Erin
Fakta baru malam ini: aku dipastikan nggak normal.
Berdasarkan panduan kencan karbitan dari Allana, harusnya malam ini berakhir dengan aku yang senyum-senyum sendiri, menggandeng tangan seseorang selagi kembali ke apartemen, dan kalau beruntung, ciuman yang akan jadi penutupnya. I purposely skipped the last part where she mentioned bed and stuff. It’s not important anyway.
Jangankan sampai ke sana, nyatanya saat ini alih-alih memikirkan blind date yang baru saja usai, aku malah memikirkan apa yang bisa kuselesaikan kalau saja aku nggak jadi kencan malam ini. Proposal pengembangan, desain revisi dari produk baru, atau mungkin beberapa ide untuk dibawakan ke rapat besok pagi. Aku nggak mau berpikir kalau kencan ini membuang waktuku. Tapi, somehow rasanya begitu.
Seketika aku bisa mendengar suara sepupuku mengomel dari belakang kepalaku, “You son of a workmaniac! Kelamaan nggak jalan sama cowok sampai sebegininya?”
Well, bisa jadi dia benar. Aku sendiri nggak ingat kapan terakhir kali ada lawan jenis yang mengajakku keluar. Lagi pula, malam ini juga sedikit berbeda. Aku keluar karena mengikuti sebuah program blind date, dan pasanganku malam ini, Jason—panggil Jace aja, katanya—mengajakku untuk dinner bareng karena sudah dijadwalkan oleh pihak penyelenggara program.
It’s not really that he wanted to take me out, isn’t it? I mean he did, but still.
“Di sini, Rin?” Suara Jason membuatku mengalihkan perhatian dari ponsel. Mobilnya memelan ketika memasuki kawasan apartemenku.
“Iya,” balasku.
Dia mengangguk saja, lantas berbelok untuk masuk, dan berhenti di drop point. Aku langsung mengambil tas, siap keluar ketika kunci pintu mobil terbuka.
Pesan Allana kembali terngiang dalam kepalaku. “Kiss him before you go. Kasih kode ke dia kalau lo pengin secepatnya ketemu lagi buat next date.”
Arahannya jelas. Akan tetapi, yang kulakukan setelahnya nggak lebih dari senyuman dan ucapan terima kasih. Nggak ada maksud tersembunyi, kode, apalagi ciuman.
“Makasih udah ngantarin pulang, Jace.”
“Makasih juga, Rin.”
Entah Jason berterima kasih untuk apa—kehadiranku, makan malam tadi, atau yang lain. Mungkin seharusnya aku lebih berterima kasih untuk kencan kami. It’s nice, sure. Makanannya enak. Tempatnya nyaman. Jason juga tipe pasangan yang nggak malu-maluin kalau diajak keluar. Sadly, nggak ada satu pun dari itu yang membuatku ingin mengulangi pengalaman malam ini. No need to press the repeat button.
Pertukaran ucapan terima kasih itu menjadi akhir dari kencan kami, dan aku segera naik ke lantai 15, menuju ke unitku. Sayangnya, kehadiran sosok di depan pintu membuatku tahu aku nggak bisa langsung merebahkan diri di kasur.
Masih ada satpam pribadiku, alias Allana.
“Jadi gimana?”
Pertanyaan singkat. Dua kata. Tapi, aku tahu dia mengharapkan jawaban panjang kali lebar kali tinggi, dan dikalikan apa pun yang memungkinkanku menulis satu novel tebal dari pengalaman blind date tadi. Sesuatu yang tentu saja mustahil untuk kulakukan, karena jawabanku nggak lebih dari gelengan.
“You ….” Allana mendengus, kemudian menghela napas. Percuma juga kalau dia berniat mengoceh. “Nggak nyoba lagi?”
“Nggak semua hal perlu mendapat kesempatan kedua,” balasku sambil mendorongnya agar menyingkir dari depan pintu. “Kami nggak cocok.”
“Semua aja lo bilang nggak cocok,” cerocosnya.
“Yah kalau memang nggak cocok, mau bilang apa?” Kurogoh saku dan menempelkan key card dan membuka pintu. “Cowok-cowok di sana bukan tipe gue.”
“Screw your type, Erina Batari! Lo gue kenalin ke teman-teman gue yang literally beraneka macam kayak makanan ringan pun, alasannya sama. Nggak cocok apa lo-nya aja yang belum—”
“Belum nemu yang cocok,” aku langsung menimpali, nggak membiarkannya mengatakan apa pun lanjutannya. Sekarang sudah malam, dan aku nggak berniat membuang-buang tenaga lebih banyak dengan berdebat. Apalagi dengan Allana. “Udah ah. Gue mau blind date dulu sama pangeran berkuda dalam mimpi.”
Allana langsung geleng-geleng. “Gila.”
“Kalau sama yang ini cocok, besok gue udah siap ngasih undangan pernikahan,” ujarku lagi sambil mengangkat tangan untuk pamit. “Tunggu aja.”
*
Aku sama sekali nggak bermimpi.
Tepatnya, aku nggak tidur. Nggak bisa. Mana bisa setelah menemukan email masuk dari bosku, melampirkan beberapa data, dan minta draft proposal diedit dan dibuatkan power point yang akan dipresentasikan besok pagi, dengan tambahan satu company profile baru. Jujur saja, aku sempat mempertimbangkan untuk membalas dengan lampiran KTP, supaya bosku tahu kalau namaku Erina Batari, bukan Bandung Bondowoso yang bisa disuruh membuat ratusan candi dalam semalam.
Duh, bahkan dia saja masih membutuhkan jin. Aku hanya punya Caca, anabul putih di apartemen, yang jelas nggak bisa membangun candi apalagi menyusun bahan presentasi.
Andai saja aku nggak keluar tadi malam, mungkin nggak perlu—gosh, aku harus berhenti menyalahkan kencanku.
Pada akhirnya, aku harus mengorbankan waktu tidurku, berhadapan dengan laptop sampai subuh, dan memaksakan tubuh bergerak dengan tenaga seadanya ke kamar mandi. Kurang tidur bukan alasan untuk tampil jadi orang gila di kantor. Depressed but well dressed is a must.
“Biar gue tebak. Pak Damar ngasih tugas tambahan malam?” Joseph—alias Jojo, leader tim produksi, langsung menyeringai begitu kami berpapasan di lift. Aku sengaja datang setengah jam lebih cepat daripada waktu rapat, karena masih mau memeriksa sebelum mencetak hasil pekerjaanku.
Aku mengangguk sambil menghela napas. “Baru dikirim datanya tadi malam buat edit proposal. Mana banyak banget lagi revisinya.”
Jojo sekarang terkekeh. Sebagai sesama ketua tim, dia juga pasti sudah tidak asing dengan pembuatan proposal dan laporan. Bedanya, jika tim produksi hanya membuat hal-hal seperti itu seadanya, aku dan divisiku sudah menjadikan proposal sebagai makanan sehari-hari. Risiko jadi bagian dari divisi R&D memang begitu. Ada ide sedikit, buat proposal. Ada kerjasama, buat proposal. Selesai kegiatan? Buat laporan. It’s part of my daily job, but it’s still tiring the heck out of me.
“Diminta bikin produk baru?” tanya Jojo sambil merapikan man bun-nya, sekaligus menggulung lengan kemeja putih garis-garisnya.
“Nggak, diminta bikin draft buat proyek kerjasama gitu,” balasku. Lebih tepatnya belum sih.
“Yang sekarang sama siapa deh kerjasamanya?”
“Sama kayak bulan lalu, tapi ada tambahan.”
“Oh, ya? Sama siapa?”
“Le Doux.”
“Hah? Serius lo?”
Aku mengangguk. Keterkejutan Jojo sebenarnya nggak mengagetkan. Sewaktu melihat company profile-nya pun, aku bereaksi serupa. Sebagai perusahaan makanan yang berkecimpung pada produk dairy, banyak produk yang sudah dihasilkan bersama brand lain atas dasar kerjasama. Perusahaan garment? Check. Perusahaan kosmetik? Done. Perusahaan apparel olahraga? Perusahaan makanan yang lain? Been there, done that. Intinya, sudah beragam perusahaan yang menjalani kerjasama dengan kantorku, Dairy House.
Bukan kerjasamanya yang mengejutkan, melainkan calon partner tambahannya. Le Doux. Nggak banyak restoran di Indonesia yang mendapat Michelin Star, malah bisa dihitung jari. Le Doux merupakan salah satunya, dengan mengusung modern cuisine sebagai konsep restorannya. Aku baru sekali saja ke sana, beberapa tahun lalu, dan sejauh ingatanku, makan di sana berkesan. It’s a goddḁmn Michelin-Starred restaurant, you can expect the unexpected.
Masalahnya, aku nggak pernah berekspektasi akan berkolaborasi dengan restoran, apalagi yang elit begini. Keburu pusing untuk memikirkan pengembangan produknya. Padahal jadi kerjasama saja belum tentu.
“Itu Pak Damar baru ngide atau gimana?” tanya Jojo lagi, tepat ketika lift berdenting. Bukannya keluar, dia malah menahan pintu, raut wajah super keponya terpampang. Kadang aku nggak paham sama tingkahnya. Kalau sudah soal pergosipan, pasti cepat banget bereaksi.
“Nggak tahu. Cuman dibilang bakal kolaborasi aja,” jawabku, lantas mendorongnya supaya cepat keluar. “Produknya nggak tahu apa.”
“Kenapa dadakan banget—”
“Gibahnya nanti aja deh pas rapat. Pergi dulu sana, kerjaan gue masih banyak.”
Butuh tenaga dalam untuk mendorong Jojo yang notabenenya satu setengah kali berat badanku. Segera kututup pintu lift, kemudian turun di lantai 10, divisi R&D. Ruang kerja utama masih sepi, hanya ada Bu Ina, office girl kantor.
“Pagi, Bu Erin,” sapanya. “Mau ngopi, Bu? Kebetulan kopinya baru isi lagi nih. Yang nata de coco.”
Aku balik menyapa, kemudian mengangguk. “Boleh deh, Bu. Saya butuh kafein banget ini kayaknya. Ngantuk.”
“Ngantuk tapi tetap cantik ya, Bu Erin mah.”
Bu Ina memang sering memuji sih, sampai-sampai aku suka salah tingkah sendiri. Not that I’m complaining, though. Hanya takutnya aku jadi besar kepala.
“Biasalah, Bu. Concealer saya lagi bagus,” candaku seraya menempati kubikelku. Langsung kunyalakan PC, membuka file yang sudah kuungah di OneDrive tadi subuh. Tepat ketika Bu Ina mengantarkan kopi untukku, monitorku berdenting, dan satu notifikasi w******p masuk. Ternyata dari manager R&D, Bu Cassandra. Seperti biasanya, isinya langsung to the point.
Bu Cassandra – R&D
Pagi Erin. Saya sdg di luar, ada urusan. Tdk bs ke kantor.
Saya sdh sampaikan ke Pak Damar kamu yg gantikan saya ketemu owner Le Doux.
Kelengkapannya saya kirim email. Tx.
Aku menyipit, membaca ulang isi pesannya, tapi tetap saja membingungkan. Dan apa pula maksudnya “gantikan saya ketemu owner Le Doux”? Kapan? Kenapa harus aku?
Seakan mendengar pertanyaan-pertanyaan batinku, email baru masuk dari Bu Cassandra, berupa forward email dari alamat surel laurent-aude@ledoux.com. Satu menit penuh kugunakan untuk membaca rekap isi emailnya, berisi diskusi kerjasama antara Dairy House dan Le Doux. Secara keseluruhan, belum ada pernyataan kerjasama akan benar-benar dijalankan. Nggak itu saja, ternyata ada file terlampir. Sebuah undangan dine-in di Le Doux, malam ini, tepatnya pukul tujuh malam.
Apa ini semacam tiket gratis? Tapi, aku ke sana jelas bukan untuk makan, kan?
Chat baru dari Bu Cassandra masuk lagi.
Bu Cassandra – R&D
Ini nmrnya Pak Aude Laurent
Bs kamu hubungi saja utk konfirmasi, atau lwt email jg boleh
Sukses, Erin
Pekerjaanku lama-lama kok terasa seperti memasak tahu bulat, sih? Dadakan parah!
Sebelum menghubungi kontak yang dikirim, sengaja aku mencari profil owner Le Doux lebih dulu. Gambar yang muncul di search engine-ku adalah seorang pria paruh baya, dengan seragam chef warna putih. Namanya ternyata Jacques Laurent. Nama belakangnya agak mengingatkanku pada seseorang.
Mungkin itu bukan nama belakang, Rin. Yang namanya Laurent banyak. Kuingatkan diri sendiri sambil menggeleng, berusaha memusatkan fokusku kembali.
Sepertinya akan lebih baik kalau aku mengabari lewat email saja. Nyatanya sudah 20 menit lebih kugunakan untuk berpaku di layar, berusaha menyusun isi email yang tepat. Kuusahakan sesopan mungkin, dan nggak lupa di-CC ke email Bu Cassandra. Cari aman. Tanpa sadar, ruangan mulai ramai, sampai salah satu rekanku, Chika, menghampiri dan mengingatkan rapat akan dimulai 5 menit lagi.
Meski belum sepenuhnya yakin dengan penjelasan yang telah kutulis, langsung saja kutekan tombol send, lantas menyuruput habis kopiku sebelum beranjak dan membawa laptop. Tepat ketika aku mau mematikan monitor, bunyi notifikasi baru terdengar.
Sudah ada email balasan. Cepat banget.
From: laurent-aude@ledoux.com
To: ebatari@dairyhouse.com
Subject: Re: Initial Meeting Dairy House & Le Doux
Good morning, Ms. Batari.
Saya sudah dikabari oleh Mrs.Cassandra sebelumnya. Berarti jadwal ketemunya tidak perlu diundur, ya? Just use the new invitation I just send here. Nanti un serveur di meja reservasi, setelahnya akan ditunjukkan di ruangan mana. See you tonight.
Warm Regards,
HAL.
*
“Is there anything else I can help, Madamoiselle?”
Aku menggeleng kecil dan tersenyum, memberi kode kalau aku bisa ditinggal sendiri. Waiter—oh, panggilannya di sini un serveur, bahasa Prancis—akhirnya mengangguk dan undur diri, meninggalkanku sendiri di ruang kaca ini.
Here is the thing. For me, french is sexy, but I’m suck at it. Bahkan bicara bahasa Indonesia saja aku rasanya gagu. Bukan tanpa alasan. Pasalnya, kehadiranku di ruangan elit ini memberi tekanan tersendiri. Seolah aku salah tempat. Aku memang sempat bilang sudah pernah datang ke Le Doux, tapi ini pertama kalinya aku tahu ada ruangan seperti ini di dalamnya.
Le Doux memiliki tiga lantai, dan ada bagian rooftop yang jalur naiknya dari luar. Kalau nggak salah, dulu aku menempati meja di lantai satu. Di lantai dua, orangnya lebih sedikit, dan terkesan lebih hening dan mewah. Aku sudah takjub ketika sampai di sana. Tapi ternyata, aku dibawa ke lantai paling atas. Hanya ada satu meja di sini, dengan ukuran lebih besar ketimbang meja di lantai sebelumnya. Dindingnya dicat warna walnut cream, beberapa sofa beludru berjajar di dekat dinding, sebuah lemari kaca pun hadir dengan deretan piala dan piagam di dalamnya. Seisi ruangan meneriakkan kesan eksklusif begitu lantang. Usahaku untuk terlihat rapi dan classy dengan little black dress tampaknya kurang cocok dengan elitnya ruangan ini. Mungkin harusnya aku menyewa gaun ala putri kerajaan saja.
Oke. Yang satu itu memang agak berlebihan. But you got my point, right?
Aku sengaja datang lebih cepat 15 menit dari janji pertemuan, jaga-jaga kalau macet di jalan, berhubung jarak dari apartemenku di daerah H. Cokong ke Gunawarman terbilang lumayan. Komunikasi antara aku dan Pak Laurent juga beralih dari email ke w******p. Begitu aku mengabari sudah sampai, dia bilang akan sedikit terlambat karena ada urusan di dapur.
Meski begitu, aku juga nggak dibiarkan menunggu di meja kosong. Berbagai hidangan sudah tersedia di depanku. Mulai dari boeuf bourguignon—sup daging sapi yang dimasak dengan anggur merah, escargots yang ditata sedemikian rupa di piring putih, beberapa dessert seperti croquembouche dan french macarons, serta masih banyak lagi. Awalnya, aku beranggapan makan di restoran elit akan membuatku lebih kenyang mata daripada di perut. Tapi ini … it feels like the whole menu is served in front of me.
Tolong ingatkan aku kalau makan malam ini adalah bagian dari pekerjaan, bukan untuk senang-senang dan bersantai.
Aku sadar kalau makan di tempat seperti ini ada aturannya. Namun, macaron berwarna pink di hadapanku ini seakan memanggil, jadi kuputuskan untuk memakannya lebih dulu. Persetan kalau dessert urutannya harus paling akhir. Aku ingin menikmati hidangannya sebentar sebelum berhadapan langsung dengan si pemiliknya.
Sekarang aku merasa seperti pencuri yang makan diam-diam.
Supaya bisa tenang, kubuka kembali ponselku, melihat ulang proposal yang sudah dilengkapi setelah rapat tadi pagi. Kerjasamanya memang belum pasti, tapi Pak Damar sudah mengambil ancang-ancang untuk produk potensial yang bisa dijadikan bentuk kolaborasi.
“Karena Le Doux itu modern cuisine, kita punya ruang yang lumayan banyak untuk mengadaptasi masakan mereka ke produk kita. Selain pastry, coba kamu amati menunya baik-baik. Be as creative as you can, Erin. Just do it your usual way.”
Not my boss quoting some sport apparel slogan.
Aku sudah sempat browsing beberapa menu yang disediakan Le Doux di website mereka, tapi melihat apa yang terhidang di mejaku, aku yakin masih banyak menu yang belum kuketahui. Entah itu merupakan hal baik, atau tantangan untuk menciptakan produk.
Co-branding dari dua nama besar sebenarnya sudah nggak asing. Contohnya pun banyak. Misalnya, Baskin Robins yang berkolaborasi dengan Dunkin Donuts dan merilis produk es krim yang terinspirasi dari kopi DD. Ada juga kolaborasi keripik kentang dengan bumbu ala mie instan. Pengonsepan produk bisa jauh lebih mudah kalau dua perusahaan yang terlibat memiliki kesamaan.
Masalahnya sekarang, apa kesamaan antara perusahaan tempatku bekerja, dan restoran elit ini? Sampai sekarang belum ada ide terbayang.
“My apologies, saya jadi telat. Ada sedikit insiden di dapur.”
Suara dari belakang membuatku spontan berdiri, bermaksud untuk menyapa. Namun begitu beranjak dan menoleh, aku merasa kehilangan kata-kataku. Yang berada di ruangan ini bukanlah seorang pria paruh baya seperti yang kulihat di monitorku tadi pagi. Wajahnya justru nggak asing. Kelewat familier, sampai-sampai aku membatu di tempat. Sesaat aku dan pria bermata biru itu bertukar tatap, dan aku merasa keterkejutanku tercermin lewat sosok ini.
Dia sama kagetnya denganku.
“Wait. You are … Erin?”
Hanya dengan menyebut namaku, pria ini berhasil membawa kenangan lama ke dalam kepalaku. []