Air itu dingin, dan dinginnya adalah satu-satunya hal yang bisa Kasan syukuri dalam gelap total itu — karena dingin memberi tahu mereka di mana lantai, di mana bawah, di mana dunia.
'Semua pegang sesuatu!' teriak Kasan dalam kegelapan yang sempurna. 'Jangan bergerak sendirian! Panggil nama kalian satu per satu!'
'Jumadi.' Batuk, dari kiri. 'Di sini.'
'Awang— aku di sini—' Isak, dari kanan. Suara anak itu bergetar seperti tali yang hampir putus.
'Pendi mengerang di bawah batu di sudut. Kita gali dia keluar. Sekarang.'
Tapi gelap adalah musuh yang tidak pernah mereka latih. Di rongga tanpa satu titik cahaya pun, arah adalah kemewahan yang tidak mereka miliki. Kasan merangkak ke arah suara erangan itu dengan tangan terentang, dan jarinya menemukan batu, lalu batu lagi, lalu sesuatu yang berbeda — kain. Seragam tambang. Lengan.
'Pendi. Pendi, dengar aku.'
'San—' Suara itu pecah, teredam batu di atasnya, tapi hidup. 'San, ada batu di dadaku. Aku tidak bisa napas penuh. Kiriku— kiriku tidak bisa kugerakkan.'
'Jangan banyak bicara. Simpan napas. Kami gali sekarang.'
Mereka menggali dalam gelap seperti orang buta membedah. Kasan mengatur posisi dengan suara — Jumadi di sisi kiri batu besar, dirinya di kanan, Awang menjaga kaki Pendi supaya tidak tertarik salah arah. Batu-batu kecil disingkirkan dulu, satu per satu, dilempar ke belakang dengan bunyi yang menggema di rongga. Tapi batu besar yang menekan dada Pendi adalah masalah yang lain: mengangkatnya berarti menahan berat seluruhnya sambil menarik tubuh keluar — salah gerak, dan batu itu akan jatuh lebih dalam.
'Dengar aku semua,' kata Kasan, dan suaranya mencari nada yang dulu ia dengar dari orang-orang yang lebih tua — nada yang membuat orang berhenti panik dan mulai bekerja. 'Pak Jum, kita tuas dengan cangkul. Awang, kau tarik kakinya saat aku hitung tiga. Pelan-pelan. Kalau aku bilang stop, semua stop.'
'Tanganku gemetar, Bang,' kata Awang.
'Tangan semua orang gemetar, Wang. Gemetar itu tidak apa-apa. Yang penting tidak berhenti.'
Cangkul diselipkan di bawah batu besar itu. Kasan dan Jumadi menahan di dua sisi — dan dalam gelap total, tanpa melihat satu sama lain, mereka harus bekerja seperti satu tubuh. 'Satu. Dua. Tiga—' Batu itu terangkat sejengkal, mungkin kurang, dan Awang menarik, dan Pendi menjerit — jeritan yang membuat tangan Kasan hampir lepas — dan batu itu turun kembali dengan dentuman yang bergetar ke seluruh rongga.
Tapi Pendi keluar. Setengah tubuhnya sudah lepas.
Dan di saat yang paling berat itu, Awang melakukan hal yang tidak diperintahkan siapa pun — hal yang kemudian selalu diingat Kasan tentang anak itu: ia mulai menghitung keras-keras. Bukan menghitung batu. Menghitung napas. 'Satu, dua, tiga, empat—' dengan suara yang dibuat stabil, dengan irama yang diberikan kepada dua orang yang sedang menahan batu seberat kerbau dalam gelap. 'Terus, Bang, terus, aku dengar napas kalian, jangan berhenti di tengah, lima, enam, tujuh—' Dan dua orang tua itu menahan batu itu dengan irama napas seorang anak tujuh belas tahun, dan batu itu tidak jatuh, dan Pendi ditarik lepas di hitungan kesebelas. Tidak ada yang mengajari Awang itu. Tidak ada yang perlu. Di tempat gelap, orang menemukan bagiannya masing-masing — dan bagian anak itu, malam itu, adalah menjadi metronom bagi orang-orang yang sedang menyelamatkan nyawa dengan otot yang hampir habis.
'Dada,' kata Pendi, megap-megap. 'Rusukku. Dua, tiga mungkin. Tapi aku bisa bernapas, San. Aku bisa bernapas.'
Dan di antara rasa lega itu, Kasan merasakan sesuatu di sepatu botnya — air, yang tadi sebatas mata kaki, kini merayap ke mata kaki bagian atas, menuju betis. Air itu tidak tergesa. Itulah yang paling menakutkan dari air: ia tidak pernah tergesa. Ia hanya naik, sabar, seperti Toke Bahar menunggu utang, seperti Toke Bahar di atas sana yang sedang melakukan sesuatu — getaran mesin yang masih terdengar samar dari atas — yang tidak berani Kasan beri nama.
'Pak Jum,' kata Kasan pelan, sambil meraba wajah Pendi dalam gelap, membersihkan darah dari pelipisnya dengan ujung kainnya. 'Kertas daftar nama itu. Masih di kantongmu?'
Jumadi meraba dadanya. Terdengar kertas basah diremas pelan. 'Masih. Basah, tapi masih terbaca.'
'Dan tulang-tulangnya—'
'Kita tidak bisa bawa semua, San.' Suara orang tua itu berat. 'Air naik. Jalan pulang runtuh. Kalau kita mau hidup, kita tidak bisa membawa dua belas orang dalam karung.'
Kasan diam dalam gelap. Ia memikirkan botol seng yang ditinggalkan tergesa — dan bagaimana mereka semua hampir menjadi botol seng berikutnya. Lalu ia berkata, dengan berat yang akan ia tanggung seumur hidupnya: 'Kita bawa yang membuktikan. Kertas itu. Helm itu — helm dengan tulang di dalamnya. Dan satu dua yang kecil, yang muat di karung. Sisanya—' suaranya hampir patah, '—sisanya kita tinggalkan dengan hormat, dan kita bersumpah akan kembali untuk mereka. Mereka sudah menunggu puluhan tahun, Pak Jum. Mereka akan mengerti kalau kita harus keluar hidup-hidup dulu untuk bisa menceritakan mereka.'
Dan dalam gelap total itu, di antara air yang naik dan mesin yang bergetar di atas, empat orang itu berdiri sebentar menghadap rongga tempat dua belas nama terbaring — dan Kasan mengucapkannya keras-keras, supaya didengar oleh yang mati maupun yang hidup: 'Kami akan kembali. Demi Tuhan, demi kalian, kami akan kembali.'