Ratih dan kedua temannya segera ke kantin, memesan burger dan minuman. Agar bisa di konsumsi, sambil mencari keberadaan Bara di ruang olahraga basket.
"Kamu yakin, Bara ada di sana?" tanya Ratih memastikan kepada Hesty.
"Harusnya sih iya, secara ngga lama lagi. Tim basket sekolah kita kan, bakalan tanding," jawab Hesty pada Ratih.
"Tapi, aku ngga yakin ya? Takutnya, dia ngga ada di sana," keluh Ratih pesimis.
"Kita coba aja dulu, ngga usah langsung nyerah gitu?" protes Nova pada Ratih.
"Napa sih, perasaan dari kemarin kamu bawaannya emosi mulu. Yang di fitnah siapa, yang emosi siapa?" protes Ratih balik, merasa kesal.
"Sorry-sorry, bukannya emosi. Aku ngga suka aja, ngelihat kamu yang jadi gampang menyerah gitu," jawab Nova melunak.
Huft... Ratih menghela nafas.
Setelah tiba di ruang olah raga basket, ternyata sudah banyak siswa lain yang sedang duduk menonton latihan basket tim sekolah.
"Ya ellah, rame amat. Gimana caranya aku bisa ngomong secara personal sama Bara," keluh Ratih, melihat kursi penonton yang terlihat hampir penuh. Dan lebih banyak, oleh para siswi perempuan.
"Ya beginilah, mereka begitu antusias dengan tim basket kita. Dan kamu lihat itu, banyak para siswi yang membawa spanduk bertuliskan nama Bara dengan aneka pujiannya." jelas Hesty, menunjuk antusiasme para siswi yang hadir.
"Segimana kerennya dia sih, lebay banget," ucap Ratih, tak peduli.
"Nah ini nih, yang bikin rumor itu semakin menyebar. Sikap kamu yang kurang peduli sama cowok," protes Hesty menggelengkan kepalanya.
"Iya-iya, sorry," jawab Ratih masih merasa acuh.
"Tapi, kok Bara nya ngga ada ya?" timpal Nova heran.
"Tuh kan, apa tadi saya bilang. Orang yang kita tuju, ngga ada di sini. Ya udah, kita balik aja yuk. Males banget berisik, sama teriakan-teriakan ngga penting." ajak Ratih, meminta untuk pergi.
"Ngga-ngga, kita tunggu dulu. Aku yakin, bentar lagi dia datang." tolak Hesty pada Ratih.
"Ya udah, kalau gitu. Aku ke toilet dulu, kebelet pipis nih," ucap Ratih, segera beranjak dari duduknya.
"Jangan alasan deh, jangan-jangan kamu mau kabur?" tanya Nova curiga.
"Aduuh, beneran nih. Masa iya, aku harus pipis di sini," jawab Ratih meringis.
"Gila, jorok tau. Ya udah, sana-sana ke toilet. Tapi, balik lagi ya," ucap Hesty menunjuk wajah Ratih.
"Iiih, cerewet amat," protes Ratih, segera berjalan cepat, keluar ruangan untuk segera menuju toilet.
Ratih berusaha mencari-cari toilet terdekat, karena ini baru kali pertama Ratih masuk ke ruang olahraga basket. Setelah bertanya ke salah satu siswa yang di temuinya, Ratih pun segera menuju toilet yang sudah di tunjukan.
Brruuugh... Ratih menabrak seorang siswa laki-laki, dengan ekspresi wajah yang terlihat dingin dan sinis.
"Sorry-sorry," ucap Ratih, meminta maaf.
"Kalau jalan itu, pakai mata." ketus laki-laki tersebut pada Ratih.
'Aduuh, ada-ada aja sih.' protes Ratih dalam hati.
"Dimana-mana kalau jalan pake kaki, bukan pake mata!" ketus Ratih menjawab.
"Dasar, di kasih tau malah ngeyel," jawab siswa tersebut, dengan tatapan tajam.
"Udah-udah minggir," ucap Ratih, menyenggol siswa tersebut, dan segera masuk ke dalam toilet.
Pria tersebut, hanya menengok Ratih ke belakang. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat sikap arogan Ratih padanya. Berbeda, dengan sikap siswi lain jika bertemu dengannya, yang selalu bersikap sok manis dan mencari perhatiannya.
"Dasar perempuan aneh!"
"Tapi, benar juga. Jalan memang pakai kaki," gumamnya, tersenyum tipis.
Ratih segera masuk ke toilet, karena sudah merasa tak tahan untuk menahan kotoran air kecil.
Huft... "Akhirnya, lega juga," gumam Ratih, tersenyum.
Ratih pun segera keluar, dan melihat cermin untuk membetulkan topi yang terpasang di kepalanya, dengan posisi terbalik.
"Apa, aku harus balik ke sana? Males banget sih," keluh Ratih, menundukkan wajahnya karena malas.
Ratih pun berjalan perlahan, dengan rasa malas dan wajah tertunduk. Karena, harus mendengar teriakan-teriakan yang memekakan telinga.
Mendengar para siswi yang terobsesi dengan nama Bara, tapi Ratih tak dapat berbuat apa-apa. Karena, tujuannya kali ini sama persis seperti mereka. Yaitu untuk bertemu dan sedikit lebih dekat dengan Bara.
"Kenapa, Ratih lama amat ya?" tanya Hesty heran, kepada Nova.
"Bentar lagi juga datang kok, kamu tunggu aja," jawab Nova yang terus memperhatikan satu persatu anggota tim basket, yang berlatih.
Ratih pun, mulai memasuki ruang basket kembali. Perlahan-lahan berjalan, melewati para penonton lain. Dan duduk menghampiri kedua sahabatnya kembali.
"Kenapa sih, ke toilet aja lama amat?" ketus Hesty bertanya.
"Slow kali," jawab Ratih malas.
"Tadi aku tubrukan sama cowok aneh, terus sedikit berdebat. Tapi, kayanya dia pake baju basket deh," ucap Ratih menjelaskan.
"Masa sih, coba kamu tunjukin cowok mana yang kamu maksud?" tanya Hesty memastikan ucapan Ratih.
"Ih, kaga percayaan amat sih?" protes Ratih mendelik.
"Ribet amat sih, kamu tinggal tunjukin aja. Laki-laki mana yang tadi bertubrukan sama kamu?" pinta Hesty kembali bertanya.
"Tuh, laki-laki yang ono tuh. Yang pakai bandana putih, sama pakai kaos di dalam seragam basketnya. Pokoknya, orangnya nyebelin banget deh. Sumpah." tunjuk Ratih pada salah satu anggota tim basket, dengan ekspresi kesal.
"Kamu yakin, lelaki itu yang tadi kamu tabrak?" tanya Hesty terkejut dan memastikan.
"Ya iyalah, kamu kira penglihatan saya sudah kabur gitu?" ketus Ratih heran, melihat Nova dan Hesty yang terkejut.
"Itu Bara!" seru Hesty dan Novi bersamaan.
"A-apa, Bara?" jawab Ratih, meringis.
"Haish... masalah apa lagi sih, kenapa kaya gini?" keluh Ratih, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ini nih, kamu harus merubah sikap kamu dalam menghadapi laki-laki." protes Hesty gemas.
"Saya kan ngga tahu, kalau laki-laki tadi adalah Bara. Kalau tahu, pasti aku baik-baikin dia," jawab Ratih menyesal.
Karena, bel masuk istirahat sudah berbunyi. Semua para siswi yang menonton kecewa, dan berjalan keluar ruang olahraga basket. Untuk segera kembali ke kelasnya masing-masing.
"Gimana nih, bel masuk malah bunyi." tanya Ratih pada kedua temannya.
"Tenang, kita turun sebentar." jawab Hesty segera menarik kedua temannya ke bawah.
Bara terlihat berjalan, dan sedang bersiap kembali ke kelasnya.
"Bara, tunggu!" seru Hesty memberanikan diri.
Bara segera menoleh ke belakang, dan melihat 3 perempuan yang datang menghampirinya.
"Ada apa! kenapa kalian ngga kembali ke kelas?" tanya Bara ketus.
"Sorry-sorry, kita boleh kenalan ngga?" tanya Nova tersenyum ramah.
"Loe? Bukannya cewek yang tadi nabrak gue?" tanya Bara menatap Ratih, yang terlihat tak acuh.
"Iya, kenapa?" tanya Ratih ketus, tak dapat mengontrol diri.
"Ya sudah, gue balik ke kelas," ucap Bara, tak suka dengan sikap Ratih.
"Eh tunggu-tunggu, sebenarnya Ratih mau kenalan sama kamu. Boleh ngga?" tanya Nova, memberitahu maksudnya.
"Kenalan? Memangnya kenapa, kalian yakin dia mau kenalan?" tanya Bara yang melihat Ratih, masih terlihat tak acuh.
Hesty menyenggol Ratih dengan sikut tangannya, memberi isyarat pada Ratih.
"Ya-ya, aku mau kenalan sama kamu. Nama saya Ratih, saya harap nanti pulang sekolah kita bisa bicara," ucap Ratih to the point.
"Maaf, gue tak ada waktu," jawab Bara segera meninggalkan Ratih, dan teman-temannya.
"Hai, kamu pikir saya mau sama kamu!" teriak Ratih kesal.
"Ratiiih, kamu gimana sih. Haish... maunya kamu apa?" ucap Nova gemas dengan kelakuan Ratih, yang emosional.
Bara tak memperdulikan ocehan Ratih, dan terus melangkah menjauhi Ratih beserta kedua temannya.
Tbc...