katro dan sama sekali tidak menarik bagi pria manapun.
Yang menelepon adalah Lucky dan sengaja menelepon hanya untuk menggodanya saja. Jadi, Nazarel sudah salah paham dan mengira Zand memang benci tipe wanita seperti itu. Dia tidak tahu jika tubuhnya itu berhasil membuat jantung Zand berdebar kencang, menelan salivanya berat dan memancing sedikit libidonya memuncak.
Di dalam kamar mandi. Zand mengusap wajahnya kasar. Apa benar dia tidak mau menyentuh wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu? Sampai kapan dia bisa tahan untuk tidak menyentuhnya? Dia juga pria normal dan wanita yang bersamanya memang masih kecil tetapi tubuh padat dan berisinya membuat pria manapun juga tidak akan bisa tahan.
“Sabar Zand. Ini ujian, iimiinn ehh aamiinn.” Zand segera masuk ke dalam kaca shower.
Satu jam kemudian mereka berdua sudah siap.
Lorra, Rama, Asmi dan Linna sudah menunggu di bawah hotel untuk mengantarkan mereka berdua ke bandara, terkecuali Alter, Nico dan Zain yang tak bisa datang karena semalaman mereka juga bergadang bermain PS, jadi jam segitu ketiganya masih tidur. Begitu juga kakek dan neneknya yang kelelahan, jadi keduanya juga sedang istirahat. Serta Danang dan Dhanu yang langsung ke tempat proyek karena ada masalah sedikit dari kemarin. Dan dari pihak Zand hanya Ibu dan ayahnya. Sementara Zicko dan Qeira juga tidak datang.
Ketika Zand dan Nazarel keluar dari lift.
Lorra, Asmi dan Linna menghampiri keduanya.
“Selamat siang pengantin baru,” goda Asmi melihat Nazarel terlihat cantik memakai celana jeans tanpa sobek-sobek dan jaket kulit berwarna hitam. Menggendong tas ransel kecil untuk bepergian.
Kalau saja Lorra tidak menyembunyikan dan mengganti semua pakaiannya yang mengarah ke tomboy dan seperti preman. Nazarel sudah pasti akan memakai celana sobek-sobek dan kaos tengkoraknya.
“Siang semuanya,” sapa Zand tersenyum kaku kepada orang-orang yang menatapnya dengan tatapan bagi dirinya terlihat ngeri. Tatapan seolah melayangkan pertanyaan ‘gimana semalam? Apa kalian sudah belah duren?’.
Nazarel malah bergelayut memeluk Ibunya. “Ma, ikut ke Bali juga, kan?”
Rama malah tertawa geli. “Kamu ini udah punya suami, Naza. Jadi ke manapun suamimu pergi, kau harus ikut dan kami sudah tidak bisa mengikutimu terus.”
Nazarel mengerucutkan bibirnya sebal.
“Lain kali aja kita pergi bersama semuanya ke sana,” kata Asmi mencubit gemas pipi Nazarel.
“Kali ini berdua aja dulu. Masih masa-masa bulan madu kalian, kan?” goda Linna juga.
Ikhsan dan Dhalia hanya tersenyum saja melihat kehebohan keluarga itu. Zand juga melihat betapa hangat keluarga Nazarel, tidak seperti keluarganya.
Ikhsan menepuk pundak Zand. “Zicko dan Qeira tidak bisa datang Zand. Qeira pergi periksa lagi kepalanya,” ujarnya menjelaskan sebelum ditanya.
“Tidak apa, Ayah. Aku mengerti,” jawab Zand mengangguk memaklumi. Memang akhir-akhir ini Qeira sering merasakan sakit kepala.
Nazarel yang mendengarnya hanya tersenyum sinis dalam hati. Pasti hatinya nggak kuat melihat mantan pacar yang masih dicintainya, akan pergi berbulan madu. Gerutunya ingin sekali mengatakan semua rahasia itu kepada semuanya. Tetapi apa gunanya jika semua orang tahu? Toh, pasti semuanya menganggap hal itu hanya masa lalu.
Padahal bagi Nazarel, hal itu masih hangat dan baru dan menjadi dinding tinggi serta jurang bagi rumah tanggannya. Bayang-bayang kakak ipar, akan selalu ada di sekitarannya.
Nazarel bergidik horror membayangkannya.
Lorra mengusap puncak kepala Nazarel, menghancurkan lamunan gadis itu. “Alter dan yang lainnya nggak bisa datang. Tapi kala kalian pulang, Opa dan Oma serta yang lain masih di sini.”
“Ya. Kau tenang aja sayang. Kami nggak akan melewatkan oleh-oleh dari pengantin baru pastinya.” Asmi memeluk Nazarel sayang.
Lorra melirik ke arah besannya. “Naza, sana samperin mertuamu.”
Nazarel dengan ragu mendekati Zand dan kedua orang tuanya. “Se-selamat pagi Om dan Tan-”
“Husssshh, kok Om dan Tante? Ayah dan Bunda dong manggilnya,” kata Ikhsan memotong ucapan Nazarel sembari tersenyum.
“Hehe, maaf lupa Om--ehh Yah.” Nazarel kembali nyengir malu.
Nyonya Dhalia hanya tersenyum. “Pengantin baru tak ada yang lupa kan di kamar hotel?” Ia mengingatkan, takut ada yang ketinggalan ponsel atau apa pun.
Nazarel meringis sembari nyengir. Entah kenapa dia kini benci kata pengantin baru. Bisakah mereka tidak usah membahas hal itu?
“Ayo sayang, nanti telat,” ajak Zand membuat semuanya tersenyum melihat mesranya Zand. Bahkan kini dia menggenggam tangan Nazarel.
“Kami akan mengantar kalian ke bandara,” kata Rama. Masih tak menyangka jika gadis kecil yang terasa kemarin dia bantu melangkah untuk pertama kalinya. Kini sudah melangkah berdua bersama suaminya.
“Tidak usah. Bandara cukup jauh dan kalian pasti masih lelah karena pesta kemarin. Jadi, sebaiknya kalian pulang saja dan istirahat,” kata Zand tersenyum pada semuanya.
“Mereka kan cuma mau nganter doang,” nada Nazarel sedikit protes.
Zand mengusap sebelah pipi kanan Nazarel dengan mesra. “Kita kan pergi berbulan madu. Bukan untuk pergi ke perang dunia ketiga.”
Ucapan Zand membuat semuanya tertawa. Ada-ada saja pengantin baru itu.
Lorra mengusap pinggir lengan Nazarel. “Hati-hati di sana. Jangan jauh-jauh dari suamimu.”
Nazarel menghela napasnya panjang seraya melepaskan tangan Zand. “Iya-iya Ma.”
Pagi-pagi semuanya sudah menceramahinya.
Akhirnya Zand dan Nazarel naik mobil. Ketika mobil melaju, Nazarel sempat melihat semuanya melambaikan tangan pada mereka.
“Aku ingin mengatakan sesuatu,” kata Nazarel dengan nada kesal.
“Ditolak,” jawab Zand cepat seakan sebuah hakim yang menolak pembelaan diri dari tersangka.
“Tapi aku belum ngomong apa-apa,” protes Nazarel semakin sebal.
“Aku tau,” jawab Zand lagi.
“Kamu tau apa yang mau aku omongin?” Nazarel menatap aneh
Ternyata begini rasanya sudah mempunyai suami. Lepas dari aturan orang tua, terjebak dengan aturan suami.
“Nggak penting,” jawab Zand ketus membuat Nazarel semakin sebal dan tak bertanya lagi. Sebenarnya dia tahu jika Nazarel pasti meminta penjelasannya tentang bagaimana hubungan dirinya dengan Qeira. Tetapi, apa yang hendak dijelaskan jika dia saja sudah tak mempunyai perasaan apa-apa pada wanita yang sudah jelas-jelas menjadi kakak iparnya itu.
Sesampainya di bandara. Keduanya berjalan saling berjauhan.
Zand tampaknya masih merasa bingung, bagaimana menyikapi sikap kekanak-kanakan Nazarel. Namun, dia berjanji lambat laun dia pasti akan menjelaskan jika wanita bernama Qeira itu sudah lama tidak ada di dalam hatinya.
Ketika mengantri di depan gate bandara. Nazarel malah sudah mengantri di depan terhalang tiga orang dengan Zand. Hal itu membuat Zand semakin kesal.
Sampai pada akhirnya keduanya sudah berada di dalam pesawat. Sebagaimanapun Nazarel mencoba menghindar, toh mereka satu boarding pass dan duduk bersebelahan.
“Naza?” Zand menoleh menatap Nazeral yang malah asyik melihat pemadangan di luar jendela kecil pesawat.
“Apa?” jawab Nazarel singkat dan datar.
“Jangan pernah mengulanginya lagi,” ujar Zand membuat Nazarel tak mengerti. Apa yang tak boleh diulangi lagi?
“Mengulagi apa?” tanya Nazarel baru menoleh menatap Zand.
“Jauh-jauh denganku. Aku mohon nanti di Bali jangan pergi ke manapun tanpa sepengetahuanku dan jangan pernah berjalan jauh denganku karena di sana-”
“Baiklah-baiklah. Aku mengerti,” potong Nazarel sebal. Sebenarnya dia bukan sebal karena sikap Zand melainkan entah kenapa Zand tidak jujur dari awal kalau kakak iparnya itu adalah mantan pacarnya dulu.
Zand hanya bisa mengembuskan napasnya pelan. Sebagaimanapun juga, Nazarel kini adalah tanggung jawabnya dan jika terjadi apa-apa padanya, pasti dia sendiri yang akan menanggung semuanya.
Pesawat pun akhirnya meluncur menuju ke kota Bali.
Sesampainya di Bali.
Nazarel menuruti apa ucapan Zand dan tidak pernah jauh-jauh dengan suaminya itu. Sebagaimanapun juga kota itu masih asing dan takut jika banyak penjahat di sana. Jadi dia memang harus hati-hati serta tak jauh-jauh dengan Zand.
Dari bandara. Keduanya naik mobil rental yang sudah diboking Zand beberapa hari lalu. Lalu, melaju menuju ke sebuah penginapan.
Nazarel tampak senang sekali bisa menginjak kota impiannya itu. Berkunjung ke kota Bali memang impiannya selama ini, karena kesibukan keluarganya serta tak pernah berlibur ke sana. Membuat Nazarel semangat dan melupakan amarahnya pada Zand. Setidaknya di sana dia harus menikmati hari-hari masa bulan madunya, sebab kapan lagi dia bisa mendatangi kota Bali?
Sepanjang jalan, Nazarel berulang kali membuka kaca jendela sehingga embusan angin masuk dan memainkan anak rambutnya. Sungguh kota yang indah dengan pemandangan yang menakjubkan.
Zand juga jadi ikut senang melihat kebahagiaan yang terpancar di kedua mata Nazarel. Di sana, dia akan membuat Nazarel melupakan sejenak masalahnya dengan Qeira dan berharap jika ke depannya juga, istrinya itu bisa menerima dan tahu jika dia sudah tak mencintai Qeira.
Dari bandara. Jarak yang ditempuh 14,32 km.
Akhirnya mereka sampai di sebuah penginapan Canggu Wooden Green Paradise.
“Ini?” Nazarel terpesona melihat pemandangan dari luar penginapan. Belum masuk, sudah terpesona. Apalagi melihat dalamnya.
“Silakan masuk Tuan dan Nona,” kata pelayan yang sudah mengecheck tentang pesanan kamar di sana lewat online Zand beberapa hari yang lalu.
Keduanya dibawa ke sebuah kamar seperti rumah pribadi dengan kolam renang pribadi juga. Di kolam bahkan dipenuhi dengan kelopak bunga-bunga dan sebuah kursi balon untuk berenang.
“Jika ada yang bisa saya bantu, panggil saja Tuan dan Nona. Di sini juga menyediakan spa dan paket makan malam romantis yang bisa diatur di sini atau di restoran kami,” ujar sang pelayan mempersilakan keduanya masuk.
“Terima kasih,” jawab Zand mengeluarkan uang tip untuk pelayan itu.
Nazarel tidak mendengarkan semuanya. Dia malah terburu-buru masuk ke dalam setengah berlari.
Zand hanya menggelengkan kepalanya mengira jika Nazarel kelelahan dan ingin segera istirahat. Setelah pelayan pergi, dia menutup pintu utama, berjalan menelusuri pinggiran kolam menuju pintu kamar penginapan.
Nazarel keluar dari kamar mandi. Ternyata dia terburu-buru bukan hanya lelah, melainkan ingin B.A.K juga. “Akh, leganya,” ucapnya sembari mengusap perutnya.
“Apa kamu sudah lapar?” tanya Zand.
Nazarel menggelengkan kepalanya. “Hmmm, bisakah kita istirahat beberapa jam, lalu jalan-jalan keluar?”
Zand mengangguk tanpa suara. Dia juga sebenarnya lelah, apalagi semalam dia tidur di balkon dan tertidur ketika hari menjelang subuh.
Nazarel melihat ranjang yang hanya satu dan juga sofa.
“Aku tidur di sofa, kau bisa tidur di ranjang.” Zand tahu arti tatapan Nazarel.
“Beneran? Nggak apa-apa, aku mau di sofa aja,” kata Nazarel memaksa.
“Ya udah kalau mau di sofa,” jawaban Zand membuat Nazarel menganga. Mengira jika pria itu akan memaksanya tidur di ranjang seperti film-film Korea atau di novel-novel.
Zand hanya tersenyum tipis melihat reaksi wajah sebal Nazarel.
Nazarel dengan raut wajah sebal, duduk di sofa lalu baringan. Dengan gerutuan pelan, “aku kira dia cowok gentle, tapi malah biarin cewek tidur di sofa.” Ia pun membalikkan badannya menghadap ke sandaran, tepat membelakangi Zand yang tiduran menghadap ke arahnya.
“Nanti mau makan apa?” tanya Zand sengaja menggoda Nazarel.
“Terserah,” jawab Nazarel dengan nada juteknya.
Zand kembali tersenyum mendengar jawaban Nazarel.
Karena lelah, Nazarel pun langsung tertidur lelap.
Tentu saja Zand tak setega itu. Dia turun dari ranjang kemudian mendekati Nazarel. Membungkuk lalu menggendong perlahan tubuh istrinya itu yang ramping.
Seketika di dalam tidurnya, Nazarel melingkarkan kedua lengannya ke tengkuk Zand seakan sedang memeluk gulingnya, hal itu membuat Zand tersenyum tipis.
Bahkan ketika di baringkan di atas ranjang. Lengan Nazarel masih melingkar erat dan Zand takut akan membangunkannya, dan jika bangun. Perang dunia ketiga pasti akan mulai lagi.
Nazarel malah menarik tengkuk Zand sampai Zand kewalahan dan tak sempat menahan diri sehingga dia pun terjatuh hampir menindih Nazarel. Namun, tanpa disangka jika tarikan itu membuat bibirnya tak sengaja bersentuhan dengan bibir istrinya.
Kedua mata Zand membelalak dan dalam hati tetap takut akan membangunkan Nazarel. Tetapi kala Nazarel memalingkan wajahnya, Zand merasa lega.
Perlahan kedua tangan Nazarel pun terlepas. Zand mengembuskan napasnya panjang karena barusan dia sampai menahan napas, jika Nazarel tahu kejadian barusan, pasti akan dipanggil Polisi m***m.
Dia pun pergi mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Hari sudah menjelang larut malam.
Nazarel membuka kedua matanya mengira jika dia tidur hanya satu atau dua jam. Dia turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Tunggu?
Langkahnya terhenti tepat di tengah-tengah kala menyadari bukankah tadi dia tidur di sofa, kenapa sekarang dia tidur di atas ranjang?
“Kau sudah bangun?” pertanyaan Zand mengagetkan Nazarel.
Nazarel terkesiap lalu sambil memegang dadanya--menoleh ke samping. “Kenapa kau selalu seperti hantu sih? Datang nggak ada suara, pergi pun nggak terduga.”
“Sembarangan, aku bukan hantu,” sangkal Zand tak terima.
“Lalu?” tatap Nazarel melihat ekspresi wajah Zand yang seperti sebal.
“Jalangkung,” celetuk Zand tanpa dugaan Nazarel.
Nazarel jadi menahan tawanya.
Kruuuyyuukkk.
Perut Nazarel keroncongan membuatnya nyengir.
“Mandi dulu, atau cuci muka aja. Hari udah malem,” kata Zand takut Nazarel tidak terbiasa mandi malam di cuaca berbeda seperti itu.
“Malem?” Nazarel tampak terkejut mendengarnya. Ia bergegas berlari ke arah pintu lalu membukanya. Hari memang sudah sangat gelap, ia lalu menoleh ke arah jam dinding di dekat pintu. Jam sudah menunjukkan pukul 23.11 PM. “KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKANKU?!” Lengkingan suaranya membuat Zand sampai menutup kedua telinga.
“Jangan teriak, nanti dikira aku ngapa-ngapain kamu,” kata Zand tetap dengan ekspresi tenangnya.
“Aku udah bayangin kalau sore ini jalan-jalan di pantai atau di pasar internasional untuk shoping.” Nazarel merasa hari itu menjadi terbuang sia-sia karena tidur dan tidak dibangunkan oleh Zand.
“Masih ada hari esok,” jawab Zand masih dengan nada tenang dan datarnya. Ia berjalan ke arah lemari kecil di dekat Nazarel.
“HARI ESOK-Hmmm?” teriakan Nazarel terhenti karena Zand langsung membekap mulutnya lalu sedikit mendorong tubuh Naza ke tembok. Karena takut belakang kepala istrinya terbentur tembok, Zand menahannya dengan tangan satunya yang bebas. Sementara tangan yang lain masih membekap mulut Nazarel.
“Kenapa kau masih teriak-teriak? Ini udah malam,” Zand menatap kedua mata Nazarel yang mengerjap menatapnya sedekat itu. “sekali lagi teriak, aku ikat kedua tangan dan kakimu di ranjang, serta kusumpel mulutmu supaya tidak bisa teriak lagi.”
Ancaman itu ternyata membuat Nazarel tampak ketakutan. Zand merasa, apa dia sudah keterlaluan?
Zand sungguh tidak tahu jika saat ini otak Nazarel traveling ke arah yang negatif, di mana istrinya itu membayangkan akan diperkosa dengan cara kejam seperti itu.
Buukkhhh!
“Aakkhhh! Kau ...?” Zand merintih karena tiba-tiba saja Nazarel melayangkan tendangan lututnya tepat mengenai pahanya sehingga kedua tangannya terlepas dari Nazarel dan mundur selangkah ke belakang.
“Berani melakukan penganiayaan?” Nazarel memang takut, tapi dia menyembunyikannya dengan sikap galaknya itu.
Padahal Zand mengatakan itu memang dia berniat mengikat biasa saja, bukan mau melakukan hal yang tidak-tidak.
Zand menggelengkan kepalanya dan masih mengusap pahanya yang ngilu. “Mau makan apa?”
“Apa aja,” jawab Nazarel singkat.
Jawaban cewek. Itulah yang biasa didengar Zand yang akan membuatnya bingung harus memilih makanan apa seperti tadi.
“Sea food?” tanya Zand.
“Nggak mau,” tolak Nazarel cepat.
“Ayam atau daging bakar?”
“Bosen,” lagi dan lagi Nazarel menolaknya cepat.
“Nasi bakar?”
“Terserah.”
“Atau mau makanan lain?” tanya Zand masih bingung dengan jawaban Nazarel yang tak menjawab dengan benar, wanita itu ingin makan apa.
“Aku bilang terserah, sesulit itu?” Nazarel malah kesal duluan. Pria memang tak pernah bisa mengerti wanita seperti apa yang sering digerutuin oleh Ibunya atau tante-tantenya.
Mendadak Zand menarik lengan Nazarel membuat istrinya itu sedikit berontak.
“Kita mau ke mana? Aku belum cuci muka,” tolak Nazarel melihat Zand terus menarik tangannya ke arah pintu keluar.
“Kita mau cari makan, bukan mau cari pasangan. Jadi nggak usah dandan atau merapikan diri,” jawab Zand jadi kesal dengan kelakuan Naza. Pasti istrinya itu sengaja cari gara-gara atau memancing emosinya.
Zand bahkan menaruh sepatu di dekat kaki Nazarel. “Pake.”
“Nggak mau, aku belum mandi atau cuci muka. Kasih waktu lima menit aja,” mohon Nazarel mana mau dia bangun tidur belum cuci muka berkeliaran di jalan. Gimana kalau ada iler masih nempel di pipi.
Hal itu membuat Nazarel mengusap kedua pipinya dengan tangan kiri karena tangan kanan masih dipegang dan ditarik Zand.
Zand jadi tersenyum tipis sendiri. “Nggak ada iler, cepet pake.”
Nazarel tetap mogok di tempat.
Zand hilang sudah kesabarannya. Dia pun tiba-tiba mengambil sepatu Nazarel lalu membungkuk untuk menggendong tubuh Naza.
“Eehhh, kok diangkat? Aku bilang nggak mau keluar!” Nazarel semakin berontak di gendongan Zand.
“Jangan teriak, atau aku lempar kau ke kolam renang. Atau aku karungin terus aku buang di jalanan,” ancaman Zand berhasil membuat Nazarel diam seketika seperti jangkring keinjek.
Nazarel menjerit dalam hati. Apakah mempunyai suami seorang polisi, semuanya kejam seperti itu? Pasti hidupnya akan penuh dengan ancaman atau diancam setiap harinya.
OH NASIBKU YANG MALANG!!
★Bersambung★