Mama bilang, sejak kecil aku anak yang romantis.
Alasannya sederhana: aku menyukai kisah cinta.
Namun, aku nggak begitu tertarik dengan cerita putri yang diselamatkan pangeran, sesuatu yang agaknya cukup populer di kalangan bocah perempuan seusiaku. Alih-alih diam di depan televisi dan menunggu film-film kartun terputar, aku justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku. Aku jelas bukan anak jenius yang sudah bisa membaca sejak batita—memangnya ada yang semuda itu sudah kenal huruf, ya?—melainkan aku meminta Mama, kadang Papa atau Oma, untuk membacakan ensiklopedia mengenai hewan.
Iya, ensiklopedia hewan. Bukan cerita maupun dongeng.
Aneh? Yah, mungkin kesannya begitu. But hear me out. Di balik semua fakta biologi yang tertera di dalam, nyatanya beberapa hewan juga makhluk hidup yang romantis. Di balik fakta perkembangbiakan mereka, ada hal-hal kecil yang menarik. Dan dari semua hewan, aku sangat menyukai angsa.
Ini sama sekali bukan soal bagaimana bentuk mereka, atau banyaknya seni yang menjadikan angsa sebagai objeknya. Ini juga bukan karena angsa sering ditemukan di berbagai suvenir pernikahan. Mereka … romantis.
“Kamu tahu, Rin, angsa itu hewan yang setia.” Begitu yang Mama bilang padaku. “Mereka sama kayak manusia, butuh pasangan, dan punya proses panjang untuk dapat pasangan. Tapi, begitu mereka sudah punya, cukup satu saja, dan mereka puas. Cukup satu seumur hidup.”
“Sama kayak manusia dong, Ma?”
Saat itu, Mama mengangguk, secara nggak langsung menanamkan konsep kalau manusia adalah makhluk monogami, memerlukan pendamping, dan dipastikan setia. Memilih pasangan adalah keputusan serius, dan hubungan yang dijalani adalah sesuatu yang sakral.
Sayangnya, Mama salah. Nggak semua manusia bisa seromantis angsa. Nggak semua manusia bisa setia seperti angsa.
Dan sebaliknya, angsa juga nggak selamanya jadi makhluk hidup yang paling setia. Beberapa manusia bisa lebih dari itu.
“Rin, itu kating yang lo suka, kan?”
“Erin demennya sama yang bacot emang.”
“Ada perkembangan nggak, Rin? Keburu wisuda tuh doi.”
“Yah, Rin. Keburu lulus kan dia, tapi hati lo masih di situ-situ aja.”
Ternyata aku juga bisa bertahan hanya dengan satu orang.
Because swan stick to their partner forever. A lifelong relationship. But my feelings is sticking with someone who doesn’t even have any relationship with me.
Mungkin, aku bukannya lebih setia dari angsa.
Aku hanya lebih … bodoh.
*
Hidup adalah proses belajar.
No, gue nggak berniat menjadi Plato, Socrates, Descartes, or any philosopher out there. Tapi, pengertian itu ada benarnya.
Kita hidup dan mempelajari sesuatu. Entah itu belajar berjalan, etika makan yang benar, cara memasak mie instan sampai dessert super ribet, atau bahkan memilih orang yang tepat dalam sebuah hubungan.
Metode belajarnya pun beragam. Lo bisa sekolah, mendengar pengalaman-pengalaman orang lain, atau mengalaminya sendiri. Lo merasakan senang, susah, sampai sakit yang membuat lo bertanya-tanya kenapa lo sempat terpikir untuk melakukan hal tersebut. Kadang, kita nggak tahu hidup lagi mengajarkan apa, dan dengan metode macam apa.
There’s no right or wrong in learning something. There is no such thing as fool and smart. Semuanya sesederhana lo mendapatkan sesuatu, atau nggak. Apakah lo berkembang setelah belajar, atau tetap stuck di posisi yang sama. Semua itu akan lo ketahui ketika pada suatu titik lo berhenti dan meninjau diri lo sendiri.
“So, how’s life, Sa? Kelihatannya lo makin pintar. Penerus tahta bokap kelihatannya, ya.” Begitu teman-teman gue berkomentar, dan gue dibuat tertawa.
“I know right. Gue emang pintar.”
Mungkin yang orang lain bicarakan adalah ilmu eksak. Mungkin matematika, ekonomi, atau ilmu lainnya. Tapi, ada pembelajaran lain yang lebih berharga buat gue. Hal lain yang perlu dihargai sebagai bagian dari kepintaran gue. One that life taught me the hard way.
Melalui kehidupanlah gue juga belajar, kadang nggak semua orang layak untuk jadi bagian dari hidup kita. []