Gavi sangat menjaga jarak pada para alpha yang tampak buas itu. "Apa yang kalian pesan malam ini?" tanyanya datar.
Andrew tersenyum. "Minuman terbaik disini. Dan tentunya percakapan yang menyenangkan. Kami yakin kau bisa menyediakannya untuk kami."
Ini semua benar-benar seperti mimpi buruk. Gavi mencoba fokus pada tugasnya yaitu untuk menuangkan minuman dan tersenyum. Ia juga menghindari sentuhan teman-temannya Andrew. Sedangkan Andrew, ia tidak berhenti memerhatikannya, kadang melemparkan kalimat ambigu yang hanya mereka berdua mengerti.
"Aku senang kau masih bekerja di sini," katanya sambil memutar gelas. "Kau tetap setia pada tempat yang membuatmu... bersinar."
"Dia manis dan cantik. Tapi beta ya?" temannya menimpali
Andrew mengangguk. "Iya, beta bodoh yang bahkan tidak bisa melakukan tugas mudah yang aku berikan."
Gavi menggertakkan gigi. Ia menatap Andrew dengan pandangan tajam.
"Sudah dua minggu... apa kau melupakan perjanjian kita?"
"Aku tidak berjanji padamu. Kau sendirilah yang seenaknya."
Seketika ruangan terasa lebih dingin. Dua pria di samping Andrew saling pandang, lalu menoleh ke arah Gavi.
Andrew berdiri. Tangannya menepuk bahu pria di sebelah kanannya, seperti memberi isyarat. "Kau benar-benar..."
"Kau benar-benar pantas dibilang beta yang tidak berguna," sambungnya dengan nada menyakitkan.
Gavi ingin lari. Tapi kakinya serasa terpaku. Dengan putus asa ia melangkah, lalu berdiri di sisi meja.
Dua pria di sisinya tertawa kecil, seolah menyambut lelucon dalam kalimat itu.
Manajer muncul di belakang Gavi dan menepuk punggungnya. "Nah, ini dia. Yang kalian minta."
"Manajer, aku tidak ingin me--"
"Tidak ingin? Pikirkan ibumu yang dirumah sakit sana, ini kesempatan untukmu, jangan menyia-nyiakannya" bisik Manajer tepat ditelinga Gavi
"Nanti aku transfer, jalankan tugasmu dengan baik"
Andrew berdiri setengah, lalu mengulurkankan tangan seolah menyambut seorang teman lama. "Terima kasih sudah datang. Kami menantikan pelayanannya."
"Bersenang-senanglah kalian anak muda" si manajer beranjak pergi meninggalkan mereka begitu memastikan Gavi sudah ada didalam sana.
Gavi ingin lari. Tapi kakinya serasa terpaku. Dengan putus asa ia melangkah, lalu berdiri di sisi meja.
Tubuh Gavi ambruk di atas meja kaca, perlahan napasnya menghilang dalam erangan pelan. Matanya terpejam, wajahnya penuh air mata dan tubuhnya kaku tak bergerak.
Gavi telah pingsan. Ia tak lagi sadar dengan dunia di sekelilingnya. Dan di ruangan itu, para alpha hanya menatapnya dengan jijik seperti mainan yang telah rusak sebelum digunakan.
Andrew berdiri, dia melangkah mendekati Gavi dan menepuk pipinya sebanyak dua kali, untuk mencoba melihat apakah pemuda itu benar-benar tak sadar. Lalu ia mencibir.
"Dasar beta lemah," gumamnya pelan. "Baru pemanasan begini saja sudah pingsan."
Ia beralih menoleh pada kedua pria di belakangnya.
"Bawa dia kedalam mobilku." Pintanya
"Drew jadi kami bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" tatap Andrew sinis padanya.
"Biasa.. seks.. sudah tidak tahan nih"
"Apa urusannya denganku." Andrew berbalik, ia melangkah pergi tanpa memedulikan para Alpha yang tengah haus akan hasrat itu.
Kedua pria itu saling pandang, namun tak ada yang berani membantahnya. Mereka mengikuti perintah untuk mengangkat tubuh Gavi, lalu membawanya ke mobil hitam Andrew yang terparkir di belakang klub.
Besoknya..
Gavi terbangun saat merasakan sinar matahari menyelinap masuk dari celah tirai disebuah ruangan yang tampak sangat luas, mewah, dan dipenuhi feromon alpha yang menusuk hidung. Seprai tempat tidurnya halus seperti sutra, bantalnya empuk, tapi semuanya terasa begitu asing bagi Gavi.
Kepalanya terasa berat dan tubuhnya nyeri di berbagai bagian. Ia tak tahu di mana dirinya berada sekarang. Yang ia pasti ini bukan kamarnya. Bukan tempat dimana ia tinggal. Bahkan bukan rumah sakit. Matanya menyapu keseliling. Wallpaper dindingnya berwarna hitam, lampu gantung kristal, karpet bulu yang tebal.. ini seperti hotel bintang lima, atau rumah orang kaya.
Gavi mencoba bergerak. Namun tubuhnya sedikit menolak. Otot-ototnya tegang dan dadanya terasa sesak setiap kali ia menarik napas. Gavi merangkak turun dari tempat tidur dengan bersusah payah.
Tangannya bergerak menyusuri tubuhnya mulai dari dadanya, perutnya, pahanya dan bahkan analnya. Bagian belakangnya memang sedikit sakit, tapi apakah..
"Apakah mereka.. melakukan sesuatu padaku?"
Pikiran itu membuat jantungnya mencelus. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat mencoba untuk menahan ketakutan yang mulai membuncah. Tangannya gemetar saat menyentuh bagian dalam pahanya untuk mencari jejak yang mungkin ditinggalkan
oleh mereka, dia juga memeriksa kemungkinan pakaiannya diganti paksa, atau cairan apapun yang tertinggal di tubuhnya. Bagaimanapun ia seorang omega, takutnya ada kejadian yang tidak ia inginkan terjadi meskipun kecil kemungkinannya untuk omega gagal sepertinya.
Ia tidak bisa yakin jika mereka tidak melakukan apapun. Semua ingatannya tadi malam terasa samar. Terakhir yang ia ingat hanya suara Andrew... lalu semuanya menggelap.
Tiba-tiba..Klik, Suara pintu dibuka dari luar. Gavi tersentak membuat kepalanya menoleh dengan cepat ke arah pintu. Dan di sana.. berdiri sosok yang tak pernah ia harapkan untuk dilihat.
"b******n ini"
Andrew masih mengenakan kemeja tidur satin warna gelap, rambutnya terlihat sedikit acak, dan tatapan matanya masih tajam seperti biasa. Ia berdiri santai di ambang pintu dengan satu tangannya yang menyandarkan diri pada gagang pintu.
"Mau sampai kapan kau di kamarku sialan? Aku mau siap-siap, cepat pulang"
ujarnya dengan nada cuek, seolah yang terjadi semalam hanyalah hal kecil yang bisa dilupakan dengan mudahnya.
Gavi menatapnya dengan ngeri. Napasnya serasa tercekat di tenggorokan saat ia melihat kehadiran Andrew didepan matanya.
"Ba-b******n!!" teriak Gavi. "A-apa kalian.. melakukannya padaku tadi malam?"
Suara itu keluar begitu saja, terdengar sangat polos tapi Gavi tak bisa menyembunyikan rasa takut yang terlukis jelas di wajahnya.
Andrew hanya terkekeh pelan dengan matanya yang sedikit menyipit.
"Iya. Kenapa?"
"Lagipula kau beta tidak berguna. Apa yang kau takutkan? Hamil?" Andrew mendengus, lalu ia tertawa sendiri atas leluconnya.
Ia melangkah masuk untuk mengambil dompet dari laci dekat tempat tidur, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan ditaruhnya didepan Gavi.
"Sebagai kompensasi," katanya singkat.
Gavi menatap uang itu dengan mata kosong "Kau pikir aku p*****r?"
Andrew mengangkat bahunya. "Terserah, yang penting aku sudah memberikan kompensasi. Bukankah hal semacam ini sudah sering kau dapatkan?"
"Jadi jangan sok suci sekarang," sambungnya.
Gavi memandangi uang yang tergeletak di depannya seperti benda kotor. Ia tidak menyentuhnya meskipun ia sangat membutuhkan uang itu. Karena jika ia menyentuhnya, maka saat itu juga harga dirinya benar-benar jatuh.
"Cepat pulang. Aku mau pergi mandi" Andrew berjalan melewatinya tanpa rasa bersalah.
"b******n ini"
Lalu tanpa pikir panjang, ia berbalik dan keluar dari rumah itu tanpa berpamitan kepada Andrew.
"b******n," umpatnya terus-terusan.
Ia berjalan cepat di sepanjang trotoar dankakinya tidak berhenti untuk menendang kerikil sembarangan.
Tangannya terangkat ke rambutnya dan ia mengacaknya kasar berulang-ulang, seolah ingin mencabut semua kekesalan yang menumpuk di kepalanya.
Beberapa orang yang lewat melirik kearahnya. Ada yang berbisik, ada yang tertawa kecil. Bagi mereka, Gavi tampak seperti orang gila, karena wajahnya yang merah, rambut berantakan, mulut komat-kamit dengan mata yang memerah. Tapi Gavi tidak peduli.
"Sial.. kenapa aku selalu begini?" katanya pelan saat ia berhenti di depan etalase sebuah toko.
Gavi melihat pantulan bayangan dirinya di kaca, tampak benar-benar menyedihkan.
Sebulan kemudian,
Omega itu singgah di sebuah apotek kecil yang cukup sepi di dekat halte. Ia sengaja mengenakan hoodie gelap dan masker karena takut ada yang mengenalinya.
Gavi menunduk saat menyerahkan uang ke kasir untuk membeli testpack
kehamilan.
Sejujurnya dirinya masih tak yakin. Ia tak ingat apa pun yang terjadi malam itu. Yang ia rasakan hanya pinggangnya yang sakit setelah bangun. Tapi ia teringat kembali perkataan Andrew bahwa mereka memang melakukannya. Sepertinya orang itu tidak berbohong.
Beberapa hari ini, selain tubuhnya cepat lelah, ia sering mual juga. Dan otaknya yang polos itu berpikir mungkin ia telah hamil meskipun kecil kemungkinannya untuk omega yang gagal sepertinya. Tapi setidaknya ada harapan karena Dokter pernah memberitahunya saat ia masih SMA, meskipun ia tidak mempunyai feromon dan tidak mengalami heat, tapi masih ada kemungkinan reproduksi bisa terjadi terutama jika dikawinkan paksa oleh Alpha dominan. Dan sekarang, ia dihantui kemungkinan itu.
Gavi tidak langsung pulang, ia singgah ke toilet di sebuah kafe dengan niat hendak melakukan tes kehamilannya didalam sana. Ia membuka bungkusan testpack dengan tangan gemetar, bahkan lebih gemetar daripada saat ia tahu dirinya ditiduri oleh mereka.
Ia membaca petunjuk dengan seksama,