Kaki Awang ternyata tidak patah, hanya memar dalam dan satu jari yang retak. Yanti, perawat klinik, membalutnya dan memarahi mereka semua dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar ke seluruh kampung. "Kalian gali di Lubang Tujuh Belas," katanya pada Kasan, bukan bertanya. Kasan tidak menjawab, dan diamnya adalah jawaban. Yanti menatapnya lama, marah dan takut sekaligus, lalu berkata pelan, "Aku tidak bisa menjahit paru-paru, Kasan. Aku tidak bisa menyambung tulang yang remuk. Kalau kalian celaka di bawah sana, aku cuma bisa memandikan kalian." Ada sesuatu di matanya saat mengatakan itu yang membuat Kasan ingin menjelaskan, ingin bilang ia tak punya pilihan, tapi ia hanya mengangguk dan pergi.
Awang istirahat dua hari. Tim turun bertiga, menggali di sisi yang aman, menjauhi ceruk yang sudah runtuh. Lapisan di sisi ini lebih tipis tapi masih jauh lebih tebal dari lubang dangkal mana pun. Mereka mengikuti urat batu bara yang membelok ke timur, masuk lebih dalam ke perut bukit, dan di sinilah, pada hari ketujuh sejak pertama turun, Kasan menyentuh dinding dan merasakan sesuatu yang membuat perutnya jatuh.
Dinding itu basah.
Tidak menetes. Tidak mengalir. Hanya lembap — selapis tipis air yang merembes dari pori-pori batu, mengkilap di bawah karbit. Kasan menempelkan telapaknya, lalu pipinya, ke dinding itu. Dingin. Lebih dingin dari dinding di tempat lain. Dan saat ia menempelkan telinga, ia mendengar sesuatu di balik batu — bukan denyut atap kali ini, tapi suara yang lebih dalam, lebih besar, lebih sabar. Suara yang seperti gumaman. Massa. Sesuatu yang besar dan diam menunggu di balik dinding setebal entah berapa.
"Pak Jum," panggilnya pelan. Jumadi merangkak mendekat, menyentuh dinding, dan wajahnya yang tua berubah. Ia tidak bilang apa-apa. Ia hanya menutup mata, dan Kasan melihat bibirnya bergerak tanpa suara, seperti orang berdoa atau orang mengingat.
"Air," kata Jumadi akhirnya. "Di balik sini ada air. Banyak. Tertahan oleh dinding ini, dan dinding ini—" ia mengetuk dengan buku jarinya, dan bunyinya berbeda dari batu padat, lebih nyaring, lebih tipis, "—dinding ini menipis tiap kita gali ke timur. Kita sedang mendekati kantongnya."
Pendi, yang biasanya akan mengejek, kini diam. Runtuhan kemarin telah mengubah sesuatu dalam dirinya. "Seberapa tebal dindingnya?" tanyanya. Jumadi mengangkat bahu. "Bisa lima meter. Bisa satu meter. Bisa setengah meter yang menipis ke kertas. Tidak ada yang tahu. Itu sebabnya—" ia menatap Kasan, "—itu sebabnya banjir dulu terjadi. Bukan murni kecelakaan, Kasan. Aku selalu curiga. Perusahaan tahu ada kantong air di sini. Mereka punya pompa, punya alat ukur, punya insinyur. Mereka tahu dinding menipis. Tapi lapisan arang di balik air ini—" ia menyapukan tangan ke dinding hitam mengkilap, "—terlalu menggoda. Mereka terus gali, terlalu dekat, terlalu cepat, mengejar kuota. Sampai dinding tipis itu jebol. Itu bukan takdir. Itu keserakahan yang menyamar jadi kecelakaan."
Kasan merasakan dingin yang bukan dari dinding. "Dan sekarang kita mengulanginya."
"Sekarang kita mengulanginya," Jumadi mengangguk. "Tapi dengan satu beda. Kita tahu. Mereka dulu mungkin tidak diberi tahu. Kita tahu air itu ada. Jadi kita tidak gali ke timur lagi. Kita balik, kita ambil yang di sisi aman, dan kita tidak pernah, tidak pernah, menyentuh dinding basah ini."
Mereka naik sore itu dengan keputusan yang jelas. Tapi keputusan di bawah tanah dan keputusan di atas tanah adalah dua hal berbeda, dan di atas tanah ada Toke Bahar.
Di mulut lubang, Si Lukas menimbang arang mereka, mencatat, lalu menyampaikan pesan dengan wajah datarnya. "Toke bilang hasil minggu ini turun. Kemarin cuma separuh." "Ada runtuhan," kata Kasan. "Anak buahku hampir mati. Kami pindah ke sisi yang aman, lapisannya lebih tipis." Lukas mengangguk seolah informasi itu tidak punya berat apa-apa. "Toke bilang pembeli besar dari kota sudah sepakat. Truk datang akhir bulan. Dia butuh tonase. Banyak." Ia menjeda. "Dia bilang, kalau kalian tidak sanggup, dia cari tim lain yang sanggup."
Ancaman itu sederhana dan mematikan. Tim lain berarti orang yang lebih nekat, yang akan menggali ke timur tanpa tahu air menunggu, atau yang tahu tapi terlalu butuh untuk peduli. Tim lain juga berarti Kasan kehilangan akses, kehilangan pemotongan utang, kembali ke lubang kering, kembali ke ibunya yang batuk darah tanpa harapan rumah sakit.
Malam itu Kasan menemui Toke Bahar di gudang. "Pak, ada air di balik dinding timur. Kalau kami gali ke sana mengejar tonase, dinding bisa jebol. Sama seperti dulu." Ia berharap, secara naif, bahwa kata "sama seperti dulu" akan menggerakkan sesuatu dalam diri lelaki itu.
Toke Bahar menatapnya lama. Lalu, mengejutkan Kasan, ia tidak marah dan tidak mengancam. Ia tampak lelah. "Kasan," katanya, menuangkan teh seperti biasa. "Kau pikir aku tidak takut? Aku takut. Tapi bukan takut yang sama denganmu." Ia menyeruput. "Pembeli kota itu bukan orang yang bisa dikecewakan. Aku sudah ambil uang muka. Uang itu sudah aku pakai — bayar utangku sendiri ke orang yang lebih besar dariku, orang yang kalau aku gagal, bukan cuma gudangku yang dia ambil. Kau pikir aku raja di sini? Aku juga ikan dalam jaring, Kasan. Cuma jaringku lebih besar, dan kalau aku tenggelam, aku tarik kalian semua." Ia meletakkan gelasnya. "Jadi gali. Hati-hati kalau bisa. Tapi gali. Karena di atas air tanahmu itu, ada air yang lebih dalam lagi, dan aku berdiri di dasarnya sama sepertimu."
Kasan pulang dan untuk pertama kalinya menyadari sesuatu yang membuat segalanya lebih buruk: Toke Bahar bukan iblis. Ia manusia yang takut, yang berutang, yang akan mengorbankan siapa pun untuk tidak tenggelam. Dan manusia yang takut, Kasan tahu, lebih berbahaya dari iblis. Karena iblis bisa kau benci dengan bersih. Manusia yang takut akan menatap matamu, mengaku ia turut sedih, lalu tetap menyuruhmu turun.