Sepulang sekolah, Ratih meminta kedua sahabatnya untuk datang ke rumahnya. Untuk membahas, masalah di kantin sekolah tadi.
Kebingungan masih di rasakan oleh Ratih, karena tak tahu harus melakukan apa. Untuk membersihkan nama baiknya, karena tuduhan yang tak masuk akal baginya.
"Nov, coba kamu jelasin tentang Bara." pinta Ratih, teringat nama Bara yang sempat Nova usulkan.
"Bara itu, cowok paling ganteng di sekolah. Dia juga aktif di basket dan footsal. Dan satu lagi, dia merupakan salah satu personel dari band yang sering nangkring di kafe." jelas Nova pada Ratih.
"Terus-terus?" tanya Ratih penasaran, karena masih belum menemukan alasan untuknya memilih Bara sebagai kekasihnya.
"Ya, pokoknya menurut saya. Bara adalah kandidat terbaik, untuk menjadi pasangan kamu," ucap Nova pada Ratih.
"Dan satu lagi, menurut informasi yang saya dengar. Dulu, Mieke sempat mendekati Bara. Tetapi, Bara selalu mengacuhkan Mieke. Nah, kalau kamu bisa dekat dan jadian sama Bara. Ngga kebayang tuh, panasnya hati Mieke." timpal Hesty ikut bicara.
"Oh ya? boleh juga tuh. Selain, aku bisa membuktikan diri sebagai perempuan. Aku juga dapat bonus, untuk nembus perasaan Mieke pada Bara," ucap Ratih tersenyum senang.
"Yups, kamu betul. Jadi, mulai besok. Kita-kita, akan merubah penampilan kamu." ujar Hesty tersenyum menatap Ratih.
"Apa? Ngga-ngga, aku ngga mau. Bukannya, kalau saya merubah penampilan. Mereka akan semakin curiga, kalau aku sedang tebar pesona untuk mendapat pacar laki-laki?" tanya Ratih menolak ucapan Hesty.
"Benar juga," gumam Nova setuju, dengan ucapan Ratih. Sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Yah, benar kan? Biarlah, saya tetap jadi saya yang sekarang. Ngga usah di rubah-rubah mendadak jadi cewek ganjen, macam Mieke," protes Ratih, bergidik membayangkan dirinya menjelma dengan penampilan norak seperti Mieke.
"Mungkin, bagi kamu Mieke norak. Tapi, menurut saya Mieke memang keren kok. Sangat fashionable, dan menjadi trend center penampilan siswa perempuan di sekolah." jelas Hesty dengan pendapatnya.
"Masa sih?" ucap Ratih, kurang setuju.
"Ya sudah, jadi bagaimana nih? Besok, kita mulai dari mana, supaya Ratih bisa kenal dan dekat dengan Bara?" ujar Nova melerai pendapat Hesty dan Ratih, tentang Mieke.
"Emm... bagaimana, kalau besok? Kita datang ke tempat latihan basket di sekolah, pasti Bara ada di sana. Secara, ngga lama lagi. Tim basket sekolah kita, akan tanding dengan Tim basket sekolah lain." jelas Hesty memberitahu.
"Sepertinya, kamu tahu banyak tentang Bara. Apa jangan-jangan, kamu termasuk salah satu penggemarnya?" tanya Ratih penasaran.
"A-apa maksud kamu," jawab Hesty malu, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Waaah, muka kamu merah. Mirip kepiting rebus, hahaha," ledek Ratih tertawa.
"Itu wajar kan, Bara itu selain tampan, berprestasi di bidang olahraga. Dia juga selalu jadi juara kelas," jawab Hesty menjelaskan.
"Iya-iya, oke mulai besok kita mulai bergerak. Btw, nanti kita hang out ke kafe yuk. Kali aja, bisa ketemu Bara," ajak Ratih, menatap kedua temannya.
"Nah, kamu sendiri. Buktinya ngebet banget, mau ketemu Bara," ucap Hesty heran.
"Kamu jangan berpikir macam-macam dulu, tadi kamu bilang dia suka nyanyi di Kafe. Ngga ada salahnya, kalau aku mau lihat perfom dia. Sekalian, mau coba bicara sama dia," jelas Ratih pada kedua sahabatnya.
"Ooough, Ok. Kalau gitu, kita balik dulu. Nanti jam 7, kita ketemuan di Kafe biasa ya," ujar Nova, segera meraih tasnya.
"Ok, Thanks ya? take care."
Kini Ratih, tinggal di kamar sendiri. Pikirannya, kembali teringat akan tuduhan Mieke, pada dirinya sebagai seorang lesbi.
"Sial, berani sekali Mieke menuduh saya seperti itu." geram Ratih kesal, meremas spreynya menahan amarah.
Tok... tok... tok... Suara pintu kamar Ratih terdengar, membuyarkan lamunan Ratih. Tentang peristiwa yang terjadi di sekolah.
"Ratih, di panggil Ibu tuh," ucap Abangnya memberi tahu.
"Iya Kak, sebentar," teriak Ratih dari dalam kamar, segera berganti seragam yang masih di kenakannya, dengan pakaian rumah.
"Ibu panggil Ratih?" tanya Ratih, setelah turun dari kamarnya di lantai atas. Dan kini berada di dapur, tempat Ibu sedang mengupas sayuran.
"Iya sayang, tolong bantu Ibu dong. Kupas wortel lalu potong ya Nak." perintah Ibu pada Ratih.
"Ough, Iya Bu," jawab Ratih, segera menjalankan tugas dari Ibunya.
"Bagaimana, sekolah kamu tadi?" tanya Ibu, memulai percakapan.
"Kurang baik Bu," jawab Ratih keceplosan.
"Lho, maksudnya. Kamu sedang ada masalah di sekolah kamu?" tanya Ibu cemas.
"Bukan-bukan Bu, bukan begitu," jawab Ratih meluruskan maksudnya.
"Jadi, maksudnya kurang baik bagaimana?" tanya Ibu kembali.
"Maksud Ratih, karena hari ini banyak tugas kelompok yang harus segera Ratih selesaikan," jawab Ratih berbohong.
"Ough, pantas saja tadi wajah kamu, Nova dan Hesty terlihat lesu," jawab Ibu, memberitahu.
"Iya Bu, dalam waktu 2 minggu ini. Pasti Ratih dan teman-teman akan sering berkumpul," jelas Ratih pada Ibu.
"Memang tugasnya tentang apa, siapa tahu Ibu bisa sedikit membantu." tawar Ibu pada Ratih.
"Makasih Bu, sepertinya ngga usah Bu. Biar Ratih berusaha dulu, nanti kalau Ratih butuh bantuan. Pasti, Ratih minta tolong sama Ibu," jawab Ratih menolak, tetap berusaha tenang.
"Ternyata, anak Ibu sudah besar. Ibu bangga sama kamu," ucap Ibu tersenyum.
"Iya Bu, makanya nanti Ratih minta izin jam 7 untuk ketemuan di rumah Nova ngga apa-apa kan Bu?" ucap Ratih, meminta izin dengan hati was-was.
"Lho, kok malam-malam sih. Memangnya ngga bisa besok siang, sepulang sekolah," jawab Ibu keberatan.
"Tugas pertama, harus di serahin besok Bu. Ngga apa-apa kan Bu," rajuk Ratih memohon.
Huft... Ibu menghela nafasnya.
"Ya sudah, tapi hati-hati ya?" jawab Ibu akhirnya.
"Terimakasih Bu," ucap Ratih, mengecup pipi Ibu.
"Oke, kamu sudah selesai mengupas wortelnya?" tanya Ibu, yang sudah selesai memotong sayuran lainnya.
"Sudah Bu, sekarang tinggal Ratih potong Bu."
"Boleh, kamu potong seperti ini ya." jelas Ibu, mencontohkan cara memotong wortel menyerong.
Ratih pun segera memotong wortel, sesuai perintah Ibunya. Dan membantu Ibu memasak di dapur, untuk makan malam bersama setelah Ayah pulang nanti.
Setelah Ratih selesai membantu Ibu, Ratih segera kembali ke lantai atas, menuju kamarnya. Untuk segera mandi, sebelum bersiap pergi ke Kafe tempatnya dengan Nova dan Hesty janjian.
"Semoga saja, Bara hari ini ada jadwal perform di Kafe," gumam Ratih, duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya.
Hhhh... huft... "Andai saja, waktu bisa di putar kembali. Aku pasti sumpal mulut Mieke, supaya ngga banyak bicara," gumam Ratih gemas.
"Aww..." teriak Ratih, karena menyisir rambutnya terlalu keras.
Akhirnya, Ratih telah siap untuk pergi. Dan segera turun ke bawah, untuk menghampiri kedua orang tuanya.
"Ayah Ibu, Ratih berangkat dulu ya?" pamit Ratih, mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Lho, kamu ngga ikut makan dulu?" tanya Ibu heran.
"Ngga Bu, ini dari tadi Nova udah neleponin mulu," jawab Ratih, dengan wajah menyesal.
"Ya sudah, pulangnya jangan terlalu malam ya?" ucap Ibu mengingatkan.
"Emm... Kamu ada uang?" tanya Ayah memastikan.
"Ada Ayah," jawab Ratih tersenyum.
"Syukurlah, nanti Ayah transfer lagi." ujar Ayah memberitahu.
"Ya Ayah, makasih." jawab Ratih, segera pergi dan mengenakan helmnya.
Ratih pergi menggunakan motor matic, yang setia menemaninya pergi. Untuk segera menuju Kafe biru, tempatnya janjian bersama Nova dan Hesty.
Tbc...