Meja makan malam Rabu terasa terlalu luas. Hasna makan di kamar atas ditemani Reffa, Ressie memilih menunggu bubur di dapur, dan yang duduk mengelilingi meja hanya Revan, Fina, Langga, dan Bima. Mbak Marni menyajikan ayam goreng, tahu, dan sayur bening dengan gerakan yang pelan seolah tidak mau mengganggu.
Fina menyuap sedikit nasi. Lidahnya masih menolak banyak rasa, tapi ayam goreng buatan Mbak Marni cukup gurih untuk dipaksa turun. Ia memperhatikan Bima, yang sejak tadi memutar sendoknya di piring tanpa memasukkan apa pun ke mulut.
"Bima, makannya, sayang."
"Iya, Ibu."
Ponsel Fina bergetar di samping piring. Layarnya menyala sebentar dan padam sebelum sempat ia lihat siapa pengirimnya. Revan melirik dan tidak bertanya.
"Papa."
Suara kecil itu membuat sendok Revan berhenti di udara. Bima menegakkan punggungnya di kursi, memegang tepi meja dengan dua tangan, wajahnya terlalu serius untuk anak seusianya.
"Papa mau pisah ya?"
Langga menoleh cepat, kacamatanya hampir merosot. Sendok Fina berhenti di tengah jalan ke mulut. Hening. Tak ada yang bergerak.
"Siapa yang bilang begitu, Bim?" Revan meletakkan sendoknya dengan hati-hati.
"Nggak ada yang bilang. Tapi Mama nangis tiap malam. Aku dengar dari kamar sebelah. Terus Oma Nenek bisik-bisik sama Oma Ressie di dapur, mereka berhenti kalau aku lewat." Bibir Bima mulai bergetar. "Teman aku di sekolah, Papanya pisah sama Mamanya, terus Papanya nggak pernah datang lagi."
Fina menahan napas. Ia memandang Revan, yang menatap anak itu tanpa mengalihkan mata. Dalam hitungan detik Revan tidak lari ke kalimat penghiburan yang gampang.
"Bima, dengar Papa." Suaranya rendah dan tenang. "Papa dan Mama sedang bicara tentang banyak hal sulit. Papa tidak akan bilang semuanya akan sama seperti dulu, karena Papa tidak mau bohong. Tapi satu hal yang tidak akan berubah, apa pun yang terjadi: Papa tetap Papamu. Papa akan datang. Papa akan ada di rapor, di pertandingan, di mana pun Bima butuh Papa."
"Janji?"
"Papa tidak janji dengan kata-kata saja. Papa akan buktikan. Bima boleh tagih."
Bima menatap ayahnya beberapa detik. Lalu bahunya mulai berguncang tanpa suara, dan Langga, yang tidak diminta siapa pun, turun dari kursinya, memutari meja, dan memeluk adiknya dari samping dengan lengan kurus yang canggung.
"Jangan nangis, Bim. Nanti ayamnya asin." Suara Langga bergetar tapi ia memaksakan nada bercanda. "Kalau Papa nggak datang, Mas yang datangin Papa. Mas tarik kuping Papa."
Bima terisak sambil tertawa. Revan mengusap wajahnya dengan telapak tangan, dan Fina melihat ujung matanya basah.
•||•
Malam itu Bima tidak mau tidur di kamarnya.
Ia berdiri di depan kamar Fina dengan bantal di dekapan, rambut berantakan, dan mata bengkak. Fina yang baru mengganti bergo dengan yang tipis memandangnya sebentar, kemudian menggeser selimut.
"Mau tidur di sini?"
"Boleh, Ibu?"
"Boleh, sayang. Naik."
Bima merangkak ke ranjang, dan Langga, yang entah dari mana muncul di belakangnya, ikut naik tanpa bertanya. Fina menaruh buku cerita di pangkuan, buku kisah para nabi yang biasa dibacakan Revan, dan membuka halaman tentang Nabi Yusuf. Ia membaca dengan suara pelan, sengaja memperlambat bagian tentang sumur dan kakak-kakak yang cemburu, lalu bagian tentang Yusuf yang memaafkan.
Di tengah kalimat, Bima menggeser tubuhnya sampai kepalanya bersandar di lengan Fina.
"Mama Ibu."
"Hm?"
"Aku boleh punya dua Ibu?"
Pertanyaan itu begitu jujur sehingga Fina lupa melanjutkan halaman. Ia menunduk, memandang kepala kecil yang berat di lengannya, rambut yang masih wangi sampo anak-anak.
"Mama Hasna tetap Mamamu," katanya pelan. "Itu tidak berubah, dan Ibu tidak akan pernah menggantikannya. Tapi kalau Bima ingin punya Mama Ibu juga, Mama Ibu di sini."
"Jadi boleh?"
"Boleh."
Bima mengembuskan napas panjang, seperti orang yang baru meletakkan karung berat. Di sisi lain ranjang Langga mengangkat kepala, dahinya berkerut di balik kacamata.
"Boleh, tapi Langga yang pertama. Langga sudah punya Ibu dari lahir."
"Mas kan sudah lama," kata Bima dengan logika mutlak anak kecil yang tidak mau kalah. "Aku baru. Jadi aku harus dapat lebih banyak biar adil."
"Hitungannya nggak begitu."
"Hitungannya begitu."
"Sudah, sudah." Fina menahan tawa dan menarik keduanya mendekat, satu di tiap lengan. "Ibu cukup untuk dua-duanya. Ibu tidak dibagi dua, Ibu ditambah."
Langga menyelipkan tangannya ke tangan Bima tanpa suara, damai yang mudah seperti hanya anak-anak yang bisa.
Fina mengangkat mata dan terpaku. Di ambang pintu, di balik celah yang tidak ia tutup rapat, berdiri Ressie. Perempuan itu mengenakan kardigan abu-abu, tangan di depan dada, wajahnya kaku seperti orang yang mendengar sesuatu yang tidak ia rencanakan. Pandangannya jatuh pada Bima yang meringkuk di lengan Fina, lalu pada Fina yang bergo tipisnya miring.
Jemari Ressie meremas ujung kardigan, dan Fina melihat sesuatu di wajah itu yang tidak ia kenal. Bukan marah. Lebih seperti orang yang menemukan pintu terbuka di rumah yang ia kira sudah ia kunci rapat.
Selama lima detik tidak ada yang bicara. Fina menunggu kalimat sinis. Ressie menarik napas pendek, membuka mulut, kemudian menutupnya lagi. Ia berbalik dan pergi tanpa suara, tanpa komentar, langkahnya hilang di lorong.
Fina meneruskan membaca, dengan jantung berdebar tak karuan.
•||•
Pukul sepuluh lewat Revan membuka pintu kamar Fina pelan-pelan, karena ia tadi lupa menutup jendela samping. Lampu meja masih menyala remang. Di ranjang, Bima tidur melingkar di bawah ketiak Fina, Langga telentang dengan kacamata terlipat di dada, dan Fina sendiri bersandar setengah duduk dengan buku terbuka tertelungkup di perutnya.
Revan berdiri lama.
Beberapa malam terakhir ia sudah tidur di kamar ini, tetapi selalu sebagai orang yang masuk lalu pergi, tamu yang takut meninggalkan jejak. Ia belum pernah melihat ranjang ini penuh seperti sekarang, dan penuhnya bukan karena dia. Ia mengambil buku itu dengan hati-hati, menandai halamannya dengan pembatas, lalu menarik selimut sampai ke bahu anak-anak.
Di nakas, ponsel Fina menyala. Pesan itu baru masuk, dan ia tak bisa tidak membacanya karena layarnya menghadap padanya.
Bu Fina, CT scan dijadwalkan Senin depan pukul 08.00. Puasa enam jam sebelumnya. Mohon konfirmasi. Iqbal.
Revan menegakkan badan. Gerakan itu membuat Fina membuka mata separuh.
"Mas?"
"Dari dokter Iqbal. CT scan, Senin depan." Revan memelankan suara. "Mau aku jawab?"
Fina berkedip sekali, lamban, dan matanya kembali menutup. Kepalanya mengangguk kecil sebelum napasnya teratur lagi.
Revan memegang ponsel itu, dan untuk beberapa saat tidak berani mengetik apa pun. Layarnya padam sendiri.