Ketika pagi menjelang di hari Minggu, Salwa sudah selesai menata sarapan pagi di atas meja makan. Dari arah depan, ia bisa melihat Sean Arthur baru saja masuk dengan mengenakan pakaian olahraga. Sepertinya lelaki itu menyempatkan diri untuk melakukan lari pagi sebentar di area jogging park di mana penghuni apartemen melakukan aktivitas olahraga santai.
Melirik sekilas ke arah Salwa, Sean mengabaikan perempuan itu yang tampak memperhatikannya seolah ingin menyampaikan sesuatu.
Untuk saat ini, sebaiknya menghindari Salwa adalah jalan yang terbaik. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan akan apa yang dilakukannya semalam, yaitu memilih menggendong perempuan itu daripada membangunkannya agar bisa kembali ke kamarnya. Seharusnya ia tidak perlu merendahkan diri dengan membawa tubuh Salwa yang berstatus sebagai pembantu dengan menggunakan kedua tangannya sendiri. Lantaran takut jika tidur perempuan itu terusik, Sean sangat berhati-hati ketika menggendongnya.
Kejadian semalam masih tidak bisa diterima oleh akal sehatnya. Dia seorang pria yang biasa dipuja-puja wanita, justru mau melakukan hal itu kepada wanita yang bukan siapa-siapa. Tentunya, Sean tidak akan membiarkan kejadian tersebut bisa diketahui oleh orang lain karena bisa merusak reputasinya sendiri.
Setelah selesai membersihkan diri, Sean turun dari kamarnya menuju meja makan, tentunya setelah menyadari jika Salwa sudah tidak berada di tempat itu.
***
Ruangan kerja yang seharusnya libur untuk satu hari, tampaknya tak berlaku bagi seorang Sean Arthur. Ia masih menekuri laptop yang menampilkan cahaya biru menerpa wajahnya. Keningnya berkerut, menatap serius apa yang tersaji di layar digital tersebut.
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya, ia menghela napas setelah mengecek dari kamera CCTV jika Salwa yang berada di depan pintu sedang membawa minuman pesanannya.
"Masuk!" ucap Sean Arthur dengan lantang.
Pintu itu terbuka, tetapi lelaki itu tak berniat melihatnya. Tatapannya masih tak beralih dari rentetan gambar dan huruf serta angka yang tertera di layar komputer tersebut.
Salwa meletakkan secangkir kopi di atas meja Sean Arthur. Seharusnya ia harus segera pergi dari ruangan itu setelah menyiapkan minuman, tetapi perempuan itu justru berdiri di depan meja, tak beranjak sedikit pun dari ruangan tersebut.
Ketika Sean menyadari Salwa tak kunjung pergi, ia akhirnya mau menatap perempuan itu yang sejak pagi dihindarinya.
"Masih di sini?"
Bibir Salwa seolah ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ada rasa ragu yang membelenggu hatinya. Tangannya saling bertaut, meremas satu sama lain. Namun, pada akhirnya ia mengatakannya juga.
"Tuan, ... bolehkah saya meminta bantuan?"
Sean mengernyit, berani sekali seorang pelayan meminta bantuan kepadanya. Karena merasa tidak ditanggapi dengan baik, Salwa akhirnya mengurungkan niatnya untuk meminta tolong kepada Sean.
"Maaf kalau saya lancang. Saya ... permisi."
Dia berbalik, hendak pergi dari ruangan itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh kenop pintu, Sean mencegahnya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?"
Salwa menyunggingkan senyum tipis. Setidaknya lelaki itu menahannya pergi sehingga ada harapan baginya untuk mengutarakan maksud dan tujuannya meminta bantuan itu. Dia berbalik, menunduk, dan maju satu langkah. "Maaf," ucapnya dengan kepala menunduk sopan.
"Katakan!"
Salwa menghirup udara dalam-dalam, mengumpulkan pasokan oksigen sebelum memberi tahu permintaannya kepada Sean Arthur.
"Mungkin permintaan saya sangat lancang, tetapi saya sangat membutuhkannya." Salwa menjeda kalimatnya sejenak, menatap ekspresi Sean yang masih sama seperti sebelumnya, menyeramkan. Sorot mata lelaki itu begitu tajam. Bahkan, Salwa tak berani berlama-lama menatap iris biru yang seharusnya begitu indah jika dipandang. "Bolehkah saya meminjam komputer Tuan sebentar?"
"Apa katamu? Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau minta? Berani sekali kau meminjam barang penting dan sangat privasi seperti komputer? Banyak data penting di sini. Ingat posisimu yang hanya sebagai seorang pelayan."
Salwa terkejut dengan rentetan kalimat yang Sean ucapkan kepadanya. Ia hanya ingin meminjamnya sebentar, tetapi tanggapan Sean sangat berlebihan seolah ia akan merusak atau menghilangkan data-data penting perusahaan.
Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia masih menahan diri agar bulir bening itu tak sampai terjatuh membasahi pipinya.
"Maaf kelancangan saya, Tuan. Saya hanya ... ingin mengabari keluarga saya di rumah bahwa saya baik-baik saja dengan mengirim email kepada adik saya. Tapi, lupakan pemintaan saya barusan. Saya sangat sadar siapa saya. Terima kasih atas penjelasannya, saya tidak akan meminta bantuan Anda lagi."
Terlampau sakit hati, Salwa segera berbalik, lalu pergi dari ruangan Sean Arthur meskipun lelaki itu tidak menyuruhnya.
Dia berlari, mengusap air mata yang sudah tak bisa terbendung oleh pelupuk mata. Dia sudah terbiasa dihina, tetapi tetap saja itu meninggalkan luka di hatinya. Apakah orang miskin akan selalu dalam posisi terhina seperti ini?
Sean mengusap rambutnya kasar. Seharusnya ia terbiasa mengatakan hal buruk kepada mantan pelayannya dulu, tetapi ketika mata itu memandangnya dengan raut kecewa, hatinya ikut sakit merasakan.
"Sial!"
Dia beranjak dari duduk, lantas keluar dari ruang kerjanya. Bola mata kebiruan itu menyapu sekeliling, mencari keberadaan Salwa. Hingga di saat tatapannya merarah ke bawah, ia mendapati Salwa sedang menyeka air matanya sembari menunduk menatap meja. Tidak ingin terbawa suasana, lelaki itu segera memanggil Salwa.
"Hei! Cepat ke ruang kerjaku!" teriak Sean kemudian, dan dengan cepat ditanggapi oleh Salwa.
"Iya, Tuan."
Sean kembali ke ruang kerjanya dan diikuti Salwa di belakang. Perempuan itu sangat hati-hati ketika melangkah, memastikan tuannya berjalan terlebih dulu, baru dirinya.
"Kau ingin kirim email?" tanya Sean yang sudah berada di balik meja kerjanya dengan menyandarkan tubuh di kursi putar berpunggung panjang.
Salwa mengangguk. Sejak menginjakkan kaki ke tanah orang, belum pernah sekali pun Salwa memberi kabar kepada kedua orang tuanya. Ia takut jika nanti kedua orang tuanya mencemaskan dirinya karena tidak mendapatkan kabar darinya.
"Ini, pakailah sebentar!" Sean membalikkan komputer miliknya menghadap ke arah Salwa, menyuruh perempuan itu segera melakukan aktivitasnya.
Salwa tersenyum lebar. Ia segera duduk di kursi yang berada di depan meja Sean Arthur sehingga posisi mereka kini saling berhadapan.
Kening Salwa mengernyit ketika menyadari bahwa komputer di depannya berbeda dengan biasanya. Sean tidak menggunakan Operating System Windows seperti pada umumnya, karena ia memakai Operating System buatannya sendiri yang memiliki fitur keamanan canggih. System itu hanya digunakan pada semua komputer di perusahaannya sehingga ia lebih mudah menangkap kecurangan karena semua telah terakses pada satu server Database dan terhubung pada semua gadget yang ia miliki.
"Tuan, maafkan saya yang terlalu bodoh. Saya ... tidak mengerti cara menggunakannya."
Sean beranjak dari duduknya, sedikit berbaik hati dengan mengajari pembantunya itu agar lebih pintar. Menyadari Sean akan ke arahnya, Salwa bangkit, membiarkan lelaki itu untuk menggunakan kursi yang ia gunakan.
"Tidak perlu berdiri."
Perempuan itu duduk kembali, menatap ke depan di mana komputer telah menyala. Sean membungkukkan tubuh, meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan posisi lelaki itu tepat di belakang Salwa. Tubuh perempuan itu tanpa disadari terperangkap oleh lelaki itu.
"Lakukan seperti ini!" Sean mengarahkan kursor ke tempat yang seharusnya, membuka situs ternama, lantas meminta Salwa mengetikkan alamat emailnya. "Masukkanlah!"
Napas lelaki itu menerpa rambut Salwa, begitu hangat karena jarak yang sangat dekat. Sean bahkan bisa mencium bau rambut beraroma sampo perempuan itu yang terasa menggelitik indra penciumannya. Tanpa sadar Sean mengendusnya, seolah rambut itu kembali menguarkan Feromon yang memabukkan untuknya.
Hanya dalam waktu singkat, Salwa telah berhasil mengirimkan pesan untuk keluarganya. Entah bagaimana lagi caranya dia bisa berinteraksi, ponsel tidak punya, berkirim surat pun pasti terlalu lama sampainya. Sehingga ia memilih berkirin email, karena Salwa yakin jika Ahsan pasti akan mengecek emailnya sebab setiap hari Senin ada pelajaran komputer di sekolahnya.
"Terima kasih, Tuan."
***
Sean mengelap keringatnya menggunakan sapu tangan setelah selesai menyantap hidangan makan malam yang baru saja ia nikmati. Salah seorang Client telah memasukkan obat terlarang pada minumannya, berharap lelaki itu akan terjebak cinta satu malam dengan wanita suruhannya. Dengan kepala pusing berdentum sekaligus nyeri, lelaki itu menyewa satu kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya di rumah makan sekaligus hotel tersebut.
Dia berangkat bersama para bodyguard setia, tetapi tanpa mengajak asistennya. Lelaki itu membanting tubuhnya ke ranjang, begitu kamar hotel telah dibukakan untuknya. Rasanya begitu panas, hingga ia melepas dasi yang melingkar di leher, juga beberapa kancing atas kemejanya.
"Biar saya bantu, Tuan."
Sean baru menyadari jika sejak tadi telah ada wanita di kamar itu. Seorang wanita cantik dan tentu saja berpakaian minim dengan mempertunjukkan betapa indah bentuk tubuhnya. Ya, perempuan itu adalah Lunetha. Dia masih ingin mendapatkan seorang Sean Arthur dengan berbagai tipu daya.
Perempuan itu mendekat, lalu menaiki ranjang di mana Sean terbaring di sana. Dia membungkuk, meraih kemeja lelaki itu dengan melepaskan satu per satu kancing kemeja tersebut.
Semuanya terasa di luar kendali, sampai lelaki itu tersadar akan apa yang mungkin ia lakukan bersama perempuan itu.
"Kau, berani sekali menggodaku. Keluar! Kau menari tanpa berpakaian pun, aku tidak sudi menyentuhmu." Sean berteriak lantang, menatap wanita yang hampir menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Tapi, Tuan, aku tahu kau sangat butuh seorang wanita malam ini!"
"Cih! Sekali lagi kau menampakkan diri, aku tidak akan segan membunuhmu! Keluar!"
Bahkan, di saat Sean dalam pengaruh obat pun, lelaki itu masih bisa menolak pesonanya. Lunetha semakin tertarik dan terobsesi untuk menaklukkan lelaki itu. Dia keluar dengan perasaan kecewa, tetapi tidak bisa melakukan apa pun karena ia tidak mungkin bisa memaksa lelaki itu.
Sean memilih pulang setelah menyadari bahwa Client-nya itu membuat sabotase kepadanya. Ini sudah sering terjadi, sehingga ia selalu berantisipasi agar tidak melakukan one night stand dengan perempuan yang disediakan oleh Client-nya itu. Sebab ia tahu bahwa mereka sedang melakukan tipu daya untuk memerangkapnya.
Dia akan melakukan perhitungan dengan mereka-mereka yang telah berani berbuat curang kepadanya, tanpa terkecuali.
Keringat lelaki itu bercucuran, begitu deras hingga Air Conditioner di dalam mobil tak banyak berpengaruh. Obat itu cukup kuat membuatnya tak bisa mengendalikan diri.
"Tuan, apakah Anda baik-baik saja? Apakah Anda membutuhkan seorang wanita, kami akan mempersiapkan untuk Anda."
"Diam! Tambah kecepatannya." Sean ingin segera mandi air dingin, melenyapkan hasrat yang menggebu di dalam diri.
Lamborghini Veneno itu melaju gesit di gemerlapnya malam kota Kowloon.
Hanya butuh lima belas menit, Sean sudah mencapai penthouse setelah menaiki elevator khusus menuju lantai teratas gedung tersebut.
Dia mulai tak terkendali, entah apa yang ia rasakan dan bisikan dari mana. Hingga keinginannya untuk mandi air dingin urung ia lakukan begitu matanya menatap ke arah kamar Salwa. Sorot matanya tampak memancarkan hasrat menggebu yang sesungguhnya. Langkahnya pun semakin melebar ketika menuju ke tempat itu.
Brak!
Suara pintu didobrak mengagetkan Salwa. Perempuan itu terbangun dari tidurnya, mengubah posisi menjadi duduk, beringsut menjauh dengan bersandar di kepala ranjang sembari menarik selimut sampai sebatas d**a.
"Tu-tuan, ...."