Mereka tidak menggali ke dinding timur. Kasan menolak, dan timnya, yang sekarang mempercayai telinganya, mendukungnya. Tapi tonase yang diminta Toke Bahar memaksa mereka menggali lebih lama, lebih dalam ke sisi selatan, masuk ke lorong-lorong yang lebih sempit dan lebih tua, lorong yang udaranya tidak pernah bergerak sejak perusahaan pergi.
Di sinilah gas mulai menumpuk.
Ia datang tanpa pengumuman. Itulah yang paling licik tentang gas — ia tidak berbau, tidak berwarna, tidak berbunyi. Hari kesepuluh, mereka menggali di lorong selatan yang menukik. Awang sudah pulih, kembali bekerja, dan ia yang pertama merasa aneh. "Bang," katanya, suaranya melambat, "kepalaku pening. Berat." Kasan menoleh dan melihat sesuatu yang membuat tengkuknya dingin: Awang tersenyum. Senyum tanpa sebab, senyum mengantuk, senyum orang mabuk. Itu bukan Awang yang lelah. Itu Awang yang diracuni udara.
"Lilin," kata Kasan cepat. "Jumadi, lilin." Jumadi sudah mengeluarkannya, tangannya bergerak tanpa panik tapi cepat — gerakan orang yang melakukannya ribuan kali. Ia menyalakan lilin di lantai lorong, dan mereka semua menatapnya.
Nyala itu tidak jingga. Pangkalnya membiru, dan ia memanjang, lebih tinggi dari seharusnya, menjilat ke atas seperti mencari sesuatu di udara. Wajah Jumadi mengeras. "Metana," katanya pelan, dan kata itu menggantung di udara seperti gas itu sendiri. "Ngumpul di langit-langit. Belum cukup buat menyala sendiri, tapi—" ia mengangkat lilin perlahan, dan saat lilin naik mendekati langit-langit, nyala birunya membesar, memanjang, gelisah. "—di atas sini banyak. Jangan ada yang berdiri. Jangan ada api yang naik. Jangan ada percik."
Lalu ia memadamkan lilin dengan satu embusan cepat, dan dalam gelap yang tiba-tiba, suaranya jadi perintah. "Semua merunduk. Kepala di bawah. Gas naik, udara baik di bawah. Awang, kau merangkak mundur duluan, pelan-pelan, jangan berdiri." Awang, yang masih tersenyum mengantuk, tidak bergerak cukup cepat. Kepalanya terangguk. Kasan meraihnya, menariknya, menampar pipinya pelan. "Awang. Awang! Lihat aku. Merangkak. Ikut suaraku." Mata anak itu setengah terpejam. Kasan menyeretnya, mundur, kepala serendah mungkin, dan ia bisa merasakan sendiri pening itu mulai merayap ke kepalanya, tawa konyol yang tak punya alasan mulai naik di dadanya, dan ia tahu itu tandanya — udara baik pun mulai habis, oksigen ditelan oleh gas yang menyesakkan.
Mereka mundur sampai lorong yang lebih lapang, di mana udara terasa sedikit lebih hidup. Awang batuk, muntah, lalu pelan-pelan matanya kembali fokus, dan senyum konyol itu hilang digantikan ketakutan. "Aku... aku merasa enak tadi," katanya gemetar. "Itu yang serem. Aku merasa enak."
"Itu cara dia membunuh," kata Jumadi. "Dia bikin kau senang dulu. Kau ketawa, kau ngantuk, kau tidur. Yang mati di gas ini wajahnya tenang. Itu yang aku lihat dulu pas ngangkat mayat. Mereka senyum."
Mereka harus membuat ventilasi. Itu satu-satunya cara melanjutkan, dan Toke Bahar menuntut mereka melanjutkan. Kasan, Jumadi, dan Pendi bekerja sepanjang hari berikutnya membangun ventilasi darurat: kipas bekas yang dikirim Toke Bahar dipasang di mulut lubang, mendorong udara segar lewat selang terpal yang mereka sambung-sambung dari karung plastik, terpal, dan lakban, menjalar masuk ke lorong selatan. Kasarnya seperti mengipasi api dapur dengan sehelai daun, tapi itu yang mereka punya. Udara mengalir tipis, dan nyala lilin uji pelan-pelan kembali ke jingga, meski masih sedikit gelisah. Cukup untuk bekerja. Tidak pernah cukup untuk merasa aman.
Di tengah kerja yang melelahkan itu, dari atas datang masalah lain. Razia.
Si Lukas turun tergesa ke mulut lubang. "Petugas datang. Dari kabupaten. Sembunyi." Untuk sesaat Kasan merasakan harapan tipis dan aneh — petugas, pemerintah, mungkin ini akhirnya, mungkin tambang ilegal yang membunuh ini akan ditutup, mungkin ia akan dipaksa berhenti dan untuk pertama kalinya tidak perlu turun lagi. Mungkin ada hukum di atas sana, ada keadilan, ada seseorang yang peduli bahwa empat orang sedang menukar napas dengan beras di perut bumi.
Harapan itu hidup tepat selama sepuluh menit. Kasan, mengintip dari balik semak di dekat mulut lubang, melihat dua petugas berseragam turun dari mobil, dan ia melihat Toke Bahar menyambut mereka — bukan dengan gugup, bukan dengan takut, tapi dengan senyum tuan rumah dan amplop. Amplop tebal, berpindah tangan dengan gerakan yang sudah berkali-kali dilatih, halus, hampir tak terlihat. Kedua petugas itu mengangguk, menerima rokok, tertawa pada lelucon Toke Bahar, melihat-lihat sebentar ke arah lubang dengan tatapan kosong orang yang sudah dibayar untuk tidak melihat, lalu pergi. Tidak ada lubang yang ditutup. Tidak ada yang ditolong. Razia itu bukan datang untuk menyelamatkan siapa pun. Ia datang untuk dibayar.
Kasan kembali ke bawah dengan sesuatu yang mati di dalam dadanya. Ia tidak menceritakannya pada yang lain, tapi Jumadi membaca wajahnya. "Kau baru sadar?" tanya orang tua itu. "Tidak ada yang akan datang menolong kita, Kasan. Tidak pemerintah, tidak perusahaan, tidak Tuhan kalau kita ceroboh. Yang ada cuma kita berempat, dan udara di selang terpal ini, dan telingamu. Itu saja. Itu seluruh dunia yang menjaga kita hidup." Ia menepuk lutut Kasan. "Jadi dengar baik-baik, Nak. Karena kita ini sendirian di bawah tanah yang mau makan kita, dan satu-satunya yang peduli kita pulang cuma orang-orang yang menunggu di rumah."