Malam itu Toke Bahar tidak tidur. Si Lukas melihatnya mondar-mandir di gudang, membuka buku utang lama — bukan buku para penambang, buku yang lebih tua, bersampul kulit, yang tak pernah Lukas lihat sebelumnya. Toke Bahar membaca, menutupnya, membukanya lagi, dan sekali Lukas mendengarnya berkata pada diri sendiri, pelan, "Sudah kubilang jangan ke rongga bawah. Sudah kubilang." Tapi Lukas tidak tahu sudah dibilangnya pada siapa, atau kapan, atau kenapa suara Toke Bahar terdengar seperti orang yang ketakutan oleh hantunya sendiri.
Di bawah tanah, tim Kasan tidak menggali arang hari itu. Mereka mengumpulkan tulang. Dengan kain, dengan hati-hati, mereka menata sisa dua belas orang itu sebisanya, dan Jumadi memimpin doa dengan suara yang pecah. "Kita bawa naik," kata Kasan. "Semuanya. Tulang-tulang ini naik. Mereka pulang. Hari ini." Bahkan Pendi setuju tanpa membantah; sesuatu dalam dirinya telah berubah sejak runtuhan, dan menemukan dua belas mayat di tempat mereka sendiri hampir mati telah mematahkan keserakahannya.
Tapi tonase. Selalu tonase. Pendi, yang ingin menebus waktu yang hilang, yang ingin satu beban karung penuh agar tidak pulang dengan tangan kosong dan dimarahi Toke, merangkak ke sisi rongga di mana lapisan paling tebal, lebih jauh ke dalam dari tempat mereka uji lilin terakhir. "Aku ambil sebentar," katanya. "Biar ada yang ditimbang. Sebentar saja."
"Pendi, jangan," Kasan menoleh. "Kita belum uji udara di sisi itu. Ventilasi tidak sampai sana." Tapi Pendi sudah di sana, di sudut yang udaranya mati, dan untuk bekerja ia butuh cahaya, dan lampu karbitnya redup, dan tanpa berpikir — tanpa berpikir, gerakan kebiasaan belasan tahun — ia mengeluarkan korek api untuk membenahi nyala karbitnya yang hampir padam.
Kasan melihat tangan itu bergerak, melihat korek itu, dan dalam sepersekian detik seluruh tubuhnya mengerti apa yang akan terjadi sebelum otaknya sempat membentuk kata. Ia berteriak — "PENDI, JANGAN!" — dan suaranya belum selesai keluar dari tenggorokan ketika dunia berubah jadi cahaya.
Bukan ledakan besar seperti di film. Lebih buruk karena lebih dekat: sebuah kilatan biru-jingga yang menjalar di sepanjang langit-langit rongga secepat pikiran, gelombang panas yang menampar wajah Kasan dan menghisap udara dari paru-parunya sekaligus, dan dentuman tumpul yang ia rasakan di tulang dadanya lebih daripada ia dengar di telinganya. Lalu langit-langit lorong di belakang mereka — jalur naik, satu-satunya jalan pulang — turun dengan gemuruh yang menelan segalanya.
Debu. Gelap. Kasan terlempar ke dinding, kepalanya berdentum, dan untuk beberapa saat ia tidak tahu di mana atas dan di mana bawah. Telinganya berdenging. Lampu-lampu padam. Gelap total — bukan gelap yang ia kenal, bukan gelap yang masih punya nyala karbit kecil di kejauhan, tapi gelap yang sempurna, gelap yang seperti tidak pernah ada cahaya di dunia.
"Jumadi!" teriaknya, dan suaranya teredam, asing. "Awang! Pendi!" Batuk. Di kirinya, batuk — Jumadi. Di kanannya, isak ketakutan — Awang, hidup. "Pendi!" Tidak ada jawaban dari arah sudut tadi. Kasan merangkak ke sana, tangannya menggapai-gapai di kegelapan, menyentuh batu hangat, menyentuh sesuatu yang basah, dan ia menarik tangannya, dan ia tidak berani memikirkan apa yang basah itu. "Pendi!" Hening. Lalu, dari bawah tumpukan batu yang menutup sudut itu, samar, satu erangan. Hidup. Terjebak, tapi hidup. Untuk sekarang.
Kasan menelan ketakutan dan memaksa dirinya melakukan apa yang ia selalu lakukan: mendengarkan. Dalam gelap total, dengan telinga berdenging, ia memaksa diri diam dan mendengar tanah. Dan apa yang ia dengar membuat darahnya membeku.
Bukan denyut atap. Sesuatu yang lebih dalam. Dari arah dinding timur — dinding basah yang tak pernah mereka sentuh, dinding yang menyimpan air — terdengar suara yang berubah. Rembesan tipis yang dulu cuma lembap kini berbunyi. Suara air. Mengalir. Pelan, tapi mengalir, dan di balik suara itu, suara yang lebih buruk: retak. Halus, panjang, menjalar. Ledakan tadi telah mengguncang seluruh perut bukit, dan dinding tipis yang menahan kantong air itu — dinding yang Jumadi bilang bisa setipis kertas — telah retak. Air mulai mencari jalan keluar, dan satu-satunya jalan keluar adalah ke dalam, ke rongga tempat mereka terjebak.
"Air," bisik Kasan, dan kata itu lebih mengerikan dari ledakan mana pun. "Pak Jum. Air masuk."
Di atas tanah, Toke Bahar merasakan getaran ledakan itu dari gudangnya, debu halus jatuh dari langit-langit seng, dan ia tahu apa yang baru saja terjadi seperti ia tahu detak jantungnya sendiri. Si Lukas berlari masuk, panik. "Toke! Lubang—" Toke Bahar sudah berdiri. Wajahnya tidak panik. Wajahnya adalah wajah orang yang sampai pada keputusan yang sudah ia tunda bertahun-tahun. Di tangannya, buku kulit tua itu, daftar nama yang lebih lama. Ia tahu rongga bawah telah terbuka. Ia tahu tulang adiknya telah ditemukan. Ia tahu kertas dengan nama-nama — termasuk yang menuduhnya — kini ada di tangan empat orang di bawah sana. Dan ia tahu, dengan kepastian dingin orang yang takut tenggelam, bahwa kalau keempat orang itu naik dengan tulang dan kertas itu, bukan cuma gudangnya yang hilang. Pintu yang ia cor bertahun-tahun lalu akan terbuka, dan ia akan jatuh ke dalamnya.
"Buldoser," kata Toke Bahar, suaranya rata. "Yang di belakang gudang. Hidupkan." Lukas menatapnya, tidak mengerti, lalu mengerti, dan kengerian merayap ke wajahnya. "Toke... orang-orang itu masih—" "Mereka sudah mati saat ledakan tadi," potong Toke Bahar, dan ia mengucapkannya seperti orang yang sedang meyakinkan dirinya sendiri lebih dari meyakinkan Lukas. "Tidak ada yang selamat dari ledakan begitu. Aku cuma menutup kuburan. Sama seperti dulu." Ia berjalan keluar ke malam berdebu, ke arah buldoser tua yang teronggok di balik gudang, dan dengan tangan yang hampir tak gemetar, ia memutar kuncinya. Mesin itu batuk, lalu meraung hidup, lampunya menyala menerangi mulut Lubang Tujuh Belas yang menganga di kegelapan.
Di bawah, dalam gelap total, dengan air mulai merembes naik ke mata kakinya dan Pendi mengerang di bawah batu dan Awang menangis dan Jumadi berdoa, Kasan mendengar suara baru menembus tanah dari atas — getaran berat, dalam, mendekat. Suara mesin. Suara logam menggali tanah. Dan ia mengerti, dengan ngeri yang lebih dingin dari air yang naik di kakinya, bahwa di atas sana, di dunia yang punya udara dan bintang dan angin gratis, seseorang sedang menutup satu-satunya mulut yang menghubungkan mereka dengan langit.