Dengan berjinjit, Salma berusaha menggapai travel bag berukuran kecil yang ada di atas lemari. Hazel hanya akan pergi beberapa hari dan tentunya tidak perlu sebuah koper dan membawa banyak pakaian.
Salma memilihkan tiga setelan jas slimfit, yang memang sesuai ukuran badan Hazel, berwarna hitam, abu terang dan navy untuk dimasukkan ke dalam tas. Tak lupa pakaian santai, peralatan mandi, obat-obatan dan keperluan lainnya.
Untuk dokumen atau file-file penting lainnya serta macbook telah dipersiapkan dan dikemas sendiri oleh Hazel. Pria itu lebih tahu apa yang dibutuhkannya saat pertemuan nanti mengingat ia tidak membawa serta sang sekretaris.
Clek!
Pintu kamar mandi terbuka. Salma menghentikan aktivitasnya. Memutar kepala ke sumber suara.
Hazel muncul dari kamar mandi setelah 15 menit berdiam diri di dalam sana. Handuk putih melingkar di sebatas pinggang. Dadanya bidang terekspos dengan jejak-jejak basah yang membuat pria itu semakin memesona. Rambut lembab dan berkelompok meneteskan titik-titik air ke wajahnya yang terpahat sempurna dan selalu menjadi pusat kekaguman pandangan kaum hawa.
Jantung Salma berdegup menatap pesona sang suami. Semburat merah terlukis cantik di kedua pipinya tanpa aba-aba.
Hazel menatap isterinya dengan gemas. Ia berjalan pelan mendekati Salma yang dibuatnya membeku usai kemunculannya.
“Terpesona, hmm?” ucap Hazel menggoda begitu ia menarik pinggang ramping isterinya hingga keduanya saling menatap dalam dekat.
Salma mengerjapkan kelopak matanya berulang. Rongga dadanya terus bergemuruh. Entah kenapa ia tiba-tiba gugup di depan suaminya.
Cup!
Satu kecupan Hazel mendarat di pipi Salma sebagai hadiah atas tatapan pesona yang isterinya layangkan. “Aku selalu suka dengan ekspresimu ketika memandangku seperti ini. You’re so adorable, Baby.”
“Membuatku ingin merasaimu pagi ini,” sambungnya disusul kedipan satu mata.
Salma terhenyak. Berusaha mengambil napas dalam meski terkesan sesak. “Keringkan tubuhmu, Zel! Apa yang akan kau kenakan pagi ini? Akan aku siapkan,” ujarnya kemudian dengan nada setenang mungkin agar kegugupannya tak kentara dan ia memang ingin segera lepas dari situasi panas di pagi hari.
Hazel terkekeh geli. Perlahan mengurai rengkuhannya. Membiarkan Salma melanjutkan aktivitas yang sedari tadi sudah dilakukan wanita itu.
“Ambilkan kaus polo warna putih dan jeans saja,” jawab Hazel di tengah aktivitasnya mengeringkan rambut menggunakan kain handuk lain yang berukuran lebih kecil.
Salma mengangguk. Segera beranjak ke sisi almari. Memilah-milah kaus milik Hazel yang begitu banyak, hanya untuk menarik satu yang berwarna putih. Bergeser ke sisi lain almari pada bagian celana dan mengambil jeans berwarna gelap.
Cukup lama Salma menatap bayangan Hazel yang berdiri membelakanginya setelah meletakkan setelan pakaian itu di atas tempat tidur. Aliran darahnya kembali berdesir dengan perasaan carut marut.
***
Penampilan Hazel pagi itu cukup santai. T-shirt putih dan jeans hitam membalut pas tubuh proporsionalnya. Sepatu pantofel yang membungkus kakinya menggema, beradu dengan lantai kala menuruni anak tangga setengah berlari dan lalu berjalan cepat menuju ruang makan.
Dari tempatnya berdiri, Hazel mampu menatap punggung isterinya yang tengah sibuk, menyiapkan bekal makan untuk dibawanya. Sepertinya wanita itu tidak menyadari kehadirannya di ruang makan padahal suara ketukan sepatu itu cukup nyaring. Bola matanya bergeser ke meja makan. Di sana telah tersaji semangkuk oatmeal toping buah dan segelas s**u.
Hazel berjalan pelan dan memeluk tubuh isterinya dari belakang yang berhasil membuat wanita itu terjingkat kaget. Diberinya kecupan lembut di pelipis dan pipi itu, lalu berpindah duduk di kursi meja makan untuk menyantap sarapan yang sudah disiapkan sang isteri.
Salma menggeser kotak makan bertingkat ke hadapan Hazel. Lapis bawah berisi salad buah dan lapis atas diisinya dengan sisa Kokakia yang disimpannya dalam lemari pendingin.
“Bekal camilan untuk di tengah perjalanan,” ucap Salma kemudian.
Hazel memalingkan pandangan dari mangkuk oatmeal pada wajah isterinya. “Terima kasih, Sayang,” jawabnya dan melempar senyum manis.
Salma mendudukkan dirinya di kursi kosong sebelah Hazel, lalu bertopang dagu. Menatap serius suaminya yang tengah menikmati sarapan. “Aku menyesal mengizinkan sopir pribadi kita untuk cuti beberapa hari. Jika tahu kau akan ada pertemuan di luar kota, aku tidak akan melakukan itu.”
Hazel membersihkan mulut dari sisa makanan menggunakan serbet dan meneguk s**u hingga tandas. Ia menoleh menatap isterinya. “Kau tidak perlu cemas. Aku akan baik-baik saja. Lokasinya tidak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 – 6 jam dari sini. Setelah sampai hotel, aku akan menghubungimu dan beristirahat,” jelasnya kemudian untuk meredakan kekhawatiran yang jelas muncul di wajah cantik isterinya. Tidak biasa-biasanya Salma akan bersikap berlebihan seperti itu – pikirnya.
“Aku tidak nyaman, Zel.”
Hazel menggelengkan kepala. “No, Baby. Tidak boleh berperasaan seperti itu. Aku pasti akan kembali. Setelah annual meeting, aku akan mengambil cuti dan kita berlibur untuk mewujudkan keinginanmu semalam,” ucapnya sembari mengedipkan satu mata menggoda.
Senyum Salma merekah mendengar kalimat itu. Hazel mencuri satu ciuman di bibir itu. Bukan ciuman singkat yang diberikannya, melainkan ciuman panjang seolah tidak ada hari esok. Keduanya larut dalam balutan cinta di pagi hari itu.
***
Hazel mendaratkan kecupan di kening Salma cukup lama.
“Jaga dirimu baik-baik dan tunggu aku kembali.”
Hazel berpesan. Kedua tangannya merangkum wajah isterinya dan menatap lekat bola mata indah itu. Kebiasaan Hazel yang selalu mengatakan itu ketika ia hendak pergi untuk urusan bisnis dan tidak mengikutsertakan wanitanya selama beberapa hari.
“Ajaklah aku jika ada perjalanan bisnis lain kali, Zel. Aku juga ingin jalan-jalan,” rengek Salma manja. “Aku berjanji tidak akan mengganggu urusanmu,” lanjutnya dengan menunjukkan puppy eyes yang selalu ampuh meluluhkan pertahanan Hazel.
“Sure, Baby. I will!”
“Aku mencintaimu.”
“Aku lebih mencintaimu.”
Hazel tersenyum penuh arti dan lalu kembali mengecup kening, lalu turun ke kedua mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir Salma. Memeluk erat tubuh ramping isterinya sebelum kemudian masuk ke dalam Tesla merahnya.
“Tidak ada yang tertinggal, kan?” seru Salma saat jendela mobil itu dibuka.
Ibu jari Hazel terangkat ke atas. Menandakan semua sudah siap dan ada di dalam mobilnya.
Klakson dibunyikan dua kali sebagai tanda Hazel akan segera melajukan mobilnya. Salma melambaikan tangan dan Hazel membalasnya sebelum kemudian jendela mobil itu perlahan tertutup dan mobil bergerak menjauh keluar pelataran rumah hingga tak terlihat lagi.
“Semoga Tuhan melindungimu, Zel!” Doa terucap dari bibir Salma tatkala Tesla merah itu menghilang dari pandangannya.
Salma kembali memasuki rumah dengan tatapan sendu. Entah kenapa tiba-tiba perasaan rindu mencuat di hatinya dan ingin mengejar suaminya, tetapi tentu tak dapat dilakukannya. Ia meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Suaminya akan kembali. Lusa dia kembali dan bersama lagi.
Salma memilih duduk di salah satu sudut sofa. Menatap ke sekeliling ruangan yang masih menyisakan jejak bayang suaminya. Setelah merasa puas, ia beralih meraih gagang telepon. Menghubungi seseorang.
“Mama,” sapanya begitu panggilannya tersambung.
“Ya, Sayang. Ada apa?”
Terdiam sejenak. “Bisa temani aku selama beberapa hari ini? Hazel ke luar kota. Lusa baru akan kembali.”
“Ia sudah berangkat?”
Salma mengangguk. “Baru saja. Lima menit lalu.”
“Baiklah, Sayang. Mama akan segera ke sana setelah urusan di toko kue selesai.”
Dan sambungan telepon terputus. Salma memang akan selalu meminta Amita untuk datang menemaninya saat suaminya tidak berada di rumah. Ia membutuhkan teman berbincang dan mama adalah teman terbaiknya.
Sedikit hal mengenai Amita. Pasca-kepergian sang suami, Fernand yang berkebangsaan Perancis, Amita hanya tinggal berdua bersama Salma sang puteri di rumah berdesain minimalis peninggalan prianya. Fernand meninggal dunia akibat gangguan jantung saat Salma masih berada di bangku SMA.
Kini Salma telah bersuami dan tentunya ia tidak lagi tinggal bersama anak perempuannya itu.
Meskipun begitu, Amita tak merasa sendiri. Seekor kucing cantik ras Ragdoll berwarna putih dan bermata biru cerah menemaninya di dalam rumah. Terkadang salah satu teman dekatnya juga datang dan bermalam agar Salma tak begitu mengkhawatirkannya.
Sudah berapa kali Salma meminta Amita untuk tinggal bersama di rumahnya namun wanita setengah baya itu selalu menolak.
Usai menutup telepon, Salma memilih menghabiskan pagi itu dengan berendam. Otak, tubuh dan perasaannya butuh dilenturkan agar kembali rileks.
Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan Salma untuk menenangkan pikirannya. Ia keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan segera menggantinya dengan kaus santai dan celana pendek. Lalu ia keluar kamar dan dapur menjadi tujuannya untuk segera memasak menyiapkan hidangan untuk sang mama dibantu seorang pelayan.
“Menu kali ini sup krim brokoli dan ikan asam manis,” ucap Salma sambil memasang apron cokelat muda.
“Siap, Nyonya.”
Si pelayan mengangguk dan segera bergerak menyiapkan beberapa bahan yang akan dimasak. Di detik selanjutnya, kedua wanita itu pun larut dalam aktivitas dapur.
Bersambung ...