Ratih yang sedang asyik mengobrol, dengan teman-teman dekatnya yaitu Nova dan Hesty di kantin sekolah, tiba-tiba terkejut dengan suara teriakan yang memanggilnya.
"Ratih! Di mana kamu?" teriak seorang siswi, dan segera mendekati meja Ratih penuh emosi.
Braaakh... Suara gebrakan meja kantin, hingga menggetarkan mangkuk baso di atasnya.
"Ratih, apa maksud kamu melaporkan saya ke wali kelas?" tanya Mieke kesal.
"Maksudnya?" tanya Ratih, pura-pura tak mengerti.
"Haish... Kamu jangan berlagak b**o. Akan ku buat perhitungan, hingga kamu menyesal." gertak Mieke, menatap Ratih tajam.
Hissst... Ratih mendesis kesal, segera berdiri dan menarik kerah baju Mieke, yang berani membentaknya.
"Kamu pikir, saya takut dengan ancaman kamu? Hah!" tanya Ratih tersenyum sinis.
Mieke ikut tersenyum menatap Ratih, membuat Ratih heran. Karena, biasanya Mieke selalu ketakutan jika Ratih melawannya.
"Oke, lihatlah. Saya akan umumkan sesuatu di kantin ini, hingga kamu berani bertaruh dengan saya," gumam Mieke tersenyum jahat.
"Mak-maksud kamu?" tanya Ratih terbata, dan bingung. Segera melepas kerah seragam Mieke, dari genggamannya.
"Dengarkan, pengumuman dari saya teman-teman!" ucap Mieke dengan nada tinggi, mendelik menatap Ratih dengan ujung matanya dan senyum liciknya.
Ratih, Nova dan Hesty saling berpandangan, tak mengerti dengan tindakan Mieke.
Semua orang, kini fokus memandangi Mieke, yang hendak memberi pengumuman di kantin sekolah.
"Untuk semuanya, saya umumkan. Apa kalian tahu, kalau Ratih adalah termasuk ke dalam golongan LGBT?" tanya Mieke menatap Ratih dengan tajam, dan tersenyum sinis padanya.
"A-apa maksud kamu, kalian jangan percaya sama dia!" sentak Ratih tak percaya, dengan tindakan nekad Mieke.
"Apa pernah, kalian melihat Ratih berdua dengan laki-laki?" tanya Mieke pada semua orang di kantin.
"Tidaaak!" jawab semua serentak.
"Karena dia, hanya menyukai sesama perempuan. Itulah alasan dia, selalu tak pernah mau dekat dengan laki-laki." ujar Mieke memberi alasan.
Braaak... Ratih menggebrak meja dengan keras, hingga salah satu mangkuk baso di mejanya, jatuh dan pecah.
Praaang... Suara pecahan mangkuk terdengar.
"Gila, kalian jangan percaya sama dia. Kalian tahu sendiri, bagaimana mulut dia yang jahat," gertak Ratih pada semuanya.
"Tidak! Mieke benar. Mungkin saja, kamu termasuk ke dalam golongan orang Lesbi atau penyuka sesama perempuan. Buktinya, kamu tak pernah mau dekat dan kencan dengan laki-laki," timpal salah satu siswa laki-laki bernama Rizky, yang merupakan kekasih Mieke.
"Benar, apa alasan kamu tidak menyukai laki-laki?" tanya salah satu siswa perempuan bernama Tiara ikut bicara, dan merupakan teman dekat Mieke.
"Haish..." Ratih mendesis kesal, dan membuang mukanya ke samping penuh emosi.
"Kalian jangan asal menuduh seperti itu, ini semua karena dia belum menemukan laki-laki yang tepat untuknya!" bela Hesty segera berdiri, menatap Mieke dengan nada tinggi.
"Jangan-jangan kamu pacarnya Ratih, Hahaha." tebak Rizky tertawa, di ikuti oleh tawa orang-orang di kantin.
Seorang siswa laki-laki bernama Bara, tak memperdulikan perdebatan yang terjadi di antara Ratih dan Mieke juga orang-orang di kantin. Bara terlihat, masih tetap fokus menikmati Mie ayam di mejanya.
Bara merupakan pria tampan, pintar, jago basket dan footsal juga terkenal di sekolah. Kesannya yang dingin, dan cenderung hanya peduli pada dirinya sendiri. Membuat banyak siswa laki-laki, berusaha menjadi teman dekatnya. Agar di akui sebagai salah satu pria keren dan tampan di sekolah.
"Kalian jangan sembarangan, saya akan buktikan. Kalau sebenarnya, Ratih sudah punya pacar seorang laki-laki!" seru Nova asal bicara.
"A-apa?" ucap Ratih tak mengerti, dengan ucapan sahabatnya. Dan menepuk jidatnya sendiri, karena ulah Nova yang asal bicara.
Nova memberi kode khusus dengan kedipan matanya, kepada Ratih. Hingga membuat Ratih tak mampu mengelaknya.
Bara langsung menghentikan suapannya, dan melihat Ratih yang terlihat bingung. Senyuman tipis Bara sunggingkan, melihat isyarat mata Nova pada Ratih.
"Bar, kamu percaya? Kalau Ratih punya pacar?" tanya Tedy menyenggol Bara, yang duduk di sampingnya. Menggunakan sikut tangan kanannya.
Karena, tanpa Ratih sadari. Ratih pun begitu di kenal di sekolah, karena sikap arogannya. Dengan fisik dan paras yang cantik, meskipun selalu di tutupi dengan penampilan yang tomboy dan terkesan tak peduli dengan penampilannya sendiri.
"Itu bukan urusan saya," jawab Bara santai.
"Oke, kita tunggu dalam waktu 1 minggu ini. Untuk kamu, agar menunjukan dengan siapa dia pacaran!" timpal Mieke, melipat kedua tangannya di d**a, tersenyum tak percaya pada ucapan Nova.
"Jangan! tolong, beri saya waktu 1 bulan. Agar saya bisa membujuk pacar saya, untuk memberi pengakuan kepada kalian," ujar Ratih pada semuanya.
"Tidak!!! 1 bulan terlalu lama. Jika kamu memang punya pacar, kami beri waktu 10 hari." seru Mieke menolak, dan tersenyum sinis.
"Benar, 10 hari adalah waktu yang kamu butuhkan. Untuk, membuktikan bahwa kamu perempuan normal," timpal Rizky setuju.
"Dan kalau dalam 10 hari, kamu tak dapat membuktikannya. Saya pastikan, rumor ini bukan hanya isapan jempol belaka, hahaha." ketus Mieke, tertawa terbahak-bahak.
"Boleh, siapa takut," jawab Ratih berusaha tetap santai.
Ratih segera menghampiri ke Ibu kantin, untuk membayar baso yang di beli, juga membayar mangkuk yang telah pecah.
"Maaf Bu, sudah membuat mangkuk Ibu pecah," gumam Ratih menyesal.
"Ngga apa-apa Neng Ratih, Ibu mengerti kamu pasti sedang emosi dengan tuduhan teman-teman kamu itu." jelas Bu Soma, pemilik kantin.
"Terimakasih Bu, terima ini sebagai gantinya," ucap Ratih memberikan selembar uang 50 ribu pada Ibu Soma.
"Ngga perlu Neng Ratih, Ibu masih punya banyak mangkuk kok," tolak Ibu Soma pada Ratih.
Ratih tak mendengarkan penolakan Bu Soma, dan meletakkan uangnya di meja. Dan segera berlari, meninggalkan kantin.
Bara menatap kepergian Ratih yang tampak bersedih, dan tak mengerti dengan sikap Ratih yang tiba-tiba tampak murung. Karena, yang ia dengar Ratih merupakan siswi yang tegar, tomboy dan kuat.
"Gue yakin, semua omongan Nova hanya omong kosong. Saya tahu, Ratih tidak benar-benar memiliki pacar," ucap Mieke, ikut duduk bergabung dengan Rizky.
"Saya sudah tidak berselera makan," ucap Bara, segera meninggalkan meja. Dan di ikuti oleh Tedy dan Vian di belakangnya.
Vian segera membayar 3 pesanan, sebelum menyusul Bara melangkah pergi bersama Tedy.
Ratih telah berada di dalam gudang sekolah, bersama Nova dan Hesty.
"Apa yang sudah kamu bicarakan tadi?" tanya Ratih pada Nova.
"Maaf, soalnya aku terlalu gemas dengan tuduhan mereka sama kamu," ucap Nova, tertunduk menyesal.
"Tapi, karena ucapan kamu tadi. Malah semakin tambah masalah buat saya," keluh Ratih lesu dan bingung.
"Kenapa harus menjadi masalah, kamu bukan typekal orang yang mudah menyerah. Bagaimana, kalau kamu dekati Bara. Saya dengar, Mieke pernah mencoba mendekati Bara." jelas Hesty memberi ide.
"Siapa Bara?" tanya Ratih tak tahu.
"Apa kamu benar-benar tidak tahu Bara?" tanya Nova tak percaya.
"Memangnya, harus ya? Kalau saya mengenal dia?" ucap Ratih tak peduli.
"Please Ratih, kamu harus buka mata kamu. Bara itu cowok terkeren di sekolah kita, hanya saja memang sikapnya terlalu cuek." jelas Hesty pada Ratih.
"Aaaargh, aku benar-benar bingung. Bagaimana bisa, saya punya pacar hanya dalam waktu 10 hari. Bahkan, saya tak punya teman dekat yang jomblo," ucap Ratih mengeluh.
"Ayolah Ratih, sebenarnya kamu wanita yang cantik. Nanti, saya bantu kamu untuk mempercantik penampilan kamu. Dan ini rambut, sesekali kamu urai dan kamu percantik. Agar memberi kesan feminim, pada penampilan kamu," ucap Nova memperhatikan wajah Ratih, yang sebenarnya sangat cantik.
"Apa-apa'an sih, sebenarnya pada dasarnya wanita itu tercipta sebagai sosok yang cantik. Hanya saja, itu tergantung bagaimana orang memandang arti kecantikan itu sendiri." ujar Ratih menjelaskan.
"Iya, tapi tetap saja. Ada standar kecantikan yang sudah di tentukan oleh setiap pasang mata, hingga perempuan itu layak di sebut cantik." celoteh Nova menjelaskan.
"Ya elah, ribet amat. Pakai kata ukuran standar segala," protes Ratih tak setuju.
"Itulah hidup, ada beberapa poin yang telah di tentukan manusia dan harus di penuhi untuk mencapai sebutan spesial untuknya," jelas Hesty kembali.
"Aduuh, kalian ini kenapa sih. Bahasanya ribet amat, pokoknya saya ngga mau tahu. Kalian harus bantu saya, untuk mencari pasangan untuk saya!" seru Ratih pada kedua sahabatnya.
Tbc...