Tonase yang dituntut Toke Bahar tak pernah cukup. Tiap kali mereka memenuhinya, garis batasnya bergeser, seperti cakrawala yang mundur tiap kau dekati. Truk pembeli kota itu, kata Lukas, datang sepuluh hari lagi, lalu seminggu lagi, lalu lima hari lagi. Tekanan itu mendorong mereka ke satu-satunya tempat yang belum mereka sentuh — lorong selatan paling tua, yang menukik paling dalam, di mana Jumadi mengaku jalur lama berakhir di rongga besar yang dulu jadi pusat penggalian perusahaan sebelum banjir.
"Di sana lapisannya paling tebal," kata Jumadi. "Tapi di sana juga... di sana tempat orang-orang itu terjebak dulu."
Mereka turun ke rongga itu pada hari yang Kasan tak akan pernah lupa. Ventilasi terpal mereka panjangkan, lilin diuji tiap tiga meter sekarang, bukan lima. Gas masih ada tapi terkendali. Lorong menukik tajam, lalu membuka ke sebuah ruang yang, di bawah cahaya karbit mereka, jauh lebih besar dari rongga mana pun — langit-langit setinggi dua orang, dinding hitam mengkilap di segala arah, lapisan arang setebal yang tak pernah mereka bayangkan.
Dan di lantai rongga itu, di bawah lapisan debu dan rontokan setebal puluhan tahun, mereka menemukan mereka.
Awang yang pertama berteriak. Cangkulnya menyangkut sesuatu yang bukan batu, dan ketika ia menariknya, debu tersibak, dan di bawahnya muncul sebuah helm. Helm tambang tua, model lama, dengan dudukan lampu karbit di depannya yang sudah karatan. Dan di dalam helm itu — Awang menjatuhkan cangkulnya dan mundur — ada tulang. Tengkorak, kecokelatan, masih mengenakan helm yang dipakai untuk menyelamatkan kepala yang kini tak ada lagi gunanya diselamatkan.
Mereka berhenti menggali arang. Tanpa kata sepakat, mereka mulai menggali sesuatu yang lain. Pelan, hati-hati, dengan tangan, mereka menyibak debu, dan satu per satu mereka muncul. Bukan tujuh, seperti yang dikatakan perusahaan. Kasan menghitung, dan tangannya gemetar saat menghitung. Sebuah sepatu bot yang masih membungkus tulang kaki. Sebuah ikat pinggang kulit dengan gesper kuningan. Tulang-tulang yang berserakan, sebagian masih dalam susunan tubuh yang meringkuk — orang yang mati sambil memeluk lututnya sendiri, di sudut paling jauh dari pintu, sejauh mungkin dari air yang datang. Kasan menghitung paling tidak sebelas, mungkin dua belas. Lebih dari tujuh. Jauh lebih dari tujuh.
"Mereka tidak tenggelam semua," kata Jumadi pelan, suaranya bergetar dengan sesuatu yang ditahan bertahun-tahun. "Lihat. Yang ini di tempat tinggi. Air tidak sampai sini. Mereka naik ke tempat tinggi, menjauhi air, dan menunggu. Menunggu pertolongan yang tidak datang. Mereka mati pelan-pelan. Kehabisan udara. Karena di atas, mereka sudah mengecor pintunya."
Kasan menyentuh helm tua itu. Di dalamnya, terselip di antara dudukan lampu dan kulit, ada secarik kertas — bukan kertas, lebih seperti potongan karton yang dilapisi minyak agar awet, sesuatu yang biasa dipakai penambang untuk menulis catatan kecil. Hurufnya pudar, ditulis dengan arang. Kasan membawanya dekat ke lampu, dan membacanya dengan susah payah.
Nama-nama. Daftar nama, ditulis dengan tangan yang gemetar, oleh seseorang yang tahu ia akan mati dan ingin meninggalkan bukti siapa yang ada di bawah sini. Kasan membaca nama-nama yang asing baginya, satu, dua, tiga — lalu jantungnya berhenti.
Sukirman.
Bukan ayahnya. Ayahnya, Sukirman, mati dua tahun lalu di ranjang, bukan di lubang ini. Tapi nama itu — dan di sampingnya tertulis kata yang dicakar tergesa: "adik Bahar." Kasan menatap kertas itu, dan dunia di sekelilingnya menyempit. Adik Bahar. Adik Toke Bahar ada di antara orang-orang yang dikubur hidup-hidup di bawah sini. Dan ada satu nama lagi di daftar itu, di baris paling bawah, ditulis paling tergesa, hampir tak terbaca: sebuah nama keluarga yang sama dengan keluarga Kasan sendiri — nama kakeknya, ayah dari Sukirman ayahnya, lelaki yang menurut cerita keluarga "pergi merantau dan tak pernah pulang."
Tidak merantau. Tidak pernah pulang karena ia di sini. Karena ia salah satu dari dua belas yang dikubur oleh beton dan keputusan orang kota. Dan utang yang Kasan warisi, utang ayahnya pada Toke Bahar — Kasan tiba-tiba mengerti, dengan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya — utang itu mungkin tidak pernah murni soal pinjaman obat. Mungkin itu utang yang lebih tua, lebih busuk, terikat pada hari air masuk dan pintu dicor, terikat pada apa yang keluarga Bahar dan keluarga Kasan tahu dan tak pernah ucapkan tentang Lubang Tujuh Belas.
"Pak Jum," suara Kasan nyaris tak keluar. "Kakek saya. Adik Toke Bahar. Mereka di sini." Jumadi menutup mata. "Aku tahu," bisiknya. "Aku selalu curiga. Itu sebabnya Bahar tidak pernah biarkan orang turun ke sini. Bukan cuma karena bahaya. Karena di bawah sini ada nama-nama yang kalau keluar, akan menanyakan kenapa pintu dicor saat mereka masih hidup. Termasuk nama adiknya sendiri, yang dia—" Jumadi berhenti. "Yang dia tinggalkan."
Di atas tanah, pada saat yang sama, Si Lukas berdiri di mulut lubang, menghitung karung yang naik hari itu, dan menyadari jumlahnya jauh lebih sedikit dari kemarin. Ia menyadari mereka berhenti menggali. Dan dari bawah, samar, ia mendengar suara — bukan suara cangkul, tapi suara orang yang menggali pelan, hati-hati, dan suara seseorang membaca sesuatu keras-keras dengan suara bergetar. Lukas tidak turun. Ia hanya berbalik, naik ke gudang, dan berkata pada Toke Bahar tiga kata yang akan mengubah segalanya: "Mereka berhenti gali." Toke Bahar mengangkat wajah dari buku utangnya, dan untuk pertama kalinya dalam ingatan Lukas, wajah itu kehilangan ketenangannya. "Mereka sampai ke rongga bawah," gumamnya. Bukan pertanyaan. "Mereka sampai ke rongga."