Kopi racikan Fina habis tiga puluh menit sebelum jam empat, dan toko tutup lebih cepat seperti setiap Sabtu. Pita sudah membalik papan Buka menjadi Tutup sambil bersenandung ketika ia melihat Fina melepas celemek dan menggantungnya di paku.
"Mbak Fin mau ke mana? Belum nyapu."
"Ke rumah sakit sebentar, Ta. Ada yang perlu kubicarakan dengan dokter."
Pita mengerutkan dahi, lalu menoleh ke mesin kopi. Revan berdiri di sana dengan lap di tangan, mengelap cangkir yang sudah kering sambil pura-pura sibuk. Ia melepas dasi sejak pagi dan lengan kemejanya tergulung dengan cara yang terlalu rapi untuk orang yang baru belajar menyeduh.
"Bos Revan ikut?"
"Bos Revan menunggu di sini," kata Fina.
"Aku bantu Pita menyapu," tambah Revan.
"Jenengan nyapu?" Pita membelalak. "Wah, Mbak, itu tanda kiamat."
Fina menahan tawa, dan tawa yang tertahan itu ternyata cukup untuk menyalakan sesuatu yang hangat di dadanya. Revan menyodorkan termos kecil berisi teh hijau yang ia seduh sendiri tadi siang. Ia tidak bertanya. Fina menerimanya, dan menyadari bahwa pria itu ingin sekali bertanya. Ia berterima kasih dalam hati atas pertanyaan yang tidak diajukan.
Tiga hari ia memikirkan satu kalimat untuk Iqbal. Setiap kali kalimatnya sama, dan setiap kali ia tidak yakin kalimat itu cukup.
•||•
Taman rumah sakit tidak besar. Dua bangku besi menghadap kolam kecil berisi ikan koi yang bergerak malas, dan sebatang pohon mangga menjatuhkan bayangan panjang di rumput. Suster Citra duduk jauh di dekat pintu kaca, memegang map dan jelas tidak membacanya.
Iqbal berdiri ketika Fina datang. Ia tidak memakai jas putih, hanya kemeja biru muda dengan lengan tergulung, dan tampak seperti orang yang belum tidur dengan benar.
"Terima kasih sudah datang, Fin."
"Sepuluh menit, kan?"
"Sepuluh menit." Ia menunjuk suster Citra dengan dagu. "Aku minta Citra menunggu di pintu. Bukan untuk mengawasimu. Supaya tidak ada yang bisa bilang apa pun tentang kamu."
Fina duduk di ujung bangku. Iqbal duduk di ujung lainnya, dengan jarak satu orang di antara mereka. Beberapa detik ia memandangi kolam.
"Aku mulai dari yang paling sulit supaya tidak kehilangan keberanian." Suaranya rendah. "Sembilan tahun lalu, malam hujan, di jalan depan rumah berpagar rendah dan berlantai satu, ada seorang perempuan duduk di tanah memegangi perutnya. Aku baru pulang dari rumah sakit. Mobilku Pajero hitam."
Fina tidak bergerak.
"Aku yang mengangkatnya ke mobil. Jaket abu-abu. Aku yang bilang, tarik napas, Bu, sebentar lagi sampai." Iqbal menelan ludah. "Di pendaftaran, petugas tanya hubunganku dengan pasien. Aku jawab suami, supaya perempuan itu tidak ditolak karena tidak ada keluarga. Mereka menulis ny. Iqbal Ardian. Aku tidak pernah meralatnya."
Fina menggenggam tasnya di pangkuan. Selama sembilan tahun ia hanya ingat bayangan jaket abu-abu, satu suara yang menyuruhnya bernapas, dan nama asing di kertas pendaftaran yang ia kira salah tulis. Ia tidak pernah tahu siapa orang itu. Ia bahkan tidak sempat berterima kasih.
"Sejak kapan kamu tahu itu aku?"
"Sejak hari pertama kamu duduk di kursi pasienku." Iqbal tersenyum tipis tanpa tawa. "Wajahmu tidak mungkin kulupa. Aku tidak berani bilang, karena kamu tidak mengenaliku, dan aku takut kamu mengira aku mengambil kamu sebagai pasien dengan niat lain."
"Kenapa sekarang?"
"Karena ada satu hal lagi." Iqbal menegakkan tubuh dan menatapnya langsung. "Aku jatuh cinta sama kamu, Fin. Aku tidak minta apa-apa. Aku tahu kamu punya suami, dan aku tahu siapa yang sedang kamu percaya. Aku hanya tidak mau pura-pura lagi. Aku capek berlagak dokter yang netral setiap kamu duduk di depanku."
Angin menggoyang daun mangga. Seekor ikan koi muncul ke permukaan lalu menghilang. Fina menunggu dirinya sendiri terkejut, tetapi yang ia rasakan justru lelah dan iba, dan di bawah keduanya sesuatu yang bersih: rasa terima kasih.
Ia ingat percakapan di Bandung, ketika Iqbal bercerita tentang ibunya dan Fina tertawa lepas setelah berminggu-minggu. Hari itu ia mengira itu hanya keramahan seorang dokter. Hari itu pula Revan menarik lengannya masuk mobil. Dua hal yang dulu ia pisahkan kini bertemu di satu bangku, dan ia merasa tidak sanggup berbohong kepada salah satunya.
"Di," katanya pelan, "Langga lahir selamat karena kamu. Kalau malam itu kamu tidak berhenti, aku tidak tahu apa yang terjadi pada kami berdua. Aku berutang itu seumur hidup, dan aku berterima kasih dari sini." Ia menepuk dadanya sekali. "Aku bersyukur Tuhan menaruh kamu di jalan itu, lalu menaruh kamu lagi di ruang praktik itu."
Iqbal menunduk. Jarinya sudah mulai gemetar, dan ia menyilangkan tangan untuk menyembunyikannya.
"Tapi aku tidak bisa memberimu lebih dari itu," lanjut Fina. Ia memilih tiap kata. "Hatiku sedang kupercayakan pelan-pelan kepada suamiku, Di. Belum selesai, dan belum tentu aman. Tapi aku sudah memutuskan menitipkannya ke sana, dan aku tidak mau menarik sebagian untuk dititipkan di tempat lain. Itu tidak adil buatmu, dan tidak adil buat Mas Revan. Aku tidak bisa memberimu lebih dari terima kasih."
"Aku tahu." Iqbal mengangkat wajah, matanya berkaca tetapi suaranya tidak pecah. "Aku sudah tahu jawabannya sebelum bertanya. Aku hanya perlu mengatakannya sekali, supaya tidak jadi racun yang ikut masuk ke ruang praktik."
"Kamu tidak perlu minta maaf."
"Aku minta maaf." Ia tersenyum getir. "Karena kamu pasienku, dan pengakuan ini membebanimu. Jadi aku sudah mengambil keputusan." Ia berbicara lebih cepat, seperti orang yang menghafal. "Operasimu kuserahkan sepenuhnya kepada dr. Hendra, ahli bedah urologi terbaik yang kukenal. Namanya sudah sering kusebut supaya kamu terbiasa. Kemo tetap aku yang mengawal, karena aku paling paham riwayatmu, dengan suster Citra selalu di ruangan. Selalu. Kalau kamu lebih nyaman pindah dokter, aku tulis rujukannya malam ini."
"Aku tidak mau pindah," kata Fina. "Aku percaya kamu bekerja dengan jujur. Itu yang kuminta, Di. Hanya itu."
"Itu yang akan kamu dapat."
Mereka diam sebentar. Dari pintu kaca, suster Citra mengangkat mapnya sedikit, tanda waktu hampir habis. Iqbal berdiri lebih dulu. Ia tidak mengulurkan tangan, dan Fina berterima kasih untuk itu.
"Satu lagi," katanya. "Kalau kamu ingin hal ini tinggal di taman ini saja, aku mengerti. Aku tidak akan menyinggungnya lagi, di ruang praktik atau di mana pun."
Fina ikut berdiri. Gamisnya tersangkut sedikit di tepi bangku, dan ia melepaskannya dengan tenang. Ia teringat Revan di pintu toko tadi, yang menyodorkan termos tanpa satu pun pertanyaan, menahan semuanya demi kepercayaan yang baru ia tumbuhkan. Ia tidak mau membalas kepercayaan itu dengan rahasia.
"Tidak ada rahasia lagi, Di," katanya. "Aku akan cerita sendiri ke Mas Revan."