"Kamu kenapa sih, gimana Bara ngga jutek. Toh, kamunya juga judes gitu," ketus Hesty kesal, sambil terus berjalan menuju kelas.
"Iya-iya, sorry," jawab Ratih menunduk, karena merasa bersalah.
Ratih dan kedua temannya kembali ke kelas, dan melanjutkan pelajaran di kelas. Hingga tak terasa waktu pulang tiba, dengan cepat Ratih beserta kedua sahabatnya bergegas keluar kelas.
"Ayo cepetan, keburu Bara keluar dari kelas," ajak Hesty tergesa-gesa.
"Kenapa mesti buru-buru sih, lagian dia udah pasti latihan basket kan?" tanya Ratih, sambil ikut berlari mengikuti langkah Hesty.
Hesty segera menghentikan langkah kakinya, serta membalikkan tubuhnya menghadap Ratih dan Nova.
"Ya udah, sekarang kita bagi tugas. Aku pergi ke kelas Bara, kalian ke ruang basket." perintah Hesty memberi ide.
"Kenapa, aku mesti berdua sama Ratih?" tanya Nova heran.
"Ya kamu jaga dia kali, barangkali dia ngga bisa kontrol emosinya lagi. Tau!" jawab Hesty menjelaskan.
"Ouuugh, iya benar-benar. Oke, kalau gitu kita duluan ya." ujar Nova, menggenggam tangan Ratih dan berlari menuju ruang latihan basket.
"Waaah, udah rame aja," ucap Nova, yang melihat sudah banyak penonton yang hadir.
Huft... Ratih menghela nafas, karena merasa malas.
"Kenapa, kamu menghela nafas kaya gitu?" tanya Nova mendelik kearah Ratih dengan tatapan heran.
"Sebenarnya, aku malas. Tau ngga sih, rasanya aku tuh jadi seperti seorang penguntit, huh." jawab Ratih cemberut.
"Berarti, maksudnya kamu rela di sebut penyuka sesama jenis? Aku sama Hesty bela-belain beginian, karena peduli sama kamu Rat." jelas Nova, segera menarik Ratih agar segera ikut duduk.
"Itu makh, emang kalian aja yang demen sama Bara. Lagian, kayanya Bara ngga ada di bawah deh," tunjuk Ratih, memperhatikan setiap anggota Tim yang hadir di pelatihan basket.
"Kita balik aja yuk," ajak Ratih pada Nova.
"Sebentar, aku telepon Hesty dulu," ucap Nova segera mengeluarkan ponselnya, sambil terus menggenggam tangan Ratih.
Truth... truth... suara sambungan telepon berbunyi.
"Hes, kita berdua udah duduk di ruang basket nih. Tapi, Bara belum keliatan tuh," ucap Nova di telepon.
"Ok, aku lagi jalan tepat di belakang Bara nih. Kayanya, dia mau otw ke sana deh," jawab Hesty dengan nada pelan, setengah berbisik di telepon.
"Ya udah, kita udah nyiapin tempat duduk buat kamu kok," ucap Nova memberitahu.
"Udah dulu ya," Hesty segera menutup sambungan teleponnya.
"Kita tunggu aja, kata Hesty Bara Otw ke sini kok." ucap Nova memberitahu.
"Okelah," jawab Ratih lesu, segera kembali duduk.
Kini, Hesty telah duduk di samping Ratih. Dan kini, posisi Ratih di impit oleh kedua sahabatnya.
Baru hari pertama Ratih berusaha mendekati Bara, rasanya Ratih sudah merasa tak sanggup untuk terus menerus bertindak seperti ini.
Huft... beberapa kali Ratih menghela nafasnya, karena merasa bosan dan bising dengan teriakan-teriakan yang memenuhi isi telinganya. Rasanya, isi kepalanya serasa mau pecah.
Ratih melirik dan melihat kedua temannya, yang tampak menikmati pertandingan basket. Dan ikut bersorak, menyerukan nama Bara.
'Apa bagusnya Bara sih, cowok gitu disebut ganteng. Cowok kaya gitu, menurutku malah kaya banci.' gerutu Ratih dalam hati.
"Hey Ratih, kamu kenapa sih. Tuh muka ampe di lipet gitu," protes Nova, yang menyadari Ratih tak fokus menonton pertandingan Bara.
"Emangnya muka aku kertas apa, pake di lipat segala," jawab Ratih, segera menutup wajahnya dengan topi.
Hesty terlihat menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku Ratih. Yang membenamkan wajahnya dengan topi, membuat wajahnya setengah tertutup.
"Ratih-ratih, kamu itu maunya apa sih. Kita ngga mau tau ya, suka atau ngga suka. Kamu harus berhasil meluluhkan ego kamu, untuk mendekati Bara." ujar Hesty menjelaskan.
"Memangnya, ngga ada cowok laen napa? Bara bukan type aku tau," jawab Ratih memberitahu, dengan ketus.
"Aduuh, sekarang ini kasusnya beda Rat. Ingat, waktu ngga kerasa lho. Besok aja, tinggal 8 hari lagi, waktu yang kamu punya untuk punya pacar. Setidaknya, kamu dekati Bara. Supaya mau jadi pacar bohongan kamu aja deh," jelas Hesty gemas.
"A-apa, pacar bohongan?" tanya Ratih, yang mulai menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang terlihat indah.
"Iya, lagian Bara juga belum tentu mau jadi pacar beneran kamu," timpal Nova ketus.
"Isshh... sirik loe," jawab Ratih kesal.
"Iich, ogah amat aku sirik sama kamu. Week," ucap Nova, memeletkan lidahnya.
"Udah-udah, Nov lihat tuh Bara. Keren banget sih, meskipun dalam kondisi berkeringat. Aura ketampanannya tetap terpancar nyata," ujar Hesty terkagum-kagum.
"Jijik banget sih," protes Ratih merasa geli.
"Kalian tahu ngga, ini tuh ngabis-ngabisin waktu aku tau. Harusnya, sekarang tuh aku lagi latihan tae kwon do." ketus Ratih merasa bosan.
"Ngga apa-apa Rat, 10 hari ini kamu harus relain waktu kamu untuk ngelakuin hal-hal yang dilakukan remaja perempuan seumuran kita," jawab Hesty menasehati.
"Kemarin, aku udah ngelewatin latihan karate. Sekarang, tae kwon do juga." keluh Ratih kembali.
"Hssst... diem aja. Udah, sekarang kamu nikmati aja pertandingannya." perintah Hesty kembali.
Mau tak mau, Ratih melihat pertandingan yang telah di lakukan ole Bara beserta tim basket lainnya. Tiba-tiba, Nova menggenggam tangannya. Dan menarik Ratih, untuk ikut turun ke bawah menghampiri Bara yang telah selesai berlatih.
Bara terlihat, sedang mengelap wajahnya dengan handuk di tangannya. Kulitnya yang putih bersih, sangat berkilau mengalahkan kulit-kulit wajah perempuan indonesia pada umumnya.
Bibirnya yang merah, dan wajahnya yang dingin dan terkesan cuek dan tak peduli, namun terlihat sangat tampan dimata para siswi perempuan. Hingga, banyak dikagumi para siswi di sekolah, tak terkecuali dengan kedua sahabat Ratih yang ikut terhipnotis dengan pesona yang di miliki oleh Bara.
"Hai Bara?" sapa Hesty pada Bara.
Bara tampak mengernyitkan alisnya, menatap 3 wanita yang kini berada di hadapannya.
"Kamu lagi, sebenarnya kalian mau apa?" tanya Bara, terlihat sibuk melipat handuk dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Bar, ini minuman loe," ucap Tedy, pria yang selalu dekat dengan Bara.
Gleek... gleek... gleek, Suara tegukan minum Bara yang terlihat kehausan.
"Sorry Bar, kita boleh ngomong ngga?" pinta Nova tersenyum menatap Bara.
"Bukannya sekarang, kamu lagi ngomong," ketus Bara, masih sibuk membereskan barang-barangnya.
Nova memberi isyarat mata pada Hesty, agar mau membantunya bicara.
"Begini Bar, kita mau minta tolong. Ops, sorry. Maksudnya, Ratih mau minta tolong sama kamu," ucap Hesty menunjuk Ratih.
Huft... Bara menghembuskan nafasnya kasar.
"Loe lagi!" ketus Bara melihat Ratih, yang sedang menatapnya.
"Ah ribet amat sih, kamu ikut aku sini. Ada yang mau aku bicarain," ucap Ratih, memberanikan diri menggenggam tangan Bara dan menariknya menjauh dari teman-teman Bara.
"Ih, lepas!" seru Bara, melepas genggaman Ratih di tangannya. Yang kini, sudah sedikit menjauh dari teman-temannya.
"Loe mau bicara apa?" tanya Bara, menatap Ratih mendekat.
"Gini-gini, kamu tahu sendiri kan. Rumor yang tersebar, tentang aku?" tanya Ratih pada Bara.
"Rumor apa'an? Gue ngga pernah peduli dengan rumor yang beredar, dan tak mau pe-du-li," jawab Bara, tersenyum tipis, hendak meninggalkan Ratih, tetapi Ratih dengan gesit kembali menahan tangan Bara kembali.
"Ada apa lagi sih?" ketus Bara kesal.
"Please, bantu aku untuk jadi pacar bohongan di hadapan Mieke cewek ganjen, si mulut comberan itu." mohon Ratih, menatap Bara berusaha bersikap manis.
"Gila! Loe kira, gue cowok apa'an?"
"Ayolah, pokoknya imbalannya. Aku mau nurutin kemauan kamu, selagi permintaan itu ngga melampui batas." ucap Ratih pada Bara, mencoba bernegoisasi.
"Memangnya, kamu mau bayar aku pakai apa? Jika aku harus menuruti kemauan kamu itu?" tanya Bara, yang kini melangkah mendekati Ratih. Sehingga membuat Ratih, berjalan mundur sedikit menjauhi Bara sambil menelan salivanya sendiri karena takut dadanya menempel ditubuh Bara.
Tbc...