Bara terus berjalan mendekati Ratih, hingga Ratih terjatuh karena terus berjalan mundur menjauhi Bara.
Kini, Bara ikut duduk sejajar menghadap dengan posisi Ratih yang terjatuh.
'Apa-apa'an sih, kenapa aku jadi merasa terdesak begini.' keluh Ratih dalam hati.
"Kalau kamu, menuntut bayaran. Aku ngga punya uang!" seru Ratih, berusaha berdiri namun tangannya di tarik Bara. Hingga kembali terjatuh, dan kini terjatuh di pangkuan Bara.
Bara terlihat tersenyum menatap Ratih.
"Iiich, kamu jangan macam-macam!" ketus Ratih, segera bangkit dari pangkuan Bara.
"Oke, saya ngga mau bantu kamu. Lagian, apa peduli saya dengan rumor yang menimpa kamu." ujar Bara mengancam, dan tersenyum sinis.
"Aiisssh, memangnya kamu pikir kamu siapa, Hah! Aku juga mau ngelakuin ini, karena permintaan kedua sahabat saya," jawab Ratih kesal.
"Persetan dengan rumor itu, memangnya aku peduli. Asal kamu tau, aku pun ngga peduli." seru Ratih, segera berlari meninggalkan Bara.
Bara tampak terdiam dan tertegun serta menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Ratih yang malah lebih ketus darinya. Padahal Ratih yang menghampirinya dan memerlukan jasanya.
"Dia yang minta, kenapa dia yang marah? Heran, dasar cewek aneh," gumam Bara kembali menggelengkan kepalanya, segera berjalan menuju tasnya kembali.
Nova dan Hesty tampak meringis gemas, dan segera berlari mengikuti Ratih yang pergi lebih dulu.
"Apa yang Ratih bicarakan sama loe?" tanya Tedy memberanikan diri.
"Bukan urusan loe!" ketus Bara, segera menjinjing ranselnya meninggalkan Tedy dan Vian.
"Bar, tungguin kita." teriak Vian dan Tedy, segera berjalan setengah berlari mengejar Bara.
Sedangkan, Hesty dan Nova segera berlari berusaha mengejar Ratih. Tetapi, mereka tak berhasil menemukan Ratih. Yang bahkan, tak terlihat ujung dari batang hidungnya sekalipun.
"Kemana Ratih, iiich kesssel deh," keluh Nova menghentak-hentakkan kakinya merasa gemas, bercampur kesal.
"Kayanya dia dah balik deh, atau mungkin Ratih ke tempat latihan tae kwon do-nya. Tahu sendiri, kalau Ratih kesal. Pasti lari ke sana." jelas Hesty menduga.
"Iya juga sih, ya udah kita balik aja deh." ujar Nova segera berjalan keluar ke tempat parkir sekolah.
Kini, Ratih sedang berada di atas kemudi motor dari ojek online yang sudah di pesannya. Untuk segera menuju pulang, dan berganti pakaian dan membawa baju tae kwon do miliknya, lalu segera kembali keluar dengan membawa kunci motornya.
"Lho, kamu mau kemana lagi Nak?" tanya Ibu, melihat Ratih yang sudah bersiap.
"Latihan Tae kwon do Bu, maaf Ratih udah telat Bu," jawab Ratih, segera mencium punggung tangan Ibu. Lalu bergegas pergi.
Ratih telah berada di tempat berlatih tae kwon do, sabelum Saboem (pelatih Tae Kwon Do) terlihat menatap Ratih yang baru datang.
"Kenapa, baru datang?" tanya Saboeum Andar pada Ratih.
"Maaf Saboeum, tadi ada tugas sekolah," jawab Ratih, membungkukkan badannya.
Tak berapa lama kemudian, Sony teman latihan tae kwon do Ratih datang tak lama setelah Ratih tiba.
Setelah mendapat perintah dari Saboeum Andar, Ratih dan Sony segera melalukan pemanasan dengan berlari dan pelemasan tubuh. Sebelum melakukan latihan jurus-jurus tae kwon do.
"Son, kalo ngga salah kamu suka perform di kafe bareng band kamu kan?" tanya Ratih setengah berbisik kepada Sony.
"Tumben, loe tanya itu? Biasanya juga, loe kaga tertarik," jawab Sony, sambil berlatih berpasangan dengan Ratih.
"Ngga, nanya aja. Oya, gimana hubungan kamu sama pacar kamu?" tanya Ratih, sambil melakukan tendangan pada target yang di pegang oleh Sony.
"Baik-baik aja kok, memangnya kenapa?" jawab Sony, tetap fokus memegang target.
"Ngga nanya aja," jawab Ratih tersenyum "Sini, sekarang giliran saya yang pegang target. Tapi, awas lho hati-hati tendangannya." pinta Ratih, segera meraih target yang di pegang oleh Sony.
Selesai berlatih dengan bimbingan Saboem, Ratih segera duduk di samping Sony.
"Son, boleh ngga saya tanya sesuatu?" tanya Ratih ragu.
"Bukannya dari tadi loe nanya mulu? Memangnya, mau nanya apa lagi?" tanya Sony tampak penasaran.
"Begini, di sekolahku juga ada siswa yang suka perform di kafe. Kali aja, kamu kenal dia," ucap Ratih memberitahu.
"Oh ya, kebetulan dong. Vokalis band gue juga, berasal dari sekolah loe," jawab Sony pada Ratih.
"Benarkah? Kok, kamu baru cerita?" tanya Ratih heran.
"Kan loe kaga pernah nanya." ujar Sony pada Ratih.
"Emm... Iya juga sih," jawab Ratih sambil mengusap kepalanya. "Oya, apa kamu kenal sama Bara?" tanya Ratih ragu, sambil menggigiti bibirnya.
"Napa loe nanya dia, jangan-jangan loe salah satu fans cewek di sekolahnya?" tanya Sony mendelik, menatap Ratih.
"Bukan-bukan, ogah banget gue ngefans sama cowok kaya dia. Cuma... aku lagi ada masalah di sekolah nih, dan kali aja kamu bisa bantu aku." jelas Ratih, dengan wajah murung.
"Sepertinya, masalahnya agak serius nih. Cerita aja, kali aja gue bisa bantu," ucap Sony, terlihat serius.
"Jadi begini, singkatnya aja ya?" jawab Ratih pada Sony.
"Ya, loe ceritain intinya aja." jelas Sony kembali.
"Sebenarnya, entah ini di sebut masalah besar atau ringan. Tapi, ini menyangkut nama baik aku di sekolah," jawab Ratih murung.
"Maksudnya?" tanya Sony makin penasaran.
"Ada siswa yang fitnah aku, sebagai seorang lesbi." jelas Ratih kembali.
"Hah, gila! Loe serius, terus loe sendiri gimana?" tanya Sony kembali bertanya.
Hhhh... huft... Ratih menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.
"Ya aku bukan lesbi lah, lagian aku di kasih waktu dalam 10 hari untuk membuktikan bahwa aku punya pacar laki-laki." ucap Ratih, tertunduk lesu.
"10 Hari! terus, rencana loe kaya gimana?" tanya kembali Sony semakin penasaran.
"Sebenarnya, teman-teman merekomendasikan Bara, untuk menjadi pacar pura-pura saya. Setidaknya, sampai rumor itu mereda," ucap Ratih sedikit malu.
"Lalu, loe udah bicara sama Bara?"
Ratih mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyaan Sony.
"Apa Bara mau?" tanya Sony penasaran.
"Kayanya sih Ngga," jawab Ratih, menggelengkan kepalanya.
"Tapi, biarlah aku ngga peduli. Biarin mereka mau bilang apa tentang aku, yang jelas aku ngga seperti itu," ucap Ratih, segera berdiri.
Sony ikut berdiri, dan merangkul pundak Ratih memberi semangat.
"Loe ngga usah khawatir, gue akan berusaha bicara dan membujuk Bara. Meskipun, gue tahu rasanya ngga mungkin. Karena, gue tahu sikap Bara." ujar Sony, sambil menepuk pundak Ratih.
"Thanks ya? Kalo gitu, aku ke toilet dulu ya." jawab Ratih, segera membawa ransel untuk berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian, terlihat Sony dan teman-teman yang lainnya masih bersiap-siap untuk pulang.
"Teman-teman, aku cabut duluan ya?" ucap Ratih, segera pergi menuju tempat parkir.
Tak berapa lama, ponsel Ratih berdering.
"Ya hallo Bu," ucap Ratih, mengangkat telepon.
"Nak, tolong nanti kamu ke supermaket ya? Belikan minyak dan sabun mandi." perintah Ibu di balik telepon.
"Ibu chat aja, apa yang di perlukan. Tapi, jangan terlalu banyak. Ratih pengen cepet-cepet mandi Bu," jawab Ratih merajuk.
"Iya Nak, nanti Ibu chat. Dan Ibu udah transfer uang untuk belanjanya ya?" ucap Ibu memberitahu.
"Oke Bu, makasih ya."
Ratih segera melajukan motornya, menuju lokasi supermaket terdekat.
"Ngga apa-apa deh, belanja sendiri. Aku juga lagi jenuh, apa sebaiknya saya sekalian beli cemilan buat di rumah?" gumam Ratih, sambil mendorong troly belanjaan.
Setelah cukup lama memilih barang belanjaan, sesuai catatan Ibu. Ratih menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena, ternyata catatan yang Ibu beri. Memenuhi isi troly hingga penuh, dan tak ada ruang.
"Dibilangin jangan banyak, ini banyak banget. Ah Ibu sih, kebiasaan," gerutu Ratih merasa kesal, bicara sendiri.
Selesai membayar, Ratih segera keluar dengan membawa sekantong penuh belanjaan. Dan tanpa Ratih sadari, sudah ada 2 orang pria yang dari tadi mengawasinya.
Tbc...