Sean Arthur berjalan melewati depan kubikel-kubikel para staf kantor yang sedang menunduk, menekuri berkas-berkas di atas meja kerja mereka. Tak berani menengadahkan kepala, semua begitu sibuk atau sepertinya pura-pura sibuk, mengerjakan apa saja agar tetap terlihat sibuk karena ada sang atasan tiba-tiba datang melewati area kerja mereka.
Sebuah gebrakan di pintu itu terdengar memekakkan telinga, membuat semua orang yang berada dalam satu lantai itu terkejut, mendongakkan kepala, melihat hal apa yang terjadi. Sean dengan aura gelapnya menatap tajam ke arah seseorang yang sedang berada di dalam ruangan itu.
"Maafkan saya, Tuan!" Seorang laki-laki terlihat mengiba, membungkuk kepada Sean dengan menyentuh kaki lelaki itu.
"Leon!" Sean memanggil asistennya. "Aku tidak ingin melihatnya!"
Leon mengangguk, dia mengedikkan dagu ke arah belakang di mana pengawal Sean yang mengenakan stelan formal serba hitam berada. Mereka beranjak mendekat, menyeret pria menyedihkan itu menjauh dari majikannya.
"Kumohon, Tuan. Mereka mengancam saya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa." Kembali pria itu mengiba, tetapi Sean tidak peduli. Ia membiarkan para pengawal mengeluarkan pria berstatus manager di perusahaannya itu pergi.
Geraham lelaki itu mengeras, giginya gemeretuk merasakan kekecewaan kepada orang-orang yang ia percaya. Dia membenci pengkhianat, apa pun alasan mereka.
Dia berlalu setelahnya, meninggalkan aura gelap dan menakutkan semua orang yang berada di lantai itu. Tanpa berani menatap ke depan, mereka kembali dengan pekerjaan yang telah menunggu di atas meja.
Sean menghela napas kasar. Menyandarkan punggung di sandaran kursi putar, lalu sedikit memijit pelipisnya.
"Tuan, ini bekal yang Anda minta." Seorang laki-laki berperawakan tegap dengan tubuh sedikit kurus membawa sebuah kotak makan berwarna silver berbahan stainless stell.
Leon yang berada di tempat memperhatikan kotak makan itu, menatapnya dengan mengerutkan kening. Sejak kapan seorang Sean Artur membawa bekal ke kantor?
"Letakkan di meja!"
Tanpa banyak bicara, lelaki itu meletakkan kotak bekal tersebut di atas meja kerja Sean, lalu segera undur diri.
"Kau ... membawa bekal?"
"Hanya makan pagi yang belum sempat kumakan."
Leon memperhatikan kotak makan itu. Memang makanan seperti apa yang membuat Sean rela membawanya sampai ke kantor? Rasa ingin tahunya menggebu-gebu, menatap dengan begitu penasaran sehingga ia mengambil kotak makan itu untuk memeriksa isinya.
"Apa yang kau lakukan!" Sean menghardik, tetapi kotak makan itu telah berhasil dibuka oleh Leon.
"Beef steak?" ucap Leon setelah melihat daging steak yang telah terpotong sedikit.
"Tutup kembali! Aku akan memakannya."
"Apakah rasanya enak? Aku penasaran sampai kau membawanya ke kantor." Leon mengambil pisau yang berada dalam kotak makan itu, ingin memotong sedikit saja daging berbumbu itu. Namun, sebelum lelaki itu berhasil melakukannya, Sean segera mencegahnya.
"Singkirkan tanganmu. Ini milikku!"
Lelaki itu meraih paksa kotak makan itu, mempertahankannya secara primitif seolah tiada seorang pun yang boleh mencicipinya.
"Kau berlebihan hanya karena makanan, Sean."
Sean berdehem sejenak. Ia juga merasa aneh ketika kotak makan itu direbut orang lain, hatinya tak rela. "Aku ... hanya sedang lapar. Jangan membuatku kesal. Keluar sana!"
Leon akhirnya mengalah, tak ingin mendebat apa yang Sean bicarakan, lelaki itu segera pergi dari ruangan atasannya.
Kini, tinggallah lelaki itu seorang diri, menatap daging tebal berbalut bumbu yang pagi tadi ditolaknya. Garpu dan pisau diraihnya, memotong daging tersebut dengan irisan tipis, lantas memasukkan ke dalam mulutnya.
Rasanya sedikit berbeda, tetapi ia menyukainya.
Sean menandaskan semuanya, tak bersisa sedikit pun. Rasanya masih kurang, mungkin selera makannya mulai bertambah. Dia menggeleng kemudian, memanggil office boy untuk membereskan peralatan bekas makannya itu.
Saat malam menjelang, yaitu ketika Sean baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan kolega bisnisnya, Leon menawarkan sesuatu kepadanya. Tawaran yang memang jarang sekali ia tolak karena sebagai kebutuhan yang tidak bisa dielakkan.
"Penyanyi yang sedang naik daun. Nona Lunetha mengabarkan bahwa dia menyediakan waktu untukmu malam ini. Apakah kau bersedia?"
Sean yang bersandar di punggung jok mobil bagian kabin penumpang hanya menghela napas kasar, tetapi ia mengangguk juga setelah berpikir sebentar. "Oke!"
"Baiklah, aku akan menghubunginya agar ia bersiap diri."
***
Di salah satu hotel berbintang, di presidentsuite room seorang wanita cantik berdarah China dengan pakaian minimalis memamerkan lekuk indah tubuhnya yang semampai. Ia sudah menunggu seseorang yang merupakan sumber dollar baginya. Ia sudah mengantre sejak lama, karena tak mudah untuk bisa berkencan dengan pria berdarah Kanada itu.
Perempuan itu adalah Lunetha, penyanyi yang sedang naik daun dengan suara indah mendayu-dayu. Ia sudah tidak sabar bisa menaklukan seseorang yang kini sedang menuju ke ruangan itu.
Sekitar dua puluh lima menit menunggu dengan perasaan berdebar-debar, Lunetha akhirnya melihat siluet lelaki yang membuka pintu kamar ruangan gelap itu. Ya, ia memang sengaja mematikan lampu utama dan membiarkan si pria pujaannya untuk menyalakannya sendiri.
Dia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Tubuh yang bersih tanpa noda, perawatan kewanitaan yang rutin dan satu lagi. Dia sudah mempelajari bagaimana bermain agresif di atas ranjang. Perempuan itu yakin jika lelaki itu akan mencarinya lagi setelah merasakan kenikmatan permainannya malam ini.
"Selamat bersenang-senang." Leon menutup pintu itu, menunggu atasannya di bawah. Sementara di bagian depan para pengawal sudah berjajar menunggu di depan.
Perempuan itu berpose di atas ranjang begitu lampu ruangan besar itu dinyalakan. Dia sangat cantik, bibirnya merah merekah, tubuhnya mulus sempurna. Tiada kaum hawa yang bisa mengabaikan wanita secantik itu.
"Aku ingin kita mulai sekarang!" Sean berkata dingin. Tak ingin banyak berbasa-basi. Baginya semua wanita sama saja. Hanya menginginkan uang dan uang. Hartanya yang begitu banyak membuat para wanita mau berlomba-lomba untuk bisa naik ke atas ranjangnya, mengambil beberapa keuntungan setelah melakukan malam panas bersamanya.
Bosan, tentu. Hal itu sangat membosankan baginya. Mereka semua sangat mudah ia taklukkan. Bahkan, ia tidak perlu repot-repot meminta karena wanita-wanita itu dengan senang hati menawarkan diri kepadanya.
Wanita cantik, tubuh wangi, dan selalu bersikap sensual kepadanya adalah hal yang biasa. Sehingga Sean melakukan hal itu bertujuan hanya membuang cairan yang memang harus dikeluarkan dari organ vitalnya tanpa melibatkan perasaan.
Wanita itu terkejut mendengar perkataan Sean. Sedikit kikuk, dia beranjak dari pembaringan, segera berdiri, lalu mendekat kepada Sean.
"Ti-dak mengobrol dulu, Tuan? Atau kita bisa minum. Saya akan menemani Anda minum sepuasnya."
Sean menatap wanita itu tajam. Tiada aura keromantisan pada diri pria itu. "Lakukan atau keluar!"
"I-iya. Akan saya lakukan!"
Wanita itu mulai melakukan perannya. Melucuti jas yang Sean kenakan, melepas satu per satu kancing lelaki itu. Dia mendominasi permainan, tidak ada gerakan sama sekali dari seorang Sean Arthur membuatnya kesal.
'Tidak, ini demi uang yang akan ia dapatkan malam ini, dia harus memberikan pelayanan maksimal.'
Hingga ketika Lunetha ingin mencium bibir lelaki itu, sekelebat bayangan wajah Salwa menari di kepalanya. Bibir itu, tatapan mata itu begitu mengganggunya. Dengan tangkas, Sean segera mendorong tubuh urian yang sedang memeluknya tersebut menjauh.
"Cukup! Sebaiknya kau pergi," ucapnya tak berbelas kasihan.
"A-pa?" Wanita itu bertanya tidak mengerti. Apakah ia melakukan kesalahan?
"Aku bilang pergi! Keluar!"
"Tapi, Tuan ...."
Tatapan tajam lelaki itu cukup membuat Lunetha menghentikan pertanyaan yang menggantung itu. Ia segera beranjak dari atas ranjang, memunguti pakaian-pakaian yang ia lucuti sendiri.
Sungguh ini sebuah penghinaan baginya. Ia tidak oernah direndahkan seperti ini. Bahkan, seorang pejabat negara pun sangat memujanya. Ada rasa kesal sekaligus penasaran. Ia yakin seorang Sean Arthur pasti sangat ahli di atas ranjang. Dia bahkan bisa berfantasi hanya melihat otot kekar yang tak berpenghalang itu. Mungkin, dia akan menaklukkan lelaki itu lain waktu. Ya, dia berjanji akan menaklukkan pria itu dan membuatnya memohon-mohon di bawah kakinya untuk bisa bercinta.
Sean mengusap wajahnya kasar begitu Lunetha keluar dari presidentsuite room. Bagaimana bisa wajah pembantunya itu tiba-tiba terbayang di kepalanya? Mata itu, bibir itu, ternyata mampu mengaluhkan dunianya.
Tatapan mata bulat yang begitu polos, seperti anak kucing penurut dan menggemaskan, Sean tidak bisa mengabaikan tatapan itu sehingga membuatnya gagal bercinta malam ini. Tidak mungkin berhubungan badan dengan membayangkan wajah wanita lain, bukan?
Itu tidak ada dalam kamus Sean Arthur.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi padanya?