Semalam Fina pulang dari rumah sakit dengan wajah orang yang menahan sesuatu di balik gigi, lalu hanya berkata, "Besok pagi aku cerita, Mas. Setelah subuh. Aku capek." Revan tidak mendesak. Ia mencuci cangkir termos yang kosong, menatap langit-langit sampai lewat tengah malam, dan menahan semua kemungkinan yang berputar di kepalanya.
Pagi ini mereka duduk di teras belakang. Langit baru terang, dan rumput masih basah. Dua gelas teh hijau mengepul di meja rotan, satu belum disentuh. Langga dan Bima masih tidur di kamar masing-masing, dan dari dapur terdengar Mbak Marni mengocok telur.
"Mas siap?" tanya Fina.
"Aku siap."
Fina menceritakan semuanya dengan suara datar yang rapi, seperti orang membaca laporan yang sudah ia hafal. Taman rumah sakit. Bangku besi. Jarak satu orang. Malam hujan sembilan tahun lalu, jaket abu-abu, Pajero hitam, dan nama ny. Iqbal Ardian di kertas pendaftaran. Revan mendengar bagian itu dengan tangan yang diam-diam mencengkeram lutut.
"Lalu dia bilang," Fina berhenti sedikit, "dia jatuh cinta padaku."
Revan berdiri.
Ia tidak sengaja. Kakinya yang berdiri lebih dulu, tubuhnya menyusul. Ia berjalan ke ujung teras, memegang tiang, lalu berbalik, berjalan lagi sampai ke tangga, dan duduk kembali di kursi rotan dengan rahang mengeras. Dua kali ia membuka mulut, dua kali menutupnya.
Cemburu itu mentah dan kasar. Ia mengenalnya dari Bandung, dari mobil yang ia banting pintunya, dari ciuman yang tidak pantas ia lakukan setelahnya. Dulu ia menyebutnya cinta. Sekarang ia tahu itu bukan.
"Dia menyentuhmu?" tanyanya akhirnya, lebih serak dari yang ia rencanakan.
"Tidak. Dia duduk di ujung bangku. Suster Citra menunggu di pintu. Dia sendiri yang minta."
"Dia bilang apa lagi?"
"Dia tidak minta apa-apa. Dia minta maaf. Operasiku diserahkan ke dokter Hendra, dan kemo tetap dia yang awasi dengan perawat selalu di ruangan." Fina menunduk menatap gelasnya. "Jawabanku sama seperti yang sudah kukatakan padanya: aku tidak bisa memberinya lebih dari terima kasih."
Revan menunggu kalimat berikutnya, tetapi Fina hanya mengangkat wajah dan menatapnya lurus.
"Aku cerita bukan supaya Mas bertindak. Aku cerita karena kemarin Mas menahan semua pertanyaan di toko, dan aku tidak mau membalasnya dengan satu rahasia pun. Itu saja."
Revan memandang gelas di depannya. Sembilan tahun lalu, malam hujan. Fina di tanah, perutnya sakit, dan ponselnya berdering di meja kerja Revan yang tidak ia angkat. Orang yang akhirnya mengangkat Fina bukan dia. Ia menarik napas panjang sampai dadanya perih.
"Terima kasih sudah bilang." Suaranya turun. "Aku tidak berhak marah, Fin. Aku yang tidak mengangkat telepon itu. Kalau ada orang yang pantas dicintai karena menolongmu malam itu, ya, itu bukan aku."
"Mas boleh kesal."
"Aku kesal. Dan aku tahu kekesalan itu tidak punya alamat yang benar." Ia mencoba tersenyum, dan senyum itu tidak jadi. "Boleh aku ketemu dia?"
Fina menyipitkan mata. "Untuk apa?"
"Bukan untuk berkelahi. Janji." Revan mengangkat telapak tangan. "Untuk bilang terima kasih."
Fina memandangnya lama, kemudian menggeser gelas teh yang belum tersentuh ke arahnya. "Minum dulu. Tehnya dingin."
Revan menurut. Teh itu pahit dan hampir tak berasa, dan ia meminumnya sampai habis, karena tangan yang sibuk lebih mudah dikendalikan daripada hati yang gelisah. Dari balik pintu kaca terdengar langkah kaki kecil yang diseret.
"Ibu, Papa." Langga muncul dengan piyama astronomi kusut dan kacamata yang bertengger miring di hidungnya. Ia menatap mereka bergantian, lalu menyipit. "Kok pada serius? Ada yang berantem?"
"Tidak ada yang berantem," kata Revan.
"Papa mukanya kayak waktu Langga dapat empat puluh."
Fina menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan bahunya berguncang. Revan memandang anaknya yang berdiri tegak menunggu jawaban, dan sesuatu di dadanya yang tadi mengeras mulai longgar.
"Papa lagi mikir," katanya. "Dan Papa baru sadar Papa lapar. Mau bantu Papa bikin telur?"
"Telur mata sapi! Yang kuningnya jangan pecah!"
"Kuning jangan pecah. Siap, Chef."
•||•
Hasna sedang berdiri di ruang makan dengan satu tangan di punggung dan satu tangan memegang gelas air putih ketika Revan lewat membawa kunci mobil. Ia mengenakan daster biru pucat, rambutnya digelung asal, dan wajahnya sembab tidur.
"Mau ke mana, Van?"
"Rumah sakit. Sebentar."
"Hari Minggu?" Hasna menaikkan alis. "Fina kenapa lagi?"
"Fina baik-baik saja. Aku ada urusan sama seseorang."
Hasna menatapnya agak lama. Ada kantung hitam di bawah matanya, tanda ia tidak tidur nyenyak sejak perutnya mulai menekan paru-paru, dan Revan merasa bersalah karena ia hanya melihatnya sekarang.
"Jangan lama," kata Hasna akhirnya. "Bima nanyain Papa dari tadi. Katanya hari ini mau digambarin pesawat."
"Aku pulang sebelum asar. Dan Na..."
"Apa?"
"Kalau perutmu sakit, telepon. Jangan tunggu."
Hasna mendengus kecil, tetapi bahunya turun sedikit. "Iya. Pergi sana."
•||•
Musala rumah sakit di lantai dasar sempit dan berbau karpet lembap. Revan berwudu di keran dingin, menunaikan sholat Zuhur di saf paling belakang, dan baru menyadari saat salam kedua bahwa ada orang lain yang berdiri di sampingnya. Kemeja biru muda. Tangan yang menyalam ke kanan, lalu ke kiri.
Iqbal menoleh dan terpaku.
Mereka sama-sama berdiri di serambi musala, di depan rak sandal, ketika Revan membuka percakapan sebelum ia sempat kehilangan keberanian. Ia sengaja memakai bahasa paling resmi yang ia punya; hanya dengan begitu kalimatnya bisa selesai.
"Dokter Iqbal."
"Pak Revan." Iqbal menegakkan punggung, jelas bersiap menerima sesuatu yang berat. "Fina sudah cerita?"
"Sudah, tadi pagi." Revan menyelipkan kedua tangan ke saku. "Saya tidak akan bilang saya tidak cemburu. Saya cemburu. Tapi itu urusan saya, bukan urusan Anda."
"Saya mengerti."
"Saya mau bilang satu hal, dan saya mau selesai sebelum saya berubah pikiran." Revan menatap lurus. "Terima kasih membawa istri saya."
Iqbal tidak menjawab. Matanya melebar sedikit, sebelum akhirnya ia menggeleng pelan seolah tidak percaya.
"Anda berterima kasih?"
"Kalau malam itu Anda tidak berhenti, anak saya tidak akan ada. Dan Fina juga." Suara Revan nyaris tidak terdengar. "Sembilan tahun saya tidak tahu siapa yang harus saya ucapkan itu. Sekarang saya tahu. Saya tidak punya cara membayarnya selain ini."
Hening beberapa detik. Dari lorong terdengar roda brankar lewat.
"Saya menunggu Anda marah sejak kemarin," kata Iqbal akhirnya. "Saya sudah menyiapkan diri."
"Dulu saya akan marah. Dulu saya orang yang gampang marah kepada siapa pun kecuali kepada diri sendiri." Revan menunduk ke sandalnya. "Sekarang saya sedang belajar marah ke tempat yang benar."
Iqbal menarik napas, dan bahunya yang kaku sejak kemarin akhirnya mengendur. Ia tersenyum, kecil, getir, tapi jujur.
"Pak Revan," katanya, "dia memilih Anda. Itu cukup bagi saya."