Erin
It’s him.
It’s really him.
Senyum asimetris dan sepasang mata biru tua itu hanya milik satu orang dalam ingatanku. Dan semudah itu, aku merasa kembali terlempar kembali ke 10 tahun lalu. Kembali ke versi mahasiswi berambut kuncir kuda, dan seorang laki-laki jangkung yang tengah menyelimutiku dengan jaket dan almamaternya.
“Masih kedinginan?” tanya cowok itu.
Aku menggeleng, meskipun badan masih menggigil. Hujan malam itu deras banget, tapi aku nggak mungkin membuat kakak tingkatku ini sampai menanggalkan semua bajunya untukku. Aku nggak mau dia sakit, dan membiarkan lawan jenis tanpa busana bukanlah opsi, sekalipun hanya bagian atas. Kaos dan kemeja kotak-kotaknya itu pun tipis.
Sayangnya, jawabanku tadi malah dia balas dengan, “Bohong banget. Kamu aja gemetar begitu.”
Maunya bilang supaya dia nggak usah repot-repot, tapi sebelum buka mulut, cowok itu sibuk membongkar ranselnya. Nggak lama, dia menyodorkan kayu putih dan koyo kepadaku.
“Mau pakai yang mana?”
“Eh?”
“Seenggaknya bisa ngehangatin,” katanya lagi.
Walaupun masih bingung, akhirnya kuambil saja kayu putihnya. “Makasih.”
Dia manggut-manggut saja, lantas kembali ke tempat tasnya diletakkan, dan duduk di sana. Jaraknya hanya tiga langkah saja dariku, dengan posisi kami yang berseberangan. Kemudian hening. Nggak ada percakapan apa pun di antara kami. Lagi pula, bukannya aku berharap bisa bergosip di sini dengan kakak tingkatku.
Well, aku nggak bisa sepenuhnya menyalahkan keadaan sih. Salahku karena mendekam di kampus, berpikir bisa menyelesaikan tugas ospekku sebelum pulang ke rumah. Tanpa sadar, langit sudah telanjur mendung, dan hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda mau berhenti. Mama sempat menelepon, jadi aku bilang saja kalau terjebak di sini.
“Ngekos?”
Wajar kalau aku nggak langsung menjawab karena pancingan obrolan tiba-tibanya itu. Sepasang mata biru miliknya tertuju padaku, sehingga aku sedikit menunduk. “Asli dari sini, Mas.”
“Oh, ya? Di mana?”
“Daerah Kemang.”
Dia manggut-manggut, dan aku memilih melakukan hal yang sama. Obrolan kami lagi-lagi berakhir.
Yah, jangankan mengobrol, aku nggak tahu apa-apa tentang dia, kecuali fakta kalau dia anak tingkat akhir, panitia ospek jurusanku, dan kami berdua terjebak di sini karena hujan deras di luar sana sejak pukul lima sore. Awalnya kukira dia adalah anak kelas internasional karena penampilannya lebih cocok sebagai ras kaukasian ketimbang mongolian. Namun, pemikiranku berganti ketika mendengarnya mengobrol dengan bahasa Jawa lewat telepon. Anak jurusanku banyak yang memanggilnya “Mas Harsa” karena itu.
“Erin.”
“Y-ya?”
“Nggak, manggil doang.”
Tentu saja aku bingung. Entah dia iseng atau pada dasarnya “gabut” saja. Lama-kelamaan, aku sadar dia masih memandangiku. Salah tingkah? Sudah pasti. Awalnya tebersit ide untuk menerobos hujan saja. Akan tetapi, aku sadar itu akan membuatku terlihat seperti orang bodoh. Bisa jadi aku yang kelewat parno, padahal kakak tingkatku itu sekadar memperhatikan sesuatu di dekatku.
Pede banget lagian, kayak lo punya sesuatu aja buat diperhatiin, Rin!
“Aku juga tinggal di daerah Kemang,” celetuknya tiba-tiba. “Bareng aja. Nunggu hujan rada reda baru pergi.”
Aku membelalak, lantas segera menggeleng. “E-eh, nggak usah. Aku sendiri aja.”
“Sekarang udah malam.”
“Di depan ada tukang ojek langgananku.”
“Kamu nebeng aku aja, sayang duit kan kalau dipake bayar ojek.”
Aku nggak mempersalahkan uangnya. Toh, jatah uang jajanku sudah termasuk ongkos pulang. Dan aku masih lebih percaya diantar mamang ojek ketimbang anak jurusan yang baru kukenal tiga hari.
“Suer ggak gigit, tenang aja.”
Seketika aku merasa prasangka burukku baru saja dia bongkar. “Bukan gitu, Mas. Hanya sungkan aja. Udah dipinjamin jaket gini, malah ngerepotin diantar pulang.” kilahku cepat.
“Orang baik kok,” katanya lagi, kali ini diselingi tertawa. Aku nggak tahu apakah tingkahku ini yang sedang dia tertawakan, atau sesuatu yang lain. Hingga sedetik kemudian dia tersenyum, dan telingaku memanas ketika dia berkata, “Lagian, aku nggak keberatan direpotin sama sekali sama kamu. You’re quite cute.”
Ucapan itu mungkin nggak ada arti khusus untuknya. Namun, nggak begitu buatku. Kalimat itu masih terngiang-ngiang sampai dia mengantarku ke rumah, diikuti cengiran kotaknya yang terbawa hingga ke alam mimpi, dan sekarang ….
Laki-laki berkemeja kotak-kotak itu sekarang ada di sini, memamerkan senyum yang sama selagi berdiri di hadapanku sebagai seorang pria dewasa.
“Betulan Erin, kan? Anak tekpang.”
Dia tampak berbeda. Tapi anehnya, perasaanku bilang, ada sesuatu yang masih belum berubah.
Kemungkinan … hatiku.
*
Harsa
Pernah nggak lo ketemu sama seseorang dan setelahnya berpikir, “Gue pengin balik ke masa lalu”?
Itulah yang gue pikirkan sekarang, ketika melihat perempuan berambut sebahu yang tengah menunggu gue di meja jamuan khusus restoran gue. Lucu agaknya karena dari sekali lihat, gue bisa langsung ingat dia. Entah ingatan gue yang buram, atau dari dulu dia memang nggak banyak berubah. Beside of her black empire waist dress, she is exactly how I remembered her. Dia jadi kelihatan makin dewasa sih.
“Mas … Harsa?” Nama itu terdengar ragu, jadi gue mengangguk untuk meyakinkan. Di sisi lain, senang juga karena dia masih ingat. “HAL di akhir email itu maksudnya Harsa Aude Laurent?”
“Yep.” Sekali lagi gue mengangguk, kali ini sekalian pindah ke meja, mempersilakannya untuk duduk juga. “It’s surprising to meet you here. Kamu kerja di Dairy House berarti?”
“I-iya, Mas. Tadinya aku kira bakal ketemuan sama ….”
“Sama papaku?” tebak gue. Bisa gue lihat fakta itu menambah keterkejutan cewek ini. Bisa dimaklumi sih, berhubung sewaktu kuliah, nggak banyak yang tahu siapa bokap gue. Gue saja nggak tahu. “He’s gone, sekarang usahanya aku yang jalanin, Rin.”
“Gone?” Dia masih bingung.
“Meninggal,” terang gue. “Awal bulan lebih tepatnya. Belum banyak yang tahu emang, karena masih proses ngurusin ini itunya juga. Di company profile, yang tercantum memang masih nama beliau.”
Seketika ekspresinya berubah. “I’m so sorry.”
“Don’t be. Bokap emang udah tua.” Gue membuka tutup wine, kemudian menuangkannya ke gelas Erin. “Let’s put that aside. Kita bukan mau bicarain itu juga, kan?”
“A-ah. Iya, Mas Harsa.”
Kecanggungan Erin sukses memancing tawa gue. “Kamu nggak banyak berubah, ya?”
“Oh, ya?” Dia menyengir kikuk, kemudian menyeruput wine tadi sedikit demi sedikit. Entah kenapa, gue tiba-tiba ingat kebiasaan dia dulu. Kalau grogi, jadi sering minum.
“Santai aja, Rin. Udah lama nggak ketemu, kan udah kenal ini kok,” gue mencoba meringankan suasana. “Masih pengin nanya-nanya, tapi kita punya obrolan yang lebih penting. Sambil makan aja, ya? Pasti lapar.”
Erin mengangguk sambil meluruskan posisi duduknya. Gue menangkap bagaimana hawa malu-malunya perlahan berganti, seketika menyadari sosok yang ada di seberang gue ini adalah team leader R&D dari sebuah perusahaan makanan, bukan lagi si adik tingkat dengan segala kelucuan dan keluguannya. She’s not the same girl I knew back then. She’s a grown up lady now. Dan gue melewatkan kesempatan untuk melihat perkembangan dia.
Dih, emangnya gue siapanya dia? Berasa penting banget.
Ocehan-ocehan batin itu gue tekan, mengambil smoked salmon canapes sebagai appetizer, dan Erin melakukan hal serupa. Karena kesibukan hari ini, gue belum bisa menyiapkan hidangannya sendiri. Namun, full course meal yang tersedia malam ini adalah rancangan gue.
Bokap sering bilang, kalau menu—mulai dari appetizer, main course, dessert, hingga pemilihan wine—sama seperti menulis surat. It’s not about “the more, the merrier”. Lo nggak perlu membuat meja penuh. Yang terpenting adalah apa tujuan lo menghidangkan serangkaian makanan itu. Sama halnya dengan surat, tujuan lo harus jelas.
Malam ini, tujuan gue adalah memberi kesan baik kepada calon partner bisnis gue. Siapa pun yang masak nggak akan jadi masalah. Tapi, melihat siapa yang datang sekarang, rasanya gue ingin sedikit pamer akan keahlian gue.
“Aku dapat info dari Pak Damar kalau yang menggagas ide untuk kerjasama ini dari Pak Lau—Pak Jacques, maksudnya.” Erin mulai bicara. Walaupun bahasa bicaranya sama seperti sebelumnya, pembawaannya berbeda. Oleh karena itu gue pun lebih menegapkan punggung, memotong bourguignon dan menyimak. Waktunya untuk jadi profesional.
“Betul. Yang mengusulkan memang Pak Jacques,” gue mengonfirmasi, nggak lupa merujuk bokap dengan namanya. “To be blunt, memang kelihatannya aneh. Le Doux dan Dairy House sama-sama berkutat di bidang makanan, tapi pekerjaan kita beda. Marketnya pun beda. Jujur aja, pertama kali dengar idenya, aku agak pesimis. Masih belum kebayang produknya kayak gimana.”
“Jujur sih, Mas, aku pun awalnya kaget,” timpal Erin, dan gue manggut-manggut.
“Realistis aja, kan? Produk-produk kalian itu untuk daily consume, sementara eksklusivitas jadi salah satu nilai dari restoran kayak Le Doux.” Gue tahu ucapan gue itu terdengar arogan, karenanya gue langsung menambahkan, “Tapi, Pak Jacques berkeras. Nggak semua yang eksklusif itu berarti bagus dan baik. Beliau optimis kalau kerjasamanya pasti bisa sukses, sekalipun belum terbayang. But he believe Dairy House can pull it off. Kalian sudah beberapa kali collab sama perusahaan lain, kan?”
Erin mengangguk. “Pernah, beberapa. Tapi, memang sejauh ini belum pernah ada pengalaman kerjasama dengan restoran kayak Le Doux. Kafe dan restoran cepat saji pun hanya sebatas mereka pakai bahan produksi dari kami aja.”
“Oh, satu lagi. Aku baru ingat. Tahu produk sùsu Dairy House sama grup tani dua tahun lalu? Pak Jacques suka sama konsep begitu. Katanya, produknya ngasih spotlight ke petani, dan pembaruan produknya juga oke.”
“Oh. Project itu diurusin sama Bu Cassandra.”
“Produknya siapa yang rancang? Apa dari kamu juga?”
Erin membelalak, dan bagian telinganya seketika memerah. “Kalau yang itu ….”
Woah, Erina. I’m impressed.
“Sebelumnya, aku udah pernah ngobrol sama Bu Cass soal divisi R&D Dairy House,” ujar gue. “Katanya urusan produk-produk kebanyakan dari kamu.”
“Hanya ide kasar aja kok, Mas,” elaknya. “Pengembangannya selalu sama tim, dan lolos nggaknya yah dari Bu Cassandra.”
“It doesn’t change the fact that you are the one who pulled the idea. You should be proud, Rin,” gue mengangguk mantap. “Kalau gini sih, obrolannya bakal lebih gampang. Berhubung aku ngomongnya langsung sama bank idenya Dairy House, kamu udah ada kepikiran sesuatu nggak? Atau kebayang kerjasamanya bakal lebih bagus kayak gimana?”
Perhatian gue sepenuhnya tertuju kepada Erin. Dia menyuap potongan daging ke mulut. Harusnya perhatian gue bukan terfokus ke mulutnya. Yet here I am, menyimak gerakan bibir berbalut lipstick merah gelap itu bergerak. Begitu suaranya terdengar, tersadarlah gue bahwa sejak tadi gue nggak berkedip.
“Untuk sekarang, belum ada produk spesifik yang kepikiran sih,” katanya. Sekarang gue beralih untuk menatap matanya langsung. Lebih aman. “Hanya, ada sedikit bayangan untuk bikin co-branding. Mungkin bisa produk Dairy House yang buat semacam lini premium, dan menyesuaikan dengan kualitas bahan yang biasa dipakai di sini, jadi nanti hasilnya juga ada menu dari Dairy House x Le Doux. Atau bisa juga makanan Le Doux yang potensial dijadikan jadi packaged snacks. Buat itu, aku perlu info lebih soal menu-menu di sini.”
“That’s quite a nice start. Snack lebih memungkinkan sih, karena agak susah juga kalau harus packaging main course gitu. Makanan yang dimasak langsung sama yang di dalam kemasan bakal beda secara rasa maupun kualitas.”
“Itu poin yang harus dipikirkan, kan? Gimana caranya biar walaupun beda, seenggaknya ada esensi yang dipertahankan.”
Gue mengangkat sebelah alis, tapi pada saat bersamaan tersenyum. Sisi ambisius Erin sepertinya mulai bereaksi. It suits her very well. It was back then, and it still does now.
“Fine by me. Soal menu gampanglah. Nanti juga bisa buat resep untuk makanan baru untuk itu.” balas gue. “The deal is on, then?”
Yang gue dapat justru pertanyaan. “Mas Harsa yakin? Apa ada hal lain yang dipertimbangkan?”
“Selain yang udah kita bicarain tadi, sisanya udah cukup untuk sekarang,” jawab gue. “Lagian, Le Doux yang mengusulkan kerjasama di awal. Aku nunggu jawaban, bukan nolak. So, are we gonna do this for real?”
Ada jeda beberapa saat. Gue sendiri nggak paham kenapa sedikit waswas menunggu jawaban. Tapi ketika Erin mengangguk, ada sensasi lega bukan main yang gue rasakan. Senyum gue langsung mengembang, dan gue mengangkat gelas wine, meminta Erin untuk mendekatkan gelasnya. “Let’s cheers for our upcoming collaboration.”
“Cheers.”
I don’t expect this to be fun at first. But let me change my mind. Gue sedikit menantikan kerjasama ini. Karena itu berarti gue akan bertemu Erin lagi.
Artinya, gue bisa melihat apa yang seharusnya bisa gue miliki sebagai masa lalu gue. Dan mungkin … masa depan gue juga. []