Ratih segera masuk ke dalam kamarnya, dan segera membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi dan berpakaian, Ratih merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pikiran Ratih kembali teringat kejadian tadi, saat dirinya berkenalan dengan Ryu Ji.
"Apakah, laki-laki tadi merupakan jawaban Tuhan atas doa-doaku." gumam Ratih bicara sendiri, dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Tapi, bagaimana dengan Bara?" gumam Ratih kembali, segera bangkit dari kasur.
Karena Ratih tak mau larut dalam permasalahan, yang akan menambah beban di pikirannya. Ratih pun segera turun, setelah teringat Ibu menunggunya di bawah bersama Ayah.
Ratih segera duduk di tengah-tengah, bersama kedua orangtuanya. Dan Ibu segera menuju dapur, mengambil air hangat untuk kompres memar di wajah Ratih.
"Lain kali, lebih baik kamu jangan terlibat perkelahian lagi Nak. Kamu ini perempuan sayang, Ayah ngga mau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Ayah, ikut melihat memar di wajah Ratih.
"Ayah ngga usah khawatir, lagian sayang juga. Kalau Ratih ikut latihan bela diri, tapi ngga pernah di praktekin langsung," jawab Ratih, mencoba untuk tetap tenang.
"Tapi, kamu jangan merasa bisa melakukannya sendiri, untung saja kali ini kamu ada yang menolong. Jika tidak, Ayah tak sanggup untuk membayangkannya," keluh Ayah, sambil mengusap rambut putrinya.
"Betul kata Ayahmu Nak, meskipun kamu merasa bisa dan mampu. Tapi, jika kamu hanya seorang diri. Itu berbahaya buat keselamatan kamu. Apalagi kamu seorang perempuan." ujar Ibu setuju, pada ucapan Ayah.
"Pokoknya, Ayah dan Ibu ngga usah khawatir. Ratih bisa jaga diri kok," ucap Ratih memeluk kedua orang tuanya, dengan senyum di bibirnya.
"Bagaimana kamu saja deh, Ayah dan Ibu percaya hanya bisa menasehati. Sekarang, tidur sana." perintah Ayah pada Ratih.
Ratih pun segera naik ke atas, dan masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya tak terasa Ratih mulai mengantuk, dan memutuskan untuk segera tidur malam. Untuk melepas rasa lelah, setelah seharian melakukan aktifitas.
Pagi hari, Ratih bangun lebih cepat dari biasanya. Selepas shalat subuh, Ratih memutuskan membantu Ibu di dapur. Untuk menyiapkan menu sarapan, yang akan di sajikan nanti.
"Hari ini, Ibu akan membuat sarapan apa?" tanya Ratih sambil membantu Ibu mencuci selada.
"Ibu akan buat sandwich roti tawar, dengan telur dan salad," jawab Ibu sambil memasak telur mata sapi.
"Bu, untuk Ratih telurnya jangan terlalu matang ya." pinta Ratih, yang kini beralih memotong tomat dan mentimun.
"Semuanya, sengaja Ibu buat setengah matang kok," jawab Ibu, yang kini telah selesai memasak telur.
Tak terasa waktu terus berjalan, Ratih segera menuju kamarnya untuk segera mandi dan berganti seragam sekolah.
"Wajah kamu kenapa?" tanya Abang Riki melihat Ratih yang masih menyisakan memar di wajahnya.
Abang Raka pun ikut melihat wajah adiknya, yang terlihat biru. "Kamu jatuh? Atau kejedot tembok?" tanya Abang Raka penasaran.
"Ini karena kalian," jawab Ratih cemberut.
"Lha, kok karena kita?" protes Abang Raka bingung.
"Iya, karena kemarin kalian ngga mau belanja buat Ibu. Jadi, sepulang belanja Ratih kena jambret," ketus Ratih menatap kedua Abangnya dengan tatapan tajam.
"Terus, kenapa nyalahin kita. Itu semua, bisa saja terjadi karena kamu yang kurang hati-hati," jawab Abang Riki membela diri.
"Ya iyalah, coba kalo Abang-abangku ini mau bantu Ibu belanja, pasti Ratih ngga kena jambret," jawab Ratih kembali.
Tiba-tiba, Ratih teringat perkenalannya dengan Ryu Ji. Karena , jika tidak di jambret. Tentu Ratih tidak akan bertemu Ryu Ji.
"Eh ngga deh, semua bukan karena Abang. Ini terjadi, karena Ratih yang kurang waspada aja saat berkelahi," ucap Ratih melunak.
"Apa! Berkelahi, siapa yang udah bikin kamu seperti ini?" tanya Abang Riki dan Raka kompak.
"Sudah-sudah, pelakunya udah di tangkap polisi kok," jawab Ratih pada kedua kakaknya.
"Maaf, kemarin kita sibuk di kampus. Ngurus skripsi, jadi ngga bisa bantu Ibu," ucap Raka menjelaskan, yang kini merasa bersalah.
"Ngga apa-apa kok, nanti kalo udah wisuda dan lulus. Jangan lupa cepat cari kerja ya," ucap Ratih memberi saran.
"Lho, emangnya kenapa?" tanya Raka heran.
"Biar Abang-abang ku yang ganteng ini, bisa nambahin uang jajan Ratih. Hehe," jawab Ratih terkekeh.
"Dasar!" protes Riki, sambil menyuap setengah potong roti sandwich kedalam mulutnya sekaligus.
"Udah-udah, kalian ini. Udah besar juga, masih sering bicara disaat makan gini. Itu ngga baik!" protes Ayah menasehati.
"Iya, maaf." jawab Ratih, Raka dan Riki kompak, sembari menunduk.
Akhirnya mereka menghabiskan sarapannya, dan Ratih segera berangkat ke sekolah.
Seperti biasa, Ratih selalu berangkat ke sekolah dengan di antar oleh Ayah. Di gerbang Sekolah, Hesty dan Nova terlihat sedang menanti kedatangan Ratih, sambil berdiri dan tersenyum saat melihat mobil Ayah Ratih datang.
"Kalian udah lama nungguin?" tanya Ratih pada kedua temannya, setelah bersalaman dan pamit pada Ayah.
"Ngga kok, kita juga baru nyampe. Kemarin, kenapa kamu main kabur begitu aja." jawab Hesty, bertanya pada Ratih.
"Siapa yang kabur, aku langsung cabut latihan tae kwon do kok," jawab Ratih mengelak di sebut kabur.
"Bentar-bentar, wajah kamu kenapa? Kok, kaya memar-memar sih." tanya Nova, segera berhenti di depan Ratih serta menghadap dan memperhatikan wajah Ratih.
"Ough ini, ngga apa-apa kok. Cuma lebam-lebam dikit. Tapi, aku senang kok," jawab Ratih tersenyum.
"Lho, kok senang sih?" tanya Hesty makin penasaran.
"Roman-romannya ada kabar gembira nih. Cerita dong," ucap Nova membujuk.
"Nanti aja, pas istirahat ya. Bentar lagi, bel masuk bunyi tuh," jawab Ratih, kembali melangkahkan kakinya segera, dengan langkah cepat.
Ratih beserta teman-teman sekelasnya, belajar seperti biasanya. Hingga waktu bel istirahat pun berbunyi, dengan segera Ratih pergi ke kantin. Di ikuti oleh Hesty dan Nova, yang berjalan di belakangnya dengan wajah heran melihat Ratih yang tampak ceria.
"Kira-kira, Ratih kenapa ya? Apa habis menang lotre?" tanya Nova berbisik pada Hesty.
"Ngga tau tuh, ngga seperti biasanya dia kaya gitu," jawab Hesty ikut berbisik.
"Bu, saya pesan Mie ayam pakai baso ya. Saosnya dikit aja, kecapnya banyakin ya Bu," pinta Ratih memesan pada Ibu kantin.
Setelah mendapat pesanannya, Ratih dan kedua temannya segera duduk di tempat yang masih kosong.
"Untunglah, masih ada meja kosong," ucap Nova yang memilih duduk di hadapan Ratih.
"Rat, cerita dong sebenarnya kamu punya cerita apa sih. Bagi-bagi dong?" bujuk Hesty pada Ratih.
"Kepp-po," jawab Ratih tersenyum.
"Iiiich, pake rahasia-rahasia'an segala," ketus Hesty, dengan wajah cemberut.
"Biarin, kali-kali dong gue punya rahasia, Week," jawab Ratih memeletkan lidahnya, dan segera menyeruput lemon tea di gelasnya.
"Ya ellah, Ratih cerita doong," bujuk Nova yang ikut penasaran.
"Ya udah, ngga usah ngebahas ini lah. Sekarang, gimana rencana kalian untuk masalah Bara?" tanya Ratih mengalihkan pembicaraan.
"Emm... aku dah dapat nomer ponsel Bara nih, gimana kalo kamu nanti hubungi dia," ucap Hesty memberitahu.
"Gila, serius? Kamu dah dapat nomer ponselnya?" tanya Ratih tak percaya.
"Jangan panggil gue Hesty, kalo ngga bisa mencari informasi," celoteh Hesty percaya diri.
"Beneran loe, punya bakat jadi mata-mata atau detective nih," ucap Ratih tersenyum.
"Hahaha, Hesty gitu loh," ucap Ratih sembari menarik-narik kerahnya sendiri, dengan bangga.
"Tapi, nanti aku musti ngapain?" tanya Ratih bingung.
"Ya kamu bujuk Bara lah, terus ajak jalan atau gimana lah. Supaya Bara luluh sama kamu," jawab Nova menjelaskan.
"Tapi, maksud aku tuh bujuk bagaimana?" tanya Ratih kembali.
"Pokoknya, kamu harus rayu Bara. Supaya bisa nerima kamu, jadi kekasihnya," jawab Hesty berbisik.
"Emm... gimana kalo kalian yang hubungi Bara. Terus, aku yang ketemuan sama dia. Please..." mohon Ratih pada kedua sahabatnya.
"Ya ampun Ratih, gitu aja kamu ngga bisa. Ya sudahlah, nanti aku yang hubungi Bara. Tapi, awas kalo kamu buat masalah kaya kemarin," ancam Hesty menatap Ratih tajam.
"Napa sih, kalian ribet amat!" ketus Ratih kesal.
"Bukan ribet, tapi ini demi kebaikan kamu kali," jawab Nova kesal.
"Iya," jawab Ratih singkat.
"Pokoknya, misi kita sekarang harus berhasil. Aku ngga mau Mieke makin nyebarin berita hoax," ucap Nova sembari mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi.
"Betul tuh, pokoknya aku mau nama baik kamu kembali bersih. Tanpa gosip yang dibuat-buat sama Mieke, si mulut comberan." ketus Hesty setuju.
Tbc....