“Cinta tak pernah hadir karena terpaksa, tapi karena terbiasa bersama dan Cinta pergi bukan karena hati sudah mati, tetapi terkadang sudah lelah disakiti.”
*****
Zand tetap membawa Nazarel dalam gendongannya membuat pelayan di sana tersenyum-senyum melihatnya.
“Turunin,” pinta Nazarel karena malu. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
Zand hanya menoleh menatap sekilas wajah Naza, dan tetap melanjutkan jalannya menuju ke luar. Bahkan para resepsionis tersenyum melihat keduanya dan terpesona melihat kegagahan serta ketampanan Zand yang memiliki tinggi di atas rata-rata itu.
Dahlah. Pasrah Nazarel kala semua ucapannya seolah tak dianggap oleh Zand.
Zand tersenyum samar dikala merasakan tidak ada lagi pemberontakan dari istrinya itu.
Tepat di depan penginapan. Sebuah mobil sudah menunggu mereka, mobil yang tadi siang menjemput mereka di bandara.
Di saat itu, baru Zand menurunkan Nazarel atau lebih tepatnya mendudukan Naza ke dalam kursi penumpang supaya kedua kakinya tidak kotor.
“Pakai sepatunya,” kata Zand menaruh sepatu Nazarel di dekat kakinya.
Nazarel langsung memakainya tanpa sepatah kata pun lagi lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Zand berputar arah ke pintu satunya dan sopir pun langsung masuk ke dalam mobil bersamaan dengannya.
“Mau ke mana Tuan dan Nona?” tanya sopir itu dengan sedikit logat Balinya.
Zand menoleh ke arah Naza seolah bertanya ingin makan apa.
Nazarel mengembuskan napasnya panjang. Dari tadi tidak selesai kah pertanyaan ia ingin makan apa? “Pak, anterin ke restoran yang masih buka di jam segini,” jawabnya simple.
“Restoran mana saja, Non?” tanya sopir takut salah.
“Iya.” Zand yang menjawab.
Baru saja Nazarel hendak menjawab iya, sudah didahului oleh Zand.
Akhirnya mobil pun melaju ke sebuah restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan.
Beberapa saat keheningan di dalam mobil membuat Zand heran. Kenapa istrinya jadi banyak diam tampak memikirkan sesuatu, biasanya Naza akan terlihat antusias menatap keluar di mana lampu-lampu jalanan di Bali terlihat indah dan orang-orang yang masih lalu lalang di pinggiran jalan di jam hampir tengah malam itu.
Nazarel memang sedang berpikir, tapi ternyata dia memikirkan sesuatu yang terlupa di kamar penginapan.
Mobil tak lama parkir di sebuah parkiran depan restoran.
“Aakhh, aku lupa HP-ku!” teriakan Nazarel mengagetkan Zand. Dia menoleh sebal menatap Zand yang mengerjap karena kaget barusan.
“Jadi kamu diam dari tadi karena mengingat-ingat barang yang tertinggal?” Zand menatap raut wajah sebal Nazarel.
“Tentu saja. Ini semua salahmu,” dengkus Nazarel semakin sebal.
“Iya, maaf-maaf. Lain kali kita berangkat tanpa ada barang yang kamu butuhkan ketinggalan,” jawab Zand malah terkekeh. Hatinya lega karena mengira jika kejadian di gedung pernikahan membuat Nazarel jadi banyak pikiran dan jadi sering melamun.
Sambil membuka pintu, Nazarel masih saja menggerutu. “Lain kali? Pasti nanti di ulangi lagi.”
Zand terkekeh kecil mendengar gerutuan Nazarel sudah mirip emak-emak yang mengomel terus.
Nazarel melangkah duluan ke arah restoran yang nuansanya dinding terbuka dan tampak masih ramai sekali, nuansa kental Bali dan juga kayu-kayu jati yang diukir sedemikian rupa membuat restoran itu menawan sekaligus mewah. Zand mempercepat jalannya supaya berjalan beriringan dengan Naza.
Keduanya di sambut pelayan restoran yang ramah. Dipersilakan untuk duduk di meja kosong di mana saja.
Nazarel memilih duduk di pinggiran saja karena meja-meja di tengah banyak sekali kelompok besar yang sedang makan sambil berbincang serta ada juga beberapa dari pengunjungnya turis dari berbagai negara. Ia sekilas menatap beberapa lukisan di dinding tepat di belakangnya. Lukisan-lukisan tentang adat istiadat Bali dan ada juga beberapa lukisan wanita yang memakai pakaian adat Bali.
“Mau pesan apa?” tanya Zand dengan nada sedikit lembut terdengar di telinga Nazarel.
Nazarel tidak menjawab. Meraih menu di atas meja kemudian memilah beberapa makanan. “Mie goreng sama jus apel aja.” Ia lalu menaruh kembali menu ke atas meja.
“Udah segitu?” tanya Zand ingin memastikan kalau Nazarel memesan dua itu, bukan karena masih malu padanya. Bahkan berulang kali Zand menatap sembari meneliti raut wajah Nazarel. Jadi, ketika gadis itu berbohong atau sedang memikirkan sesuatu, ia pasti akan bisa membaca dan menerka dari ekspresi wajahnya itu.
Nazarel menganggukkan kepalanya pelan. “Aku suka makan mie atau nasi goreng kalo malem,” ujarnya tanpa menatap Zand yang masih menatap kearahnya.
Sang pelayan masih menunggu di dekat Zand.
“Kalau begitu, dua nasi goreng ayam sama satu jus apel dan jus lemon mint,” ucap Zand pada pelayan.
“Baik,” jawab sang pelayan masih dengan senyuman sembari mengambil menu-menu di atas meja.
Zand juga tidak membawa ponselnya dan memang sengaja dia tinggal tadi sebelum membawa paksa Nazarel. Yang dia bawa hanya dompetnya saja.
Nazarel memperhatikan sepasang kekasih bule yang tampak mesra duduk tak jauh darinya. Dalam hatinya pasti keduanya adalah sepasang suami istri, atau mungkin masih pacaran. Tetapi raut wajah bahagia yang terpancar dari keduanya membuatnya iri.
Jika melihat ke belakang. Dia pernah membayangkan bulan madu saat ini adalah dengan Fino, pemuda yang ditaksirnya selama masa SMP dan sampai SMA. Sehingga ditembaknya sewaktu kelulusan. Tapi karena hal itu, dia menjadi bodoh dan tidak berpikir jernih. Malah minta dijodohin segala seolah tidak laku dan kini berakhir bersuamikan pria yang duduk di sebelahnya itu.
“Huuhh.” Nazarel mengembuskan napasnya berat dan panjang membuat Zand langsung menoleh sedikit khawatir padanya.
Zand yang tadi sudah tak menatap Nazarel, kini kembali menatap istrinya itu. “Apa kamu sakit? Masih ngantuk? Atau-”
“Nggak pa-pa,” jawab Nazarel singkat.
“Tapi-”
“Laper,” potong Nazarel lagi.
Zand juga menghela napasnya lagi. “Mungkin sebentar lagi makanan datang. Minum saja air putih, jangan langsung minum jus saat perut kosong.” Ia dengan telaten menuangkan air putih ke gelas yang ada di hadapan Nazarel dan juga gelas yang ada di depannya dari teko kaca.
Sebenarnya Zand bisa saja langsung memesan makanan di restoran penginapan. Tetapi, Nazarel tampaknya memang ingin jalan-jalan sehingga kesal saat tahu hari sudah malam dan dia tidak membangunkannya.
“Aku mau ke toilet dulu sebentar,” kata Nazarel merasa malu karena dari bangun tidur tadi belum cuci muka. Saat ada beberapa yang meliriknya, ia mengira jika ada iler yang masih nempel. Jadi dia harus cuci muka dulu.
“Mmm.” Zand mengangguk.
Nazarel menanyakan kepada pelayan di mana letak toiletnya. Dia tidak menyadari jika Zand masih saja menatap kearahnya sampai dia hilang di tikungan restoran menuju toilet.
Di dalam toilet. Nazarel meneliti wajahnya, masih bersih tidak ada iler sedikit pun. Kenapa orang-orang terkadang melirik ke arahnya? Dan dia juga ingin buang air kecil dulu sebentar. Akhirnya dia masuk ke bilik toilet.
Ketika di dalam. Terdengar dua orang wanita masuk ke dalam juga. Awalnya Nazarel cuek saja. Tetapi mendengar percakapan mereka membuatnya tertarik untuk menguping.
“Kau tau pria gagah yang duduk di meja ujung dekat lukisan?” tanya wanita satu.
Nazarel tampak berpikir. Pria di meja dekat lukisan? Pasti orang lain karena di restoran ada beberapa lukisan di dinding dekat meja-meja lainnya.
“Maksudmu, pria yang memakai kemeja hitam dengan kedua kancingnya dibuka serta baju lengannya dilipat ke siku?” tanya wanita dua memastikannya.
“Iya, yang duduk di sebelah gadis kecil itu,” jawab wanita satu lagi.
Gadis kecil? Sialan, apa aku sekecil itu di mata mereka? Gerutu Nazarel dalam hati sembari mengambil tissu toilet dengan menahan geramnya. Kini dia yakin jika yang dibicarakan memang suaminya itu.
“Dia tampan sekali dan terlihat berkarisma, aku bisa bertaruh jika pria itu sepertinya seorang abdi negara. Terlihat dari potongan rambutnya dan juga tubuhnya yang kekar dan seperti terlatih itu,” ujar wanita satu tampak berfantasi dalam mengujarkan bagaimana penampilan Zand.
“Tapi dia tampaknya sudah mempunyai pasangan,” jawab wanita dua menerka-nerka tentang Nazarel.
Nazarel masih duduk terdiam di toilet meski sudah selesai pun, dia tetap penasaran ingin mendengarkan perbincangan keduanya.
“Pasangan? Mana mungkin pria itu mempunyai pasangan gadis kecil itu. Terlihat jelas kalau gadis itu masih sangat muda. Mungkin gadis itu adiknya atau keponakannya, terlihat kalau mereka tidak mesra selayaknya pasangan.” Wanita satu dengan tegasnya menyangkal Zand dan Nazarel yang memang terlihat kaku atau dari tadi diam-diam terus seperti bukan sepasang pengantin baru.
Nazarel menunjuk hidungnya sendiri. Adik? Keponakan? Apa aku memang nggak pantas sebagai pasangannya? Helowww, gue ini istrinya! Jeritnya, namun hanya dalam hati saja.
“Aku akan meminta nomor teleponnya nanti, siapa tahu dia akan langsung kepincut sama aku yang seperti gitar ini,” ujar wanita satu penuh rasa percaya diri.
Nazarel berdiri dari duduknya, membenarkan pakaiannya lalu memencet tombol toilet sehingga suara air tampak mengagetkan kedua wanita itu. Ia pun langsung keluar karena penasaran seperti apa wanita yang ingin menggoda Zand alias suaminya itu.
Kedua wanita itu tampak shock melihat gadis yang dibicarakan ternyata ada di dalam bilik toilet. Keduanya jadi terdiam sembari pura-pura membenarkan make-up mereka.
Nazarel melirik diam-diam ingin melihat seperti apa wanita yang mempunyai body goals itu. Meski wanita satu memakai dress selutut ketat yang memperlihatkan bentuk tubuhnya itu. Tampaknya bagusan tubuhnya yang ramping dan pantatnya berisi dan dia lah yang seharusnya dikatakan mempunyai tubuh body goal meski selalu tertutup dengan kaos kebesarannya serta seluruh tubuhnya yang lebih mulus alami ketimbang wanita itu yang tampaknya banyak pergi ke salon kecantikan.
Naza mulai mencuci kedua tangannya di wastafel kemudian mencuci mukanya juga. Rasanya gerah mendengar bacotan kedua wanita itu dan setelah itu, ia tak berlama-lama di sana, pergi dengan wajahnya yang masih basah.
Nazarel duduk dengan kesal membuat Zand yang dari tadi menunggunya kaget melihat bagaimana wajah Nazarel masih basah seperti itu.
“Apa di dalam tidak ada tissu?” tanya Zand menerka.
“Ada,” jawab Nazarel bad mood lagi.
“Kenapa tidak dikeringin dulu wajahnya?” tanya Zand heran dan sedikit khawatir wajah Nazarel akan menjadi dingin jika terkena angin malam.
Nazarel tidak menjawab. Hanya melirik dua wanita tadi yang baru keluar dari toilet dan ternyata duduk hanya terhalang satu meja dengan mereka. Dua wanita itu juga tampaknya diam-diam memperhatikan ke arah mejanya.
Untung saja Zand duduk membelakangi meja kedua wanita itu sehingga tidak akan sadar jika dia dari tadi diperhatikan terus oleh mereka.
Nazarel sedikit terkejut saat Zand tiba-tiba mengusap pelan dan lembut wajahnya dengan saputangan putih milik Zand. Tanpa ada perlawanan seperti biasanya, Nazarel malah membiarkan Zand terus mengeringkan wajahnya itu seperti mengeringkan wajah seorang anak kecil yang baru selesai mandi. Bahkan berani mencondongkan sedikit tubuhnya supaya wajahnya lebih dekat dalam jangkauan Zand.
Dan, yang membuat Zand heran. Nazarel sesekali tersenyum manja dan imut kala diusap wajahnya itu. Tidak seperti biasanya? Ingin dia tertawa geli, bagaimana bisa mood istri kecilnya itu berubah-ubah hanya dalam hitungan menit saja. Tetapi tak bisa dipungkiri lagi, sikap polos Naza entah kenapa selalu saja berhasil membuat jantungnya berdebar tidak menentu. Bibir tipis tanpa lipstik itu, benar-benar terlihat manis dan masih terasa lembut saat tadi tak sengaja menciumnya sekilas.
Seusai mengeringkan wajah Nazarel. Beberapa saat kemudian. Dua mie goreng datang beserta beberapa piring kecil pelengkapnya yaitu, acar timun dan sambal goreng. Serta dua gelas jus.
Nazarel mengira jika mie goreng ayam itu yaitu ayamnya dicampur dengan mie seperti yang dia ketahui dan sayuran seperti kol, wortel terkadang dicampur toge, tetapi di sana berbeda. Ayamnya malah dibikin sate dan juga ada acar timun serta sambalnya pun sambal goreng. Sayurannya memakai sawi putih, wortel dan ada irisan cabe merah yang tidak pedas serta tak lupa ada kerupuk. Mie itu harum sekali sehingga menggugah seleranya yang sudah lapar dari tadi.
Zand tersenyum melihat ekspresi wajah Nazarel yang tadi murung, sekarang berbinar-binar karena makanan kesukaannya itu. Tampaknya mulai saat ini, dia akan mengingat dan menuliskannya dalam memori di benaknya, apa saja yang membuat istrinya itu senang dan yang tidak disukainya. Sedikit demi sedikit dia yakin bisa menilai dan juga mengetahui semuanya tentang Nazarel.
Nazarel langsung saja melahap makanannya itu dengan nikmat, begitu juga Zand dan memang rasa mie goreng khas Bali itu terasa lezat di lidah mereka.
“Aaa,” tiba-tiba Nazarel menyodorkan mie di garpunya pada Zand dengan senyumnya juga.
Zand memang semakin aneh atas sikapnya itu, tetapi ditepisnya lalu menerima suapan dari Nazarel.
Lagi-lagi Nazarel tersenyum senang seraya melirik ke arah meja dua wanita yang masih saja sesekali melihat ke arah mejanya. Secara tidak langsung, Nazarel ingin mengatakan kepemilikannya terhadap pria yang mereka incar itu.
Setelah selesai makan.
“Dari sini mau ke mana lagi?” tanya Zand tidak ingin mengecewakan lagi Nazarel.
“Pulang saja ke penginapan, perutku kenyang dan nggak sanggup untuk jalan lagi,” jawab Nazarel nyengir membuat Zand terpaku sejenak. Akhirnya ada senyum juga di bibir Nazarel dari tadi.
“Baiklah, besok kita akan jalan-jalan dari pagi sampai malam. Pokoknya sampai kamu puas,” janji Zand dengan yakin dan bukankah dia hanya punya satu minggu untuk bulan madu dan mereka hanya tiga hari di Bali karena Zand berjanji akan berkunjung ke rumah nenek dan kakeknya yang ada di Surabaya. Setelah itu, entah kapan lagi dia bisa liburan seperti itu. Apalagi banyak kasus yang harus dia tangani.
Nazarel mengangguk menahan rasa girangnya. Serta rasa marahnya pun terlupakan begitu saja.
Zand meminta bill untuk pembayaran. Dan entah kenapa, dua wanita itu pun bergegas ingin membayar pesanannya.
Setelah membayar. Zand dan Nazarel beranjak dari tempat duduknya.
Mendadak kedua lengan Nazarel merangkul lengan kanan Zand membuat Zand kembali terkejut dengan sikapnya itu. Tetapi dalam diam tersenyum juga di hatinya karena Nazarel bergelayut manja di lengannya itu untuk pertama kalinya.
Keduanya berjalan beriringan ke arah tempat parkir.
Namun, belum sempat mereka mendekati mobil.
“Tunggu Tuan!” panggil seorang wanita.
Keduanya menoleh ke belakang.
Nazarel memutar bola matanya jengah melihat kedua wanita tadi menghampiri mereka. Apa sikapnya dari tadi tidak membuat wanita itu sadar jika dia adalah pasangan pria di sampingnya itu.
“Maaf, ada apa ya?” tanya Zand sopan.
“Boleh minta nomor teleponnya, Tuan?” tanya wanita satu to the point.
Zand menggaruk tengkuknya tak gatal dengan tangan kirinya sembari tersenyum canggung. Sementara tangan kanannya merasakan bagaimana pegangan kedua lengan Nazarel yang semakin erat terasa.
“Maaf, saya tidak membawa HP saat ini,” tolak Zand masih sopan.
“Dia ...?” tanya wanita dua menatap ke arah Nazarel yang semakin menempel ke lengan Zand.
“Oh, dia istri saya. Memangnya ada apa dan kenapa kalian meminta nomor telepon saya?” tanya Zand pura-pura tidak tahu apa niat wanita-wanita itu.
“Oh, tidak apa-apa. Kami hanya ingin kenalan saja,” jawab wanita dua segera membungkuk sedikit meminta maaf. Lalu menarik lengan sahabatnya si wanita satu tadi yang masih bengong tak menyangka jika gadis kecil yang dikira adik atau ponakannya itu adalah istrinya.
“Sekali lagi, maaf mengganggu.” Wanita dua segera menarik sahabatnya ke arah mobil mereka.
Ada kepuasan di wajah Nazarel kala melihat keterkejutan di wajah wanita yang punya rasa percaya diri selangit itu.
Zand menoleh ke arah Nazarel. “Mereka-?”
“Ayoo pulaaaang,” kata Nazarel sembari melepaskan lengannya yang bergelayut tadi di lengan Zand dengan rasa senang yang tidak bisa disembunyikan lagi. Ia berjalan sedikit melompat-lompat kecil ke arah mobil.
Zand terpaku sejenak, mencoba mencerna semua kejadian tadi dan akhirnya terpecahkan sudah. Ternyata sikap Nazarel yang berubah seperti itu ada kaitannya dengan kedua wanita tadi dan dia yakin ada sebuah kejadian atau Naza mendengar sesuatu yang membuatnya kesal tadi di toilet ulah kedua wanita tersebut.
Zand menggelengkan kepalanya pelan. Mana mungkin sikap jutek Nazarel bisa berubah drastis tanpa ada sebab. Namun, dia senang karena Nazarel tampaknya sedikit cemburu pada kedua wanita itu. Dia menyusul istrinya yang sudah duduk di dalam mobil.
Ketika masuk. Zand melihat Nazarel memejamkan kedua matanya sembari bersandar di sandaran kursi. Entah gadis itu pura-pura tidur atau memang sudah mengantuk. Padahal baru saja makan dan itu tidak bagus untuk kesehatannya. Namun, dia tidak tega juga untuk membangunkannya.
Mobil pun melaju pelan. Keduanya pulang ke penginapan.
Sesampainya di depan penginapan.
Ternyata Nazarel memang tertidur lelap. Zand pun menggendongnya ala bridal style ke dalam kamar penginapan mereka. Ia merebahkan perlahan tubuh Nazarel lalu membantu melepaskan sepatu Naza.
Perlahan Nazarel terbangun kala merasakan kedua sepatunya dilepaskan. “Hmmm? Sudah sampai?” ia menggosok kedua matanya yang memang benar-benar mengantuk.
“Gantilah dulu pakaianmu dengan piyama, gosok gigi dan bersihkan diri dulu. Lalu setelah itu tidurlah kembali.” Zand menarik tas koper milik Nazarel yang belum sempat dibereskan tadi ke lemari kemudian menuangkan air ke dalam gelas untuk diminumnya.
Dengan rasa enggan. Nazarel pun turun dari ranjang kemudian membuka tas kopernya. Tiba-tiba kedua matanya membelalak melihat isi tasnya itu. Apa kopernya sudah tertukar? Bagaimana bisa isinya kebanyakan lingery dan baju tidur sexi. Ke mana piyama-piyama baru lucu miliknya yang sudah disiapkannya waktu itu? Dia tahu jika Ibunya sengaja menyembunyikan semua pakaiannya yang bergambar tengkorak atau celana sobek-sobeknya. Tetapi, isi kopernya itu pakaian baru semua. Kala melihat ada beberapa dress serta satu atau dua kaos kebesaran kesayangannya. Kini dia yakin kalau tas itu memang tidak tertukar.
“Ini? Bagaimana memakainya ...?” Nazarel membeberkan satu lingery merah tembus pandang bertali-tali bagian belakang punggungnya serta membolak baliknya.
“Byurrrr? Uhukk uhukk!” Zand menyemburkan air di mulutnya sampai terbatuk-batuk kala tidak sengaja menoleh melihat Nazarel sedang membeberkan baju tidur sexi merah dengan tali-tali itu.
“Uhukk uhukk, kau mau memakainya?” tanya Zand menelan sisa air di mulutnya dengan susah payah.
Nazarel baru tersadar kemudian secepat kilat membenamkan lingery itu ke dalam tumpukan baju-baju yang lainnya. “Tentu saja tidak, bisa kedinginan aku nanti. Apalagi kamar ini full AC,” jawabnya bingung harus menjawab apa. Kedua pipinya menjadi panas dan dia barusan memang tidak sengaja membeberkan lingery merah itu.
“Aku pakai ini aja,” kata Nazarel pada diri sendiri mengambil asal kaos kebesarannya bergambar animasi pria tampan Jepang dan celana pendek berbahan kaos juga. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan bagaimana ekspresi bengongnya Zand yang masih terpaku menelan salivanya.
Setelah Nazarel masuk ke dalam kamar mandi. Zand pun mengeluarkan piyama miliknya sembari sesekali mengusap wajahnya. Gadis kecil itu lagi-lagi berhasil memancing libidonya yang harus ditahannya. Sebagaimanapun juga, dia pria normal dan sekuatnya menahan keinginannya itu sampai Nazarel mau menerimanya sebagai suami dan siap menjadi istrinya. Sampai saat itu, semua ini adalah ujian baginya dan dia tetap tak mau memaksa Nazarel dalam bentuk hal sekecil apa pun juga.
Nazarel keluar dari kamar mandi.
“Kau tidur di ranjang, biar aku yang tidur di sofa,” ucap Zand sembari langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Nazarel mengernyitkan keningnya sekilas. Tapi, jika itu keinginan pria itu, baiklah. Ia tidak akan segan lagi. Setelah melemparkan handuk ke sembarang, ia membaringkan tubuhnya ke atas ranjang kemudian menyelimuti diri sendiri.
Tak berapa lama. Zand keluar dari kamar mandi lalu memungut handuk yang dilemparkan Nazarel tadi, dimasukkan ke dalam keranjang baju kotor di kamar mandi, kemudian rebahan di atas sofa.
Nazarel tidur membelakangi Zand dan mencoba memejamkan kedua matanya. Tetapi entah kenapa rasa ngantuk tadi hilang seketika. Ia pun menoleh ke arah Zand yang sedang mencoba untuk tiduran juga di sofa. Namun, kasihan melihat sofa itu lebih pendek dari tubuh Zand sampai kedua kakinya menopang di sandaran lengan sofa dan juga kepalanya ke sandaran lengan sofa satunya.
Nazarel mengembuskan napasnya panjang. “Tidur di sini aja, sebelah aku. Sofa itu nggak muat buat kamu.” Ya, begitulah nada bicaranya. Masih kaku terdengar, kadang formal mengatakan ‘tidak’ kadang tanpa sadar mengucapkan ‘nggak’ dan Zand sudah memakluminya.
Zand pun menolaknya dengan halus. “Tidak usah, aku sudah terbiasa tidur di manapun juga. Bahkan ketika latihan kepolisian, aku tidur di atas rumput atau tanah di dalam hutan.”
Nazarel tidak bisa membayangkan hal itu. Kerasnya latihan kepolisian atau militer itu benar-benar harus kuat mental pastinya. Menahan hawa dingin di malam hari, panas terik di siang hari dan kelaparan juga. “Itu dulu sewaktu latihan. Sekarang tidur di sini, aku batasi dengan bantal nggak usah khawatir, aku nggak akan mengganggu atau melewati line di tengah ini,” ujarnya sembari benar-benar memasang beberapa bantal-bantal kecil di tengah ranjang besar itu.
“Aku-”
“Sebelum aku berubah pikiran,” potong Nazarel sembari membalikkan tubuhnya lagi membelakangi Zand.
Terdengar helaan napas panjang Zand. Bukan karena aku takut kau melewati batasan di tengah. Tetapi aku yang takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu. Kalau sudah begini, aku harus kuat sebagaimana kala ujian masuk ke kepolisian dan latihan di hutan-hutan. Aku pasti bisa. Zand membatin sendirian. Ia pindah ke atas ranjang dan tidur saling membelakangi Nazarel. Keduanya tidak sadar jika jantung mereka sudah berdetak berantakan.
Hening.
Setelah beberapa jam saling terdiam dan pura-pura tertidur. Akhirnya mereka tertidur beneran.
★Bersambung★