Sean Arthur memilih pulang setelah gagal menyalurkan hasrat biologisnya. Ia masih bingung dengan dirinya sendiri. Bagaimana wajah seorang pembantu justru melintas di kepalanya ketika dia sedang berhubungan badan?
Tidak mungkin dia tertarik dengan perempuan dari kasta rendah seperti Salwa. Apa kata dunia jika mengetahui seorang pengusaha yang merajai bisnis di banyak bidang justru tertarik kepada pembantu sendiri. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Sean menggelengkan kepala, memastikan jika apa yang ia bayangkan baru saja adalah hal yang tak mungkin terjadi. Meskipun ia tak menampik jika sampai saat ini, perempuan itu sempat membuat perhatiannya teralihkan.
Hampir pukul dua belas malam, Sean baru sampai di penthouse. Pandanganya menyapu sekeliling, semuanya masih sama, sepi seperti biasa.
Sean memilih langsung masuk ke dalam kamarnya, untuk segera mengistirahatkan diri. Namun, rasa kantuk belum juga merengkuh dirinya lantaran hasrat belum bisa tertuntaskan.
"Sial!" Ia mengacak rambutnya kasar, merasa frustrasi dengan apa yang dirinya alami.
Sean beranjak dari pembaringan, merasa tidak bisa tidur, ia memilih untuk membuat s**u hangat di pantry dapur. Agak cepat kakinya melangkah, menuruni anak tangga untuk menuju dapur di lantai bawah. Namun, tepat ketika dirinya melewati pintu kamar Salwa, dia berhenti. Matanya tergelitik untuk melihat ke dalam, penasaran akan apa yang perempuan itu lakukan di kamarnya. Tangannya tanpa terasa telah memutar kenop pintu dan ... terbuka.
Seperti sedang hendak mencuri, lelaki itu sedikit gugup begitu pintu kamar Salwa terbuka. Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada kegugupan yang tiba-tiba melanda. Begitu ia masuk ke dalam ruangan minim pencahayaan itu karena lampu utama sengaja dimatikan dan hanya menyisakan lampu kecil yang digunakan untuk tidur, ia disuguhkan dengan pemandangan yang sulit untuk dilewatkan.
Kakinya melangkah perlahan agar tidak menimbulkan suara sedikit pun, mendekat secara hati-hati dalam senyap. Dia menekuk kaki, lantas menatap sosok yang sedang tidur terlelap itu.
Ya, Salwa tidur dalam posisi miring menghadap Sean Arthur, mulutnya sedikit terbuka dengan dengkuran halus yang khas keluar dari bibirnya.
Lelaki itu mengamati wajah polos Salwa, hingga tanpa disadari wajahnya kian dekat dengan wajah perempuan itu.
Salwa menggerakkan tubuhnya, mengeliat, berganti posisi yang sebelumnya miring menjadi telentang. Pun dengan posisi kakinya turut berubah membuat selimut yang sejak tadi berada sebatas pinggang, turun sampai ke bawah lutut, memperlihatkan paha putihnya karena kain perempuan itu ikut terangkat.
Sean mengeram, ia sudah tidak tahan lagi. Mengapa hanya melihat gaya tidur pembantunya, darahnya turut memanas dan berdesir. Tubuh perempuan itu seperti menguarkan feromon memabukkan yang mampu memikat dirinya. Bahkan, ia tak bisa mengendalikan yang di bawah sana.
"Sial!" umpatnya sedikit keras.
Perkataan Sean tersebut mampu mengejutkan Salwa, menarik perempuan itu dari alam bawah sadarnya. Mata bulat itu mengerjap, lantas membelalak terkejut begitu melihat Sean berjarak begitu dekat dengannya.
"Tu-tuan ...." Salwa segera beranjak, lantas mengubah posisinya menjadi duduk. Tangannya secara sadar mengucek kedua matanya, memastikan apa yang berada di depannya itu tidaklah benar. "Tidak mungkin. Pasti hanya mimpi," gumamnya lirih.
Percuma. Berapa kali ia kucek mata, Sean masih berada di sana, duduk di ranjangnya dan menatapnya.
Wajah kebingungan dengan suara sedikit serak khas orang bangun tidur itu justru terlihat semakin menarik, membuat Sean semakin kesal saja. "Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku hanya ingin membangunkanmu!" Ia mengelak. "Buatkan aku minuman hangat!" imbuhnya.
"Emm, iya. Tuan keluarlah dulu! Saya akan membuatkannya."
"Antar ke kamarku segera!" Sean berdiri kemudian, lantas keluar dari kamar Salwa setelah mengucapkan hal itu.
Salwa menyambar kuncir rambut di atas nakas, mengikat rambutnya dengan kuncir kuda. Mengenakan outer panjang karena pakaian tidurnya berlengan pendek. Dengan segera ia menuju pantry guna membuatkan minuman hangat untuk sang majikan.
"Tunggu! Minuman hangat?" Salwa terlupa untuk menanyakan minuman hangat apa yang Sean minta. Dia berdecak, mengentakkan kaki, kesal karena tak memikirkan hal itu sebab belum sepenuhnya sadar terbangun dari tidur. Hingga ia mengembuskan napas kasar, lalu pergi ke kamar Sean untuk bertanya ulang.
Pintu itu tertutup, tetapi Salwa yakin jika sang majikan berada di dalam kamar. Dengan ragu, ia mengetuk pintu itu kemudian.
Hanya dengan dua kali ketukan, Sean membuka pintu itu dengan cepat. Lelaki itu berdiri tepat di depan Salwa.
Wajah Salwa memerah begitu matanya dihadapkan dengan tubuh atletis berbalut jubah tidur yang diikat serampangan. Ia menunduk, memundurkan langkah.
"Maaf, Tuan. Saya lupa menanyakan minuman apa yang Tuan inginkan."
"Apa?"
***
Sean duduk di bar stool, mengamati punggung Salwa yang sedang meracik teh untuknya.
Teh yang diinginkan tidak diracik sembarangan. Ada tata cara khusus yang sudah dituliskan di buku resep sesuai standart restoran bintang lima.
Tangan kecil itu tampak begitu cekatan melakukan pekerjaannya, meskipun beberapa kali ia mengecek untuk menyamakan hasilnya dengan yang ada di dalam buku resep itu.
Satu cangkir teh sudah diseduh dan terhidang di atas meja bar. Kepulan asap di atasnya bergelung, mengeluarkan aroma wangi yang berpesta pora di rongga hidung Sean Arthur. Sepertinya untuk pekerjaan Salwa kali ini tiada cela yang bisa membuat lelaki itu memarahinya.
"Saya permisi kembali ke kamar, Tuan." Salwa berkata dengan menahan kuapan di bibir.
"Siapa yang mengizinkanmu kembali ke kamar?"
Salwa yang hendak melangkah pergi, menahan diri untuk tidak beranjak. "Maaf, Tuan."
"Duduk! Temani aku selesai minum," ucap lelaki itu tegas.
Salwa menganngguk patuh. Ia menyeret satu barstool, lalu duduk dengan menundukkan wajah. Baru kali ini ia duduk berdua dengan majikannya. Rasanya sangat aneh dan tidak nyaman. Apalagi lelaki itu hanya mengenakan jubah tidur, yang Salwa yakini jika di dalamnya lelaki itu tak mengenakan apa pun. Wajah Salwa kian memerah membayangkan hal itu, lantas ia menggeleng, mengusir pikiran liar yang sedang bersarang di kepalanya.
Sean menyesap dengan perlahan teh itu, hanya sedikit karena suhunya belum hangat. Tangannya sibuk menscroll ponsel pintarnya, mengabaikan Salwa yang sudah teramat mengantuk. Berkali-kali perempuan itu menggelengkan kepala guna mengusir rasa kantuk yang sedang menerpanya. Namun, tetap saja itu tidak berguna karena sampai saat ini kantuk itu semakin menjadi-jadi.
Hingga pada akhirnya, sebelum Sean menghabiskan minumannya, Salwa sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Perempuan itu tertidur dengan kepala bertumpu pada meja bar tepat berada di depan lelaki itu.
***
Salwa mengerjapkan kelopak mata begitu suara alarm jam beker di sampingnya terdengar nyaring di telinga. Matanya tampak kebingungan menyadari dirinya telah berada di kamarnya sendiri, padahal ia masih ingat dengan jelas bahwa semalam dia sedang berada di dapur dan ... ketiduran.
Lantas, bagaimana dia bisa tidur di dalam kamarnya sendiri?
.