"Pria bodoh, tak berguna, tak bisa memuaskan perempuan seperti Claudya. Memangnya kepuasan seperti apa yang jalang itu inginkan? Bukankah ia selalu tergeletak lemas setiap kami mencapai klimaks dan dia selalu memohon untuk jeda? Akhhh... persetan, semuanya persetan!"
Teriakan Ashka semakin tenggelam oleh derasnya air langit yang seakan ingin membasuh dan membawa hanyut kesedihannya malam itu.
Sementara itu, masih di ruangan pesta, Erick tampak panik dan bingung. Pasalnya, Ashka tidak muncul lagi setelah ia memberi tahu tentang pengkhianatan tunangan bos nya itu.
Erick, ia sudah lama tahu tentang perselingkuhan Claudya dan Bram. Tapi pria itu belum berani menyampaikan kepada Ashka tentang perselingkuhan tersebut. Hingga sebuah pesta di gelar oleh Ashka, malam itu, saat Erick baru saja tiba di parkiran bawah tanah sebuah Hotel, saat hendak membuka pintu, tidak sengaja dirinya melihat Claudya dan Bram sedang bergandengan mesra setelah keduanya keluar dari mobil Bram. Tentu saja Erick tahu tentang Bram, karena Pria itu tidak lain adalah sepupu dari Ashka.
Erick berpikir sejenak apakah ia perlu mengawasi mereka atau langsung ke acara bos nya itu. Dengan menggunakan topi hitam Nike ori berwarna hitam, ia berjalan di kejauhan dan sebentar lagi ia akan tahu ke mana arah mereka. Benar saja, sebuah Kamar dengan nomor yang ia lihat di pintu kamar tersebut, ia pun segera beranjak dari sana secepatnya, karena Ashka pun sudah meneleponnya berulang kali.
Ingin rasanya Erick memberitahu Ashka tentang fakta yang baru saja ia saksikan, selama ini Pria ini hanya diam walaupun ia sudah lama tahu perihal Bram dan Claudya.
Panggilan berulangkali dari Ashka, akhirnya terpaksa ia balas dengan mengirimkan chatt pada bosnya itu. Setidaknya agar Ashka melihat sendiri fakta yang seharusnya ia sadari selama ini.
Begitulah yang terpikir oleh Erick dan saat ini, Pria yang lumayan tampan itu juga sedang panik. Ada rasa bersalah pada dirinya, mengapa, ada apa dengan Bos-nya itu, sampai saat ini tidak bisa di hubungi.
"Semoga saja si Bos tidak melakukan hal-hal yang di luar kendali, ya Tuhan apa aku salah cara memberitahunya? Bagaimana ini?" Batinnya.
Akhirnya, Ericklah yang menggantikan Ashka sementara di ruangan pesta itu hingga berakhir.
Dua tahun kemudian~
Sebuah perusahaan bernama Revolution Company, bergerak di bidang konstruksi dan property, di sinilah Ashka sedang duduk dengan gagah, di atas kursi kebesaran sebuah ruangan petinggi yang ia duduki sendiri selaku pemilik dan pendiri tunggal Revolution Company.
Satu minggu sudah berlalu, semenjak kematian Erick, orang kepercayaan satu-satunya yang selalu mendampingi dan mendukung karirnya hingga perusahaannya berdiri dan semakin berkembang sampai detik ini, mengalami kecelakaan Pesawat setelah kembali dari cuti berliburnya di Bangkok.
"Ashka, alangkah baiknya jika kamu mulai membuka hati, maksud ku, mencoba merekrut kembali sekretaris pribadi untukmu. Aku rasa sebagai orang besar dan berpengaruh sepertimu juga butuh refreshing dan jalan-jalan. Maaf, jika saya membahas tentang pribadi dan semoga saja kamu tidak keberatan dengan saran temanmu ini"
"Saya juga tidak tahu sampai kapan akan terus seperti ini, Alex. Sebenarnya saranmu boleh juga, tapi apa sebaiknya saya mendapatkan kandidat untuk sekretaris saya dulu ya?"
Itu masalah belakangan, apalagi yang memegang tindak tanduk adalah kau sendiri, jadi selepas dari sana pun, saya rasa lebih baik, setidaknya setelah kembali berlibur aura dan pola pikirmu lebih terbuka lagi."
"Jadi kau pikir selama ini pola pikirku sempit, begitu maksudmu?"
"Hahaha." Keduanya pun saling terpingkal dan terbahak.
Di mana keduanya saat ini sedang berada di ruangan Ashka. Dan pria bernama Alex ini adalah satu-satunya rekan bisnis yang dekat dengannya.
Sesuai wacana yang di perbincangan mereka beberapa hari lalu, Ashka pun memutuskan untuk berlibur ke Dubai. Pria ini sengaja memilih Dubai tempat ia akan menghabiskan waktunya satu Minggu di sana, sekalian bertemu dengan teman bisnisnya yang telah menghubunginya beberapa hari lalu.
Singkat cerita, setelah satu minggu berlibur dan bertemu dengan rekan bisnisnya yang merupakan warga Arab di Dubai, Ashka kembali ke Jakarta.
Kriiiing!
Suara melengking dari sebuah benda bernama alarm yang sengaja di sediakan oleh pihak Hotel tempat ia menginap, berhasil membangunkan Pria tampan yang merupakan keturunan Belanda Turki tersebut.
Dengan malas dan posisi tengkurapnya, Ashka meraih dengan sebelah tangan alarm yang mengusiknya itu.
Ia pun mengintip dengan sebelah matanya yang berat, angka yang di tunjukkan oleh benda tersebut. Seketika Ashka bangkit dan beranjak dari tidurnya. Kenapa tidak, angka yang ada di sana memberitahu bahwa tinggal lima belas menit dari sekarang waktunya untuk pesawat yang ia boking akan mengudara.
"Sialan Assegaf! Karena ajakannya membuatku hampir saja ketinggalan pesawat." Gerutunya, sambil melempar selimut ke sembarang arah.
Pasalnya pria itu akan kembali hari ini setelah satu Minggu keberadaannya di Dubai dan semalam, Assegaff, yang menjadi rekan dalam bisnis propertinya itu, mengajaknya ke salah satu klub terkenal dan terbesar di tanah Arab tersebut.
"Come on, Boy! only once, when are you going to enjoy the real Dubai city?" Assegaff terus membujuknya malam itu, melalui sambungan selular mereka.
Ashka yang baru saja hendak berbaring dan bermalas-malasan di kamar Hotel tempat ia menginap, terpaksa mengangkat panggilan dari Assegaf.
"Kau memang payah, teman. Ayolah! Bukankah besok kau akan pulang? Jadi ku rasa ayo kita rayakan perpisahan kita ini." Ajak Assegaf.
"Memangnya kau akan mengajakku kemana bung?"
"Ke sebuah tempat yang aku rasa, Indonesia pasti tidak punya tempat seperti ini."
"Heeii, apa kau sedang mengejek negaraku? Kau jangan salah, walau aku berdarah Belanda dan Turki, tapi aku lahir di Indonesia, jadi mau bagaimanapun, Indonesia tetap tanah airku."
"Ya, ya, baiklah. Aku akui kau memang dari sana. Lalu, sekarang bagaimana? Aku rasa bersiaplah, aku akan menjemputmu sebentar lagi."
"Assegaf, tunggu!" Ashka terlambat dan Assegaf sudah menutup sambungan telepon mereka.
Akhirnya, Assegaf berhasil membawa Ashka ke klub tempat ia bersenang-senang dengan para pemuas nafsu kaum Adam yang ada di sana. Assegaf yang sudah kepalang mabuk, memanggil Ashka.
"Apa kau sudah mabuk, teman?"
"Sedikit." Jawabnya.
"Baiklah, karena kau akan kembali besok, pulanglah duluan, sebelum kau betul-betul mabuk dan gagal kembali ke tanah kelahiranmu itu, karena aku sendiri seperti yang kau tahu, aku belum tentu kembali ke apartemen ku besok."
"Huft, dasar buaya!" Batin Ashka, setelah akhirnya ia pun berpamitan pada rekannya itu.
Ashka baru saja tiba di Bandara setelah sepuluh menit kemudian dengan taxi pihak maskapai yang sengaja menjeputnya beberapa saat lalu.
"Tuan Ashka, Anda hampir saja terlambat dan batal kembali hari ini."