Ada nama yang tidak diucapkan orang di Sangkar Arang, dan Kasan tumbuh besar dengan tahu bahwa nama itu ada justru karena tak pernah didengarnya. Seperti lubang di tengah peta. Kau tahu ada sesuatu di sana karena semua jalan membelokinya.
Malam itu Kasan pergi ke surau kecil di tepi kampung, tempat para penambang berkumpul selepas isya, duduk di lantai semen yang dingin sambil menghisap rokok kawung dan menghitung hari. Jumadi ada di sana — lelaki paling tua yang masih turun lubang, enam puluhan, kulit seperti kulit kerbau, jari-jari yang separuhnya tinggal buku karena kuku tercabut bertahun-tahun. Jumadi sudah menggali sejak zaman perusahaan negara masih ada. Ia hafal perut bukit ini seperti hafal punggung tangannya sendiri.
Kasan duduk di sebelahnya, menawarkan rokok, dan untuk beberapa lama tidak bicara. Lalu, dengan hati-hati, seperti orang melangkah di atap rapuh, ia berkata, "Pak Jum. Lubang di bukit utara. Yang ditinggalkan dulu. Bapak pernah turun ke sana?"
Jumadi tidak menjawab langsung. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap yang menggantung di udara surau. "Siapa yang nyuruh kau nanya itu," katanya akhirnya. Bukan pertanyaan. Kasan diam. Jumadi mengangguk pelan, seakan jawaban itu sudah ia tahu. "Toke Bahar."
Di sudut, seorang penambang tua lain, namanya Karta, meludah ke kaleng. "Jangan sebut, Jum. Jangan di sini." Jumadi mengangkat tangan, menenangkan. "Anak ini berhak tahu kalau dia mau turun ke kuburannya sendiri."
Lalu Jumadi bercerita, suaranya rendah, dan satu per satu para penambang di surau itu terdiam mendengarkan, meski mereka semua sudah tahu ceritanya, karena cerita itu adalah luka kota ini.
"Dulu namanya cuma jalur paling produktif. Perusahaan negara yang buka. Lapisan di sana memang gemuk, Kasan, itu benar. Arang terbaik. Tapi gemuk itu ada harganya. Makin dalam tanah, makin banyak gas yang dia simpan. Metana. Tidak berbau, tidak berwarna, naik diam-diam, ngumpul di langit-langit lubang. Sekali ada percik — habis. Dan ada gas lain yang lebih licik, yang bikin orang mengantuk lalu tidur dan tidak bangun, tanpa rasa sakit, tanpa peringatan."
Ia menjeda, menatap nyala lampu minyak. "Lalu air. Bukit utara itu di bawahnya ada air tanah, banyak, ditahan oleh lapisan batu keras. Makin dalam kau gali, makin tipis dinding antara lubangmu dan air itu. Perusahaan tahu. Mereka pasang pompa besar siang malam. Tapi pompa mahal. Suatu musim hujan, air naik lebih cepat dari biasanya."
Suara Jumadi berubah. Lebih pelan, lebih berat. "Aku tidak di bawah hari itu. Tapi aku di mulut lubang. Aku dengar. Air masuk dari bawah, cepat sekali, dan orang-orang yang di kedalaman tidak sempat naik. Lorong itu panjang, sempit, naiknya merangkak. Air lebih cepat dari kaki manusia yang merangkak." Ia menelan. "Yang naik cuma yang dekat mulut. Yang dalam... tidak."
Kasan merasakan dingin. "Berapa orang, Pak?"
Jumadi menggeleng. "Tidak ada yang tahu pasti. Perusahaan bilang tujuh. Orang kampung bilang lebih. Yang aku ingat, hari itu mereka tidak mencoba menyelamatkan. Mereka tidak menurunkan tali, tidak memompa balik. Insinyur dari kota datang, melihat air, dan memutuskan menutup. Mereka cor mulut lubang dengan beton. Pakai semen. Sementara di bawah—" Jumadi berhenti. Tangannya yang berbuku gemetar sedikit memegang rokok. "Sementara di bawah masih ada orang. Mungkin masih hidup beberapa jam. Mungkin masih mengetuk dinding. Tidak ada yang tahu, karena mereka mengubur suaranya dengan beton."
Surau itu hening. Hanya suara serangga malam dan batuk seseorang di kejauhan. Karta berbisik, "Itu sebabnya kami tidak sebut namanya. Karena di bawah sana ada orang yang tidak pernah dikubur dengan benar. Mereka dikubur hidup-hidup oleh keputusan orang kota."
Kasan menelan ludah. "Lubang itu ditutup beton. Bagaimana Toke Bahar mau—"
"Beton bisa dibobol," potong Jumadi. "Dan ada jalur samping. Lubang tikus tua yang dulu dipakai buat ventilasi, tidak dicor, cuma ditimbun longgar. Toke Bahar tahu itu. Orang-orang tuanya yang dulu kerja di perusahaan jadi makelarnya sekarang. Dia tahu jalan masuk yang tidak resmi." Jumadi menatap Kasan tajam. "Dia tidak peduli sama orang yang terkubur di sana. Dia cuma peduli arang yang masih nempel di dinding sebelah mereka. Arang terbaik di muka bumi, Kasan, dijaga oleh mayat-mayat yang tidak dikubur."
Kasan pulang malam itu dengan tekad yang ia ucapkan keras-keras dalam hati: ia tidak akan pernah turun ke sana. Tidak peduli berapa utangnya. Ada batas, dan menggali arang dari tembok yang di baliknya ada tulang orang yang dibiarkan mati — itu di seberang batas.
Tekadnya bertahan tiga hari. Pada hari ketiga, ibunya batuk darah lebih banyak dari biasa, dan perawat klinik desa, perempuan muda bernama Yanti, datang membawa obat dan wajah yang tidak bisa berbohong. "Paru-parunya tidak akan bertahan lama kalau cuma diobati di sini, Kasan," kata Yanti pelan, di luar pendengaran ibunya. "Dia butuh rumah sakit kota. Butuh foto rontgen, butuh obat yang tidak ada di klinik saya. Itu... mahal." Ia menatap Kasan dengan iba yang ditahan, iba yang sudah terlalu sering ia rasakan untuk seluruh kampung ini. "Maaf. Saya cuma punya obat batuk dan kebenaran."
Malam itu Kasan duduk di ambang pintu, mendengar ibunya bernapas susah payah, mendengar Nurlela menyalin pelajaran di bawah lampu minyak, dan merasakan semua pintu di dunia ini tertutup satu per satu sampai tinggal satu pintu yang menganga gelap di bukit utara. Pintu yang dijaga orang mati. Ia menutup matanya dan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membenci ayahnya — bukan karena mati, tapi karena meninggalkan utang yang memaksanya berdiri di depan pintu itu.