Mulut Lubang Tujuh Belas tidak seperti yang Kasan bayangkan. Ia mengira akan ada beton, salib, sesuatu yang menandai kematian. Tapi orang-orang Toke Bahar sudah membuka jalur samping itu jauh sebelum subuh — sebuah lubang serong di balik semak, ditutup papan dan terpal, sengaja tak terlihat dari jalan. Si Lukas mengantar mereka, menunjuk, dan pergi tanpa banyak kata. "Toke tunggu arangnya sore," itu saja.
Jumadi turun pertama. Kasan kedua. Lalu Awang, lalu Pendi yang membawa gerobak lipat dan karung. Mereka turun lewat lorong miring, awalnya cukup untuk membungkuk, lalu makin lama makin sempit sampai mereka harus merangkak, lalu lebih sempit lagi sampai mereka harus merayap menyamping karena bahu tidak muat lurus.
Klaustrofobia itu datang seperti gelombang. Kasan sudah belasan tahun di lubang dangkal, tapi ini lain. Di lubang dangkal selalu ada rasa bahwa permukaan tak jauh, cahaya tak jauh. Di sini, setelah dua puluh meter merayap menurun, cahaya mulut lubang hilang sepenuhnya, ditelan tikungan, dan tinggal nyala karbit di tangan masing-masing. Udara berubah. Bukan cuma lebih berat — lebih tua. Berbau mineral, berbau lembap, berbau sesuatu yang Kasan tak bisa namai tapi membuat bulu kuduknya berdiri. Bau diam yang panjang.
"Berhenti," kata Jumadi di depan. Mereka berhenti. Jumadi mengeluarkan lilin, menyalakannya, dan mengangkatnya pelan ke arah langit-langit lorong. Mereka semua menatap nyala kecil itu seakan menatap nyawa mereka sendiri. Nyalanya jingga. Tegak. Sehat. Jumadi menghela napas. "Aman. Untuk sekarang. Tapi tiap kita maju lima meter, kita uji lagi. Tiap kita istirahat, kita uji. Tiap ada perasaan aneh sedikit pun, kita uji. Mengerti?" Awang mengangguk cepat. Pendi mengangguk malas. Kasan mengangguk dan menyimpan aturan itu di tubuhnya: lima meter, satu lilin.
Mereka maju lagi. Jumadi hafal jalur ini seperti sungai di dalam mimpinya. "Belok kiri sebentar lagi, jangan ke kanan, ke kanan itu buntu yang dalam." "Di sini dulu ada rel, hati-hati pakunya." "Atap di sini rendah, jangan angkat kepala." Kasan menempelkan telapak tangannya ke dinding sesekali, merasakan getaran, suhu, kelembapan. Dinding di sini kering dan padat. Itu pertanda baik. Air masih jauh.
Lalu mereka tiba di sebuah rongga yang sedikit lebih lapang — cukup untuk duduk, cukup untuk berempat. Dan di dinding rongga itu, di bawah nyala empat lampu karbit yang disatukan, Kasan melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.
Lapisan batu bara. Tebal. Bukan setipis jari seperti di lubang dangkal. Setebal lengan, lalu setebal paha, membentang sejauh cahaya bisa menjangkau. Hitam pekat, mengkilap, dengan kilau biru di permukaannya saat cahaya menyapu. Bahkan Jumadi, yang sudah melihat segalanya, terdiam. "Aku belum pernah lihat selapis ini sejak perusahaan masih ada," ia berbisik. Pendi tertawa pelan, tawa serakah, tawa orang yang melihat pernikahan dan rumah dan masa depan menempel di dinding. "Kita kaya, San. Kita kaya."
Kasan tidak ikut tertawa. Karena di samping kekayaan itu, ia melihat hal lain.
Di sudut rongga, tersembunyi di balik tumpukan batuan rontok, ada benda-benda yang tidak seharusnya ada di perut bumi. Sebuah keranjang anyaman, rapuh, separuh hancur. Sebuah gerobak dorong kecil, sudah karatan jadi serbuk oranye, masih berisi arang yang tak sempat diangkut. Sebuah pacul yang gagangnya sudah lapuk jadi debu, hanya besinya yang tinggal. Dan, di lantai, sebuah botol minum dari seng, penyok, tutupnya terbuka, seperti ditinggalkan tergesa oleh seseorang yang berdiri di sini, di tempat yang sama Kasan berdiri sekarang, lalu pergi cepat-cepat dan tidak pernah kembali.
Kasan jongkok, menyentuh gerobak karatan itu. Dingin. Mati. Ia membayangkan orang yang mendorongnya dulu, mungkin seusianya, mungkin juga punya ibu yang batuk dan adik yang ingin sekolah. Orang itu sedang bekerja, hari yang biasa, lalu sesuatu terjadi di bawah sana, dan ia menjatuhkan botolnya dan lari, dan tidak pernah sampai ke permukaan.
"Jangan dipegang," kata Jumadi pelan di belakangnya. Suaranya bukan suara takhayul. "Bukan karena hantu. Karena itu artinya kita di tempat orang terakhir berdiri sebelum lubang ini membunuh mereka. Kita gali arangnya, kita ambil rezekinya, tapi kita ingat: yang sebelum kita juga lihat lapisan secantik ini. Dan mereka serakah. Dan mereka tidak pulang."
Awang menatap botol seng itu dengan mata lebar. Pendi sudah tidak mendengarkan; ia sudah mengayunkan cangkulnya ke lapisan, dan bongkahan arang besar runtuh dengan bunyi padat yang memuaskan. "Ayo kerja," kata Pendi. "Mayat tidak butuh arang. Aku butuh."
Kasan berdiri, menatap dinding hitam mengkilap itu, lalu menatap botol seng yang ditinggalkan, dan untuk sesaat ia merasa keduanya adalah satu hal yang sama. Rezeki dan maut, ditata berdampingan di dinding yang sama, dijual oleh tangan yang sama. Ia mengangkat cangkulnya. Tapi sebelum mengayun, ia menyalakan satu lilin lagi dan menatapnya lama. Jingga. Tegak. Untuk sekarang.