Kasan datang ke gudang Toke Bahar pada pagi yang basah, langit kelabu, tanah merah jadi bubur di bawah sepatu botnya. Ia tidak perlu bicara banyak. Toke Bahar membaca wajahnya, dan senyum tipis itu muncul — bukan senyum kemenangan, lebih seperti senyum dokter yang sudah tahu pasiennya akan menyerah pada diagnosis.
"Aku tahu kau akan kembali," kata Toke Bahar. "Bukan karena kau bodoh. Karena kau sayang ibumu." Ia menutup buku besarnya. "Aku kasih syarat yang adil. Tiap karung dari jalur itu kuhargai tiga kali lipat lubang dangkal. Utang bapakmu kupotong duluan dari hasil, jadi kau lihat angkanya turun tiap minggu. Dan—" ia mengangkat satu jari, "—aku tanggung peralatan. Lampu, kayu, tali, kipas. Modal dariku."
Kasan tahu "modal" itu juga utang yang akan dicatat. Tidak ada yang gratis dari tangan ini. Tapi ia mengangguk. "Saya pilih tim sendiri," katanya. "Bukan orang Bapak." Toke Bahar mengangkat bahu, murah hati. "Pilih siapa saja. Asal arangnya naik."
Mengumpulkan tim adalah hal yang membuat Kasan tidak bisa tidur malam itu. Karena memilih orang untuk turun ke Lubang Tujuh Belas — ia akhirnya berani menyebut namanya dalam hati — berarti memilih siapa yang akan ia pertaruhkan nyawanya bersama dirinya sendiri.
Orang pertama yang ia datangi adalah Jumadi. Ia tahu ini kejam. Jumadi sudah tua, sudah cukup menderita, dan paling tahu betapa berbahayanya tempat itu. Tapi justru karena itulah Kasan butuh dia. "Pak Jum," katanya, di surau yang kosong, "saya butuh telinga yang lebih tua dari telinga saya. Saya butuh orang yang hafal jalur lama. Saya tidak akan minta kalau ada pilihan lain."
Jumadi lama diam. Lalu ia berkata, "Cucuku, Wulan, mau masuk SMP tahun depan. Anaknya almarhum anakku." Itu jawaban. Itu utang dan beban yang sama yang menjerat semua orang di sini. "Aku ikut. Tapi kau dengar aku, Kasan. Di bawah sana, aku yang lebih tua, tapi kau yang pegang keputusan. Karena penakut yang teliti lebih panjang umur dari pemberani yang yakin. Bapakmu pemberani. Lihat dia sekarang."
Orang kedua datang sendiri. Pendi. Mendengar ada jalur gemuk, ia merengek minta ikut. "San, aku mau nikah. Bulan depan. Mahar belum ada, rumah belum ada, calon mertua sudah mulai jual mahal." Kasan ragu. Pendi nekat, gegabah, jenis orang yang akan menyalakan rokok di tempat yang salah. Tapi Pendi kuat, tahan kerja, dan — Kasan mengakui ini dengan pahit — ia butuh tenaga yang tidak banyak bertanya. "Kau ikut," kata Kasan. "Tapi kau patuh. Kalau aku bilang berhenti, kau berhenti. Kalau aku bilang naik, kau naik tanpa ngeyel. Aku tidak mau menjelaskan ke calon istrimu kenapa kau tidak pulang." Pendi nyengir. "Beres, Komandan."
Orang ketiga adalah masalah hati. Awang, tujuh belas tahun, masih kelihatan anak-anak, datang dengan mata berbinar minta ikut. Ayahnya mati di lubang dua tahun lalu, ibunya cuci pakaian orang, dan Awang putus sekolah seperti Kasan dulu. "Bang Kasan, aku kuat. Aku bisa merangkak paling jauh, badanku kecil, aku bisa masuk lorong yang Abang tidak bisa." Itu benar, dan itulah yang membuat Kasan ingin menolaknya. Lorong sempit butuh badan kecil, dan badan kecil yang dikirim ke tempat tersempit adalah badan yang paling dulu mati kalau ada apa-apa. "Kau masih kecil, Wang." "Aku tujuh belas. Abang turun pertama umur lima belas." Itu juga benar, dan Kasan benci bahwa itu benar. Akhirnya ia mengangguk, dan ia tahu — bahkan saat mengangguk — bahwa kalau Awang celaka, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya. "Kau dekat aku terus. Tidak ke mana-mana tanpa aku tahu."
Empat orang. Itu tim mereka. Kasan yang membaca tanah, Jumadi yang hafal jalur, Pendi yang punya tenaga, Awang yang punya badan kecil.
Persiapan mereka membuat Kasan ngeri pada betapa sedikitnya yang berdiri di antara mereka dan kematian. Toke Bahar mengirim peralatan: lampu karbit — empat, ditambah satu lampu senter dengan baterai yang sudah setengah mati; gulungan tali nilon; kayu kelapa untuk penyangga, jumlahnya tidak banyak; sebuah kipas angin bekas yang dimodifikasi untuk dialirkan ke bawah lewat selang terpal; dan, yang membuat Kasan paling lama menatapnya, sekotak lilin putih dan korek api. "Kanari orang miskin," gumam Jumadi saat melihatnya. "Burung kanari mahal. Kita pakai lilin. Nyala lilin sehat itu jingga tegak. Kalau warnanya berubah biru dan tinggi, itu gas mau menyala — naik kau, jangan tawar-menawar. Kalau nyalanya redup mau mati padahal tidak ada angin, itu udara kehabisan napas, kau juga kehabisan napas sebentar lagi. Lilin mati duluan dari kau. Itu hadiah dia. Dia mati buat kasih tahu kau giliranmu."
Malam sebelum turun, mereka berkumpul di surau. Tidak banyak bicara. Mereka salat, dan Kasan mendengar doa-doa yang biasanya basa-basi diucapkan kali ini dengan kesungguhan yang membuat tengkuknya berdiri. Pendi berdoa untuk pernikahannya. Jumadi untuk cucunya. Awang, dengan suara yang masih pecah antara anak dan lelaki, berdoa untuk ibunya. Kasan tidak tahu harus berdoa apa, jadi ia berdoa satu hal saja, diulang-ulang: bawa mereka pulang. Bawa mereka pulang. Berapa pun arangnya, bawa mereka semua pulang.
Di luar surau, kabut malam turun menutupi mulut-mulut lubang. Di kejauhan, bukit utara berdiri hitam di bawah langit, dan Kasan menatapnya, dan merasa bukit itu menatap balik.