Seorang wanita cantik berlesung pipi, berkulit kuning langsat dengan tinggi 168 cm tengah sibuk mengaduk adonan cokelat yang sedang dipanaskan di atas api kecil di dapur rumahnya. Apron berwarna merah muda melekat pas di tubuh rampingnya yang cukup berisi di beberapa bagian yang sepantasnya dan rambut cokelat gelapnya terikat berbentuk cepol asal ke atas, menyisakan beberapa helai anak rambut yang menjuntai di bagian pelipis dan lehernya. Ia terlihat sangat seksi.
Terdengar derap langkah kaki dari ruang depan dan semakin dekat ke arahnya.
“Salma Denallie, Puteriku. Kau sedang sibuk, Sayang?”
Salma menoleh ke sumber suara tanpa menghentikan gerakan tangannya yang mengaduk cokelat di dalam panci. Ia tersenyum lebar menyambut siapa yang datang mengunjunginya siang ini. “Mama, kau datang?”
Amita berjalan menghampiri puterinya dan memberi kecupan singkat di kedua pipinya. Diperhatikannya dari dekat, Salma yang dulunya bersikap manja padanya kini berubah menjadi wanita dewasa dan mandiri. Hazel, suaminya, benar-benar memiliki pengaruh besar terhadap pribadi puterinya itu. Ia bersyukur memiliki menantu seperti pria itu.
“Kau sedang membuat Kokakia?” tanya Amita seraya mengamati aktivitas yang sedang ditekuni Salma, lalu pandangannya menyasar ke setiap sudut meja dapur.
Salma mengangguk. “Ya, Mama. Hazel memintaku untuk membuatkan ini semalam. Aku tak bisa menolaknya. Semenjak kami berbulan madu ke Yunani dulu, pria itu menjadikan jenis dessert ini makanan favoritnya,” terang Salma dengan ceria sembari mematikan kompor, mengangkat panci yang berisi cokelat dan meletakkannya di atas meja. Mencampurnya dengan beberapa extract dan mengaduknya kembali untuk lapisan permukaan kue sebagai finishing touch.
Kedua sudut bibir Amita terangkat ke atas membentuk senyuman hangat. Tak disangka Salma begitu cepat belajar. Ya, selama enam bulan terakhir Salma belajar membuat kue dengan dirinya dan perlahan puterinya itu menjadi cukup terampil.
Tentu Amita tahu apa yang sedang dibuat oleh puterinya. Kokakia merupakan dessert khas Yunani yang terdiri dari dua cake lembut berbentuk bulat dan diisi dengan krim di tengah dan disirami cokelat di bagian permukaan. Tekstur kuenya lembut dan mudah untuk dikunyah. Sangat pas dijadikan camilan dengan secangkir teh hangat.
Siang ini Amita menyempatkan waktu untuk mengunjungi anak perempuan satu-satunya itu dan meninggalkan sejenak toko kue miliknya. Ia menyerahkan pengawasan sepenuhnya pada orang kepercayaannya selama ia harus pergi menyelesaikan sesuatu di luar toko.
“Tidak meminta tolong pada pelayan untuk membantumu?”
“Non, Mama!”
[Non: Tidak.]
Beberapa saat kemudian.
“Voila! Ini dia Kokakia ala Chef Salma!” seru Salma dengan girang dan merekahkan senyum lebar seraya mengangkat piring saji yang terisi lebih dari sepuluh cake lembut itu. Ini pertama kalinya bagi Salma membuat Kokakia dan berhasil menyelesaikan sebanyak dua piring saji yang berbentuk persegi panjang. Ia berharap rasa dan teksturnya pas di lidah suaminya.
[Voila: Ini dia.]
Salma berjalan menyimpan satu piring saji ke dalam etalase kaca dan satu piring yang lain ia bawa menuju ruang tengah untuk dinikmati bersama Amita. Amita sendiri sedang sibuk menata berbagai macam buah yang dibawanya sebagai buah tangan dan membuat dua cangkir teh hangat dengan perasan lemon.
Amita menghampiri Salma dengan membawa minuman hangat itu dan meletakkannya di atas meja. Wanita itu kemudian duduk di samping puterinya.
“Coba, Ma.” Salma mengulurkan piring saji itu kehadapan sang mama.
Tangan Amita terulur mengambil satu Kokakia dan memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan perlahan seolah sedang memahami rasa dan teksturnya secara detil bagaikan seorang juri kompetisi memasak.
“Bagaimana, Ma?” tanya Salma tidak sabar dengan alis menukik dalam. Ia cemas menantikan tanggapan sang mama mengenai kue buatannya yang tak kunjung terucap.
“Aku membuatnya sesuai resep, Ma. Tidak kurang tidak lebih.”
Kepala Amita mengangguk sebanyak dua kali menandakan bahwa ia mengerti.
Beberapa saat kemudian Amita pun membuka suara. “Très délicieux.” Kedua ibu jari tangan Amita terangkat ke atas.
[Très délicieux: sangat enak.]
“Benarkah?” tanya Salma antusias untuk memastikan apa yang didengarnya benar. Tatapan matanya jelas berbinar terang.
“Ya. Hanya saja terlalu manis sedikit. Tapi itu tidak masalah. Kau cukup berbakat membuat kue, Sayang.” Telapak tangan Amita menangkup sisi wajah puterinya dan mengusap lembut pipi itu menggunakan ibu jarinya.
“Aku berharap Hazel akan menyukainya dan apa yang aku inginkan juga bisa dipenuhinya karena apa yang ia minta sudah kulakukan.” Salma tersenyum miring.
***
Ting!
Pintu elevator khusus berhenti di lantai teratas gedung lalu terbuka. Memunculkan sosok tiga pria yang terlihat semakin dewasa dan berkharisma berjalan tegap tanpa ragu. Kesemuanya dianugerahi wajah tampan dan fisik yang memikat para wanita. Lengan berotot, d**a bidang dan punggung tegap terbentuk sempurna dibalik setelan jas yang mereka kenakan. Ketiganya menyukai olahraga dan berusaha menjauhi alkohol, juga rokok.
Bunyi ketukan sepatu pantofel mengilap mereka yang beradu dengan lantai marmer terdengar berirama di lorong menuju ruangan eksklusif sang pemimpin, Hazel Affandra, yang merupakan sosok pria keras kepala, namun sangat digilai kaum wanita. Karakter itu juga yang membuatnya tak mudah terpengaruh dengan omongan orang lain sebelum ia membuktikannya sendiri.
Hazel bersama kedua sahabatnya, Adrian Bimantara dan Romy Angga, baru saja kembali dari makan siang di salah satu restoran milik Adrian yang telah diresmikan beberapa hari lalu. Menu di restoran itu cukup bervariasi dan sangat enak. Hazel menikmatinya.
“Aku akan mengajak Salma ke restoran milikmu lain kali. Aku yakin ia akan menyukai menunya,” ucap Hazel sesaat setelah ia mendaratkan tubuhnya di sofa berwarna hitam yang ada di ruangannya.
Adrian sang pemilik restoran hanya mencebikkan bibirnya tak acuh. Ia tak berniat menanggapi ucapan Hazel dan langsung memilih duduk di sofa single, menumpukan satu kakinya di atas kaki lainnya dan merebahkan punggung di sandaran sofa dengan nyaman tanpa mengeluarkan satu atau dua patah kata.
“Kau tahu, Zel bahwa kami selalu mengkhawatirkanmu. Kau sudah tahu jika wanita itu matrealistis dan kami yakin ia hanya memanfaatkan hartamu. Itulah kenapa kami tidak menyetujui pernikahanmu dengannya sejak awal,” timbrung Romy yang sedang berjalan ke arah mereka berdua dengan tiga kaleng softdrink yang diambilnya dari dalam lemari pendingin di ruangan Hazel. Mendengar sebutan nama Salma, antena di kepala pria itu bereaksi tidak suka.
Setelah lulus dari perguruan tinggi, selain mengambil pendidikan lanjutan, Hazel dan kedua sahabatnya disibukkan dengan bisnis keluarga mereka masing-masing. Adrian mengembangkan bisnisnya di bidang kuliner dan berhasil meresmikan restoran miliknya yang dibangun dengan jerih payahnya. Romy tidak betah berada di negaranya dan memilih kembali ke negara para sahabatnya dan menjadi wakil Adrian. Ia menyerahkan bisnis keluarganya untuk dikelola orang kepercayaannya.
Seperti telah diketahui bahwa Adrian dan Romy sangat terkejut saat mendapati undangan pernikahan dari sang sahabat yang terbilang mendadak. Meski begitu, mereka tetap menghadiri upacara sakral itu. Selama ini Adrian dan Romy merasa dikelabuhi oleh Hazel karena mereka tidak tahu sama sekali mengenai hubungan pria itu dengan Salma. Hazel sangat pandai menutupi semuanya dan berhasil menciptakan bom waktu di akhir. Ketiganya tetap berhubungan baik sampai detik ini meski terselip ketidaksetujuan atas keputusan Hazel menikahi Salma.
Melalui pendekatan yang ditawarkan kala itu, Hazel mampu mengenal Salma dengan baik. Sedangkan Adrian dan Romy tidak. Kedua pria itu hanya menilai wanita itu dari jauh dan juga karena terpengaruh berbagai rumor yang tidak berdasar. Ah dan satu hal lagi bahwa sampai detik ini Adrian dan Romy tidak tahu bahwa Salma dahulu pernah bekerja di perusahaannya dan itulah kunci pertemuannya kembali dengan Salma hingga hati mereka menyatu. Hazel bungkam seribu bahasa tentang hal itu dan meninggalkan rasa keingintahuan mendalam di hati para sahabatnya. Ia bangga membuat hidup sahabatnya terusik dibalik misteri pertemuannya dengan sang isteri.
Selama satu tahun perjalanan hidupnya sebagai suami seorang wanita cantik bernama Salma Denallie, hidup Hazel dipenuhi kebahagiaan. Perselisihan, pertengkaran, dan perbedaan pendapat tentu selalu ada, namun itu tidak menjadi masalah serius karena keduanya bisa bersikap dewasa dan bijaksana dalam mengambil langkah penyelesaian. Hazel pun mampu melihat binar cinta dan kasih di mata indah sang isteri yang selalu membuatnya mabuk jika menatapnya terlalu lama. Sebagai isteri tentu tidak salah jika meminta apapun pada suaminya. Selama sang suami mampu memenuhinya, kenapa tidak? Benar begitu bukan?
Jika diamati, Hazel memang lebih jauh di atas awan daripada pria-pria masa lalu Salma. Itu sebabnya Romy dan Adrian mencemaskan keadaan Hazel meski terkesan berlebihan. Dan lagi, Adrian pernah memeringati Hazel agar jangan sampai menjadi korban berikutnya, tetapi pada akhirnya …
“Aku bosan mendengar ocehanmu berulang kali dan selalu membahas hal yang sama! Aku lebih mengenal Salma dibanding kalian berdua.”
Hazel mengambil satu kaleng softdrink, membukanya lalu meneguknya kasar hingga tersisa separuh. Sudah ke sekian kalinya sepanjang tahun ini, sahabatnya itu selalu mengucapkan hal yang sama dan membuat kepalanya berdenyut sakit. Bagaimana caranya merubah kata pertentangan itu menjadi penerimaan? Hati Hazel menggeram kesal dan benar-benar ingin membuktikan bahwa apa yang Adrian dan Romy pikirkan selama ini salah.
“Aku yang menjalani hidup dengannya. Aku tidak ingin kalian ikut campur di dalamnya!” imbuh Hazel tertahan dengan sorot mata menghujam Romy dan Adrian bergantian. Siapapun akan bergidik ngeri jika tidak terbiasa menerima tatapan itu.
“Bukan kami ingin mencampuri urusan rumah tanggamu, Zel. Kami sahabatmu dan kami peduli padamu dengan mengingatkanmu kembali akan sifat buruknya itu. Kami hanya ingin kau tetap berhati-hati. Jangan sampai hartamu habis sia-sia. That’s it!” Adrian ikut menyuarakan dengan santai apa yang memang ingin diucapkannya. Ia cukup geregetan dengan pilihan Hazel yang notabene mampu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Salma. Tapi cinta tidak bisa memilih akan berlabuh di hati siapa. Adrian belum pernah merasakannya, sehingga dengan mudahnya ia bisa beranggapan seperti itu.
“Tapi nyatanya semua baik-baik saja selama satu tahun ini. Ia tak pernah bersikap aneh padaku,” balas Hazel bersamaan ia menyandarkan punggungnya di sofa.
“Kau yakin wanita itu sudah berubah?” Romy bertanya disusul tawa cemoohnya. “Mana mungkin ia ingin kehilangan target secepat kilat secara kau jauh di atas awan dibandingkan ….“
“Tutup mulutmu!” Hazel menegakkan punggung yang belum ada satu menit ia sandarkan seiring ia memotong perkataan Romy dengan jari telunjuk terangkat ke udara. Maniknya menyorot tajam pada sang sahabat yang duduk di sebelahnya. Romy mengangkat kedua tangannya. Ia menyerah dan segera membungkam mulutnya tanpa ingin melanjutkan kalimatnya kembali.
Dengan jari telunjuk yang masih bertahan di udara, Hazel berucap, “Dan satu hal lagi. Wanita yang kau sebut-sebut itu memiliki nama. Ia bernama Salma dan ia isteriku!” tegasnya penuh penekanan.
“Dan sudah berapa kali aku katakan jika Salma tidak seperti yang kalian pikirkan.” Bola mata Hazel menatap Adrian dan Romy bergantian dengan raut yang sangat jelas menggambarkan kekecewaan akan segala sikap kedua sahabatnya itu. Dua orang yang ditatap merespon dengan mengendikkan bahu tak acuh.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan aksi tegang ketiga sahabat itu. Hazel menyerukan untuk masuk dengan suara lantang dari tempatnya duduk.
Muncul sosok pria muda berjalan menghampiri Hazel dari arah pintu ruangan. Ia menundukkan kepalanya sebelum menyampaikan sesuatu pada sang atasan.
“Maaf mengganggu anda, Tuan. Saya ingin mengingatkan bahwa anda harus menghadiri pertemuan dengan beberapa rekan kerja di luar kota esok pagi,” ucap sang asisten seraya menatap layar tablet di genggamannya.
Hazel mengangguk singkat. “Ada lagi jadwalku yang krusial?”
“Setelah anda kembali dari pertemuan itu, agenda paling penting yang harus anda hadiri yakni annual meeting dan pertemuan dengan perwakilan Will’s Company untuk membicarakan kontrak kerjasama,” lanjut Leo sembari jemari panjangnya menggulirkan layar tab dengan gerakan pasti.
“Hanya itu saja?” Hazel memastikan.
“Iya, Tuan.”
“Baiklah! Terima kasih, Leo. Kau bisa kembali bekerja,” timpal Hazel. Leo kembali menunduk hormat sebelum kemudian berlalu meninggalkan ruangan.
Adrian meneguk santai air minuman kaleng yang ada di genggamannya, sedangkan Romy secara diam-diam melirik lekat Hazel, yang tengah sibuk mengotak-atik ponselnya, dengan isi kepala penuh rencana yang berputar-putar.
Bersambung ...