Cahaya pertama dalam satu jam itu datang dari senter dengan baterai setengah mati — dinyalakan Awang dengan tangan yang masih gemetar, dan sinarnya yang kuning dan sakit itu seperti matahari kecil yang dilahirkan di perut bumi.
Dan dalam cahaya itu, mereka melihat keadaan mereka yang sebenarnya — dan tidak ada satu pun dari mereka yang bicara selama beberapa saat.
Rongga itu telah berubah bentuk. Langit-langit di sisi lorong pulang turun seperti rahang yang mengatup — batu sebesar kerbau bertumpuk-tumpuk menutup jalan yang mereka lewati tadi sore. Tidak ada celah. Tidak ada lubang sebesar tikus pun. Di sisi lain, air berkumpul pelan-pelan di cekungan lantai, hitam, sabar, memantulkan sinar senter dengan kilau yang seharusnya indah di tempat lain.
Pendi terbaring miring. Wajahnya pucat di bawah debu, bibirnya biru, dan lengan kirinya menggantung dengan sudut yang tidak alami. Kasan menelitinya dengan tangan yang sudah belajar dari bertahun-tahun mengangkat orang dari lubang: dua atau tiga rusuk retak di sisi kiri, bahu kiri bergeser dari tempatnya, dan napasnya pendek-pendek dengan bunyi yang Kasan tidak sukai — bunyi yang berarti ada yang salah di dalam, bunyi yang berarti setiap jam di bawah sini berbahaya.
'Dia tidak bisa merangkak,' kata Kasan pelan. 'Bukan tidak mau. Tidak bisa. Rusuknya akan menusuk sesuatu kalau dia bergerak salah.'
'Lalu bagaimana,' kata Awang, dan suaranya mulai naik ke tempat yang bahaya, 'bagaimana kita keluar kalau dia tidak bisa merangkak? Lorong-lorong itu sempit, Bang. Sempit untuk merangkak. Kita tidak bisa menggendong orang dewasa lewat—'
'Awang.' Jumadi memegang bahu anak itu. 'Bernapas. Dengar aku. Di lubang ini, yang membunuh bukan batu, bukan air, bukan gas. Yang membunuh adalah panik. Panik membuatmu bergerak lebih cepat dari berpikir. Dan di sini, yang bergerak lebih cepat dari berpikir adalah orang yang membuat tiga orang lain ikut mati bersamanya.' Ia menunggu napas anak itu turun, lalu melanjutkan. 'Pendi tidak bisa merangkak sendiri. Benar. Maka kita buat dia tidak perlu merangkak. Kita buat tandu.'
Tandu itu dibuat dari apa yang ada: dua cangkul pendek untuk rangka, karung-karung arang yang disobek dan diikat jadi alas, dan tali nilon yang mereka lilitkan sekuat yang tangan bisa mengikat. Ketika Pendi diangkat ke atasnya — dengan jeritan yang ia telan sampai bibinya berdarah — mereka mengikat tubuhnya ke tandu itu supaya tidak bergeser, dan Kasan memeriksa talinya dua kali, tiga kali, karena tali itu adalah nyawa Pendi mulai sekarang.
Senter itu tidak bisa menyala terus. Baterai setengah mati berarti cahaya adalah ransum, dan mereka meransumnya seperti meransum air: nyala sepuluh detik untuk membaca jalur, mati, bergerak dalam gelap dengan tangan di dinding, nyala lagi. Dan setiap kali senter mati, kegelapan itu datang kembali utuh, dan Kasan mendengar napas teman-temannya di dalamnya — napas Jumadi yang tua dan berdebu, napas Awang yang muda dan ketakutan, napas Pendi yang pendek dan salah bunyinya — dan ia berdiri di antara gelap itu dan tiga napas itu, dan mengambil keputusan yang akan ia pertanyakan sepanjang hidupnya: kita akan keluar. Tidak ada satu pun yang tertinggal. Tidak kali ini. Tidak lagi.
Sebelum bergerak, mereka menghitung bekal — dan hitungannya tidak banyak. Sebelas batang lilin putih. Satu gulung tali nilon yang separuhnya sudah dipakai untuk tandu. Dua cangkul pendek dan satu cangkul penuh. Senter dengan baterai yang tinggal sepertiga, menurut tebakan kasar Awang mengibaskannya. Tidak ada air minum — botol-botol mereka tertimbun di ceruk yang runtuh. Tidak ada makanan. Yang ada hanya persediaan yang tidak terlihat: telinga Kasan, ingatan Jumadi, badan kecil Awang, dan satu aturan yang baru saja mereka buat bersama. Jumadi menatap hitungan itu dalam cahaya sepuluh detik dan berkata, dengan suara yang dibuat ringan, 'Pernah lebih sedikit dari ini. Tahun delapan puluhan, kami turun dengan satu lilin dan seutas tambang. Pulang sembilan orang, karena kami menghitung napas kami seperti menghitung uang. Kalian akan menghitung napas kalian seperti itu mulai sekarang. Napas kalian bukan milik kalian lagi, Nak. Napas kalian adalah perbekalan tim.' Dan tidak ada yang menjawab, karena semua orang mengerti: mulai saat itu, setiap napas yang dibuang adalah utang, dan setiap napas yang dihemat adalah setoran.
'Pak Jum,' katanya, di salah satu jeda gelap itu. 'Ada satu hal yang harus kau dengar dari kami, supaya kalau salah satu dari kita tidak sampai, yang lain tahu harus apa.'
Dan Jumadi, dengan berat yang hanya dimiliki orang yang sudah lama menunggu kata-kata seperti itu, menjawab: 'Katakan.'
'Kalau salah satu dari kita tidak bisa dilanjutkan — yang lain tidak berhenti. Tidak untuk apa pun. Kita tidak jadi dua belas orang yang menunggu di tempat tinggi. Kita bukan mereka. Kita keluar dengan yang bisa keluar, dan kita kembali dengan bantuan. Itu aturannya. Itu aturan yang tidak pernah mereka miliki.'
Jumadi diam lama. Lalu: 'Kau benar. Dan kau salah. Kita bukan mereka — tapi kita juga bukan orang yang saling meninggalkan. Maka begini aturannya, dan aku yang paling tua jadi aku yang menetapkan: tidak ada yang ditinggal selama masih bisa digerakkan. Kalau aku yang jatuh—' ia mengangkat tangannya yang berbuku dalam gelap, seolah mereka bisa melihatnya, '—kalian tinggalkan aku. Itu perintah. Tapi selama aku bisa bergerak, tidak ada satu pun dari kalian yang bergerak tanpa aku. Sepakat?'
Dan dalam gelap total itu, empat suara — satu parau, satu tua, satu muda, satu teredam batu — menjawab satu per satu: 'Sepakat.'