Ratih telah tiba di Kafe, dan segera menghampiri Nova dan Hesty yang sudah tiba lebih dulu.
"Hai, sorry aku telat," ucap Ratih, segera duduk.
"Gimana sih, kamu yang ngajak. Tapi, malah yang telat," ketus Nova, mendelik menatap Ratih kesal.
"Sorry banget, tadi aku di suruh Ibu untuk bantu masak. Masa iya aku ngga mau, secara aku anak perempuan satu-satunya," jawab Ratih menjelaskan.
"Iya deh," jawab Nova mengalah, karena tak mau berdebat.
"Btw, gimana? apa hari ini Bara ada perform?" tanya Ratih, memperhatikan setiap personil band yang sedang tampil.
"Ngga ada Rat, kayanya hari ini Bara ngga perform deh," jawab Hesty kecewa.
"Yaaah, mana aku sudah bohong sama Ibu lagi. Nih, kalian lihat deh. Aku sampe bela-belain bawa buku ke sini," ucap Ratih, menunjukkan isi tasnya.
"Lho kok, kamu sampe ngebohong. Bukannya, Tante Diana ngga pernah keberatan kamu main ke sini?" tanya Hesty heran.
"Iya sih, cuma aku kepalang tanggung. Kalau 2 minggu ini, pasti aku sama kalian sibuk ngurus kerja kelompok di sekolah," jawab Ratih menjelaskan.
"Kerja kelompok? Kok bisa?" giliran Nova bertanya, sambil saling bertatapan dengan Hesty karena heran.
"Iya, habisnya pasti nanti kalian akan sering main ke rumah, terus aku main ke rumah kalian," jawab Ratih dengan maksudnya.
"Ya ampun, padahal ngga usah bohong kali. Nambahin masalah aja," protes Nova ketus.
"Iya-iya, maaf." jawab Ratih, segera melihat daftar menu, karena rasa lapar yang terasa di perutnya.
Selesai memesan, Ratih beserta kedua temannya segera menyantap pesanan mereka, sambil menikmati iringan lagu dari band yang tampil di depan.
"Udah malam nih, kayanya aku harus balik deh," ucap Ratih, melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 21.30 malam.
"Ya elah, kita tunggu aja. Kali aja, udah ini Bara perform," jawab Hesty mencoba menahan.
"Ratih bener Hes, aku takut nanti izin keluar malam aku di hapus sama orangtua," ucap Novi setuju pada Ratih.
"Iya-iya, ya udah kita balik." jawab Hesty segera bersiap.
Ratih, Nova dan Hesty pun segera pulang. Setelah mengurus pembayaran, atas pesanan mereka.
Tanpa Ratih dan kedua temannya tahu. Bara dan rekan-rekan bandnya sedang bersiap di belakang panggung kecil kafe, untuk segera perform mengganti band yang telah lebih dulu tampil.
"Bar, loe siap kan?" tanya salah satu temannya.
"Pasti bro, sorry perform gue akhir-akhir ini emang lagi jelek. Soalnya, kemarin-kemarin gue khawatir sama keadaan nyokap gue," jawab Bara menjelaskan.
"Terus, gimana keadaan Nyokap loe sekarang?" tanya Sony, teman band Bara.
"Baik bro," jawab Bara singkat.
Ratih mengemudikan motornya, begitu juga Nova dan Hesty yang membawa motor masing-masing.
Setelah tiba di rumah dan kamarnya, Ratih segera mencuci mukanya serta berganti pakaian. Sebelum akhirnya, Ratih berbaring di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Kira-kira, rumor sialan itu sudah sampai seisi sekolah belum ya?" keluh Ratih cemas.
"Misi hari ini, aku gagal bertemu Bara. Kira-kira, apa besok aku berhasil bertemu dan berkenalan dengan Bara," gumam Ratih merasa cemas.
"Tapi, selain Bara. Siapa lagi, cowok yang bisa aku ajak kencan. Dan mendapat 2 poin sekaligus," keluh Ratih bingung.
"Lagian, sebenarnya aku ngga mau pacaran. Dasar Mieke, cewek comberan dengan mulut berbisa," protes Ratih gemas, teringat peristiwa tadi siang di sekolah.
Ratih tertidur, dalam tidur malamnya. Hingga tak terasa, malam berganti pagi. Ratih merasa malas, untuk berangkat ke sekolah dan masih mengenakan pakaian tidurnya.
Tok... tok... tok, "Ratih, kenapa kamu belum keluar kamar Nak?" tanya Ibu di balik pintu kamar Ratih.
Ibu pun segera membuka pintu, dan melihat Ratih sedang terduduk lesu di tepi kasur.
"Ya ampun, Ratiiih. Mandi dulu sana, nanti kamu kesiangan. Lihat udah jam 6 lebih." perintah Ibu pada anaknya, merasa gemas melihat Ratih tampak malas.
"Ratih malas Bu," jawab Ratih, berjalan gontai.
"Kamu ini, kenapa jalannya seperti itu. Macam zombie aja," protes Ibu melihat Ratih.
"Ahh Ibu, Ratih mandi dulu," keluh Ratih, segera masuk kamar mandi kamarnya.
Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Ratih yang tampak tak bersemangat.
"Anak ini, kelihatan kuat di luar. Tapi, lemah di dalam." gumam Ibu bicara sendiri.
Ratih segera turun, memasuki ruang makan untuk segera sarapan bersama.
"Makannya, cepat ya. Biar manti Ayah antar kamu ke sekolah," perintah Ibu pada Ratih.
"Iya Bu," jawab Ratih segera menyuap nasi goreng yang telah Ibu siapkan di piring.
"Ayo sayang, nanti kamu telat," ajak Ayah pada Ratih.
"Iya Ayah, sebentar 2 suap lagi aja," rajuk Ratih pada Ayah, segera menyuap 2 sendok nasi goreng ke dalam mulutnya hingga mulut terisi penuh.
Akhirnya, seperti biasa. Ratih selalu diantar oleh Ayahnya, ke sekolah.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Ayah, sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Baik Yah, emang kenapa?" jawab Ratih, balik bertanya.
"Kata Ibu, sekarang kamu lagi banyak tugas sekolah. Sampai-sampai melewatkan makan malam di rumah," ucap Ayah memberitahu.
"Ough, iya Ayah. Ratih memang sedang banyak tugas, makanya Ratih jadi malas berangkat ke sekolah," keluh Ratih pada Ayahnya.
"Kamu ngga boleh seperti itu, mungkin saja guru kamu memberi tugas. Agar ada nilai tambahan untuk raport kamu nanti." jelas Ayah pada Ratih.
"Ya Ayah, ya udah Ratih turun dulu ya," ucap Ratih mencium punggung tangan Ayah dan segera membuka pintu mobil, karena sudah sampai di sekolah.
"Belajar yang benar ya, dan hati-hati di sekolah." ujar Ayah menasehati.
"Ayah juga hati-hati, da-dah." ucap Ratih di jendela pintu,segera mundur dan melambaikan tangan pada Ayahnya.
Ayah segera melajukan mobilnya, menjauh dari sekolah. Dan Ratih, segera berjalan memasuki gerbang sekolah.
"Hai Ratih, 9 hari lagi." sapa Mieke, yang berjalan di lorong sekolah, saling berhadapan dengan Ratih.
Ratih tak memperdulikan ucapan Mieke, dan terus berjalan menuju kelasnya.
'Aku yakin bisa menghadapinya,' gumam Ratih dalam hati, sambil mengaitkan kedua ibu jari tangannya di tali ranselnya.
Para Siswa di sekolah, tampak saling berbisik saat melihat kehadiran Ratih. Membicarakan Ratih, atas rumor yang sengaja Mieke buat di kantin sekolah kemarin.
'Sial, sepertinya berita itu sudah banyak menyebar,' gerutu Ratih dalam hati, menahan kesal.
Ratih segera duduk, di kursi meja belajarnya. Dan terlihat, Nova dan Hesty yang sudah duduk di kursinya di depan dan di belakang Ratih.
"Tumben, kamu telat," ucap Novi, melihat jam tangannya.
"Belum kali, kan bel masuk belum bunyi," jawab Ratih mengelak.
Tak berapa lama, suara bel masuk berbunyi. Membuat sebuah senyuman, di bibir Nova.
"Tuh kan, bel masuk sudah berbunyi." ujar Novi meledek.
Ratih terdiam, tak menjawab ucapan Novi. Dan segera mengeluarkan isi buku di dalam tas, dan menyimpannya di atas meja.
Jam pelajaran pun di mulai, semua isi kelas tampak serius memperhatikan penjelasan guru sejarah di kelas yang di terangkan oleh Ibu Hani, guru sejarah.
Ratih terlihat fokus, memperhatikan penjelasan Ibu Hani. Karena, Ratih sangat menyukai cara mengajar Ibu Hani yang membuatnya menyukai pelajaran sejarah.
Berbeda dengan siswa lainnya di kelas, yang tampak malas dan tak bersemangat mendengar uraian pelajaran sejarah yang menurut mereka membosankan.
Selesai pembelajaran sejarah, akhirnya belajar di lanjutkan dengan pelajaran bahasa indonesia. Yang sebaliknya, kurang Ratih sukai.
Hingga tak terasa, bel pertanda waktu istirahat berbunyi. Dan semua siswa di kelas, bersorak membereskan buku. Dan bersiap menuju kantin sekolah.
Tbc...