Tesla merah milik Hazel melaju cepat di jalanan kota di sore hari itu. Hazel sudah tidak sabar agar cepat sampai di rumah dan merasakan Kokakia buatan sang isteri untuk yang pertama kalinya.
Semalam seusai keduanya meraup kenikmatan dunia bersama, Hazel mendadak menginginkan dessert khas Yunani itu. Semenjak merasakannya kali pertama di Yunani kala berbulan madu, Hazel menjadi kecanduan untuk menikmati kue itu lagi. Menurutnya kue itu sangat lembut dan manis. Seperti isterinya.
Hazel terkekeh geli di tengah keseriusannya mengemudi. Secara tidak langsung ia menyamakan kue itu dengan isterinya sendiri. Usai melirik jam tangannya sekilas, Hazel menambah kecepatan Teslanya agar tak terlambat sampai di rumah.
Tesla merah itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah di mana sosok wanita tengah berdiri menunggu dengan senyum merekah. Salma menyambut kedatangan suaminya. Hazel lekas turun dari mobil. Berjalan menghampiri Salma seraya melepas kacamata hitam yang bertengger manis di pangkal hidung mancungnya, dan lalu menyelipkannya di ujung kancing teratas kemejanya yang terbuka.
Kedua lengan kekarnya meraih pinggang isterinya begitu posesif. Menarik tubuh ramping itu agar semakin melekat padanya. Dengan sendirinya, Salma mengalungkan lengan di leher sang suami. Keduanya saling memberikan kecupan di beranda rumah untuk melepas rindu.
“Aku merindukanmu dan menginginkamu, Baby.” Hazel berbisik tepat di depan bibir Salma yang mengilap basah akibat ulahnya.
Salma menarik diri. Menjauhkan wajahnya dari Hazel hanya untuk mendaratkan satu pukulan ringan di pundak sang suami. “Semalam kita baru saja melakukannya. Dasar pria!” jawabnya bernada kesal yang dibuat-buat.
Hazel tertawa tanpa suara. Warna mata hazelnya menyala-nyala yang mana selalu berhasil melemaskan seluruh saraf dan otot tubuh Salma dalam sekali tatap.
Dengan terpaksa, Salma melepas rengkuhan sang suami. Karena tidak tahan menatap mata itu, Salma pun memutar tubuh. Berjalan masuk ke dalam rumah sambil menggerutu tidak jelas.
Hazel merasa gemas dengan reaksi isterinya dan segera menyusulnya masuk ke dalam dengan setengah berlari. Ia sendiri merasa geli dengan keinginannya yang lolos dari bibirnya begitu saja tanpa rencana.
Menggoda Salma memang sangat menyenangkan.
***
Aroma Aqua menguar dan memenuhi ruang tengah tatkala sang tuan rumah muncul menuruni anak tangga. Salma menghirup dalam-dalam wangi prianya sembari memejamkan mata. Wangi yang menjadi candunya.
Tanpa menoleh Salma tahu siapa yang baru saja mengecup puncak kepalanya dari belakang. Hazel setengah memutari sofa yang diduduki Salma dan lalu menempati ruang kosong di samping isteri tercintanya itu.
“Mmm … Aku selalu suka wangimu.”
Salma sedikit mengendus manja lengan sang suami lalu merebahkan kepala di sana. Hazel merentangkan satu tangan. Membiarkan Salma merangsek masuk ke dalam pelukannya dan tangan yang lain mencoba meraih Kokakia yang ada di atas meja.
Mulut Hazel bekerja mengunyah kue hasil buatan sang isteri. Cukup dua kali gigitan, kue itu tandas tak bersisa. Salma mendongakkan kepala, mengamati ekspresi suaminya yang tengah menikmati hasil karya Kokakia pertamanya.
“Bagaimana?” tanya Salma kemudian saat menatap mulut Hazel berhenti mengunyah, sedangkan adam apple-nya bergerak naik turun menelan kue itu.
Hazel menurunkan pandangan dan menatap lekat kedua bola mata indah Salma yang selalu memabukkannya. Tanpa alkohol pun ia selalu mabuk jika berada di sekitar isterinya itu.
Tangan Hazel terangkat ke udara. Memposisikan kepalan tangan dengan ibu jari menukik ke bawah. Pandangan Salma tertuju pada kepalan tangan Hazel begitu serius. Tak lama, ia menegakkan posisi duduk. Mengalihkan pandangan pada wajah sang suami dengan bibir mengerucut cemberut, dan lantas menghembuskan napas berat sebagai isyarat kekecewaannya.
Selang satu detik, Hazel tersenyum lebar. Perlahan memutar posisi ibu jarinya yang kini menengadah ke atas. “Sangat enak, Sayang. Merci beaucoup,” ucapnya disusul melabuhkan kecupan singkat di bibir cemberut itu.
[Merci Beaucoup: Terima kasih banyak.]
Salma mengulum senyum, merasa lega karena kue buatan tangannya pas di indera perasa sang suami. “Kalau begitu habiskan.”
“Suapkan padaku!” Mata Hazel mengerling jahil.
Seluruh saraf ditubuh Salma berekasi berlebihan dan menegang bersamaan mendapati salah satu jemarinya tanpa sengaja terkulum bibir suaminya saat ia menyuapkan kue itu. Salma mengalihkan pandangan dari tautan itu pada wajah Hazel yang ternyata juga tengah menatapnya lekat.
“Manis.”
Bibir berwarna merah muda alami itu berucap sesaat setelah kuluman itu terlepas tanpa memutus pandangan. Terdengar cukup seksi di telinga Salma dan membuat sudut pipi wanita itu bersemu merah.
“Dasar pria!”
Salma menarik cepat jemarinya seraya menahan malu yang kemudian dihadiahi ledakan tawa Hazel.
Sekali lagi Hazel berhasil menggoda isterinya dan itu menghilangkan rasa lelah setelah bekerja sehari penuh.
Keduanya kemudian larut dengan tontonan di layar televisi di sore hari itu. Dua cangkir teh hangat telah tersaji di atas meja sebagai pasangan camilan itu. Sesekali Hazel melempar candaan, menggoda lagi isterinya hingga membuat ruangan tampak ramai dengan suara dan tawa keduanya. Dua pelayan melihat adegan itu dengan senyum hangat di wajah mereka. Kebahagiaan sangat tampak di kedua wajah insan yang saling mencinta itu.
Langit berubah gelap. Malam pun tiba. Pelayan menyajikan menu makan malam di meja makan. Hazel dan Salma telah duduk di kursi dan siap menyantap menu malam hari itu. Gulai kepala ikan menjadi salah satu menu masakan lokal yang disukai Hazel. Keduanya larut menikmati makan malam mereka.
Salma mengambil salad buah yang dibuatnya sebentar sore dan memberikannya pada Hazel sebagai hidangan penutup. Pria itu tersenyum, meraih semangkuk salad itu dari tangan isterinya dan memakannya. Sesekali ia pun menyuapkannya pada Salma yang disambut dengan senang oleh wanita itu.
***
Drrttt … drrttt … drrttt …
Ponsel Hazel bergetar. Pria itu menoleh melihat layar benda pipih miliknya berkedip-kedip. Nama kontak Leo masuk memanggilnya. Tanpa pikir panjang, Hazel bangkit dari tempat tidur, mengangkat ponselnya yang berada di atas nakas dan menggeser satu tombol untuk menjawab.
Hazel menerima telepon sembari menatap halaman rumah melalui kaca jendela kamar.
“Ada apa, Leo?” sapa Hazel begitu ponsel itu menempel di telinganya.
“Maaf mengganggumu lagi. Aku ingin bertanya sekali lagi apa kau yakin aku tidak perlu ikut denganmu besok?” tanya Leo di seberang sambungan telepon.
Leo tidak akan berbicara formal jika di luar jam kerja. Mereka berdua sudah dekat sejak masih taman kanak-kanak meski usia mereka terpaut satu tahun. Hazel kini berusia 28 tahun dan Leo berusia 27 tahun.
Leo bukan berasal dari keluarga berada. Leo menikmati bangku sekolah dengan beasiswa dari pemerintah. Pria itu tipe laki-laki pekerja keras dan pandai sehingga Hazel mempekerjakannya sebagai asisten pribadinya sekaligus sekretarisnya. Gaji yang diberikan padanya pun tak main-main dan bisa memperbaiki kehidupan keluarganya saat ini.
“Hmm,” gumam Hazel. “Kau selesaikan saja urusan di kantor. Lagipula aku hanya akan berada di sana tiga hari. Aku bisa menghandle semuanya sendiri,” lanjutnya menambahkan.
“Perjalanan cukup jauh, Zel. Apa kau tidak memerlukan orang lain untuk menemanimu?”
“Hei, aku bukan pengemudi amatiran. Aku sudah terbiasa menyetir seorang diri berjam-jam. Kenapa kau jadi seperti itu? Apa kau takut tidak mampu menahan rindumu padaku, heh?”
Di seberang sana, Leo melayangkan ekspresi mode muntah dan lantas berdecak sebal. “Terima kasih. Kau percaya diri sekali.”
“Baiklah kalau begitu. Jaga hati isterimu. Jangan bermain mata di sana. Masing-masing dari mereka tentu membawa sekretarisnya dan tentunya sangat menarik untuk dipandang. Dan jangan lupakan fakta kalau kau tampan. Mereka pasti akan menggodamu atau mungkin akan ada yang mengejarmu mati-matian tanpa peduli statusmu,” pesan Leo begitu panjang dicampur kekehan. Sang asisten mencoba menggoda atasannya tanpa berpikir bagaimana nasib gaji bulanannya nanti.
Mulut Hazel telah terbuka. Hendak meloloskan sumpah serapah pada teman dekatnya sekaligus asistennya itu, namun sambungan telepon telah lebih dulu terputus sepihak dan ia berakhir menghela napas berat.
Salma yang sedari tadi duduk bersandar di kepala ranjang mengernyit mendengar percakapan antara sang suami dan asistennya. Diperhatikannya, Hazel menyimpan ponsel itu di nakas dan kembali menaiki tempat tidur.
“Kau akan pergi?” tanya Salma begitu Hazel duduk di sampingnya dan memeluk tubuhnya.
Hazel memberi anggukan kepala dua kali.
“Kapan?”
“Besok pagi,” jawab Hazel sembari mengusap lembut kepala isterinya yang bersandar di dadanya.
“Ke mana?”
“Bertemu rekan bisnis di luar kota, Sayang.”
Entah kenapa tiba-tiba malam itu Salma merasa berat melepas Hazel untuk urusan bisnis di luar kotanya. Padahal sebelum-sebelumnya ia merasa baik-baik saja. Bahkan ketika suaminya itu harus berangkat ke luar negara selama berhari-hari pun ia tak mencemaskannya secara berlebihan.
Rasa sesak menyerangnya malam itu.
“Kenapa tidak di kota ini saja?” tanyanya lagi namun dengan suara melirih.
“Pertemuannya tidak hanya berdua saja, Sayang. Jadi memilih tempat yang sekiranya berada di tengah sehingga tidak terlalu jauh dijangkau oleh rekan yang lain,” jawab Hazel memberikan alasan yang masuk akal.
Hazel merasakan dadanya hangat dan basah. Ia mendorong lembut bahu Salma, menatap lekat wajah isterinya itu.
“Kau menangis? Kenapa, Sayang?” Raut khawatir melingkupi benak Hazel karena melihat air mata bercucuran di wajah cantik itu.
“Kenapa bukan Leo saja yang mewakilimu?”
Alih-alih menjawab kegusaran Hazel, Salma justru balik mengajukan pertanyaan yang terdengar aneh.
Kepala Hazel menggeleng pelan. “Tidak bisa, Sayang. Leo masih memiliki deadline pekerjaan yang harus segera diselesaikan di kantor. Sebentar lagi pertemuan tahunan perusahaan dari seluruh divisi dan Leo harus menyiapkan itu semua sebelum aku kembali.”
Lengan itu kembali melingkari tubuh Salma. Memeluk wanitanya dan menenggelamkan wajah itu ke dadanya yang bidang. Hazel menghirup dalam-dalam aroma rambut Salma yang memang menjadi kebiasaannya setiap malam sebelum tidur. Wanginya menenangkan.
Usapan di rambut Salma terus dilakukannya hingga tangis itu reda dan terhenti dengan sendirinya.
Salma bersuara setelah lima belas menit dalam keterdiaman. “Aku menginginkan sesuatu, Zel. Bisakah kau memenuhinya?”
“Apa, Sayang? Jalan-jalan ke luar negeri? Tas branded? Baju branded? Jam tangan? Sepatu? Sandal? Mobil baru? Katakan! Aku akan memenuhinya setelah kembali.”
Hazel mengatakan semua itu dengan entengnya seolah hanya perlu menjentikkan jari saja dan segala keinginan menjadi nyata.
Salma menghirup napas dalam sebelum membalas rentetan pertanyaan yang berisi pilihan yang menggiurkan itu.
“Aku menginginkan sosok bayi kecil hadir di tengah kita, Zel. Aku tidak ingin kesepian. Rumah ini terlalu besar jika hanya dihuni aku, dirimu, dua pelayan wanita, satu tukang kebun dan satu sopir pribadi. Aku ingin rumah ini terdengar ramai celotehan bayi.”
Hazel tertegun mendengar keinginan isterinya yang sama sekali tidak terlintas di kepalanya saat mengatakan beberapa hal sebelumnya yang kesemuanya justru bersifat materi.
Selama satu tahun perjalanan rumah tangga mereka, Hazel dan Salma sepakat menunda kehadiran bayi karena ingin menikmati indahnya kehidupan pasca-pernikahan. Dan malam itu Salma tiba-tiba mengutarakan keinginannya itu.
“Tentu, Sayang. Kau sudah siap memiliki seorang bayi?”
Salma mengangguk lemah.
“Kita akan ke Yunani setelah aku kembali. Kita berlibur di sana. Bagaimana?”
Sekali lagi, hanya anggukan kepala yang Salma berikan sebagai jawaban dari pertanyaan Hazel. Namun ajakan berlibur itu terdengar tidak menyenangkan sama sekali di telinganya.
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Salma menjerit berulang kali di dalam hatinya, hingga ia lelah dan tertidur dalam rengkuhan Hazel.
Mendengar hembusan napas teratur, Hazel menyadari Salma telah tidur. Perlahan ia merebahkan dirinya dan membiarkan isterinya tertidur di dadanya. Tangannya bergerak membenarkan letak selimut agar menutupi tubuh mereka hingga sebatas punggung atas Salma. Hazel pun memilih untuk menyusul ke alam mimpi. Ia harus istirahat cukup karena esok ia akan menempuh perjalanan jauh tanpa sopir.
Bersambung ...