“Takdir tidak pernah bercanda, dan kehidupan bukanlah main-main saja.” Nazarel Meilla.
*****
Zand masuk diikuti oleh Nazarel di belakangnya.
Kakek dan Nenek Zand menyambutnya dengan ramah.
Nazarel juga seperti biasa salim kepada yang lebih tua darinya.
Ibu Fino ternyata sedang berkumpul di sana juga. “Wahh, benar-benar cantik dan memang masih muda ya,” pujinya kala melihat Nazarel dari dekat.
“Iya, ketika melihat di foto, tidak secantik aslinya,” imbuh Ayah Fino.
Zand hanya tersenyum. “Dia lebih muda setahun dengan Fino,” ujarnya melirik kepada Fino yang baru masuk ke dalam.
“Kami bahkan satu sekolahan,” kali ini Fino dengan semangatnya mengatakan kalau mereka saling kenal.
“Benarkah?” Nenek Zand tersenyum saat mengetahui kalau Fino dan istri cucunya itu ternyata saling kenal.
Kakek Zand juga tersenyum. “Bagaimana keadaan Kakek dan Nenekmu?” tanyanya sudah beberapa hari tidak bertanya kabar.
Raut wajah Nazarel sontak berubah. Apakah dia harus mengatakan kalau Kakeknya sakit dan harus berobat ke Luar Negeri?
“Naza?” Zand aneh dengan diamnya Nazarel.
“Akh, mereka baik-baik saja dan masih di Jakarta,” jawab Nazarel dengan senyuman canggungnya. Dia memang tidak bisa memendam rahasia. Tetapi, keluarganya saja tak banyak yang tahu perihal penyakit Kakeknya, kenapa harus memberitahu keluarga barunya itu.
“Kalau begitu masuklah, kalian pasti lelah sehabis perjalanan,” kata Ibu Fino.
“Bukan habis perjalanan, tetapi sehabis bulan madu,” goda Ayah Fino.
Raut wajah Fino seketika tampak ada kekecewaan. Tetapi berhasil disembunyikannya.
Zand menggenggam tangan Nazarel. “Ya, mandi dan gantilah baju kotormu.”
“Baju kotor? Kenapa memangnya?” tanya Nenek Zand tampak khawatir mendengarnya.
“Akh, tadi jatuh sedikit di belakang dekat sumur,” jawab Nazarel malu membahasnya.
“Tidak ada yang luka, kan?” tanya Kakek Zand memastikan.
Nazarel dan Zand menggelengkan kepalanya. Nazarel sangat terlihat lega dan bahagia sebab ternyata keluarga Zand sangat baik sekali. Kecuali Ibu mertuanya. Entah kenapa dia merasa Ibu mertuanya tidak terlalu menyukainya.
“Naza?” lagi-lagi Zand menyentak lamunan Nazarel.
“Akh, kalau begitu aku mandi duluan.” Ia menunggu Zand membawanya ke kamar mereka yang sudah disiapkan Nenek Zand.
Zand membawa Nazarel ke kamar mereka. Ketika masuk ke kamar sederhana itu, Nazarel mengedarkan pandangannya. Ada banyak sekali foto-foto Zand sewaktu kecil, bersama keluarganya, bersama Kakak dan saudara-saudaranya juga.
“Hehe, aku culun ya waktu kecil,” kata Zand malu melihat Naza memperhatikan foto-foto masa kecilnya di dinding-dinding kamar itu.
“Hmm, manis kok,” jawaban asal Nazarel membuat Zand menatapnya.
Manis? Pikiran Zand tidak mengira jika Nazarel akan memberi jawaban seperti itu.
“Di mana kamar mandinya?” tanya Nazarel menghenyak tatapan Zand padanya.
“Oh, dekat dapur. Maaf, kamar mandinya hanya satu. Kamu mandi saja di sana, dan aku akan mandi di sumur.” Zand memalingkan wajahnya mencoba menyembunyikan perasaannya itu.
Nazarel hanya manggut-manggut mengerti.
Keduanya mandi di kamar mandi berbeda.
Nazarel selesai duluan sebab kamar mandi di dalam ada bak mandi dan pancuran juga, berbeda dengan Zand yang harus menimba air untuk memenuhi bak mandinya terdahulu.
Nazarel memilih pakaian yang dirasa paling sopan demi menghormati para orang tua di sana. Tetapi, sebelum selesai berdandan. Terdengar suara ribut-ribut di ruang tengah, tampaknya banyak tamu yang datang ke sana. Apakah untuk menyambut mereka?
Seusai berdandan. Keduanya keluar dari kamar.
Zand dan Naza melihat Qeira duduk di sebelah Nenek Zand, sementara Zicko duduk di dekat Pamannya yaitu adik Ayahnya. Di sana juga ada pemuda masih SMP yang Zand dulu pernah berkata kenapa Nazarel tidak dijodohkan saja dengannya, yang bernama Alfian.
Fino dan kedua orang tua serta Neneknya juga ikut berkumpul di sana.
“Kalian datang juga ke sini?” Zand tidak menyangka jika Kakak dan Kakak iparnya akan datang juga ke sana.
“Ya, kebetulan Qeira ada undangan perkumpulan dengan teman-teman masa kuliahnya di Firma Hukum kota ini sekaligus cuty juga. Jadi, aku sekalian ajak saja ke Rumah Nenek dan Kakek,” ujar Zicko menjelaskan alasan kenapa mereka ada juga di sana.
Nenek Zand tampak sedikit kecewa dikarenakan kedua cucu atau bahkan anak mereka yaitu Ayah keduanya sudah lama tidak mengunjungi mereka juga. Tapi sekarang senang karena kedua cucunya akhirnya berkunjung juga. “Lagian kalian sudah lama sekali tidak datang ke sini, seolah Nenek dan Kakek sudah tiada-”
“Hussshh, Nenek kalau bicara ngawur,” potong Zicko tidak enak juga, “Bukan begitu Nek. Nenek tau sendiri kalau Zand tugas dan susah mendapat libur, aku sibuk di proyek dan Qeira juga sibuk dengan banyaknya kasus-kasusnya.”
“Ya, kami juga tahu dan beryukur jika kalian hari ini sengaja datang ke sini mengunjungi kami,” kata Kakek Zand mengerti dengan kesibukan masing-masing.
“Akhh, harum tempe goreng,” kata Zicko tiba-tiba merasa lapar.
Nenek Zand terkekeh. “Di belakang lagi pada masak, sabar ya. Kita akan makan bersama semuanya.”
Nazarel merasa tidak enak jika tidak membantu. “Bolehkah saya membantu di dapur, Nek?”
Semuanya menatap Nazarel.
Kakek Zand malah tersenyum. “Kalian masih pengantin baru, jadi duduklah.”
“Tapi saya ingin membantu, tidak ada hubungannya dengan pengantin baru atau pengantin lama,” kata Nazarel mencoba untuk lebih mengakrabkan diri dengan keluarga itu.
Zand bertanya pelan padanya. “Memang kamu bisa memasak?” tanyanya ragu.
Nazarel menggelengkan kepalanya pelan membuat Zand mengerjap dan berkata dalam hati. Kenapa kau ingin membantu kalau tidak bisa masak?
Ternyata Qeira yang mendengar pertanyaan Zand barusan menjadi tersenyum tipis. “Aku juga akan membantu. Jadi, kami sebagai cucu menantu akan sangat senang jika bisa membantu apa pun di dapur, meski tidak pintar memasak pun, kami akan senang bisa berkumpul dengan Tante di dapur.”
Nazarel sedikit tidak suka dengan ucapan Qeira barusan, seakan-akan sindiran itu memang untuknya sebab yang dia tahu kalau Qeira pintar memasak sementara dia tidak. Tetapi dia mengangguk sembari memegang ujung kaos Zand lalu menarik-nariknya pelan, meminta persetujuan.
Nenek Zand jadi tersenyum kembali. “Ya, kalau kalian memang ingin membantu malah bagus, jadi makanan akan cepat siap. Sementara Zand dan Zicko, kalian uruslah ikan-ikan yang baru saja datang. Segera bersihkan supaya bisa dimasak langsung hari ini.” Beliau memberikan tugas-tugas untuk para cucu-cucunya.
Sementara Alfian dan Fino saling melirik satu sama lain. Mereka memang paling muda di sana, jadi tidak bisa apa-apa jika tidak disuruh.
Kakek Zand melirik keduanya. “Kalau kalian tidak punya kerjaan, pergi ke kebun belakang dan petiklah beberapa kelapa hijau muda untuk semuanya.”
Fino mengangguk saja lalu mengajak Alfian pergi ke kebun belakang di mana terdapat beberapa pohon kelapa kuning dan kelapa hijau.
Zand dan Zicko juga sudah keluar rumah menuju sumur untuk membersihkan satu ember ikan mas dan nila. Nazarel dan Qeira juga sudah masuk ke dalam dapur. Sementara Paman-Paman mereka menemani Kakek Zand untuk berbincang.
Hitha adalah Ibunya Fino dan Tini adalah Ibunya Alfian. Keduanya sudah pasti Tante Zand dan Zicko dan keduanya sedang memasak di dapur bersama satu ART Nenek Zand yang berusia 50-an dan sudah bekerja puluhan tahun lamanya dari semenjak Ayah keduanya dan juga paman mereka masih remaja.
“Kalian mau membantu juga?” tanya Hitha melihat Nazarel berjalan di belakang Qeira.
“Iya Tante, seperti biasanya saya ingin membantu memasak,” jawab Qeira seakan-akan memberi penegasan pada Nazarel kalau dia adalah menantu pertama yang sangat disayangi keluarga itu dan berharap kalau Nazarel tidak usah memaksa ingin diterima dengan senang hati di keluarga itu mengingat kalau dia dan Zand hanya perjodohan saja seolah pernikahan itu sebuah pemaksaan untuk keluarga tersebut.
Tini terlihat semringah berjumpa lagi dengan Qeira. “Tante jadi kangen masakan kamu, Qei. Jadi, Tante senang sekali kamu mau membantu memasak, padahal pasti masih lelah karena perjalanan.”
Nazarel ternyata menjadi canggung dan kaku melihat perlakuan Ibunya Alfian pada Qeira dan memang sudah pasti mereka sangat akrab sebab pasti Qeira sudah sering berkunjung ke sana. Apalagi Qeira memang pandai mengambil hati seseorang dengan ucapannya. Pantas dia menjadi seorang pengacara yang pintar dan handal serta terkenal.
“Nazarel, kamu bisa masak?” tanya Tini menghenyak lamunan Nazarel.
Nazarel dengan malunya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
Hitha tersenyum. “Tidak apa kalau tidak bisa masak, kamu masih muda masih harus banyak belajar menjadi istri yang baik dan pintar memasak. Kalau begitu, kamu kupas bawang merah dan bawang putih saja, lalu menyiapkan bumbu untuk ikan nanti. Tante akan dengan senang hati mengajarimu.”
“Beneran Tante? Terima kasih banyak,” ucap Nazarel sungkan. Wanita itu baik sekali dan seandainya dia menikah dengan Fino, pasti wanita itu yang akan menjadi mertuanya. Bukan Ibunya Zand yang terlihat dingin serta sangat terlihat jelas jika dia tidak menyukainya.
“Duduklah di situ,” kata Hitha menyuruh Naza duduk di sebuah bangku lebar dan panjang seperti sebuah ranjang kayu jati di tengah dapur yang luas itu. Nuansa dapur itu memang cocok dengan nuansa dapur zaman dulu. Bahkan di dapur satunya yang berada di belakang masih ada tungku kayu untuk memasak jika gas habis malam-malam.
Naza duduk di atasnya. Hitha memberikan satu keranjang rotan tempat bumbu-bumbu di mana semuanya lengkap. Ada lengkuas, jahe, kunyit, kencur, bawang merah, bawang putih dan segala bumbu-bumbunya.
“Kupas bawang merah dan bawang putih untuk bumbu masakan dulu saja ya, lalu nanti menyiapkan bumbu untuk ikannya.” Hitha dengan hati-hati dan telaten mengajari Nazarel.
Sementara Qeira sudah tahu mana saja yang bisa dia bantu. Dimulai dari memetik dan membelah kangkung dan sayuran lainnya. Dia duduk di depan meja makan di pojokan dengan Tini yang sedang menggoreng tempe.
Nazarel mengangguk dengan menipiskan bibirnya senang. Kalau urusan mengupas bawang sih dia pasti bisa, meski di rumahnya dia adalah Ratu dan tidak pernah disuruh memasak, karena diajarkan menggoreng telur saja, dulu dia hampir membuat dapur beserta rumah kedua orang tuanya kebakaran.
Dari sana Ibunya belum berniat mengajarinya masalah bagaimana menjadi istri dan Ibu rumah tangga. Tidak disangka sebelum itu, dia sudah menjadi istri sekarang.
Hitha sesekali tersenyum melihat bagaimana cara Nazarel mengupas bawang pelan-pelan seolah takut jika pisau itu akan merusak bawangnya, bukan melukai tangannya sendiri.
Seingatnya, anaknya yaitu Fino memang pernah beberapa kali menyebutkan nama Nazarel satu angkatan dengannya. Jadi, gadis cantik dan manis itu yang diceritakan pernah menyatakan perasaan padanya. Fino memang selalu curhat dan terbuka pada Ibunya, dan dia juga tahu kalau Fino dan pacarnya Tamara sudah putus gara-gara rasa penyesalan anaknya yang menolak gadis bernama Nazarel itu di hari kelulusan mereka. Tidak diduga jika Nazarel malah sudah menikah dengan cucu dari Kakak mertuanya di saat anaknya baru menyadari perasaannya.
Dia juga sedikit menyayangkan dengan hal itu. Apa lagi saat tahu jika Nazarel adalah cucu perempuan satu-satunya dan juga kesayangan keluarga Adhitama. Kalau saja Fino saat itu mau menerima Naza, sudah pasti saat ini Nazarel adalah menantu kesayangannya.
Sementara di sumur.
Zicko membersihkan ikan dengan hati-hati, sementara Zand malah dengan cepat membersihkan ikan di tangannya.
“Waahh, kau memang ahli jika menjadi tukang penjual ikan,” canda Zicko sambil tertawa kecil.
“Jangankan membersihkan ikan, membersihkan ular saja aku sudah sering,” jawab Zand dengan bangganya. Tapi malah membuat Zicko bergidik ngeri.
“Ketika latihan di hutan, apa kau juga pernah memakan daging ular?” tanya Zicko baru teringat pertanyaan lamanya itu yang tidak pernah berani dia lontarkan kepada adiknya.
Zand menggelengkan kepalanya. “Kenapa harus memakan ular? Itu bukan bagian dari kewajiban. Lagian kami latihan di hutan yang lumayan dekat dengan ladang para petani di bawahnya. Jadi, ketika lapar. Malah ditawari para petani untuk mengambil sayuran atau apa saja di ladang mereka.”
“Lalu, kenapa kau bilang sudah sering membersihkan ular?” tanya Zicko heran.
“Teman-temanku yang memakannya. Aku hanya membantu membersihkan dan hanya memakan sayuran saja,” jawaban Zand malah membuat Zicko semakin tertarik.
“Kalau tidak ditawari karena sudah malam, apa kalian mencuri juga di ladang orang?” tanya Zicko penasaran dengan cerita Zand selama masa latihan.
Zand mengangguk.
“Ya ilahh, apa kau tahu dosa?” tanya Zicko menggelengkan kepalanya.
Zand malah tertawa melihat ekspresi wajah serius Kakaknya itu. “Tapi siangnya aku kembali ke kebun untuk membayar apa saja yang kami ambil, ya meski terkadang diberi lagi sayuran yang banyak dari pemilik kebunnya lebih dari uangnya.”
Zicko menatap tak percaya. “Ada cerita seperti itu?”
Zand mengangguk. “Maka dari itu mereka baik pada kami.”
“Meski kalian mencuri duluan,” canda Zicko lagi.
“Mungkin karena kami tampan dan gagah,” ujar Zand dengan narsisnya dan tertawa lagi membuat Kakaknya memutar matanya jengah.
Sebenarnya ceritanya tidak seperti itu sebab mereka latihan di hutan belantara yang jauh dari ladang atau pemukiman. Jadi terkadang hanya memakan buah-buahan hutan dan daging kelinci liar. Terkadang juga jika beruntung, mereka akan menemukan ayam hutan, burung puyuh dan telurnya. Ia hanya tidak ingin membuat Kakaknya berpikir jika selama ini dia masuk ke kepolisian semasa latihan mereka mendapat penyiksaan sampai dibiarkan kelaparan di hutan.
“Kalau begitu, ceritakan lagi bagaimana kalian latihan? Ceritakan apa saja yang belum sempat kau ceritakan pada Kakak,” pinta Zicko pada Zand.
Zand pun memceritakan apa saja yang belum sempat dia ceritakan pada Kakaknya penuh dengan candaan.
Di dapur.
Nazarel masih mengupas bawang dan bumbu lainnya. Sampai menguleknya juga dengan cobek batu. Dia suka karena rasa bumbu untuk sambal yang diulek itu akan lebih terasa enak ketimbang dengan chopper bumbu listrik. Tetapi jika bumbunya banyak, memang perlu dibantu chopper juga sebab tangan siapa yang sanggup mengulek bumbu sebanyak itu dan juga bermacam-macam.
Hitha selalu tersenyum melihat Nazarel yang tampak serius. “Kamu sudah mendaftar kuliah, Naza?” tanyanya penasaran Nazarel akan kuliah di kampus mana.
“Sudah Tante, sebelum lulus dan juga menikah. Sudah diterima,” jawab Nazarel menoleh sebentar menatap Hitha, lalu melanjutkan mengupas bawangnya.
“Di kampus mana dan mengambil jurusan apa?” tanya Hitha lagi.
“Di BNU (Bina Nusantara Universitas) mengambil jurusan kedokteran,” jawab Nazarel dengan senyuman penuh keyakinan jika dia bisa menjadi dokter menurut impiannya.
Tini ikut tersenyum. “Wahh, suami menjadi polisi dan istri menjadi dokter. Saat suami sakit atau terluka, ada istri yang mengobatinya.”
Nazarel malah jauh dari pikiran itu. Toh dia menjadi dokter saat teringat dengan anak-anak jalanan yang terluka dan tidak terurus, melihat orang yang tidak mampu yang memakai kartu BPJS dan terkadang orang-orang seperti itu diabaikan para dokter di rumah sakit. Serta semakin mantap kala melihat kondisi dan penyakit Kakeknya. Maka dari itu dari semula dia ingin menjadi dokter dan menolong mereka kelak tanpa pamrih, bahkan jika tidak bisa membayar, dia akan menggratiskannya.
Hitha tertawa kecil membuat Tini bahkan Qeira menatapnya aneh.
“Tante kenapa tertawa?” tanya Nazarel aneh, apa yang lucu dari hal itu?
“Karena Fino juga masuk jurusan kedokteran di kampus yang sama denganmu, jadi kalian satu fakultas nantinya.” Dengan senangnya Hitha mengatakan kalau anaknya akan satu jurusan dan satu kampus dengan Nazarel.
“OH BENARKAH?!” tanya Naza kaget.
“Ya, kenapa kau kaget, Naza?” tanya Hitha tahu apa yang membuat gadis itu terkejut. Pasti tidak menyangka akan satu fakultas dengan anaknya.
Qeira jadi menatap curiga padanya.
“Aku hanya sedikit kaget karena senang, ternyata Fino juga akan satu kampus denganku lagi,” jawab Nazarel terlihat tenang kembali. Tetapi tidak dengan hatinya yang jadi berdebar kencang. Sebenarnya dia ingin pindah kampus saja sebab semenjak insiden kelulusannya yang memalukan, dia tidak ingin bertemu lagi dengan Fino. Tetapi takdir ternyata tidak pernah bercanda, dia malah satu jurusan dan satu kampus dengan Fino. Sudah pasti nanti hampir setiap hari mereka satu kelas dan bertemu dan dia tidak bisa pindah kampus saat ini karena waktu pendaftaran sudah lewat.
Bi Karsih ART rumah itu ikut tersenyum. “Tidak disangka ya, Nyah Hitha (Nyonya). Keduanya sudah menikah dan memiliki istri yang cantik-cantik. Bapak dan Ibu (Kakek dan Nenek) pasti sangat bangga sebab istri kedua cucunya berbakat, satu menjadi pengacara terkenal, dan satu lagi calon dokter.”
“Siapa yang masuk kedokteran?” tanya Zicko datang dengan Zand yang menenteng seember ikan yang sudah bersih lalu ditaruhnya di dekat Hitha.
Tini yang menjawab. “Nazarel dan Fino, ternyata keduanya satu jurusan dan kuliah di kampus yang sama juga.”
“Benarkah?” tanya Zicko melirik Zand lalu Nazarel.
Nazarel hanya mengangguk saja. Sementara Zand memang tahu jika istrinya mengambil jurusan kedokteran dan penuh dengan dukungannya. Yang dia tidak tahu jika Fino masuk kedokteran juga. Dia bahkan tidak tahu jika Fino dulunya adalah pemuda yang ditaksir Nazarel selama beberapa tahun.
Zand tersenyum tipis. “Baguslah kalau begitu, biar ada yang menjaganya di kampus jika ada apa-apa.”
“Menjaganya?” Qeira jadi ikut berbicara, “jangan katakan kau akan menjadikan Fino sebagai mata-matamu di kampus. Secara Nazarel sangat cantik dan manis, sudah pasti bakalan banyak yang naksir padanya.”
Nazarel jadi menatap Zand. Jangan sampai seperti itu karena dia bahkan tidak sanggup terus bertemu dengan Fino dan jangan sampai juga Zand malah meminta Fino untuk menjaganya dan menemaninya di kampus.
“Sebenarnya dia tidak perlu dijaga juga sih, karena aku percaya dia tahu kalau sudah punya suami dan tahu apa yang harus dan tidak harus dia lakukan nanti,” jawaban Zand sungguh diluar dugaan semuanya.
Qeira menjadi kecewa tetapi ditutupinya dengan senyuman.
Nazarel malah menaikkan sudut bibir atasnya tanda meledek dan tidak percaya kalau Zand sangat percaya padanya. Siapa tahu kedepannya, pria itu akan menjadi semakin posesif.
Semuanya jadi tersenyum mendengar jawaban Zand. Suami istri memang harus saling percaya.
“Bumbu ikannya sudah siap?” tanya Zicko memecah keheningan sejenak itu.
“Sudah, tinggal bawang merahnya saja sedikit lagi,” jawab Nazarel sudah perih matanya dari tadi mengupas bawang merah.
Zand jadi kasihan melihatnya. “Biar aku bantu,” ujarnya duduk di dekat Nazarel. Ia mengusap air mata di pipi Nazarel. “Perih ya?”
Nazarel mengangguk sembari menipiskan bibirnya. Dia tidak bisa mengusap air matanya karena sedang mengupas bawang.
“Payah,” gumam Zand dengan kekehan kecilnya.
Zicko juga duduk di kursi sebelah Qeira. “Kamu tidak istirahat saja? Nanti pusing kepalanya kambuh lagi.”
“Tidak apa, aku sudah minum obat dan Tante Tini kangen masakanku. Jadi aku bantu-bantu sedikit.” Qeira mengusap keringat di kening Zicko dengan belakang punggung tangannya.
Nazarel melirik sekilas ke arah mereka, masih tidak percaya jika wanita itu sangat mencintai suaminya. Buktinya, dia malah masih berani menggoda adik ipar yang tak lain adalah suaminya itu.
Zand ikut mengulek bumbu ikan. Dari semua masakan, tinggal menggoreng ikannya saja.
Karena banyak yang membantu. Akhirnya masakan selesai juga lalu disiapkan di ruang tengah yang luas. Makan di atas tikar membuat nuansa dan suasana menjadi semakin hangat.
“Wahh, banyak makanan enak hari ini,” kata Alfian jadi semakin lapar.
“Ada masakan Qeira juga,” ujar Tini menuduhkan mana saja yang dimasak Qeira.
Qeira jadi tersipu malu. “Hanya mengolah saja, tapi semua bumbunya arahan dari Tante Tini dan Tante Hitha juga menurut selera Kakek dan Nenek.”
“Ya, sudah lama juga kami tidak memakan masakanmu Qeira. Terima kasih sudah mau membantu memasak,” jawab Nenek senang.
Nazarel hanya diam saja. Karena dia hanya membantu mengupas dan mengulek bumbu saja.
Hitha menyadari reaksi Nazarel kala Qeira dipuji Kakak mertuanya. “Tapi semua bumbu dan sambalnya, Nazarel yang mengolahnya (mengupas dan menguleknya). Jadi terima kasih juga untuk pengantin baru.”
“Akhh bukan apa-apa, Tante. Jadi tidak usah berterima kasih,” jawab Nazarel malu sendiri merasa tidak pantas untuk dipuji.
“Kalau begitu, selamat makan semuanya.” Fino yang duduk bersila di dekat Alfian tersenyum penuh semangat. Untuk pertama kalinya secara tidak langsung dia akan memakan masakan Nazarel atau lebih tepatnya, olahan bantuan tangan Naza di semua makanan itu.
Makanan biasa di kampung tapi terasa istimewa bagi Nazarel. Dia merasa hangatnya keluarga itu sama seperti hangatnya keluarganya kalau makan. Jika keluarganya semua makan di meja makan. Untuk pertama kalinya dia makan sambil duduk di atas tikar.
Semuanya mengambil makanan masing-masing yang terhidang di depannya. Ikan goreng, sambal tiga macam (sambal kecap, sambal goreng hijau dan sambal kacang), tempe, tahu, tumis kangkung, sambal goreng kentang, perkedel jagung, dan sayur bunga kol, lengkap dengan lalapan hijau mentah dan juga kerupuk. Tidak terlalu mewah tetapi akan terasa semakin nikmat jika dimakan bersama dengan orang-orang tercinta.
Zand menyodorkan piringnya kepada Nazarel.
“Aku sudah punya piring kok,” jawabnya mengangkat piring kosong di depannya. Mengira jika Zand memberikan piring padanya.
“Ambilin nasinya, tanganku tidak bisa menjangkaunya,” jawab Zand mengangkat alisnya menunjuk nasi di bakul bambu dekat Nazarel.
Nazarel mengerjap heran. Padahal jika Zand bangun atau bergerak dari duduknya, dia bisa menjangkaunya dengan tangan sepanjang itu.
“Hmmm?” Zand masih menyodorkan piring pada Naza.
Nazarel sangat kesal tetapi mustahil jika dia menolaknya. Bisa dicap istri durhaka dia nantinya. Akhirnya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan, Naza mengambilkan nasi untuk Zand. Sementara lauknya Zand sendiri yang mengambil sebab dia tidak tahu apa saja kesukaan Zand dari semua masakan itu.
Ternyata Zand tidak mengambil semua lauk di depannya. Dia hanya mengambil ikan goreng, sambal kacang, tempe, tahu dan perkedel jagung saja ditambah dua kerupuk udang bundar.
Nazarel mengambil perkedel jagung, tumis kangkung, tempe dan sambal goreng hijau dan satu kerupuk.
“Tidak makan ikan?” tanya Zand melihat Nazarel tidak mengambil hidangan utamanya yaitu ikan.
Nazarel menggelengkan kepalanya. “Lagi tidak ingin makan- ehhh?” ia kaget karena Zand menaruh daging ikan yang sudah bersih dari tulang-tulangnya dari piringnya ke atas piring Naza.
“Makan ikan, biar tidak terlihat lemas terus dan tidak terjatuh lagi di pematang sawah karena kurang fokus dalam berjalan.” Ucapan Zand terdengar penuh perhatian tetapi Naza malah mendengarnya dia diledek Zand seolah kekurangan zat besi atau vitamin.
Semuanya tersenyum tersipu mengira jika ucapan lemas adalah tanda dua kutip tentang pengantin baru. Pasti Naza terjatuh karena belum normal dalam berjalan setelah berbulan madu dan melepas kevirginannya.
Otak Naza jauh dari apa yang sedang dipikirkan orang-orang disekitarnya itu. Hanya sesekali melirik Fino yang diam-diam tersenyum dan meliriknya juga membuatnya menunduk terus tak berani melihat ke sana kemari.
Semuanya terdiam menyantap makanan masing-masing dan sesekali memuji soal masakan hari itu. Sampai Hitha memecah keheningan di sana. “Oh ya, Fino. Apa kau tahu jika Naza ternyata masuk kampus BNU yang sama denganmu dan juga mengambil jurusan kedokteran. Kalian akan satu kelas nantinya, kan?”
“Uhukkk uhukkk.” Nazarel jadi tersedak mendengarnya.
“Minum-minum,” kata Zand memberikan gelas air putihnya karena gelas Nazarel sudah kosong. “Kalau makan jangan buru-buru, kebiasaan.” Omelannya itu penuh kekhawatiran, tetapi selalu dianggap bawel sama Naza.
Nazarel dengan terburu-buru meminum air putih itu sembari melirik sebal pada Zand.
Qeira melihat Zand memberikan gelas air putih yang tadi diminumnya. Dia semakin kecewa sebab selama ini dia bahkan belum pernah berani meminum dalam gelas yang sama dan perlakuan Zand saat pacaran dengannya sungguh berbeda dengan perlakuan Zand pada istrinya. Padahal mereka pernah berciuman. Apakah benar jika keduanya sudah melakukan hubungan suami istri? Benarkah Nazarel mau melakukannya dengan Zand? Membayangkannya saja sudah membuat hatinya terasa sakit.
“Benarkah, Ma? Akhirnya ada juga yang satu fakultas dari sekolah yang sama juga denganku.” Fino terlihat biasa saat mengatakannya. Padahal dalam hal ini hatinya masih tidak menyangka juga. Apakah benar itu hanya kebetulan? Atau Nazarel memang masih memiliki rasa padanya sehingga dia juga masuk ke kampus yang sama dan mengambil jurusan yang sama pula dengannya? Bolehkah dia mempunyai pikiran yang lebih seperti itu? Bolehkan dia baper dengan pikirannya sendiri?
Mampus aku. Rutuk Nazarel dalam hati membayangkan apakah dia sanggup terus bertemu dengan pria yang dulu disukainya itu? Benarkah dia sudah move-on dari pemuda itu? Bagaimana jika Zand tahu perasaan masa lalunya terhadap Fino? Dia harus memikirkan sesuatu supaya nanti Zand tidak salah paham padanya. Tapi, dimulai dari mana ia harus menjelaskannya?
*BERSAMBUNG YA* Pengumuman sedikit. Untuk yang mau cerita Arvano dan Syahika. Sudah mulai di up ya dengan judul 'INTO YOUR HEART' dan mulai hari ini akan aktif lagi menulis karena tugas di laut sudah selesai jhehe doakan lancar dan sampai tamat lagi ya, terima kasih atas kesabaran kalian.