Jumadi menyebutnya lubang tikus, dan ia menyebutnya dengan cara orang menyebut dosa lama: pelan, dengan mata yang tidak menatap.
'Dulu, zaman perusahaan, setiap lorong besar punya ventilasi kedua. Bukan untuk orang — untuk udara. Pipa-pipa besar, lubang-lubang serong yang naik ke permukaan, supaya gas punya jalan keluar dan udara segar punya jalan masuk. Waktu mereka menutup tambang ini, mereka cor mulut utamanya. Tapi pipa-pipa ventilasi itu—' ia menggeleng, '—terlalu banyak, terlalu tersebar, terlalu kecil untuk dicor semua. Sebagian cuma ditimbun longgar. Dan satu—' ia berhenti, dan suaranya berubah jadi sesuatu yang lebih tua, '—satu aku tahu di mana. Karena aku yang dulu ditugasi menjaganya tetap terbuka. Seminggu sekali, turun ke sini, membersihkannya. Aku masih ingat jalannya seperti ingat jalan pulang ke rumah.'
Dan sejenak, orang tua itu terdiam di tempat yang berbeda dari tempat mereka berada. 'Aku turun ke pipa itu pertama kali umur sembilan belas, dengan kawanku, namanya Damin. Kami berdua petugas ventilasi. Kerja paling sepi di tambang — menyapu, membersihkan, memastikan udara jalan. Kami menyebutnya jalan raya semut, karena semut dari permukaan suka ikut turun lewat sana. Damin selalu bercanda: kalau dunia kiamat, Jum, kita keluar lewat jalan semut ini.' Ia menggeleng pelan. 'Damin ada di daftar itu. Di kertas yang ada di jantungku sekarang. Dia tidak kebagian pipa waktu air itu datang — dia terlalu jauh di dalam, memperbaiki kipas. Aku yang di luar. Aku yang selamat. Maka kalian mengerti kenapa aku ingat jalannya sebaik ini: karena aku sudah membayangkan berjalan kembali ke pipa itu, setiap malam, selama empat puluh tahun, untuk menjemput kawanku yang tidak pernah sempat kujemput.' Tidak ada yang berkata apa-apa. Air merembes pelan di kejauhan. Dan Jumadi mengangkat kepalanya, dan suaranya kembali menjadi suara penambang: 'Pipa itu masih ada. Dan malam ini, dia akan menjemput empat orang sekaligus — termasuk bagian dari Damin yang bisa kita bawa naik. Ayo. Aku yang di depan. Aku kenal setiap tikungannya seperti kenal dapur rumahku.'
'Seberapa lebar?' tanya Kasan.
'Selebar ini.' Jumadi merentangkan tangannya dalam gelap — selebar tubuh yang harus meniupkan napas untuk lewat. 'Orang kurus lewat. Awang lewat. Kau lewat, mungkin, dengan napas ditahan. Aku—' ia terkekeh pahit, '—aku akan jadi pertanyaan. Dan Pendi—'
'Pendi kita dorong dan tarik dengan tali,' kata Kasan cepat, sebelum keraguan itu membesar. 'Dia tidak perlu muat sendiri. Dia muat di dalam tali. Kita yang bekerja di dua ujungnya.'
'Dan kalau pipa itu sudah tertimbun? Puluhan tahun, San. Tanah bergerak.'
'Maka kita gali dari bawah. Naik itu lebih mudah digali dari bawah daripada dari atas — tanah longgar jatuh ke bawah, ke arah kita, bukan menutup kita. Dan kalau tidak bisa—' Kasan berhenti, dan di kegelapan itu tidak ada yang melengkapi kalimatnya, karena kalau tidak bisa, mereka akan menjadi dua belas orang ditambah empat.
Mereka berkemas seperti orang berkemas untuk perjalanan terakhir — karena memang begitu adanya. Karung disobek jadi tali tambahan. Lilin-lilin putih dihitung: sebelas batang, dan lilin bukan lagi sekadar kanari melainkan satu-satunya matahari mereka — dinyalakan satu per satu, diransum, dijaga dengan tubuh dari angin kecil lorong. Kertas daftar nama itu — basah, lusuh, tapi masih terbaca — dilipat Jumadi dan diselipkan di lapisan paling dalam bajunya, di sebelah jantung. Helm tua dengan tulang di dalamnya diikat ke punggung Awang, karena Awang yang paling ringan dan helm itu bukti yang paling keras.
Dan sisa tulang-tulang kecil yang bisa mereka bawa — beberapa, sejumput dari yang berbeda-beda, supaya setiap nama kelak punya bagian yang dikebumikan — dimasukkan ke satu karung kecil yang diikat Kasan ke pinggangnya sendiri.
'Mereka naik bersama kita,' katanya, ketika Pendi yang tertidur sebentar karena lelah dan luka terbangun dan bertanya apa yang sedang dikerjakan. 'Sebagian. Yang bisa kita bawa. Sisanya kita tinggalkan dengan janji, dan janji itu lebih berat dari karung mana pun.'
Pendi, yang wajahnya abu-abu karena luka, memandangi karung kecil itu, dan berkata sesuatu yang tidak pernah diharapkan Kasan keluar dari mulutnya: 'Bagus. Aku tidak mau naik dengan tangan kosong, San. Kalau aku mati di tanjakan itu, jangan bawa aku. Bawa mereka. Mereka sudah menunggu lebih lama.'
'Kau tidak akan mati di tanjakan itu,' kata Kasan. 'Kau akan menikah bulan depan. Kau bilang begitu setiap hari. Jangan berhenti di hari ini.'
Dan Pendi tertawa — tawa kecil yang berubah jadi erangan karena rusuknya, tawa yang basah oleh sesuatu yang bukan air — dan berkata, 'Deal, Komandan. Sekarang tunjukkan lubang tikusnya. Aku sudah bosan jadi penghuni bawah tanah.'
Getaran dari atas, sementara itu, telah berubah. Mesin yang meraung itu kini bekerja dengan irama yang teratur — dorong, hentak, dorong — dan setiap hentakan mengirim debu turun dari langit-langit rongga seperti salju yang salah musim. Jumadi mendengarnya dengan telinga yang menempel di dinding, dan wajahnya, saat senter menyala sepuluh detik, adalah wajah yang Kasan harap tidak akan pernah ia lihat lagi: wajah orang yang mengenali bunyi itu.
'Ini bukan penggalian,' kata Jumadi pelan. 'Ini penimbunan. Dia sedang menutup mulutnya, San. Dia sedang mengecor kita hidup-hidup. Sama seperti dulu. Persis sama seperti dulu.'