Willie?"
"Kau bertanya apa yang aku inginkan?"
"Dia punya semuanya yang aku inginkan,
seorang omega berwajah cantik. Mulut
kecil dan tampak lembut. Untuk pertama
kalinya, aku ingin tahu... seperti apa
rasanya membuat seseorang sebersih
itu..kotor."
Andrew mendekat lagi hingga hidungnya
menyentuh pipi Gavi. "Maka cepatlah.
Bawa dia padaku. Buat aku terlihat baik.
Supaya dia menyerahkan dirinya."
Andrew membaca perubahan ekspresi
itu. Ia terkekeh puas, lalu menepuk pipi
Gavi sekali, "Andai kau seorang omega,
sebenarnya kau juga tidak terlalu buruk"
"Tapi sayangnya, kau begitu menjijikkan
karena terlahir beta seperti ini, selain
tidak punya feromon, apa yang bisa
dilakukan oleh beta tidak berguna
sepertimu? Menjual diri?" ¹
Gavi tak menjawabnya. Bahkan ia
tak bisa bergerak. Matanya hanya
menatap kosong ke depan seolah sedang
memproses hinaan dan kenyataan yang
sudah terlalu sering ia rasakan.
Andrew berbalik perlahan. Tapi
langkahnya berhenti tepat sebelum
keluar dari area klub, ia menoleh satu
kali lagi dengan senyum dingin yang
penuh ancaman. "Ingat dua minggu."
"Jika gagal...teman-temanku sudah siap
menunggumu."
Matanya menyapu tubuh Gavi sekali lagi,
seperti sedang menilai kualitas sebuah
benda.
"Mereka tidak keberatan beta maupun
barang bekas, selama bisa dipakai."
setelah mengatakan itu, ia melangkah
pergi dengan cepat. ²
"Alpha sialan itu..." gumamnya dengan
suara yang nyaris tak terdengar.
"Aku menyesal, aku sempat menyukainya
saat pertama kali melihat wajahnya,
ternyata......tidak selamanya orang
tampan itu baik" ⁵
Gavi memejamkan matanya. Otot-otot
di rahangnya menegang dan giginya
menggertak. Ingin rasanya ia meninju
sesuatu seperti dinding, tiang, atau
bahkan dirinya sendiri.
Ia bingung harus bagaimana. Willie
adalah orang pertama yang ingin
berteman dengannya dengan tulus... dan
tidak pernah menghakimi kehidupannya,
dan dia juga yang meminjamkan uang
untuk biaya rumah sakit ibunya.
"Willie..." bisiknya dengan napasnya yang
terasa begitu sesak.
Tidak mungkin ia mengkhianatinya.
Tidak mungkin dia membiarkan orang itu
membawa Willie.
Setelah malam itu, Gavi tidak muncul
di kampusnya selama tiga hari
berturut-turut. Tiga hari itu, ia tidak tidur
dengan benar, juga tidak makan dengan
benar.
"Aku tidak akan membantunya." Tangan
Gavi mengepal dan menekan lututnya
erat.
"Mau apa pun yang terjadi... aku tidak
akan bantu dia. Aku bukan penghianat."
Gavi masih punya hutang biaya rumah
sakit pada Willie, sebelum ia melunasi
hutangnya, Gavi tidak akan berbuat
sesuatu yang dapat mengecewakan
temannya itu. ¹²
Dua minggu berlalu sejak malam terakhir itu, malam di mana Andrew melemparkan ancaman dan hinaan dengan mudahnya, seolah hidup Gavi bisa dikendalikan olehnya.
Gavi tidak bodoh, ia tak melakukan apa yang diperintahkan. Tidak sekalipun ia menghubungi Andrew. Tidak sekalipun ia mencoba membawa Willie untuk mereka. Ia tetap pada keputusannya. Ia tidak akan menjadi pengkhianat.
Sendirian, Gavi menyembunyikan semuanya. Tetap menjalani kuliahnya, tapi ia lebih sering menghindar dengan alasan kelelahan atau tugas di luar kampus.
Saat bersama Willie, ia berusaha menampilkan wajah yang tersenyum cerah, kadang candaan ringan, dan obrolan seadanya. Namun itu semua tak cukup menipu Willie.
"Gavi, kenapa beberapa hari ini kau lebih pendiam?"
Willie menatapnya begitu dalam saat mereka duduk berdua di kursi bagian belakang kantin kampus yang sudah mulai sepi. Mata Willie tak pernah lepas dari wajah Gavi, seolah mencoba membaca ekspresi wajahnya yang tampak murung.
Tangannya terangkat pelan, menyentuh kening Gavi. Sentuhan itu berhasil membuat Gavi tersentak kecil.
"Aku... baik-baik saja," jawab Gavi cepat. "Hanya saja.. tempat kerjaku lebih sibuk dari biasanya dan aku kurang tidur."
Willie mengerutkan keningnya "Kalau ada apa-apa, bilang. Jangan pendam sendiri."
"iya..terima kasih Will, tidak ada apa-apa yang terjadi, jadi jangan khawatir" katanya lirih.
"Ya sudah," Willie tidak memaksa.
Ia kembali duduk diam di samping Gavi sembari menyantap makanannya.
Pulang kuliah, Gavi melangkahkan kaki
lebih cepat dari biasanya, sesekali pula ia menoleh ke belakang dengan waspada. Ia merasa seperti Andrew bisa muncul kapan saja dari sudut jalan manapun.
Hatinya tidak tenang. Apalagi pagi tadi, saat sedang memotong buah di dapur, pisau yang ia pegang tiba-tiba tergelincir dan menyayat jarinya. Hanya luka kecil. Tapi darah yang menetes terasa seperti pertanda untuknya. Petanda akan ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Entah mengapa, firasat itu tak bisa ia abaikan.
Setibanya di tempat kerja, segera ia masuk ke klub malam yang selama ini menjadi sandarannya. Tempat pertama yang ditujui olehnya adalah ruang ganti. Ia berganti pakaian dengan cepat, baju kerja yang ketat dan tipis menempel pas di tubuhnya. Ia membenarkan rambutnya di depan cermin, menarik napas panjang, dan melangkah keluar dengan senyum profesional yang sudah terlatih.
Namun baru beberapa langkah keluar dari sana, suara sang manajer berhasil menghentikannya.
"Gavi! Kemari."
"Ya, Pak?"
Manajer menghampirinya dengan ekspresi serius, membuat Gavi bertanya-tanya ada apa orang ini memanggilnya.
"Hari ini di VIP ada tamu khusus. Mereka meminta kau secara khusus yang melayani minum mereka malam ini."
Gavi terdiam. "VIP?"
Ada perasaan campur aduk dalam hatinya. Di satu sisi, tawaran ini adalah kesempatan besar untuknya. Siapa pun yang dipanggil ke ruangan VIP tahu bahwa mereka akan pulang dengan uang berkali lipat. Gajinya bisa setara dengan seminggu kerja biasa. Tapi di sisi lain... kenapa harus dia?
"Aku?"
Manajer mengangguk, dia mengira Gavi ragu karena tekanan, jadi ia berusaha menenangkannya. "Tenang saja, kau sudah sering menghadapi tamu yang lebih sulit dari ini. Jadi malam ini hal yang kecil untukmu."
Gavi memaksa tersenyum dan
mengangguk. "Baik. Aku akan ke sana."
Saat ia melangkah menuju ruang VIP, perasaan waswas dalam dadanya semakin menguat. Ada sesuatu yang tidak beres, karena biasanya cenderung tamu VIP akan memilih omega, tapi hari ini mereka mengordernya yang beridentitas beta. Namun ia tetap mencoba untuk masuk. Siapa yang tidak tergiur dengan uang sebanyak itu.
Tangannya yang masih dibalut perban tipis karena luka pagi tadi sedikit bergetar saat ia membuka pintu ruangan VIP.
Ruangan itu dipenuhi oleh wangi parfum mahal yang menusuk. Di tengah meja kaca besar yang dikelilingi sofa kulit, duduk enam pria. Lima di antaranya tidak ia kenali. Sedangkan pria yang duduk di tengah diantara mereka adalah seseorang yang cukup ia kenali.
Gavi menelan ludahnya dan napasnya sedikit tercekat saat mencium feromon yang mulai menyebar didalam ruangan itu.
"Gavi," suara Andrew terdengar ramah, terlalu ramah. "Sudah lama tidak bertemu."
Dua pria di sisinya tertawa kecil, seolah menyambut lelucon dalam kalimat itu.
Manajer muncul di belakang Gavi dan menepuk punggungnya. "Nah, ini dia. Yang kalian minta."
"Manajer, aku tidak ingin me--"
"Tidak ingin? Pikirkan ibumu yang dirumah sakit sana, ini kesempatan untukmu, jangan menyia-nyiakannya" bisik Manajer tepat ditelinga Gavi
"Nanti aku transfer, jalankan tugasmu dengan baik"
Andrew berdiri setengah, lalu mengulurkankan tangan seolah menyambut seorang teman lama. "Terima kasih sudah datang. Kami menantikan pelayanannya."
"Bersenang-senanglah kalian anak muda" si manajer beranjak pergi meninggalkan mereka begitu memastikan Gavi sudah ada didalam sana.
Gavi ingin lari. Tapi kakinya serasa terpaku. Dengan putus asa ia melangkah, lalu berdiri di sisi meja.