Kepalaku sontak berdenyut nyeri karena pusing memikirkan surat dari pria itu. Sesuai isi kertas itu, dia menungguku di gerbang kantor. Aku mengintipnya dari balik dinding. Dia sedang mengobrol dengan satpam kantor. Dari kejauhan aku melihat kepalanya berkilau terkena sinar matahari senja. Mataku sampai silau, nanti aku akan bawa kacamata kalau bertemu dengannya.
"Hey Eka! Ngapain ngintip-ngintip. Samperin sana, kasian loh udah nungguin dari tadi. Lagian kece juga itu orang biar botak tapi badannya itu, Ugh gemes."
Amit-amit jabang bayi, aku mengelus perutku.
"Ya, buat kamu aja kalau gitu. Aku mah emoh." Aku menaikkan bahu, geli.
"Kalau dia suka, aku hayuk aja," balasnya. Hayuk ke mana? Ke neraka juga ikut kali ya. Temanku itu berjalan pulang.
Pria itu tetap dalam posisi semula, berdiri sambil menyandarkan tubuh kekarnya ke gerbang. Aku harus cari cara melewati gerbang itu. Sebaiknya aku mencari teman yang bawa motor. Mataku mengedarkan ke sekeliling parkiran. Aku melihat Satria yang sedang menstater motornya. Dengan langkah cepat kuhampiri Satria.
"Satria, mau pulang?" tanyaku manis.
"Iya, kenapa?"
"Aku boleh ikut nggak?"
"Yah, aku mau bareng sama Novi, Ka. Gebetan aku, Ka,." bisiknya. Alamak, sepertinya aku harus menyerah. Kemarin aku bisa lolos dari pria botak itu, sekarang tidak ada bantuan lagi.
"Ya, udah pergi sana!" ucapku sewot. Sepandai-pandainya aku menghindar akhirnya bertemu juga. Kantor sudah sepi, dengan berat hati dan langkah berat aku berjalan menuju gerbang. Berat mata ini untuk melihatnya. Aku menarik napas sedalam-dalamnya sebelum melewati gerbang itu yang berpenghuni hantu botak. Ups.. Maaf. Aku berjalan menunduk saat melewatinya. Syukur-syukur menemukan uang yang jatuh.
"Eka?"
"Ya," sahutku keceplosan. Dasar bodoh kenapa aku malah menjawab panggilannya, rutukku dalam hati. Kakiku terhenti seperti ada tangan yang menahannya.
"Baru pulang kerja?" tanyanya. Aku meliriknya sesekali. Pria botak itu berdiri tingginya kira-kira 180 cm. Dari segi postur tubuh tampak sangat mengesankan dibandingkan pria yang aku pernah temui. Dadanya lebih lebar dan bahunya bidang diselimuti kemeja putih yang sangat pas di tubuhnya sehingga menonjolkan otot bisepsnya. Dan tidak lupa celana hitam bahan yang pas pula di pinggulnya. Aku sempat terpana, akan tetapi ketika aku mendongakan kepala ke atas, runtuh sudah pesonanya. Kepalanya yang botak plontos itu sangat menggelikan bagiku.
"Iya," jawabku singkat. Ia berdehem pelan.
"Tadi Takoyaki- nya di makan, tidak?" Waduh kenapa menanyakan itu lagi, yang pasti sudah pindah ke cacing-cacing di perutku. Tunggu dulu, bahasanya formal sekali.
"Oh, itu terima kasih." Aku mendongakkan kepalaku sekilas, tidak kuat melihatnya. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke depan.
"Sama-sama, mau pulang?" Ya iyalah masa iya aku mau menginap di sini.
"Iya."
"Saya antar ya?" Weeeew, dia mau mengantarku dengan apa? Setiap hari dia berdiri di depan gerbang dan aku tidak melihat dia membawa kendaraan.
"Nggak, makasih. Saya mau pulang dulu." Aku melanjutkan perjalananku yang tertunda namun tanganku di cekalnya dengan cepat dan erat. Dia mengerahkan tenaganya untuk gadis kurus seperti aku? Patut di jauhi tanganku sampai sakit karenanya, aku meringis.
"Maaf, saya refleks." Dia melirik pergelangan tanganku yang memerah. "Maaf," ulangnya pelan menyesal. Tidak heran tenaga sama besar seperti tubuhnya. Tiba-tiba ponselku berdering, aku merogoh ke kantung jeans bagian depan kanan.
Ibu calling..
"Hallo, Bu. Ada apa?" jawabku to the point.
"Eka, kamu ada di mana?"
"Di depan kantor, Bu. Kenapa?"
"Kamu langsung ke rumah sakit ya!" ucap ibuku panik.
"Lah, kenapa ke rumah sakit. Aku mau pulang ke rumah," sahutku cepat.
"Adikmu jatuh dari pohon mangga! Cepet kamu ke sini, Ibu sendirian. Bapakmu lagi shift malem."
Aku menutup telepon sambil menggerutu. Aku menghela napas. Ada-ada saja musibah, adik-adikku nakalnya minta ampun. Pria itu menatapku intens, aku sampai gugup.
"Ada apa?" tanyanya.
"Adikku jatuh dari pohon mangga, sekarang ada di rumah sakit," selorohku terus terang. Tadi aku bilang apa? Kenapa aku malah bilang kepadanya? Aku kira otakku sudah bergeser dekat dengannya.
"Kalau begitu saya antar ke rumah sakit." Dia a langsung menarik tanganku begitu saja ke belakang warung kopi. Di sana ada motor gede, aku lupa namanya pokoknya yang 'Pasha Ungu' pakai. Pria itu membuka jaket kulit yang dikenakannya. "Pakai lah."
Aku diam mematung, dia sedang mengenakan helm. Pria itu hanya mengenakan kemeja putih bersih. Mataku terkesima, biasanya ia mengenakan sweater rajut atau jaket kulit saat menungguku.
Dia mengambil jaket dari tanganku. Pria itu malah memakaikannya padaku. Aku seperti anak kecil yang menurut dipakai kan pakaian oleh ibunya. Kemudian ia meritsletingnya. Aku tenggelam dalam jaketnya.
"Kita berangkat, kamu tau rumah sakit mana?" Aku yang masih syok karena mendapat perlakuan manisnya. "Eka.." panggilnya lembut.
"Di rumah sakit PMI," jawabku sekenanya. OMG! Dia tersenyum lagi padaku, aku sampai menahan napas. Pria itu menaiki motor besarnya.
"Ayo, cepat nanti keburu hujan." Aku menatap langit yang gelapnya berbeda, ada kilatan-kilatan seperti petir. Aku duduk di boncengan dengan memegang bawahan jok motornya agar tidak terjatuh. Motornya mulai berjalan ke jalan raya. Udara malam dingin sekali terasa di telapak tanganku. Apa dia tidak kedinginan? Bodoh tentu saja, tubuhnya hanya di lapisi kemeja tipis. Hingga tanpa diduga dia mengerem mendadak. Tubuhku menubruk punggungnya. Hampir saja aku terjatuh, tanganku terlepas begitu saja. Jantungku berdebar kencang, ketakutan. Ya ampun untung aku masih selamat.
"Awww," wajahku kepentok helmnya. Aku elus-elus aset berhargaku ini. Pria itu mengumpat ada motor dari arah belakang yang menyalip motor kami. Dia meminggirkan motornya, kemudian menengok ke arahku.
"Kamu tidak apa-apa?" Dia melirik dahiku yang memerah, di usapnya lembut. "Maaf, tadi ada motor yang menyalip. Saya kaget jadi mengerem mendadak." Ada penyesalan di raut wajahnya.
"Nggak apa-apa kok," jawabku salah tingkah.
"Kita lanjutkan lagi jalannya ya,." aku mengangguk. "Mana tanganmu?" ucapnya. Aku mengulurkan tanganku ke depan dan dia membelitkan ke perutnya. OMG!!! Aku memegang perutnya?! Kotak-kotak??
Dag dig dug dag dig dug....
Itu suara jantungku. Punggungnya begitu keras, harum parfumnya menusuk hidungku. Aku tidak tahu itu merek apa yang jelas menyegarkan. Aku memang sudah gila!! Setelah dia menungguku berminggu-minggu di depan gerbang kantor. Baru kali ini aku bicara panjang lebar dan dekat dengannya, sampai-sampai aku memeluknya. Aku tidak suka pria botak! batinku.
"Eka, sudah sampai?" Aku masih terlena aromanya. "Eka," tanpa sadar aku tersenyum lebar, namun senyum itu menghilang secepat datangnya begitu tepukan dan berhenti. Ia menepuk-nepuk tanganku yang memeluk perutnya. "Eka.."
"Ya?"
"Sudah sampai."
"Oh, sudah sampai ya." Aku malu. Aku memegang bahunya untuk turun dari motor. "Terima kasih, udah nganterin." Dia manggut-manggut. Aku berbalik menuju ke dalam rumah sakit. "Hati-hati," ucapku pelan entah terdengar atau tidak. Bibir pria itu terukir sebuah senyuman bahagia. Entah apa maksud dari senyumannya itu.
***
Aku menelepon Ibu menanyakan Danu di rawat kamar mana. Ibuku memberi tahu di kamar anggrek, satu persatu kamar aku baca. Aku menemukan pintu berwarna putih bertuliskan 'Anggrek' tanpa ragu lagi aku masuk. Di dalam sudah berkumpul adik-adikku lima ekor dan Danu tidur di atas ranjang rumah sakit. Adik-adikku tidur di bawah lantai dengan selembar selimut Angry Bird yang di bawa dari rumah. Aku tidak tega melihatnya.
"Assalamualaikum, Bu," salamku kepada Ibu yang sedang tidur membelakangiku.
"Eka, ada-ada aja adikmu itu. Danu jatuh dari pohon mangga, kaki kirinya patah," cerocos Ibu. Ia duduk di lantai, lalu aku mencium tangannya.
"Apa nggak di jagain Bu, Danu nya?" ucapku malas sembari duduk di sebelahnya.
"Gimana mau ngejagain, Ibu kan sibuk sama Budi. Mana sempet." Buatnya saja sempat, omelku dalam hati. Apa dulu Ibu tidak KB, sampai aku punya adik begini banyak.
Urutan anggota keluargaku berserta usianya, aku berusia 25 tahun, Putra 14 tahun, Danu 6 tahun, Budi 4 tahun, Aisyah 3 dan Citra 1 setengah tahun. Mana jarak usianya cukup berdekatan. Aku anak pertama dari 6 bersaudara, tanggunganku cukup berat, kan? Dulu Ibu pernah bercerita saat aku berusia lima tahun, mereka ingin menambah anak namun tidak diberi. Sampai di usiaku 10 tahun barulah ibuku hamil lagi dan mengandung Putra. Hanya aku dan Putra yang memiliki jarak usia yang cukup jauh.
"Bapak shift malem, Bu?" Aku tiduran di sebelah adikku yang no 2. Tunggu dulu kenapa tubuhku terasa berat ya. Aku mengangkat tanganku yang memakai jaket kulit. Ya ampun!! Aku lupa mengembalikan jaket kulit milik pria itu, ku tepuk jidatku berulang-ulang.
"Iya, bapakmu Shift malem. Kenapa Eka ada nyamuk?" tanya ibu ku.
"Ada Bu, nyamuk botak," sahutku asal. Wajah ibuku bingung.
"Emangnya ada nyamuk botak?" Ibuku menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya, ada Bu. Emangnya Ibu pernah liat nyamuk rambutnya di kuncir atau dikepang?" jawabku nyolot. Ibu melayangkan jitakkan padaku.
Pletak
"SAKIT IBU!!" teriakku kesal.
"Udah tidur sana, nanti malem kamu yang jagain Danu, entar malem kita gantian. Takut Danu mau apa-apa nggak ada orang." Aku mendengus, lalu menarik kasar selimut yang lain tergeletak di samping Ibu. Tubuhku sudah lelah seharian bekerja dan malam ini harus bergadang. Aku berbaring beralaskan selimut berharap mimpi indah.
Sorry typo & absurd
Thankyu^^