Tiga hari pertama adalah tiga hari terbaik dalam hidup Pendi dan tiga hari terburuk dalam tidur Kasan.
Arang mengalir keluar dari Lubang Tujuh Belas seperti darah dari luka. Mereka menggali, mengisi karung, menyeret gerobak lipat melalui lorong sempit ke titik di mana orang Toke Bahar menariknya naik dengan tali. Tiap sore, Si Lukas datang menimbang di mulut lubang, dan untuk pertama kalinya angka di buku utang Kasan benar-benar turun. Bukan ilusi murah hati Toke Bahar. Turun sungguhan. Pendi sudah menghitung mahar dan rumahnya. Awang mengirim uang ke ibunya dan untuk pertama kalinya tertawa lepas. Bahkan Jumadi, yang paling waspada, mengizinkan dirinya tersenyum.
Tapi makin banyak yang mereka gali, makin dalam mereka mengejar lapisan, karena lapisan gemuk itu menukik ke bawah, mengundang. "Lebih dalam lagi," kata Pendi tiap pagi. "Yang di bawah lebih tebal. Aku lihat kemarin." Kasan menahan ritme. Tiap lima meter, lilin. Tiap istirahat, lilin. Tiap perasaan aneh, lilin. Pendi mengeluh aturan itu memboroskan waktu. "Setiap kali kau bakar lilin, kita rugi sepuluh karung, San."
Pada hari keempat, di kedalaman baru yang Pendi paksa, Kasan mendengarnya.
Mereka sedang menggali ceruk yang menjorok ke bawah, lapisan paling tebal yang pernah mereka temui. Pendi mengayun cepat, serakah, dan Awang di sampingnya mengumpulkan bongkahan. Kasan sedang menyeret karung ketika ia berhenti. Ia merasakannya sebelum mendengarnya — getaran halus di telapak tangan yang menempel dinding, lalu suara: bukan retak keras, bukan gemuruh. Sebuah denyut. Pelan. Seperti tulang tua yang dipaksa menanggung lebih dari yang ia mampu. Tik. Jeda panjang. Tik. Butir-butir pasir halus jatuh dari langit-langit ceruk, mengalir tipis seperti pasir di jam pasir.
"Berhenti," kata Kasan. Suaranya tidak keras, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Awang langsung berhenti. Pendi tidak. "Apa lagi, San? Lilin lagi? Kita baru—" "Berhenti, Pendi. Atapnya bicara."
Pendi menurunkan cangkul, menatap Kasan dengan campuran jengkel dan ejek. "Bicara. Atap. Kau dengar atap bicara." Ia tertawa, tawa yang menggema aneh di ruang sempit. "San, kau ini penakut. Dari dulu. Bapakmu pemberani, kau penakut. Tiap ada angin kau kira badai. Ini—" ia menendang dinding ringan, "—ini padat. Kering. Tidak ada apa-apa. Kau cuma takut sama bayanganmu sendiri."
Kasan tidak membela diri. Ia tidak punya bukti. Ia hanya punya getaran di telapak tangannya dan denyut yang ia dengar, dan ia tahu betapa konyolnya itu terdengar. Tapi ia berkata, dengan kekeraskepalaan yang diam, "Kita mundur dari ceruk ini. Sekarang. Kita gali di sisi yang lain. Sehari saja. Kalau besok denyutnya hilang, kita balik ke sini."
Pendi mendecak. Jumadi, yang dari tadi diam di belakang, akhirnya bersuara. "Dengar dia, Pendi." "Pak Jum, Bapak juga tidak dengar apa-apa, kan? Jujur." Jumadi diam sebentar. Lalu, jujur: "Tidak. Telingaku sudah tua. Aku tidak dengar. Tapi telinga anak ini lebih muda dari telingaku, dan dia tidak pernah bohong soal tanah. Mundur."
Mereka mundur dari ceruk, semua kecuali Pendi yang ingin satu ayunan terakhir, "satu lagi, bongkahan besar itu, sayang ditinggal." Ia mengayun. Dan saat itulah denyut yang Kasan dengar berubah jadi sesuatu yang semua orang dengar.
Bukan ledakan. Lebih buruk: bunyi tumpul, dalam, seperti perut bumi menarik napas — lalu langit-langit ceruk itu turun. Bukan seluruhnya. Sepetak, selebar pintu, runtuh sekaligus dalam debu pekat yang langsung memenuhi lorong dan memadamkan dua lampu. Kasan mendengar Awang menjerit. Ia tidak melihat apa pun. Hanya debu, gelap, dan tangannya menggapai ke arah jeritan itu.
"Awang! Awang!" Tangannya menyentuh kaki. Kaki kecil. Tertimbun batu sampai paha. Kasan menggali dengan tangan kosong, panik, debu masuk ke matanya, ke paru-parunya, dan ia menggali, menggali, sampai Jumadi dan Pendi — Pendi yang wajahnya kini putih pasi — ikut menggali. Mereka mengangkat batu, satu per satu, dan menarik Awang keluar. Anak itu hidup. Kakinya luka, mungkin retak, tapi hidup. Kalau ia setengah meter lebih ke dalam ceruk, ia akan jadi botol seng yang ditinggalkan tergesa untuk penambang berikutnya temukan.
Keheningan setelah debu turun adalah keheningan yang lain. Pendi duduk bersandar dinding, gemetar, menatap petak runtuhan yang sekarang menutup ceruk emas mereka. Tempat ia berdiri tadi. Tempat ia mengayun "satu lagi". "Kau dengar," ia berkata pada Kasan, suaranya pecah. "Kau benar-benar dengar."
Kasan tidak menjawab. Ia sedang menggendong Awang, menyeka debu dari wajah anak itu, dan di dalam dirinya ia merasakan dua hal sekaligus yang akan menghantuinya: kelegaan yang luar biasa, dan ketakutan yang lebih dalam lagi. Karena sekarang mereka semua akan mendengarkannya. Sekarang nyawa mereka akan bergantung pada telinganya. Dan Kasan tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa telinganya hanya telinga manusia. Ia benar hari ini. Ia tidak akan benar setiap hari. Suatu saat ia akan salah, atau benar tapi terlambat, dan saat itu datang, mereka akan tetap mempercayainya, dan kepercayaan itulah yang akan membunuh mereka.
"Kita naik," katanya. "Hari ini cukup. Awang harus diperiksa." Tidak ada yang membantah. Bahkan Pendi, untuk pertama kalinya, menyeret karung yang setengah penuh tanpa keluhan.