Kala itu senja mulai terlihat, matahari pun sedikit demi sedikit menenggelamkan dirinya. Ada dua pasang sejoli yang sedang duduk santai di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi dan teh gelas hangat. Suasana saat itu tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang harus untuk dibicarakan tapi masih tertahan di pikiran mereka. Mereka adalah mama dan papa ku jauh sebelum aku lahir.
Cerita ini sangat diingat oleh mama dan papa karena setelah kejadian ini membuat kehidupan pernikahan mereka menjadi berubah termasuk ada hubungan nya dengan kedekatan ku kepada Teh Hesti. Memang, aku dekat dengan semua yang membantu mengurus rumah termasuk Pak Dewa dan Teh Mina, tapi dari kecil aku di ajarkan untuk bersikap lebih sopan dan lebih baik kepada Teh Hesti. Pada awalnya aku bingung kenapa aku diajarkan untuk seperti itu, dan ku memberanikan diri menanyakan semua pada mama dan papa. Pada awalnya mereka hanya menjawab dengan jawaban gamblang, mungkin dikarenakan umurku yang masih terbilang teralalu dini untuk menyerap semua permasalah rumah tangga yang di alami, tapi dengan seiring berjalannya waktu dan aku mulai memasuki usia yang cukup akhirnya mereka menceritakan semua yang terjadi. Sempat terkaget dengan segala kisah yang diceritakan, namun dikarenakan sering nya mama dan papa menceritakan kisah ini padaku juga memberikan pengertian agar aku bisa memahami juga sebagai sebuah pembelajaran saja bukan untuk ditiru dan bukan sesuatu yang bisa dibanggakan akhirnya aku mulai mengerti dan menerimanya.
Kembali ke kisahnya mulai dari awal pertemuan mama dan papa. Pada tahun 1987 seorang laki-laki bernama Purwanto bersama rekan kantornya sedang berjalan-jalan melewati sebuah toko sepatu ber merk di sebuah Mall pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya. Dia sebenarnya hanya ingin membeli makan yang pada saat itu memang sudah jam makan siang. Saat melewati toko sepatu itu dia tertarik untuk melihat lebih lanjut beberapa model yang terpajang didalamnya. Namun dicegah sama teman nya karena mereka sudah lapar.
“Aku mau lihat-lihat model sepatu itu, bagus sekali terlihat elegan dan berkesan untuk seorang pria” Ujar Pak Purwanto
“Ya ampun bre, nanti ajalah kalau mau lihat-lihat kita makan saja lah dulu, sudah lapar sekali ini perut kita, nanti setelah makan kita temani kamu untuk melihat-lihat ke toko ini lagi” Jawab Pak San salah satu dari teman yang ada disitu
“Okeehh baiklah, mari kita lanjutkan makan siang saja dahulu, baru nanti kalau ada waktu lebih biar aku sendiri juga tidak apa-apa kembali kesini. Oh iya ngomong-ngomong mau makan dimana kita siang ini” Tanya Pak Pur kembali
“Bagaimana kalau di Restauran warna ungu di ujung sebelah kiri itu saja.”
“Baiklah. Ayo kita ke kesana”
Akhirnya mereka menuju ke Restoran yang sudah disepakati tersebut. Setelah menemukan tempat duduk yang nyaman untuk makan Pak Pur memanggil pelayan untuk memesan masing-masing makanan yang ingin mereka makan.
“Kak pesan nasi goreng seafood 1, mie goreng ayam 1, Chicken Katsu pedas 1, dan Chiken blackpaper 1.” Ujar Pak Pur kepada sang Pelayan Restoran.
“Baik pak saya catat ya. Untuk minumannya bapak mau pesan apa?” Tanya sang Pelayan
“Heemmm,, minumannya apa yah. Kalian minuman nya mau apa ?” Tanya Pak Pur epada teman-temannya
“Es teh manis aja deh.” Jawab mereka bertiga secara serempak dan hampir bersamaan.
“Okeh baik, apa ada lagi tambahannya pak.” Sang pelayan kembali bertanya seraya mencatat pesanan yang tadi sudah dipesan.
“Sudah itu saja cukup, nanti kalau ada tambahan lagi biar saya panggil kakak nya lagi. Jawab pak Pur.
“Okeh baik pak, segera saya siapkan pesanan bapak ya, mohon ditunggu. Terimakasih.” Jawabsang pelayan sambil membawa catatan pesanan dan meminta pihak bagian dapur untuk menyiapkan semua itu. Tak berselang lama makanan sudah siap disajikan dan diantar ke meja sang pemesan.
“Silahkan pak ini pesanan nya semua ya” Sambil menyimpan semua makanan di atas meja hidangan.
“Nasi goreng seafood 1, mie goreng ayam 1, Chicken Katsu pedas 1, dan Chiken blackpaper 1, dan es teh 4. Pesanan nya sudah lengkap semua ya pak.” Ujar sang pelayan sambil memeriksa kembali apakah ada yang kurang atau tidak.
“Baik makasih yah kak, pesanan nya sudah lengkap semua kok.” Jawap Pak Pur
“Sama-sama pak, silahkan menikmati hidangan kami.”
Mereka makan dengan sangat menikmati, tidak ada satupun yang membicarakan tentang pekerjaan karena prinsip mereka kalau sudah ada hidangan di meja makan pantang sekali untuk membicarakan pekerjaan karena akan membuat kenikmatan menjadi berkurang.
Kebetulan Pak Pur menghabskan makanan nya lebih dulu dari pada yang lainnya karena memang memiliki rencana lain yaitu balik ke toko sepatu tadi. Setelah Pak Pur sudah selesai dan membayar makanan miliknya, Dia pun berpamitan untuk meninggalkan tempat makan itu lebih dulu dan menuju ke toko tadi.
Perlahan berjalan masuk ke dalam toko dan melihat-lihat isi nya. Untuk beberapakali dia hanya membolak-balik kan label harga, memegang dan mengelus sepatu yang ada disitu. Setelah melihat label harga dia menyimpan kembali sepatu yang di pegangnya tersebut dan beralih ke melihat-lihat sepatu yang lainnya dan ternyata sikap dari Pak Pur ini di awasi oleh pelayan toko tersebut dan pelayan toko itu mendatangi Pak Pur seraya bertanya,
“Permisi pak, mau cari apa.” Tanya pelayan toko.
“Saya masih lihat-lihat dahulu, belum ada yang cocok.” Jawab Pak Pur singkat.
“Baik pak, apakah untuk keperluan kantor atau casual sehari-hari ya pak, biar saya rekomendasikan yang bagus tapi harga yang terjangkau.”
Dengar pernyataan sang pelayan membuat Pak Pur agak sedikit merasa tidak nyaman, kemudian meninggalkan sang pelayan menuju ke tempat lainnya. Setelah berjalan sedikit mengitari beberapa barang akhir nya dia tertuju dengan satu model sepatu yang sangat bagus dan terlihat mahal. Tanpa berfikir lama Pak Pur mulai menghampiri sepatu tersebut dan melihat dari dekat model, warna dan segala sesuatu yang unik dari sepatu tersebut, kemudian hendak memanggil pelayan namun belum sempat memanggilnya lagi-lagi Pak Pur mendapatkan tindakan diskriminatif dari pelayan yang lainnya di toko tersebut.
“Maaf pak, untuk sepatu ini harga nya sangat mahal. Mungkin saya ada rekomendasi harga yang lebih terjangkau namun model dan kualitas tidak kalah dari yang bapak pegang.” Memang suara yang di keluarkan lembut dan manis namun makna yang terdapat dalam arti dari ucapan tersebut menyiratkan bahwa Pak Pur tidak mampu untuk membeli sepatu yang terbuat dari kulit buaya tersebut.
“Tapi yang saya inginkan sepatu ini, saya bukan ingin menanyakan model dan bahan lain, tapi yang saya ingin tanyakan adalah apakah ada ukuran lain dari model sepatu ini.” Jawab Pak Pur dengan nada agak sedikit kesal karena dia tau bahwa dirinya sedang di perlakukan tidak sesuai dengan keinginannya.
“Maaf pak sekali lagi, sebenarnya ada pak, tapi alangkah lebih baiknya apabila bapak melihat-lihat koleksi dari toko kami yang lainnya yang lebih terjangkau namun kualitas juga melebihi dari yang bapak lihat sekarang.” Kata si pelayan itu lagi.
“Kamu benar-benar membuat saya tidak nyaman. Apa kamu kira saya masuk ke toko ini hanya sekedar untuk melihat-lihat saja, apa kamu kira saya tidak mampu untuk membeli barang karena saya hanya melihat label harga kemudian saya menaruh nya kembali. Saya mendengar beberapa kali anda menyebutkan harga yang lebih terjangkau, saya tau banyak harga yang lebih terjangkau dan kualitas juga tidak kalah bagus, namun yang saya inginkan adalah sepatu dari kulit buaya yang saya pegang ini. Apakah anda merendahkan saya !” Dan saat itu Pak Pur benar-benar tidak bisa menahan lagi amarah yang sedari tadi dipendamnya dikarenakan perilaku dan sikap pelayan toko yang sedikit arogan.
“Maaf pak, bukan begitu maksut kami, tapiii....” Belum sempat si pelayan melanjutkan kata-kata nya Pak Pur dengan tegas nya meminta atasan dari toko tersebut keluar dan menemui nya agar memberikan keterangan apa yang sudah di lakukan oleh pelayan toko tersebut mebuat suasana hati Pak Pur sangat tidak nyaman
“Panggilkan bos kamu sekarang juga, Saya ingin berbicara kepada nya atau saya bisa proses pelayanan di toko ini sangatlah tidak baik karena dianggap merendahkan pelanggan.” Suruh Pak Pur dengan tegas nya yang sebenarnya itu hanya sebuah gertakan agar bisa berbicara langsung dengan atasan disitu.
Semua pada kebingungan, karena tidak ada satu orang pun berani memanggil Manager di toko tersebut, karena bisa habislah riwayat mereka disitu sebagai karyawan, namun tak berselang lama tanpa terduga keluarlah seorang gadis muda berpenampilan sangat cantik jelita nan menarik serta wangi dan anggun sekali, berpakaian sangat sopan namun tidak mengurangi ke anggunan dari sosok wanita tersebut.
“Kenalkan, Saya Maya manager serta penanggung jawab dari toko ini. Kebetulan saya mendengar ada sedikit kesalah fahaman yang terjadi di luar, sehingga saya berinisiatif untuk menemui bapak sebagai bentuk rasa tanggung jawab saya.” Dengan suara yang sangat lebut elegan namun tegas dan berwibawa sambil mengulurkan tangan salam perkenalan kepada bapak Purwanto.
Sekilas ada rasa kagum kepada Maya sang manager toko yang memang pada saat itu masih single , namun dia langsung kembali lagi ke inti permaslahan yang telah terjadi.
“Jadi gini Bu Maya kenalkan Saya Purwanto, Saya ingin membeli sepatu kulit buaya warna hitam ini namun di karenakan sedari tadi saya hanya melihat label harga kemudian menyimpannya kembali membuat para pelayan toko ini berfikir kalau saya tidak mampu dikarenakan harga barang yang ada disini terlalu mahal maka dari itu mereka merekomendasikan harga yang lebih terjangkau sedangkan saya sudah sangat suka dan jatuh hati kepada barang ini.” Ucap Pak Pur menjelaskan semua kronologi yang terjadi
Sedikit terkejut mendengar apa yang di ceritakan oleh costumernya membuat Bu Maya otomatis menanyakan apakah benar yang terjadi seperti itu kepada karyawannya, “Apakah benar seperti yang tadi Bapak Purwanto ucapkan?” Tanya Bu maya ke karyawan yang ada disitu.
“Benar bu, tapi...” Lagi-lagi kata-kata dari karwan nya tidak bisa dilanjutkan karena menurutnya penjelasan itu saja sudah cukup untuk mengharuskan Bu Maya meminta maaf kepada costumer yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan karyawannya tersebut.
“Baik Pak, Saya atas nama pribadi beserta seluruh staff karyawan disini meminta maaf dengan setulus hati atas apa yang sudah bapak terima, dengan itu biarkan saya memberikan beberapa penawaran kompensasi atas kelalaian yang sudah kami perbuat kepada bapak, mari ikut saya ke ruangan di dalam sana pak, saya akan berikan berbagai harga spesial untuk bapak serta gift yang bisa bapak dapatkan secara free.”
Tatapan yang lembut, elegan , penuh rasa percaya diri dan paras yang tidak kalah menarik benar-benar membuat Pak Pur terkesima dengan sikap dan kepribadian Bu Maya. Seperti ada yang tersambar di dalam hati nya. Apakah Pak Pur jatuh cinta pada pandangan pertama, seperti nya iyaa..