“Jika memiliki tidak bisa, maka cukup mengagumi seperti biasa.” Nazarel Meilla Adhitama.
*****
Pagi-pagi.
Nazarel tampak lelap dalam tidurnya.
Zand perlahan membuka matanya lalu mencoba menahan napas kala menyadari jika wajah Nazarel sangat dekat dengan wajahnya. Hanya beberapa senti saja sehingga dia bisa merasakan embusan panas dan teratur napas Nazarel.
Ya.
Tanpa mereka sadari jika kini mereka tertidur dalam keadaan saling memeluk.
Tidak.
Lebih tepatnya, Nazarel yang tengah memeluknya seperti bantal guling yang hangat pastinya. Sementara dia tampak pasrah saja.
Bantal penghalang sudah terlempar ke lantai, begitu juga selimut yang dipakai Nazarel semalam sudah terongok di lantai juga.
Semalam memang Zand menyadari jika Nazarel banyak bergerak dalam tidurnya. Bahkan dia juga terbangun disaat Nazarel berguling lalu memeluknya dan dia membiarkannya saja serta malah melanjutkan tidurnya.
Kenyamanan itu, rasa hangat pelukan Nazarel. Detak jantungnya dan embusan napas gadis itu hampir membuatnya gila.
Zand termenung menatap langit-langit kamar tersebut. Apa dia benar-benar sudah jatuh Cinta dengan gadis itu? Pertama kali bertemu di kantor polisinya memang ada sedikit rasa tertarik pada Nazarel, rasa itu berubah menjadi ingin segera memiliki disaat perjodohan. Panik kala Nazarel dibawa ke hotel oleh pemuda berengsek dan perasaan itu pun perlahan menjadi perasaan yang berbeda setelah menikahinya yang dia saja tidak mengerti sebenarnya perasaan apa itu?
Pernikahan itu bukan pernikahan kontrak yang akan berakhir dengan tenggang waktu yang ditentukan. Bukan pula sebuah perjanjian tidak boleh ada rasa Cinta yang hadir di antara mereka.
Jadi.
Apa Nazarel juga nantinya akan merasakan hal yang sama terhadapnya? Yaitu, hal ketakutan akan perpisahan.
Di saat Zand masih termenung.
Nazarel membuka kedua matanya. Mengerjap beberapa kali saat melihat wajah Zand begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan hampir saja bersentuhan. Kesadarannya mulai penuh kala telapak tangannya yang berada di atas d**a Zand merasakan bagaimana debaran jantung pria itu. Serta melihat bagaimana buah jakum Zand naik lalu turun saat Zand menelan salivanya.
Dengan sigap, Nazarel bergerak menjauhi Zand membuat Zand ikut terkejut juga. Nazarel bergeser ke ujung ranjang sebelahnya sembari menatap tak percaya pada Zand. “Kau ...?”
“Jangan selalu menyalahkanku, kau yang semalam tidur memelukku duluan.” Zand tahu apa yang akan diucapkan Nazarel.
Nazarel melihat seluruh pakaiannya masih utuh, berarti tidak terjadi apa-apa semalam dan dia juga tidak mabuk. Bagaimana bisa melakukannya tanpa sadar. “Aku-”
“Lihat perbedaan kasurnya,” ujar Zand lagi.
Nazarel melihat kanan dan kiri. Zand tidur paling pinggiran dan jika bergulik, bahkan akan langsung terjatuh. Tetapi kasur bagiannya lah yang paling besar, lebih tepatnya memang dia yang mepet ke arah Zand. Ia jadi nyengir tak keruan.
Zand turun dari ranjang. “Mandilah duluan, bukannya kita akan jalan-jalan.”
“Ke mana pagi-pagi begini?” tanya Nazarel supaya bisa menyesuaikan pakaian apa yang pantas dipakainya.
“Kita akan sarapan dulu, lalu jalan-jalan melihat candi-candi. Jika bosan, ke pantai menjelang sore harinya dan setelah itu, ke mana pun yang kau inginkan.” Zand pergi keluar sambil membawa ponselnya. Tampaknya ada sesuatu yang penting sehingga dia langsung menelepon.
Nazarel girang sekali dalam hati. Melihat candi-candi adalah salah satu dari ribuan keinginannya. Melihat sun set di pantai Bali dan akhhh, masih banyak sekali yang dia inginkan di sana. Sayang sekali hanya tiga hari empat malam saja mereka di sana. Jadi, dia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dengan penuh semangat. Nazarel pergi mandi.
Zand memang menelepon seseorang dan ternyata menelepon bawahannya sebab ingin tahu bagaimana perkembangan penyelidikan kasus-kasus mereka.
Namun, bawahannya hanya menjelaskan secara singkat lalu malah berkata, ‘Komandan, tidak usah dulu memikirkan pekerjaan. Nikmatilah masa bulan madu Anda, kami di sini sudah tahu tugas kami dan Anda tidak usah khawatir supaya bisa cepat memberi kami keponakan baru’. Setelah berkata seperti itu, bawahannya itu malah memutuskan sambungan dengan alasan kantor sibuk karena ada kasus baru lagi, padahal itu masih pagi.
Zand menghela napasnya panjang. Pasti atas perintah atasannya yang melarang mereka melaporkan semua padanya. Ia masuk ke dalam dan kebetulan, Nazarel baru selesai mandi, tetapi sudah memakai pakaian untuk keluar jalan-jalan. Nazarel melihat sebuah kado kecil di dekat tasnya dan baru teringat kalau semalam dia mengeluarkan kado dari Alter itu.
“Kado apa itu?” tanya Zand penasaran juga.
“Nggak tau, ini dari Alter,” jawab Nazarel sembari duduk di pinggiran ranjang dengan hair dryer di tangan kirinya.
Zand hanya tersenyum tipis lalu membuka lemari, mengeluarkan pakaiannya.
Nazarel tampak tidak sabaran membuka kado kecil itu. Tiba-tiba kedua matanya membulat dengan mulut yang menganga kala melihat isi kado tersebut, apa lagi setelah membaca tulisan di sebuah kotak kecil di tangannya itu. “AAAKKHHHH ALTER, AWAS LOOOO!!” teriaknya sembari melemparkan sembarang kotak itu.
Zand kaget sontak menoleh ke arah Nazarel lalu melihat kotak kecil yang dilemparkan Nazarel tadi di dekat kakinya. “Haha!” tawanya pecah seketika kala mengambil kotak itu yang tak lain adalah sekotak kondom. Ada juga kertas kecil yang ditempel memakai solasi di kotak itu.
Nazarel menelan salivanya berat lalu duduk membelakangi Zand yang masih dengan kekehannya. Awas kau Alter, pulang nanti aku habisin dengan tulangnya kau tanpa sisa. Kesalnya dalam hati.
Zand malah sengaja membaca surat kecil dari Alter dengan nada biasanya. “Untuk Kakak sepupuku yang sedikit jelek tapi gemesin. Ingat ya, harus dipakai supaya jangan dulu punya anak, sebab kalau kalian sampai cepat-cepat dapat momongan, aku bingung Ibunya yang mengasuh anaknya, atau anaknya nanti yang mengasuh Ibunya.”
Nazarel sampai memejamkan matanya kesal. Sementara Zand malah masih tertawa geli, ia tidak tahu jika saat ini wajah Nazarel sudah memerah, entah marah ataukah malu? Ia membuang kotak kondom itu ke dalam tempat sampah, tetapi surat lucu dari Alter, dia selipkan ke saku kemejanya.
Zand pun segera masuk ke dalam kamar mandi, lalu Naza mengeringkan rambutnya dan bersiap-siap.
Tidak berapa lama. Ponsel Nazarel berdering, Ibunya yang menelepon. Ia pun segera mengangkatnya. Ketika tersambung, awalnya hanya menanyakan kabar saja, lama kelamaan menjadi curhatannya kepada Ibunya dan ia berkata sangat senang di sana dan hari ini akan pergi melihat candi-candi dan juga ke pantainya.
Zand sudah selesai mandi dan berpakaian. Memakai celana cargo warna biru dongker, kaos hitam dan jaket jeans membuatnya sangat terlihat berbeda sekali. Sementara Nazarel memakai celana cargo pendek seatas lutut, kaos putih dan kemeja polos berwarna biru lengan panjang dan dilipat bagian lengannya sampai sikut.
“Sudah siap?” tanya Zand melihat Nazarel sudah berpamitan kepada Ayah, Ibu dan juga saudara-saudaranya yang lain. Terdengar dari riuhnya candaan di seberang sana tampaknya masih sedang berkumpul untuk sarapan bersama.
Nazarel mengangguk.
“Jangan lupa pakai topi, di luar nanti akan semakin panas,” ujar Zand mengingatkan Nazarel.
“Baiklah,” jawab Nazarel dengan nada senangnya. Ia membawa sebuah ransel berukuran sedang yang berisikan dompet, kacamata hitam dan beberapa keperluan lainnya.
Zand juga membawa tas ransel berisi camera foto, dua botol air aqua yang disediakan di sana serta dompet dan juga beberapa obat-obatan kecil, persediaan jika seandainya Nazarel jatuh terluka di jalan atau lecet-lecet saja pun harus diobati. Mengingat kalau gadis itu selalu saja teledor dan sembrono di mana pun juga.
Keduanya berangkat naik mobil yang biasa.
Sopir membawa mereka ke daerah yang ada candi-candinya, pasar tradisional siang, restoran untuk makan siang dan yang terakhir adalah pantai di hari menjelang petang.
Untuk pertama kalinya Zand merasakan tidak punya beban dan semua pekerjaannya pun terlupakan sejenak. Senyum dan tawa istrinya sudah banyak yang dia abadikan di dalam cameranya. Setiap apa yang dilakukan Nazarel membuatnya gemas. Apalagi dengan riangnya gadis itu makan jajanan jalanan yang beraneka ragam dan rasa seakan-akan tidak pernah takut menjadi gemuk.
Keduanya juga banyak mengambil foto bersama. Zand tersenyum melihat-lihat hasil potretannya pada Naza secara diam-diam. Sebab di foto yang dia ambil diam-diam itu, banyak sekali ekspresi Nazarel yang alami dan tanpa disadarinya.
Begitulah bulan madu mereka dilewati dengan rasa bahagia.
Malam harinya mereka baru kembali ke penginapan.
Nazarel melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. “Akhh, senengnya. Akhirnya impian aku selama ini terkabulkan juga.”
“Memangnya impian kamu selama ini ingin ke sini?” tanya Zand duduk di sofa karena sama-sama lelah.
Nazarel mengangguk. “Terima kasih,” ucapnya dengan nada sedikit pelan.
“Apa?” tanya Zand pura-pura tidak dengar.
“Tidak ada siaran ulang,” dengkus Nazarel sebal.
“Aku bener-bener nggak denger,” ujar Zand ingin sekali lagi mendengar kata terima kasih Nazarel yang terdengar tulus barusan.
“Nggak!” jawab Naza tegas lalu beranjak dari ranjang, “aku mandi duluan, biar nanti bisa langsung berkemas. Bukannya besok mau pergi ke Surabaya?”
Zand hanya mengangguk lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya.
Nazarel melangkah ke arah kamar mandi, tetapi di ambang pintu dia berhenti sejenak lalu menoleh ke arah Zand. “Komandan?”
“Hmmm?” Zand yang tadinya hendak menggeser layar ponselnya, sontak menoleh dulu ke arah Nazarel.
Nazarel membentuk kedua jari tangan kanannya seperti love (Ala Korea) sambil mengedipkan sebelah mata kanannya juga. “Terima kasih,” ucapnya dengan senyuman manis. Lalu setelah itu buru-buru masuk ke kamar mandi.
Zand malah terpaku sejenak sembari mengedipkan matanya cepat. Apa barusan? Apa itu tanda love yang selalu dipakai anak-anak muda zaman sekarang? Maksudnya apa? Apa Nazarel sekadar menggodanya atau itu memang hanya tanda terima kasih saja? Akkhh, Zand, kau memang terlalu kolot dan kuper. Selama ini apa yang kau lakukan? Hanya berkutat dengan kasus dan ceceran darah.
Di dalam kamar mandi.
Nazarel ternyata tengah memegang dadanya. “Apaan gue barusan? Pasti gue udah gila karena terlalu banyak kena matahari?” Ia menggelengkan kepalanya merinding. Tetapi, bukankah Zand tidak suka cewek sexi dan juga genit. Harusnya dia senang sebab tadi saja pria itu malah bengong dan mungkin mulai semakin tidak menyukainya.
Ketika tidur di ranjang yang sama seperti kemarin malam yang di mana keduanya berada di kedua ujung ranjang saling berjauhan serta terhalang bantal-bantal ditengah-tengahnya.
Nazarel berbaring membelakangi Zand, sementara Zand menghadap langit-langit kamar.
“Jangan melewati batas lagi,” celetuk Nazarel memecah kesunyian.
“Siapa? Aku?” tanya Zand aneh. Bukankah barusan gadis itu melemparkan batu padanya lalu sembunyi tangan?
“Terus siapa lagi? Aku?” Nazarel ternyata sengaja ingin membuat Zand kesal.
Tetapi Zand malah terkekeh membuat Nazarel yang berubah kesal. “Tenang saja, siapa yang tertidur melewati batas masing-masing, harus mengabulkan satu permintaan yang kalah.”
Nazarel menelan salivanya berat. Semalam memang dia yang melewati batas, mudah-mudahan malam ini Zand yang melewati batas, dia tidak boleh tidur terlalu lelap.
Tetapi, namanya manusia tetap saja jika tidur tidak akan ada yang sadar dan Zand yang masih terjaga tersenyum melihat Nazarel sudah mendengkur halus karena terlelap dan pastinya karena kelelahan juga habis jalan-jalan tadi siang.
Pelan-pelan dia melemparkan bantal-bantal penghalang keduanya ke atas lantai di sampingnya, lalu dengan perlahan juga bergeser mendekati istrinya itu, menelusupkan tangannya ke bawah leher Nazarel yang tertidur membelakangi.
Mendadak Nazarel bergulik menghadap ke arahnya dan tanpa sengaja, bibirnya menyentuh bibir Zand membuat Zand setengah takut. Apa Naza akan terbangun?
Tetapi kala merasakan kalau Nazarel masih terlelap dalam tidurnya. Zand tersenyum menatap wajah Naza dari sedekat itu. Gadis cerewet dan banyak tingkah nyebelin itu. Jika tertidur terlihat sangat manis juga.
Ciuman kedua mereka. Bisa dikatakan itu ciuman kedua baginya dan Nazarel, ia berpikir sejenak, apakah Nazarel pernah ciuman dengan pemuda lain? Ataukah dia juga punya pacar? Atau mungkin saat ini tengah mencintai pria lain secara rahasia? Setahunya kalau Naza yang pertama minta dijodohin, apa terjadi sesuatu di sekolahnya sehingga membuat gadis itu ingin sekali dijodohkan seusai kelulusan?
Nazarel menelusupkan wajahnya ke d**a Zand seolah menelusupkan ke bawah bantal gulingnya atau juga boneka beruangnya. Dan dia sangat suka tidur sambil memeluk bantal guling karakternya atau boneka-boneka besarnya itu karena terasa hangat.
Zand malah semakin senang, tak apa dia dikatakan kalah karena memang dia sudah mengalah saat ini. Ia pun mulai memejamkan matanya.
*****
Pagi-pagi.
Nazarel menggeliat, mendadak kedua matanya terbuka dan tersadar jika saat ini ada seseorang yang dipeluknya. Ketika mendongak sedikit, ia langsung merengut sembari memejamkan kedua matanya erat saat melihat dagu Zand. Apa dia semalam banyak bergerak lagi dan memeluk Zand? Dia sudah kalah?
Naza perlahan hendak membalikkan badannya dan ternyata hampir saja dia terjatuh ke atas lantai kalau tidak menyeimbangkan tubuhnya itu.
Tunggu dulu?
Jika posisi tidurnya masih di ujung ranjang. Jadi ...?
Nazarel tersadar jika Zand ternyata yang kalah. “AAAHHH AKU MENANG!!”
Teriakannya itu berhasil membangunkan Zand. “Ada apa ... kenapa kau berteriak?” tanyanya jadi panik. Apa mereka kemasukan maling?
“Lihatlah,” jawab Nazarel dengan polosnya menyuruh Zand melihat ke belakang di mana kasur sebelahnya masih lebar dan dia yang sudah berpindah tempat mepet padanya.
“Hmm kirain ada apa,” jawab Zand mengembuskan napasnya lega. “Iya-ya, aku kalah.” Ia mengakuinya dengan jantan membuat Nazarel tersenyum lebar penuh kemenangan.
Sebenarnya siapa di sini yang bego? Nazarel yang tidak menyadari kalau Zand memang sengaja berpindah dan memeluknya semalam, atau Zand yang sudah kalah dan harus siap memenuhi satu permintaan Nazarel yang pastinya akan aneh-aneh permintaannya itu nanti.
“Sudahlah, bersiaplah. Kita harus segera ke bandara,” ujar Zand diam-diam tersenyum melihat wajah Nazarel yang tampak bahagia itu.
“Awas ya, kau sudah janji akan mengabulkan satu permintaanku,” kata Nazarel mewanti-wanti.
“Iya, memangnya mau minta sekarang?” tanya Zand penasaran apa sebenarnya keinginan Nazarel.
“Nggak akan sekarang lah, nanti aja kalau udah kepikiran mau minta apa,” jawab Nazarel penuh rahasia dan senyuman liciknya.
Zand hanya terlihat pasrah. Ia pun turun dari ranjang kemudian masuk ke kamar mandi.
“Minta apa ya?” gumam Nazarel ternyata belum tahu dia mau minta apa pada Zand. “Nanti aja ahh, kesempatan emas ini nggak bakalan aku sia-siain begitu aja.”
Setelah keluar dari penginapan. Keduanya diantar sopir ke bandara lalu dua jam kemudian mereka terbang ke Surabaya. Kota Nenek dan Kakek Zand.
Dari bandara. Keduanya naik mobil jemputan dari kampung Nenek dan Kakek Zand. Perjalanan sedikit jauh dan membuat Nazarel malah tertidur lelap selama perjalanan.
Ketika hampir sampai. Naza terbangun saat mobil mulai memasuki kawasan jalan di mana sisi kanan dan kirinya masih pesawahan.
Ternyata kampung Kakek Zand masih daerah pesawahan dan perkebunan yang luas. Kampung itu juga masih jarang rumah-rumah yang berdempetan atau tetangga dekat saja masih terhalang kebun-kebun dan sawah satu sama lainnya sejauh mata memandang.
“Wahhh indahnya,” kagum Nazarel. Dia memang sering melewati pesawahan atau perkebunan atau pula hutan-hutan pinggir jalan jika jalan-jalan ke luar kota dengan keluarganya. Tetapi untuk berkunjung seperti itu. Ini adalah pertama kali baginya.
Tak lama. Mobil parkir di depan sebuah kolam ikan dekat rumah yang terlihat besar dan luas namun sederhana.
“Turunlah,” ajak Zand takut jika Nazarel pasti masih malu-malu dengan keluarga barunya itu.
Nazarel memang turun dari mobil dengan wajah menahan rasa ingin buang air kecil.
“Kenapa?” tanya Zand cemas melihat ekspresi Nazarel.
Nazarel membisikkan sesuatu pada Zand. “Toilet sebelah mana ya? Aku ingin buang air kecil,” bisiknya pelan takut kedengaran oleh sopir yang sedang menurunkan tas mereka.
Zand jadi terkekeh. “Masuk toilet di dalam rumah aja ya.”
Awalnya Nazarel mengangguk. Tetapi masa masuk ke dalam tidak salim dulu sama Kakek dan Nenek Zand, malah langsung masuk kamar mandi kan itu nggak elit baginya. Ketika berjalan beriringan sambil mengedarkan pandangan ke sekitaran halaman, kolam ikan dan rumah, kedua matanya melihat tidak jauh dari rumah ada sebuah sumur dan toilet luar, tepatnya di dekat sawah. “Aku ke sana aja, udah nggak tahan.” Tanpa mendapat izin dari Zand, ia berlari ke arah sumur.
“Ehh, tunggu dulu!” kata Zand hendak menyuruh Nazarel masuk kamar mandi dalam rumah saja sebab toilet di dekat sumur adalah toilet umum dan juga harus menimba dulu air sumur untuk di masukin ke dalam bak lalu mengalir ke dalam ember yang tersedia di dalam toilet tersebut.
“Zand!” panggil seorang pemuda dari ambang pintu menyambutnya dengan senyuman.
Zand yang hendak menyusul Nazarel malah tidak jadi sebab panggilan saudaranya itu yang sudah lama tidak bertemu. Ia mendorong dua tas koper sedangnya dan juga membawa tas ransel Nazarel menuju ke arah pemuda itu dengan senyuman juga.
Nazarel yang tidak menggubris Zand. Setengah berlari ke arah sumur itu melewati dua kotak pesawahan kanan dan kirinya. Karena dia terburu-buru berjalan di atas jalan pematang sawah yang kecil dan licin.
Srrrreettt bruuugghhh!
“Aakhhh! Sialan p****t gue?!” rintihnya karena pantatnya terjatuh dengan keras ke pematang sawah itu sehingga membuat celana jeansnya menjadi kotor. Ia melihat kanan kiri takut ada yang melihat kejadian itu, bisa malu tujuh turunan dia jika ada yang melihat dan menertawakannya. Untungnya tidak ada siapa-siapa dan tidak ada yang melihatnya juga.
Dengan hati-hati dan pelan-pelan, Nazarel bangkit sambil masih meringis merasakan pantatnya yang ngilu dan sakit pastinya dan untungnya tidak keluar di sana. Ia berjalan ke arah toilet sumur lalu masuk ke dalam bilik toilet dan lupa tidak menimba air sumur terdahulu saking kebeletnya dan toilet itu pun masih toilet jongkok.
Beberapa saat setelah urusannya beres. Nazarel baru tersadar kalau di ember atau bak kecil sebelahnya tidak ada air sama sekali. “Gimana gue ceboknya? Tas gue isi tissu juga lupa nggak gue bawa?” Ia jadi bingung masa harus teriak-teriak minta tolong sama Zand? Atau masa tidak cebok? Meski celana bagian bokongnya itu sudah kotor, mustahil juga dia tidak cebok.
“Ada orang diluar? Siapa saja tolong dong ambilin air, di ember nggak ada airnya.” Ia mencoba meminta tolong.
Di dalam kebingungannya itu. Tampak ada seseorang yang datang dan terdengar menimba air.
Nazarel mengira jika itu adalah Zand yang menyusulnya ke sana. “Mas Zand? Apa itu kau? Tolong timbakan air dong, di sini nggak ada airnya.”
Tidak ada jawaban sedikit pun dari luar. Tetapi tak berapa lama, air mengalir dari pancuran bak kecil ke dalam ember di dalam. Akhirnya Nazarel bisa membersihkan dirinya sendiri dengan air itu. Apa lagi kedua tangannya juga kotor harus dicuci dulu.
Setelah selesai. Nazarel keluar dari dalam toilet, melihat seorang pria berdiri di dekat sumur sambil membelakanginya. “Mas, untung ada kamu, kalau nggak, aku nggak bisa ceb ...?” Ia baru sadar kalau itu bukan Zand.
Pemuda yang berdiri itu sontak menoleh ke arahnya. Pemuda itu tersenyum semringah melihat wajah Nazarel, tetapi berbeda dengan Nazarel yang tampak terkejut bertemu dengannya yang tak lain dan tak bukan adalah Fino. Pemuda yang ditaksirnya selama empat tahun, pemuda yang sangat dikaguminya dan sangat disukainya, dan pemuda itu pula yang menolaknya dengan kejam saat kelulusan.
“Kau!?” kata keduanya hampir bersamaan.
“Pantas saja aku merasa suaramu tidak asing, makanya aku tungguin di sini. Ternyata ini benar kamu Naza,” kata Fino entah kenapa terlihat ramah dan tersenyum juga padanya.
Karena sikap ramahnya itu berbeda dengan Fino kala di sekolahan. Nazarel sampai bertanya, “Kau beneran Fino? Bukan kembarannya, kan?”
“Haha, kembaran? Mana ada kembaran? Gantengku ini cuma satu di dunia,” narsis Fino semakin membuat Nazarel bingung. Kenapa sok akrab sekarang? Dulu waktu dia dipermalukan oleh pacarnya Tamara cs dan malah memberikan suratnya pada Tamara saat acara kelulusan, tidak seramah itu. Di saat itu pula Nazarel tidak mau lagi mengenal pemuda bernama Fino tersebut.
Nazarel masih mengerjap tidak percaya.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Fino menghenyak lamunan Nazarel.
“Kamu yang kenapa bisa ada di sini?” Nazarel malah balik bertanya heran.
“Aku sedang mengunjungi rumah Kakak Nenekku. Dan rumahnya ini,” tunjuk Fino ke rumah Nenek dan Kakeknya Zand.
Nazarel terlihat kaget. Jadi mereka masih saudaraan? Fino dan Zand? Gemuruh batin Nazarel masih tidak menyangka.
“Lalu kamu?” tanya Fino masih penasaran sekaligus heran. Bagaimana bisa Nazarel berada di sumur dan daerah seperti itu?
“Aku ...-”
“Kamu sudah selesai?” tiba-tiba pintu samping terbuka dan munculah Zand menghampirinya dari pintu dapur tersebut.
Lidah Nazarel menjadi kelu tidak bisa menjawab. Apa lagi sebenarnya di dalam hatinya, Fino masih memiliki tempat yang spesial dan belum bisa dia singkirkan atau lupakan begitu saja. Dia benar-benar belum move on, luka hatinya juga masih sangatlah baru.
“Kak Zand, kalian saling kenal?” tanya Fino heran.
“Ya,” jawab Zand mendekati Nazarel lalu merangkul pinggangnya. “Dia istriku,” lanjutnya lagi.
Fino tampak tercengang mendengarnya. Tetapi ekspresi kagetnya itu berhasil disembunyikannya dan merubahnya menjadi senyuman. “Jadi, cucu Kakek Yana yang menikah minggu kemarin adalah kau dan Nazarel?”
Zand mengangguk. “Jadi kalian saling kenal?” tanyanya mengulangi pertanyaan Fino.
Fino mengangguk kecil masih dengan senyumannya juga. “Ya, kami-”
“Hanya kenal di sekolah, dan kami bukan teman dekat. Dia pacarnya gadis yang aku kenal,” potong Nazarel masih merasa sakit hati atas perlakuan Fino dan Tamara.
Zand merasa ada yang aneh dengan sikap keduanya, tetapi dia tanggapi biasa saja seolah tidak curiga. “Oh, jadi kalian-”
“Bang Zand, dipanggil Nenek dan Kakek masuk ke dalam,” kata seorang pemuda remaja.
“Ayo, semuanya masuk,” ajak Zand menggenggam tangan Nazarel. Dia baru sadar jika celana Nazarel kotor. “Kenapa celana kamu kotor?”
Nazarel menipiskan bibirnya. “Jatuh,” jawabnya polos. Nadanya biasa saja tetapi terdengar manja di telinga Fino.
“Di mana? Di toilet?” tanya Zand lagi memastikan kalau bagian tubuh Naza tidak ada yang luka.
“Di situ,” jawab Nazarel menunjuk dengan bibir cemberutnya ke arah tengah pematang memang ada bekas sepatu yang terpleset di sana.
Zand ingin sekali tertawa, kenapa istrinya itu benar-benar sembrono sekali? Tetapi ditahannya sebab tidak tega melihat bagaimana ekspresi wajah Nazarel yang masih cemberut. Zand melepaskan kemeja panjangnya menyisakan kaos polos putih dalamannya saja. Mengikatkan kemeja itu ke pinggang Nazarel demi menutupi bagian p****t istrinya itu yang kotor. “Masih sakit pantatnya?”
“Sedikit,” jawab Nazarel menoleh melihat Fino yang terpaku mendengar interaksi mereka. “Aahhh udah ah jangan dibahas lagi.” Ia jadi malu sendiri lalu berjalan mendahului Zand ke arah pintu dapur dengan sedikit kesal juga.
“Hati-hati, nanti jatuh lagi. Ayo masuk, Fin.” Zand pun menyusul Naza, meninggalkan Fino yang masih terpaku menatap punggung Nazarel.
Fino merasa heran. Bagaimana bisa Nazarel menerima perjodohan itu. Dia tahu jika Kakak Neneknya menjodohkan Zand dengan seorang gadis. Tak disangka jika gadis itu adalah Nazarel. Meski Zand tampan dan mapan melebihinya. Namun, perbedaan usia keduanya berbeda jauh. Apa lagi Nazarel baru saja lulus SMA.
Kenapa Nazarel bisa semanis itu di matanya saat ini? Selama ini kemana saja dia? Empat tahun disukai gadis semanis dan seimut itu, dia malah memilih Tamara. Ya, meski Tamara adalah primadona kelasnya. Tetapi, dia baru menyadari jika Nazarel benar-benar berbeda dengan gadis lainnya.
Fino sekeluarga ternyata sedang berkunjung juga ke sana. Rumah Neneknya berada di desa sebelah, sehingga kala Zand menikah, dia memang mendengar berita itu tetapi tidak disangka jika Zand ternyata menikahi Nazarel, gadis yang selama ini menyukainya, gadis yang sudah pernah menyatakan Cinta padanya dan gadis yang disesali tidak dianggapnya itu.
Ketika acara pernikahan juga dia tahu, tetapi keluarga dari Surabaya tidak ada yang bisa datang karena acara dadakan itu dan juga dia kebetulan sedang berkunjung ke kampung Neneknya sehingga tidak tahu tentang pernikahan keduanya. Lagi pula selama ini dia memang tidak terlalu akrab dengan teman-teman Nazarel, bahkan dengan Alter juga dia tidak terlalu kenal. Jadi, sudah pasti dia tidak akan mengetahui berita pernikahan Nazarel.
*BERSAMBUNG*