"Kau benar Tuan Syarif, untung saja alarm di Hotel berfungsi saat ini dan aku bisa pulang, kau tahu aku sudah meninggalkan pekerjaan ku selama seminggu. Jadi sangat tidak mungkin jika aku menambah lagi waktu berliburku di sini, Tuan Sharif."
Ashka pun bergegas turun dari mobil, dengan sedikit berlari menuju Terminal keberangkatan dan registrasi, untung saja, semuanya sudah di siapkan dan tinggal Ashka salah satu penumpang yang memboking hari ini namun tidak juga melakukan registrasi.
Selepas itu, setibanya di dalam pesawat, Ashka yang datang terlambat ternyata mendapati tempat bangku miliknya telah di duduki seorang wanita muda yang sepertinya enggan melihatnya. Dan ia pun menyapanya karena harus duduk di bangku kosong di sebelah wanita itu.
"Excuse me."
Namun wanita di sebelahnya tak bergeming sedikitpun. Satu jam kemudian, Ashka pun kembali tertidur akibat rasa kantuk yang menyerang dirinya setelah menghabiskan waktu di klub semalam bersama Assegaf.
Baru saja akan menikmati tidurnya, Pria itu tiba-tiba harus terjaga, suara Isak tangis dari wanita di sebelahnya berhasil membuatnya terbangun dan merapikan kembali duduknya.
Ashka panik, ia berpikir seakan dirinya ikut bertanggung jawab atas apa yang menimpa wanita yang berada di sampingnya saat ini. Wanita itu terus saja menangis sesenggukan, seolah-olah dirinya memang sedang terluka atau, entahlah. Begitulah kira-kira di pikiran Ashka saat ini.
Ia pun mengulurkan selembar tissue dari kantong kemejanya ke wanita yang masih menangis dan tertunduk itu.
"Ambillah!"
"Terimakasih."
Ucapnya, sambil menerima tissue dari Pria di sebelahnya tanpa menoleh dan ingin tahu siapa pria itu.
"Wanita aneh, kenapa wajahnya begitu menyedihkan? Apa yang terjadi padanya?" Batin Ashka sambil kembali ke posisinya semula untuk melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda barusan, kali ini ia menggunakan topi Hardy hitam untuk menutupi wajahnya.
Pesawat sudah mendarat saat ini dan para penumpang pun baru saja mengosongkan tempatnya masing-masing. Seorang Pramugari tiba-tiba melihat Ashka dan menghampirinya, salah satu penumpang yang ia lihat belum turun saat ini. Pasalnya, ia masih pulas dan tidak menyadari kalau mereka sudah tiba di Jakarta.
"Tuan, bangun Tuan, kita sudah sampai!" Seru Pramugari itu sambil menepuk pelan pundaknya agar Pria itu terbangun.
Ashka pun terbangun dan melihat ke kiri dan ke kanan. Benar saja, hanya dirinya saja yang ada di kabin saat ini.
"Maaf, saya ketiduran."
"Tidak masalah Tuan." Sambil tersenyum ramah pada Ashka yang langsung bergegas dari sana.
Revolution Company~
Keesokan harinya, di ruangan kebesaran miliknya, Ashka tengah sibuk dengan ratusan pesan masuk di email-nya. Dari sekian banyak pesan yang ia baca, tidak satu pun yang menarik minatnya.
"Huft, apa sesulit ini untuk merekrut satu orang untuk di percaya?" Gerutunya, sambil melepas kursor di tangannya dan akan beranjak dari sana. Belum lepas satu menit setelah ia melepaskan kursor di tangannya, Ashka kembali duduk di kursi kebesarannya itu.
Suara denting dari pesan masuk berikutnya membuat ia kembali duduk dan membukanya malas.
Mata Ashka pun membulat, ia menegakkan punggungnya, setelah melihat foto dari CV yang di kirim oleh si pelamar berikutnya ini. "Bukankah ini wanita yang menangis di pesawat?" Batinnya.
Ashka pun tertarik untuk menelusurinya lebih detail, "Ameera Van Karl Al Habsyi, usia dua puluh enam tahun berdarah Arab Belanda. Business Management Graduate. Lumayan juga, apa aku perlu menariknya ke perusahaanku dan mengajaknya bergabung? Ahh, sebenarnya apa aku sedang tertarik padanya atau, baiklah, aku memang tertarik tentang siapa wanita ini sebenarnya." Seakan sedang berdiskusi dengan hatinya sendiri, Pria tampan, matang dan sangat mapan ini memulai strateginya.
Ashka pun mengatur pertemuannya dengan wanita yang mengirimkan pesan lewat Email kepadanya itu, dengan menghubungi langsung Ameera melalui telepon selularnya dan mengatasnamakan Revolution Company yang sebenarnya adalah dirinya.
Ameera, sedang menemani adiknya Tasya, setelah mengirimkan CV melalui Email untuk sebuah perusahaan ternama dan bonafit saat ini di Jakarta satu jam yang lalu. Keduanya tengah berada di kamarnya yang sedang terbaring lemah karena penyakit kanker p******a yang ia alami satu tahun ini.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, pertanda ada telepon masuk. Kedua wanita itu saling pandang dan mengangkat bahu mereka. Sambil meraih ponselnya di nakas yang berada di sebelah ranjang Tasya, ia pun kembali membantu adiknya untuk berbaring kembali dengan sebelah tangannya.
Dengan ragu, Ameera mengangkat telepon itu.
"Ya halo, selamat pagi?"
"Selamat pagi. Apakah saya dengan Nona Ameera Van Karl Al Habsyi?"
"Iiiya, saya sendiri. Ini dengan siapa?"
"Kami dari pihak Revolution Company yang Anda kirimkan Email satu jam yang lalu, Nona."
"Oh, iya, iya. Ini saya Tuan, bagaimana Tuan apakah Email saya di terima, maksudnya, apakah...maaf, saya..." Ameera menggantung pertanyaannya dan mencoba mendengarkan apa hal sebenarnya, mengapa pihak perusahaan tersebut menghubunginya, apakah dirinya sedang di terima atau tidak, alangkah baiknya jika ia mendengarkan dulu.
"Ekhmm, halo Nona?"
"Ya, Tuan. Ini saya?"
"Anda kami tunggu besok di kantor pukul delapan pagi."
"Baik Tuan."
Sambungan telepon pun terputus oleh keduanya.
Betapa sumringahnya senyuman gadis itu setelah menerima telepon dari pihak Revolution Company dan memintanya datang besok pagi.
"Apa itu artinya kakak di terima?" Tanya Tasya sedikit gemetar, yang ikut mendengarkan ucapan Ameera dengan panggilan selular itu.
"Semoga saja. Kau tahu, aku sangat senang bisa langsung di hubungi seperti ini, aku rasa ada sedikit peluang untukku di terima, bagaimana menurutmu?" Tanyanya pada Tasya dengan wajah berbinar.
Inilah salah satu alasan wanita ini untuk memilih kembali ke Jakarta, Salim memutuskan pertunangan mereka,karena pria itu di jodohkan oleh orang tuanya dengan Putri orang terpandang dan hari itu Ameera memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah biro perjalanan di Dubai.
Dua hal ini lah yang membuatnya memutuskan kembali ke Indonesia, Tasya yang harus resign dari pekerjaannya karena kanker p******a yang semakin menggerayang di tubuhnya dan perusahan terpaksa memberhentikannya, sehingga ia kehilangan pekerjaan. Kedua orang tua mereka sudah meninggal semenjak Ameera di bangku sekolah dasar dan semenjak itu, keduanya pun ikut ke Dubai di bawa oleh Paman mereka yang merupakan seorang Tentara sipil. Dua tahun kemudian, sang Paman pun tewas di Medan perang saat dirinya di utus ke wilayah konflik.
Semenjak Pamannya tiada, kehidupan dua gadis kecil ini sangatlah memprihatinkan. Ameera yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan Tasya yang masih Balita kurang mendapat perhatian dan kerap mendapat siksaan dari istri mendiang Pamannya, wanita itu menganggap kedua gadis ini adalah benalu untuk nya, hingga suatu saat, salah seorang tetangga mereka, melaporkan tindakan istri dari mendiang Pamannya ini ke Departemen perlindungan anak dan HAM.