“Silahkan duduk pak, ini beberapa katalog barang bagus berkualitas milik kami. Kami berikan potongan harga hingga 25% khusus untuk Bapak Purwanto karena kesalahan yang kami telah perbuat tadi. Dan ini kami juga menyediakan free minum sembari bersantai untuk melihat-lihat barang apa yang akan dibeli. Nanti setelah selesai boleh panggil kami menggunakan tombol yang sudah disedikan ya pak, kami akan datang untuk kembali melayani anda. Terimakasih.” Ungkap Bu Maya kepada Pak Pur
“Baiklah , terimakasih banyak. Sebenarnya saya tidak butuh dengan harga spesial yang ditawarkan oleh Bu Maya karena memang yang saya butuhkan hanya permintaan maaf dari karyawan Bu Maya tadi ?’ Tutur Pak Pur kembali.
“Saya selaku penanggung jawab memang sudah seharusnya memberikan harga spesial ini Pak , tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun izinkan kami menebus kesalah dengan cara seperti ini dan saya pribadi juga sudah mewakilkan untuk meminta maaf kepada bapak, jadi tolong jangan diperpanjang lagi. Sekali lagi maafkan kesalahan karyawan saya ya pak.” Jawab Bu Maya
“Oh begitu yaa. Baiklah, kalau begitu dapatkah saya meminta tolong ibu Maya untuk memilihkan sepatu wanita yang paling bagus dan rekomended di sini. Saya ingin memberikannya kepada seorang wanita yang sangat baik hati yang benar-benar membuat hati saya luluh dan terpesona. Jadi saya harus memberikan sesuatu yang sangat spesial untuknya.” Minta Pak Pur.
“Baik, saya punya satu rekomendasi sepatu wanita yang sangat bagus, nanti saya akan minta karyawan saya mengambilkan nya kesini. Kalau butuh yang lain silahkan hubungi kami lagi ya pak.” Jawab Bu Maya.
“Maaf Bu Maya, saya hanya meminta dua itu saja, satu produk sepatu yang sangat bagus disini dan yang satu lagi sepatu yang tadi saya minta tolong carikan yang ukuran kaki 42 ya. Itu saja. Oh iya dan bolehkah saya meminta Bu Maya untuk tetap disini dan yang memberikan pelayanan terhadap saya?”
“Sebenarnya saya masih sangat banyak yang harus diselesaikan, namun baiklah saya akan tetap disini dan membawakan langsung apa yang bapak minta. Tunggu sebentar ya pak.” Jawab Bu Maya yang sebenarnya agak kesal namun tetap dijawab dengan sopan.
“Mitaa, tolong ambilkan barang F57 ukuran 42 dan C52 ya ke dalam ruangan, saya tunggu sekarang.” Perintah Bu Maya kepada karyawannya di balik HT yang di pegangnya.
“Siap monitor, segera saya ambil dan bawa ke ruangan.” Jawab Mita
Tidak butuh waktu lama Mita membawakan barang yang diminta oleh Bu Maya, Dua pasang sepatu terlihat di pegang menggunakan sarung tangan putih. Sangat hati-hati sekali Mita membawa nya karena itu memang barang yang sangat bagus dan mahal.
“Silahkan, ini yang Bu Maya minta. Biar untuk lebih lanjutnya saya handle semuanya karena memang ini sudah menjadi tugas saya.” Seraya menyerahkan sepatu yang sudah dipegangnya.
“Tidak apa-apa, biar saya saja yang melayani pembelian costumer kali ini memang karena permintaan dari client nya. Nanti saya akan panggil kamu lagi apabila membutuhkan hal yang lain. Kamu boleh balik ke store.” Ujar Bu Maya.
“Baik bu, laksanakan.” Singkat jelas dan padat mengerti apa yang di ucapkan oleh atasannya Mita pun kembali ke store.
Setelah terdapat dua pasang sepatu yang di minta tentu nya Pak Pur mengecek terlebih dahulu isi dari barang tersebut, melihat-lihat nya dengan sangat teliti, kemudian tidak lupa mencoba nya agar ukuran yang di pakainya itu pas di kaki .
“Saya rasa untuk sepatu F57 ini sudah sangat cocok dengan saya, saya akan ambil ini satu, tapi saya bingung untuk yang ukuran C52 ini apakah cocok dan muat dengan wanita yang akan saya berikan nantinya. Bolehkan saya meminta tolong untuk Bu Maya mencoba nya. Saya rasa wanita ini sama dengan ukuran kaki Bu Maya.” Pinta Pak Pur.
Yah meskipun sangan berat hati namun demi kenyamanan costumer dan lagi tidak ada unsur pelecehan atau apapun memang sudah seharusnya dilayani dengan sangat baik mengingat kesalahan yang sudah di perbuat oleh oknum dari karyawannya.
“Baiklah saya akan coba.” Jawab Bu Maya dengan singkat yang kali ini sudah mulai mengurangi rasa basa-basi yang di berikannya.
Setelah sepatu itu dicoba “sriiiing...” Tampak terlihat sangat indah di pakai oleh Bu Maya. Seketika Pak Pur terpesona melihat ukuran sepatu dan model sepatu yang sangat cocokseakan memang sepatu itu sangat cocok di gunakan oleh Bu Maya.
“Sangat indah sekali. Sangat cocok di pakai Bu Maya. Baik saya ambil ini juga satu, dan untuk sepatu ini saya minta dengan hormat tidak menggunakan free kompensasi yang anda berikan. Karena sepatu ini saya akan berikan kepada Bu Maya. Saya sangat berterimakasih dengan segala pelayanan yang mengesankan di toko ini. Karena anda , saya jadi benar-benar akan kembali dan merekomendasikan toko ini apabila ingin membeli sepatu lagi nantinya.” Ujar Pak Pur dengan sangat sopan.
Bu Maya yang emang pada dasarnya independent girl tentu menolak secara halus apa yang akan di berikan oleh Pak Purwanto. “Maaf Pak, bukannya saya menolak, tapi ini memang sudah tugas saya sebagai penanggung jawab memberikan pelayanan terbaik agar para costumer kembali membeli produk kita dan puas dengan pelayanan kami.”
“Tanpa mengurangi rasa hormat saya tidak bermaksut apapun, anggap saja ini tip dari saya karna Bu Maya sudah sangat baik kepada saya. Benar-benar tidak bermaksut apapun.”Balas Pak Pur
Tapi sekali lagi Bu Maya menolak apa yang hendak diberikan kepadanya. “Maaf sekali lagi Pak Pur , saya harus menolak pemberian bapak, karena saya memang menjalankan profesionalitas dalam bekerja. Saya sangat tersanjung dengan apayang bapak lakukan, tapi maaf saya tidak bisa menerima itu.”
“Baik kalau begitu, saya tetap ambil sepatu ini. Saya akan simpan sebagai kenang-kenang an untuk pertemuan awal kita. Dan saya berharap kita bisa ketemu di lain kesempatan.” Jawab Pak Pur dengan sedikit nada kecewa tapi berlapang d**a.
Setelah transaksi selesai dan semua sudah siap untuk dibawa pulang Pak Pur pun berpamitan dengan Bu Maya. “ Ini kartu nama saya, kalau butuh sesuatu atau apapun silahkan hubungi saya. Sekali lagi terimakasih banyak.”
“Sama-sama Bapak Purwanto, dengan senang hati.”Jawab Bu Maya seraya mengantar keluar ruangan yang memang di khususkan bagi costumer yang akan melakukan transaksi pembelian di toko itu.
Pak Pur terdiam sesaat memandangi sepatu wanita yang dia beli. Senang bahagia namun juga sedih karena takut ada harapan lebih kepada wanita itu. Apakah dia sudah milik yang lain, apakah dia single mother, atau dia memang memutuskan untuk menjadi independent women selamanya. Ah ntahlah, bingung harus terus maju atau berhenti sampai situ. Belum sempat memutuskan tiba-tiba saja ada suara yang membuyarkan lamunannya.
“Hei bre, ngapain disini sendirian, pake melamun segala lagi. Udah selesai beli sepatunya, banyak amat sampe beli dua, bukannya lu orang ga terlalu suka sama sepatu yah.”
“Iya nih banyak amat beli nya. Biasanya beli satu di pake sampe buluk, kalo ga buluk ga beli lagi, lah ini beli banyak amat sampe dua.”
“Eh tapi bentar-bentar, itu yang satu nya kok kecil sih, emang punya siapa, waahhh lu ga bilang yah, lu punya crush yaa.Cerita dong sama kita-kita orang.
Yaahhh begitulah candaan yang keluar dari mulut mereka yang ternyata itu semua adalah teman-teman dari Pak Pur. Mereka memang sudah sangat akrab sehingga apabila ada sedikit candaan tidak membuat tersinggung satu sama lainnya.
“Ah apaan sih brisik lu pada. Panjang lah ceritanya. Yuk lah kita jalan balik kantor, masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan.” Jawab Pak Pur denan nada sedikit bercanda juga
Di pejalanan Pak Pur memikirkan lagi apa yang harus dia lakukan. Ingin rasanya mundur saja, tapi andaikan mundur tidak ada sama sekali kesempatan ntuk memilikinya. Akhirnya Pak Pur memutuskan untuk melanjutkan perjuangan nya untuk mengenal lebih dalam siapa itu Bu Maya.
“Baiklah, akan saya lanjutkan” Ujar Pak Pur secara tiba-tiba.
Mendengar ucapan itu teman-temannya pada kaget, karena pada saat itu tidak ada satupun yang sedang berbicara, “Apa bre, kamu ngomong sama siapa” Tanya saiful
Sadar akan semua nya Pak Pur hanya tersenyum tipis dan tertawa kecil dengan tidak menjawab apaun, teman-temannya yang merasa heran juga membiarkan itu terjadi, karena memang terkadang Purwanto berlaku aneh apabila ada hal yang sedang dipikirkannya.
Hari berganti petang, sudah saatnya pulang. Riuh para karyawan kantor berkemas untuk pulang,ada yang mematikan laptop, ada yang merapikan berkas, ada yang sudah ngacir ilang ntah kemana karena buru-buru pulang. Wajar saja mereka memang penat setelah seharian bekerja. Tidak ketinggalan juga Pak Pur yang sedang berkemas mempersiapkan barang yang akan di bawa untuk cabut dari kantor karena memang kerjaan pada hari itu sudah selesai, termasuk barang yang dibeli tadi di Mall. Tapi untuk kali ini Pak Pur tidak ingin langsung pulang ke rumah melainkan ke suatu tempat terlebih dahulu yaitu ke tempat Bu Maya bekerja. Setelah sesampai nya di Mall tadi tempat mereka bertemu, Pak Pur mampir di toko bunga untuk membeli seikat bunga merah yang sangat indah dan menuliskan suatu pesan yang ada didalamnya. Setelah selesai kemudian dengan perasaan campur aduk dia memberanikan diri untuk menyeret langkahnya menuju tempat itu yang tanpa dia sadari tinggal selangkah lagi sudah memasuki toko sepatu tempat Bu Maya bekerja. Sempat terhenti sejenak untuk menarik nafas panjang dan mengumpulkan segala rasa percaya dirinya kemudian berjalan dengan badan yang tegak berwibawa dan penuh rasa percaya diri.
“Permisi, Bu Maya ada.”Tanya Pak Pur dengan sopan
“Wah kebetulan Bu Maya sedang sholat Pak, ada yang bisa saya bantu.” Jawab costumer service yang memang kebetulan tidak mengenali Pak Pur dikarenakan dia masuk shift kedua sehingga waktu ada kejadian tadi siang dia belum datang dan tidak mengetahui nya.
“Oh baik kalau begitu, saya titip bunga ini saja untuk Bu Maya, dan tolong sampaikan juga baca pesan yang ada didalamnya. Terimakasih banyak.” Pinta Pak Pur yang kemudian meninggalkan toko tersebut dan melanjutkan perjalanan yang akan pulang.
Beberapa menit kemudian Bu Maya terlihat berjalan dari mushola Mall balik menuju tokonya. Dia terlihat bingung kenapa ada rangkaian bunga besar sekali tersimpan dimeja costumer service, siapa yang memesannya lagian kenapa tidak di bawa kedalam juga karena di takutkan bisa mengganggu kenyamanan para costumer yang akan membeli produk disitu. Sampailah dia ke dalam dan langsung menghampiri syifa sang costumer service yang sedang berjaga, namun belum sempat Bu Maya menanyakan apapun langsung saja Syifa mengatakan pesan apa yang tadi sudah di sampaikan oleh Pak Purwanto.
“Maaf Bu Maya, ini ada bunga titipan dari laki-laki sekitar berumur 29 tahunan untuk Bu Maya. Oh iya dan dia juga berpesan untuk Bu Maya membaca pesan yang dia tuliskan didalamnya.” Ucap Syifa kepada atasannya.
“Hah, apa buat saya, dari siapa apa dia tidak menyebutkan namanya?” Tanya Bu Maya dengan rasa yang amat penasaran.
“Tidak bu , dia hanya menitipkan pesan itu saja kemudian pergi begitu saja.”Jawab syifa lagi
“Oh okeh baiklah, terimakasih banyak ya syifa, saya akan bawa amasuk bunga ini. Kembali bekerja dengan semangat ya, jangan lupa perhatikan penampilan dan tetaplah ramah, saya mau masuk dulu.” Jawab Bu Maya seraya mengambil bunga itu kemudian masuk ke dalam ruangan tempat dia bekerja.
“Baik Bu terimaksih atas perhatiannya.” Jawab Syifa dengan cepat.
Sesampainya di dalam ruangan dia sangat penasaran dengan isi pesan yang dituliskan oleh lelaki itu, kemudian sesegera mungkin Maya membuka amplop merah muda yang sangat wangi yang pesannya “ Hai Maya. Wanita sopan penuh tanggung jawab yang sangat anggun dan berkharisma, aku sangat terpesona pertama kali melihatmu. Kau berjalan menuju ke arah ku, seperti bidadari yang bersinar yang keluar dari syurga menyambutku dengan penuh suka cita. Maaf kalau cara ku salah, tapi maukah kamu bertemu dengan ku lagi. Its a date. Kalau iya saya tunggu kamu hari Minggu di Cafe dessert ujung jalan itu jam 10.30 pagi. Aku akan tunggu kamu disana. Aku berharap kamu mau menemui ku karena cuma kamu satu-satunya waita yang bisa membuatku terpesona dan tak berhenti untuk memikirkanmu. Dari penganggum rahasia mu.”
Seketika Bu Maya tau pesan dari siapa itu. Di biarkannya saja bunga itu ada di dalam kantornya , namun sedikit membuat hatinya bimbang karena memang baru kali ini ada orang yang benar-benar berani melakukan treat seperti itu pada dirinya karena sebelum-sebelumnya mereka langsung mundur karena ketidak percayaan diri pada diri mereka, apalagi memang sebenarnya dari awal Bu Maya merasa Pak Purwanto merupakan sosok lelaki yang berkharismatik.
Hari demi hari , malam berganti pagi , pagi berganti malam , jarum jam terus berputar dan sampailah dimana Minggu yang di janjikan itu tiba. Dan sampai saat itupun Pak Purwanto tidak menerima telefon atau pun pesan dari Bu Maya. Pak Purwanto agak sedikit ragu apakah dia benar harus menepati janjinya atau mebatalkan saj karena tidak ada 1 pesan pun yang menandakan Maya akan datang. Tapi hati kecil nya berkata lain, bagaimana apabila ternyata Bu Maya datang dan ternyata dia yang tidak ada disitu. Ah sudahlah, akhirnya Pak Pur memutuskan untuk tetap datang wakau dia tidak berharap apaun. Anggap saja itu hanya melepas penat sambil meminum segelas kopi yang memang terkenal enak di coffe shop tersebut.
Kurang dari jam 10.30 Pak Pur sudah sampai di tempat kemudian memesan kopi yang di rekomendasikan oleh sang barista dan duduk di tempat yang menurutnya adalah tempat yang sangat baik untuk perbincangan dua sejoli yang baru berkenalan dan sedang jatuh cinta. Awal-awalnya sih Pak Pur masih setia menunggu karena memang belum waktu nya dia datang namun setelah tunggu punya tunggu, detik demi detik, menit demi menit , sejam serasa sewindu tak kunjung terlihat juga tanda-tanda kedatangannya. Pak Pur melirik jam yang ada di tangannya ang ternyata sudah menunjukkan pukul 13.15 . Ternyata dia sudah menunggu dua setengah jam. Dia merasa betapa bodohnya menunggu sesuatu yang tak pasti, tapi hati kecilnya tetap berkata “Maya pati akan datang. Dia adalah wanita yang bertanggung jawab. Ayolah jangan buat pandangan ku terhadap mu menjadi beda yang membuat kecewa nantinya, pliis datang lah Maya, temui aku, jangan buat aku kecewa dan sedih mengetahui bahwa kamu tidak berbeda dari dari wanita kebanyakan.”
Namun laki-laki tetap lah lelaki yang selalu menggunakan akal sehat nya dari pada hatinya, sesaat dia melepaskan rasa sedihnya itu dia mulai bersiap mengemas semua dan bergegas untuk pulang. Merapikan handphone , dan beberapa barang kecil yang ada di atas meja tersebut kedalam tas kemudia menghela nafas panjang sembari berbisik kediri sedniri, “Baiklah Maya, sudah selesai aku nunggu kamu. Kalau kamu memang tidak mau menemui ku, aku ikhlas, biarkan rasa ini menjadi kenangan tersendiri saja untuk ku.” Sesaat setelah itu dia membalikkan badan hendak meninggalkan meja kemudian tanpa terduga ada seorang wanita yang memanggilnya dengan suara sapaan lembut dan indah.
“Terimakasih sudah bersedia menunggu ku selama ini, meski aku tidak sedikitpun merespon mu tapi kamu memiliki keyakinan pada diriku bahwa aku wanita yang memang ppantas dan patut untuk di perjuangkan.”
Yahh suara itu adalah Bu Maya, Maya datang. Ternyata dia datang. Seketika itu juga Purwanto berbalik badan dengan rasa haru, dia tidak menyangka bahwa Bu Maya akan datang. Terdiam sejenak namun Pak Pur langsung tersadar dari lamunannya berjalan menuju kursi Bu Maya kemudian mempersilahkan wanitanya untuk duduk. Sekali lagi ini rasanya seperti mimpi, iya mimpi disiang bolong.