"Aaargh, berat banget sih," keluh Ratih, menjinjing kantong belanjaan menuju area parkir, yang berada di halaman gedung supermaket.
Ratih menyimpan kantong belanjaannya, dan hendak mengeluarkan dompetnya dari dalam ranselnya.
Secepat kilat, tas yang sedang Ratih pegang. Melesat, dan kini telah berpindah tangan kepada seorang penjambret yang dengan cepat merebut tas berisi dompet Ratih.
"Ya-ya-ya, Hey... itu tas gue tau!" teriak Ratih kesal.
Ratih bingung, dengan kantong belanjaannya. Dan menitipkannya pada petugas parkir, sebelum akhirnya berlari mengejar penjambret.
"Sial! Hai, kalian jangan kabur!" teriak Ratih, berlari kencang.
Host... host... host... huft... nafas Ratih tersengal-sengal, dan membungkuk. Karena, berhasil membuat 2 pria penjambret terdesak di antara selah 2 gedung di jalan buntu.
"Kalian mau lari kemana? Kembalikan tas saya," ucap Ratih berusaha tetap tenang.
"Hahaha... jangan sok jagoan loe, lebih baik loe biarin kita pergi atau nyawa loe taruhannya!" seru salah satu penjambret berlagak jagoan.
"Cepat kembalikan, sebelum kesabaran saya habis." pinta Ratih, masih tetap berusaha tenang.
Ratih sadar betul, bahwa dirinya jangan berbuat gegabah. Dan berusaha mengulur waktu, sambil bernegoisasi. Sebelum tenaganya kembali pulih, akibat lelah mengejar kedua penjambret yang kini berada di hadapannya.
"Kesabaran? Kamu pikir kamu siapa, hah?!" Teriak penjambret dengan wajah sangar.
"Saya pemilik tas itu, jadi tolong kembalikan tas itu pada saya." pinta Ratih kembali.
Hyaaath... Penjambret itu menyerang Ratih, penuh amarah.
Hyaath... brakh... brukh... Perkelahian sengit terjadi, di antara Ratih dan kedua penjambret. Kini, Ratih berhasil membuat salah satu diantara mereka jatuh tersungkur. Dan satu lagi, dalam keadaan di impit kedua kaki Ratih dalam posisi telungkup di bagian lehernya.
"Lain kali, kalian ngga usah ngejambret lagi. Masih banyak pekerjaan halal, yang bisa kalian coba," ucap Ratih kesal.
Tanpa Ratih tahu, salah satu penjambret yang jatuh tersungkur berusaha bangkit. Dan mengeluarkan pisau lipatnya, hendak menusuk Ratih dari belakang.
Perlahan, tapi pasti. Penjahat itu, berjalan menghampiri Ratih penuh emosi hendak menikam Ratih.
"Mampus kau!" serunya menghampiri Ratih.
Brugh... seseorang datang dan menendang penjahat yang hendak menikam Ratih.
"Siapa kamu, kamu ngga usah ikut campur urusan kami!" seru penjahat yang berhasil di tendang.
"Kalian pengecut, beraninya melawan perempuan," jawabnya segera menarik kerah baju, penjahat yang di tendangnya.
Ratih terkejut, kala melihat penjahat yang tadi tersungkur. Tiba-tiba, kembali terjatuh tanpa Ratih tahu. Kapan, penjahat itu kembali bangkit. Ditambah lagi, dengan kemunculan seorang pria yang kini sedang menarik kerah salah satu penjahat.
'Siapa dia? Kenapa dia menolongku?' gumam Ratih dalam hati.
"Ambil tas loe, lalu kita bawa mereka ke pos polisi atau satpam terdekat." ujarnya memberitahu Ratih.
Tanpa ragu Ratih mengikat tangan penjahat yang di pegangnya, dengan tali yang di beri oleh pemuda tadi.
Untungnya, ternyata pos polisi tak jauh dari tempat Ratih menghentikan jambret.
"Thanks ya," ucap Ratih tersenyum.
"Sama-sama, lain kali jangan bertindak sok jagoan sendiri. Kalo gue kaga lihat loe, sudah pasti loe bakalan tertusuk," ucapnya menasehati Ratih.
"Saya bisa mengatasinya kok, cuma tadi saya hanya sedikit lengah," jawab Ratih masih merasa gengsi.
Pria itu tampak tersenyum, sambil sedikit menggelengkan kepalanya.
"Oya, nama gue Ryu ji," ucapnya memperkenalkan diri, mengajak jabat tangan.
"Saya Ratih, sekali lagi thanks ya," ucap Ratih dengan senyum lepas.
"Emm... boleh gue minta nomer Hp loe? Kali aja, suatu saat gue butuh bantuan loe atau loe butuh bantuan gue?" pintanya spontan.
Ratih terdiam, dan tak langsung menjawab. Karena ini, kali pertama baginya kenalan sama laki-laki dan meminta nomer ponselnya.
"Boleh, aku ketik nomer saya di ponsel kamu ya?" jawab Ratih, menawarkan diri.
"Oke, tolong save sekalian." pinta Ryu Ji pada Ratih.
"Ini, namanya Ratih ya." ucap Ratih tersenyum.
"Oke, thanks ya. Apa kamu mau saya antar pulang?" tawar Ryu Ji pada Ratih.
"Ough, ngga. Ngga usah, saya bawa motor kok," jawab Ratih menolak.
"Ya ampun, saya lupa. Belanjaan saya masih di tukang parkir!" seru Ratih menepuk jidatnya sendiri.
"Kalau begitu, saya antar kamu sampai tempat parkir." tawar Ryu Ji, berjalan bersama di samping Ratih.
Ratih mengangguk, dan ikut berjalan bersama Ryu Ji.
"Tadi, gue lihat. Cara kamu bertarung, keren juga. Kayanya kamu berlatih keras, dalam bela diri." ujar Ryu Ji, kagum.
"Ah, biasa aja kali. Kenapa, kamu bisa tahu aku di sana?" tanya Ratih penasaran.
"Tadi, saat gue melintas. Gue lihat loe, ngejar kedua penjambret tadi. Diam-diam gue ikutin, dan ngawasi loe." jelasnya jujur.
"Kenapa, ngga bantu saya dari awal?" tanya Ratih heran.
"Sengaja kok, hehe." jawab Ryu Ji, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kenapa?" tanya Ratih kembali.
"Gue mau masti'in aja, kenapa cewek berani ngejar penjahat, sendirian pula," jawabnya tersenyum.
"Dan ternyata, benar dugaan gue. Loe bukan cewek sembarangan, gue suka cewek kaya loe. Ngga manja!" ucapnya menatap Ratih.
"Padahal, kita baru kenal. Tapi, kamu udah bilang suka sama cewek." Ratih tersenyum, menggelengkan kepalanya.
"Yah sorry, bukan gitu maksud gue. Gue emang suka sama type cewek kaya loe. Ngga manja, dan mandiri gitu," jawab Ryu Ji menjelaskan dengan wajah memerah karena malu.
"Pak, kantong belanjaan saya mana ya Pak?" tanya Ratih, pada tukang parkir.
"Ough, sebentar Neng. Bapa tadi titip ke pos satpam, tunggu ya Neng," jawabnya segera berlari, mengambil belanjaan Ratih.
"Kamu itu, belum kenal bagimana saya. Jadi, aku heran aja kenapa kamu sepolos itu bilang suka sama cewek yang baru kamu kenal?" ucap Ratih pada Ryu Ji.
"Ya beginilah gue. Oya, boleh saya minta sesuatu?" tanya Ryu Ji tampak ragu.
"Minta apa? Tapi, Karena kamu sudah menyelamatkan dan membantu saya. Silahkan, kamu mau minta apa lagi?" ucap Ratih mempersilahkan.
"Begini, saya mau coba test untuk telepon kamu," ucapnya, segera mengeluarkan ponselnya.
Dan terdengar, lantunan lagu lawas Linkin park berjudul Numb terdengar.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu percaya itu nomer aku? Lebih baik, aku pulang dulu ya. Ibuku pasti nunggu di rumah," ucap Ratih, segera memasukkan kunci ke lubang kunci motornya.
"I-iya, hati-hati ya?" ucap Ryu Ji, dengan ragu mengangkat dan melambaikan tangannya.
Dibalik helmnya, Ratih tersenyum melihat Ryu Ji dari kaca spion motornya.
"Lumayan tampan juga tuh cowok, aku juga suka style-nya yang ngga kaku," gumam Ratih, bicara sendiri sambil terus melajukan motornya.
Tak lama kemudian, Ratih telah tiba di rumah dan segera memberi kantong belanjaan kepada Ibu yang sedang duduk bersama Ayah di sofa ruang keluarga.
"Ini, belanjaannya Bu. Kenapa, Ibu ngga minta Abang yang belanja sih. Mana banyak gini lagi," gerutu Ratih, segera duduk di sofa.
"Ibu pikir, karena sekalian kamu ada di luar rumah. Jadi, Ibu meminta kamu untuk belanja," jawab Ibu menjelaskan.
"Loh, pipi kamu kenapa? Lebam-lebam kaya gitu?" tanya Ayah, segera menghampiri Ratih dan kini berada di hadapan Ratih.
"Ough ini, tadi Ratih berkelahi Ayah," jawab Ratih, sambil meringis karena pipinya di usap dan di tekan Ayahnya.
"Lho, kenapa berkelahi?" tanya Ibu, segera duduk di samping Ratih.
"Tadi, tas Ratih di jambret. Ya terus, Ratih kejar mereka. Ya..., kita bertiga berkelahi deh." jelas Ratih pada kedua orang tuanya, dan tetap bersikap santai.
"Terus, apa saja yang terluka?" tanya Ayah semakin khawatir.
"Ratih ngga apa-apa Ayah, cuma tadi memang hampir terluka sih. Ratih hampir di tusuk gitu, tapi untungnya ada yang nolongin Ratih. Jadi, Ratih selamat deh." jelas Ratih kembali.
"Ya ampun sayang, untunglah kamu ngga apa-apa. Pantas saja, perasaan Ayah ngga enak." ujar Ayah, mengusap rambut Ratih.
"Ih, apaan sih Ayah. Ratih bukan anak kecil, lagian Ratih ini perempuan kuat. Makanya, ada gunanya juga kan? selama ini, Ratih ikut latihan bela diri," ucap Ratih tersenyum.
"Lain kali, Ibu ngga usah suruh Ratih belanja sendiri. Ayah ngga mau, anak perempuan Ayah satu-satunya. Sampai kenapa-kenapa." perintah Ayah menatap Ibu.
"Iya Ayah," jawab Ibu tampak menyesal.
"Maafin Ibu ya Nak? Nanti, pasti Ibu suruh abang-abang kamu yang belanja."
"Ngga apa-apa kok Bu, kalian ngga usah khawatir seperti itu. Ratih perempuan kuat, bukan perempuan manja." ketus Ratih, tak suka terhadap sikap orang tuanya yang di rasa terlalu berlebihan.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu. Nanti, Ibu kompres lebam-lebam kamu." perintah Ibu pada Ratih.
Tbc...