baru ia membawa benda itu ke kamar mandi kecil.
Setelah melakukan apa yang perlu dilakukan, ia keluar dan membuka pintu, saat itu juga ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang tampak terburu-buru.
Bruk!
Tubuh mereka bertumbukan ringan, namun cukup untuk menjatuhkan barang-barang dari tangan mereka.
Gavi refleks mundur selangkah. "Maaf..."
Wanita itu tidak menjawab. Ia segera jongkok, matanya menyapu lantai dengan cemas, tangannya meraih testpack pertama yang ia lihat. Gavi juga merunduk, namun tangan mereka tidak bersentuhan. Wanita itu mengambil salah satu testpack dari lantai dan memasukkannya ke sakunya, lalu buru-buru ia berdiri dan berlari ke arah pintu keluar, bahkan tanpa menoleh.
Gavi masih membeku di tempatnya. Tatapannya menuruni lantai... dan saat itulah ia melihat satu testpack lain yang belum sempat diambil. Dia pikir itu mungkin miliknya.
Gavi masih membeku di tempatnya. Tatapannya menuruni lantai... dan saat itulah ia melihat satu testpack lain yang belum sempat diambil. Dia pikir itu mungkin miliknya.
Tangan Gavi meraih testpack itu. Saat ia melihat hasil yang tercetak di ujungnya, matanya membelalak.
"Positif"
Testpack itu jatuh dan ia terduduk lemas di lantai kamar mandi,
Tidak mungkin.
Ia mengambil testpack itu lagi, Gavi mengguncangnya dengan harapan hasilnya akan berubah, namun... tidak... hasilnya tetap saja positif
Gavi mengurung diri di dalam kamarnya seharian penuh setelah kembali kekontrakannya. Tirai jendela sengaja tertutup, ia hanya membiarkan cahaya matahari menembus lewat celah-celah kecil yang tampak samar. Udara di dalam kamarnya itu terasa begitu pengap, namun Gavi tidak peduli. Ia duduk di sudut tempat tidurnya dengan tubuh terlipat memeluk lutut, dan kedua tangannya erat membungkus perutnya yang rata. Mungkin belum ada bentuk di sana sekarang, tapi tidak dengan kedepannya pikirnya.
Gavi tidak makan sedikitpun juga tidak minum. Dia hanya terus-terusan memikirkan bagaimana masa depan anaknya kelak.
"Bagaimana nasibmu setelah lahir?" bisiknya pelan dengan suaranya yang parau karena menahan tangis
Bayangan tentang masa kecilnya sendiri
cukup menghantuinya. Ia dibesarkan hanya oleh ibunya, seorang omega yang selalu berkata bahwa ia tidak pernah menyesal melahirkan Gavi, tapi tatapan matanya selalu menyimpan kesedihan. Ia tumbuh dengan pertanyaan yang tak pernah dijawab oleh ibunya sendiri, "Siapa ayahku? Kenapa dia tidak pernah datang? Apakah aku tidak cukup berharga?" satupun tidak pernah ada jawabannya.
Gavi menggeleng keras. Ia tidak ingin anaknya nanti merasakan hal yang sama. Ia ingin anak ini tumbuh dengan tahu siapa ayahnya. Ia ingin mereka bertiga kelak duduk di satu meja saat sarapan, meski hanya sekali dalam seminggu. Ia ingin anak itu tahu bahwa ia dikehendaki.
Apakah ia harus jujur dan meminta pertanggungjawaban Andrew karena dialah dalang semua ini terjadi? Dan haruskah ia juga menceritakan semuanya pada Andrew bahwa ia seorang omega?
Pertanyaan itu mengendap di benaknya sepanjang malam. Gavi tidak bisa tidur, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan mata yang sembab. Dan saat fajar menyingsing, ia akhirnya mengambil keputusan.
Gavi bangun dan mandi dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mengenakan hoodie panjang untuk menyembunyikan tubuhnya. Perutnya memang belum menunjukkan perubahan, tapi ia merasa ada yang berbeda. Lebih mudah lelah dan sering sering mual.
Ia tidak sarapan, hanya meneguk air putih secukupnya agar tidak jatuh pingsan di jalan.
Gavi menggenggam ponsel dengan erat di dalam saku jaketnya. Ia menulis pesan pada Andrew semalaman tapi tak pernah mengirimnya. Ia memutuskan akan bicara langsung saja. Lebih baik seperti itu.
Ia tiba di kampus lebih cepat dari biasanya dengan harapan ia bisa bertemu Andrew sebelum kelas dimulai. Tapi Andrew tidak ada di kelasnya. Tidak ada di koridor juga. Gavi sudah bertanya pada teman-teman sekelasnya, namun tidak ada yang tahu dimana keberadaannya. Meskipun begitu, ia tidak menyerah. Gavi akan terus mencarinya. Hingga akhirnya, ia menghela napas panjang dan berjalan menyusuri depan pagar kampus dengan menengok-nengok kekanan dan kiri setelah mendapat informasi bahwa
kemungkinan orang itu sedang sarapan didepan.
Secara tidak sengaja, ia melihat dua sosok yang familiar di seberang jalan, tepat dimana seorang rumah makan kecil yang sering dikunjungi mahasiswa.
Gavi melihat Andrew dan Willie bersama. Mereka duduk berhadapan, keduanya tampak tertawa, saling menyuapi potongan pancake, dan berbicara akrab seolah mereka sudah kenal cukup lama. Mata Andrew tampak hangat, penuh perhatian, dan untuk sesaat Gavi merasa ia tidak ingin mengganggu keduanya.
"Dia berhasil"
"Jadi buat apa dia meminta bantuku, jika dia bisa melakukannya sendiri?"
Semua keberanian yang ia kumpulkan dengan susah payah, semuanya luluh lantak dalam sekejap.
Gavi berdiri mematung dengan tangan di balik jaketnya mengepal erat. Ia merasa seperti seseorang yang berdiri di depan pintu rumah, mengetuk dengan penuh harap, hanya untuk mendapati rumah itu sudah ditempati orang lain.
Langkahnya mundur perlahan. Ia berlari tanpa tujuan. Bagaimana bisa dirinya berpikir Andrew akan bertanggung jawab? Sedangkan belum tentu dia yang menidurinya
Bagaimana bisa ia sempat percaya, bahwa seseorang seperti Andrew yang bahkan tidak menoleh ke arahnya akan peduli?
Dari awal yang Andrew incar adalah omega cantik seperti Willie. Omega dengan tubuh ramping, senyum cerah, dan aroma feromon yang wangi. Sedangkan diantara salah satu kriteria itu pun dia tidak punya.
Gavi baru berani memasuki kelasnya saat keadaan sudah sedikit lebih tenang. Ia telah membasuh wajahnya berkali-kali di kamar mandi kampus dan mengatur napasnya agar tidak terdengar berat.
Begitu melangkah masuk, matanya langsung menangkap sosok Willie yang sudah duduk di kursi baris tengah. Willie melambai ceria ke arahnya, dengan senyum manis seperti biasa. Satu tangan menepuk kursi kosong di sebelahnya, memberi isyarat agar Gavi duduk di sana.
Gavi ragu sejenak. Tapi ia tak punya
alasan kuat untuk menolak. Maka ia mengangguk kecil dan melangkah menuju tempat itu. Ia duduk di samping Willie dengan senyum yang dipaksakan.
"Gavi," suara Willie bersemangat seperti anak kecil yang hendak menceritakan sesuatu yang luar biasa,
"Tahu tidak? Aku baru saja kenalan dengan seseorang! Dia begitu tampan dan manis! Bahkan suaranya bikin jantungku meleleh rasanya"
"Tapi kau juga mengenalnya kok, dia yang..."
Gavi menoleh pelan, ia mencoba tersenyum sambil menatap mata berbinar sahabatnya. "Benarkah? Selamat ya" ujarnya lirih saat memotong perkataan Willie yang belum selesai itu.
Willie mengernyit, ia menatap Gavi dengan wajah penasaran. "Ya.. Kau kenapa? Apa perasaanku saja, atau kau memang tampak begitu lesu beberapa hari ini?"
"Tidak apa-apa, mungkin cuma kurang tidur."
Willie masih menatapnya, seolah
ingin bertanya lebih banyak lagi. Tapi dosen yang sudah memasuki kelas menghentikan percakapan mereka. Suasana kelas berubah tenang, hanya terdengar suara kertas dibalik dan ketukan papan tulis.
"Hei.. Gavi," bisik Willie dengan nada lembut, "aku tahu kau bilang tidak apa-apa. Tapi kalau kau mau cerita, jangan sungkan."
"Iya Will," jawabnya.
Gavi menandangi perutnya. Jika Willie sebaik ini padaku, bagaimana mungkin aku berani untuk mengkhianatinya